... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Fokus

Benarkah Indonesia Sudah Merdeka?

Oleh: Ulfiatul Khomariah, (Koordinator Komunitas Penulis Qiroah, Pemerhati Masalah Sosial dan Politik)

KIBLAT.NET – Tujuh puluh tiga tahun sudah kemerdekaan Indonesia dirayakan. Sejak founding father negara ini memproklamirkan kata yang membebaskan bangsa Indonesia dari segala penjajahan dan penindasan kaum penjajah, tak ada lagi kompeni, tak ada lagi kerja rodi. Bangsa kita katanya sudah merdeka, tak ada lagi penjajahan dari bangsa asing. 73 tahun yang lalu, tepat pada tanggal 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan Indonesia diumumkan oleh presiden pertama kita, Bung Karno. Ini merupakan tanda awal bagi kebangkitan bangsa kita, Indonesia.

Perlu kita ketahui bersama, meskipun gema proklamasi kemerdekaan dari kekangan kaum penjajah telah diproklamirkan ke seantero jagad, bukan berarti rakyat Indonesia sudah lepas dari kehidupan yang penuh derita. Musuh nomor satu ternyata masih bercokol dalam negeri, tak nampak, hanya mata yang tidak buta yang mampu melihat keberadaannya. Sejak diproklamirkan kemerdekaan itu, justru penguasa pribumi menjelma menjadi momok yang lebih menakutkan daripada penguasa keparat kaum kompeni.

Sejak dua puluh tahun setelah merdeka, bangsa ini dipimpin oleh kepemimpinan Soekarno-Hatta dengan ideologi demokrasi terpimpinnya. Selama itu pula rakyat dipimpin. Pancasila sebagai lambang yang diagung-agungkan oleh bangsa ini pun turut andil sebagai peneman di masa kepemimpinannya. Namun tak lama di masa kepemimpinannya, pada tahun 60’an terjadi chaos di pusat negara. Rakyat menjerit, pemimpin diminta turun dan para menterinya dicaci maki oleh rakyat yang digerakkan oleh kaum mahasiswa.Rakyat tak puas dengan kebijakan ekonomi yang menyengsarakan, harga pokok melambung tinggi, rakyat mati di lumbung padi sendiri.

Pada tahun yang sama, kejadian penuh misteri melanda bangsa ini. Kejadian yang penuh dengan konspirasi, bahkan sampai saat ini tak ada yang mengerti siapa dalang dibalik semua ini. Kejadian yang tercatat oleh sejarah sebagai kejadian yang menggetarkan bangsa ini, ya gerakan G30 S/PKI. Pembasmian dilakukan membabi buta oleh oknum-oknum yang tak bertanggungjawab. Harta, tahta dan para wanita mereka rebut. Ribuan nyawa pun melayang, nyaris tak berharga. Bahkan mereka membantai siapa saja yang diduga terlibat oleh partai terlarang itu.

BACA JUGA  Ikatan Pelajar Muslimah Indonesia Akan Gelar TERAS Nasional II di Kendari

Akhirnya, pada tahun 1968 rezim Soekarno turun dari gelanggang kepemimpinan, Soeharto naik menggantikan. Era baru pun dimulai, gaya kepimimpinan Soeharto bercorak lain. Kapitalisme-otoritarianisme sangat terlihat di masa pemerintahannya. Selama hampir 30 tahun memegang jabatan tertinggi di negara ini, hutang luar negeri Indonesia pun membengkak. Hampir seluruh kebijakan politik ekonomi terpengaruh oleh para pemilik modal. Belum lagi, penyiksaan dialami oleh mereka para penyambung lidah rakyat. Mereka yang mengkritik kebijakan, berakhir dibui atau hilang tak berbekas. Rezim orde baru begitu represif menjadikan rakyatnya layaknya burung berkicau yang tak patut didengar dan tak patut untuk diperdulikan. Sampai disini, layakkah Indonesia dikatakan Merdeka?

Pada tahun 1998, akhirnya rezim Soeharto pun terpaksa turun dari gelanggang kepemimpinan. Rakyat sudah sadar dan jengah dengan kepemimpinannya yang berbau kapitalistik. Berhari-hari Mahasiswa dan rakyat bergerak meminta agar ia turun. Demo Rakyat beserta Mahasiswa di gedung DPR, keringat dan lelah mereka akhirnya menjadi kenyataan juga. Meskipun harus dengan rusuh terlebih dahulu, bahkan sampai beberapa nyawa melayang dipihak Mahasiswa. Tepat pada tanggal 21 Mei 1998, sekitar pukul 09.00, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya.

Zaman itu telah berlalu. Kini, kita memasuki zaman yang baru. Zaman yang tak jauh berbeda dengan masa kepemimpinan sebelumnya, bahkan lebih parah atau jauh lebih bobrok dari apa yang pernah dicatat oleh sejarah. Saat ini semuanya sudah berbau neo-liberalisme. Perekonomian Indonesia benar-benar sudah carut-marut, harga melambung tinggi, bahkan banyak rakyat memilih gantung diri karena kelaparan di lumbung padi sendiri. Neo-liberalisme merupakan sistem yang begitu bebas. Negeri yang makmur ini bebas diperjual-belikan kepada asing. Bahkan penjajahan asing mulai kembali bergerilya.

BACA JUGA  Ikatan Pelajar Muslimah Indonesia Akan Gelar TERAS Nasional II di Kendari

Bangsa Indonesia yang diperjuangkan berdarah-darah tak lagi ada esensinya. Harapan agar rakyat jauh dari ketidakadilan, kini tak mampu dijalankan. Bangsaku sudah menjadi babu di rumahnya sendiri. Pekerja asing lebih dihargai daripada penduduk pribumi, pengangguran membludak, kemiskinan menghimpit rakyat, hutang luar negeri melambung tinggi. Ketraumaan rakyat pada masa orde baru yang begitu represif kembali dihidupkan oleh pemimpin baru, Joko Widodo.

Dengan mengesahkan UU Ormas, menjadikan rakyat tak mampu bersifat kritis, kini rakyat harus bungkam melihat ketidakadilan. Semua yang mengkritik tentang kebijakan terancam dikriminalisasi. Mahasiswa tak boleh bicara apalagi mengkritisi penguasa, cukup lihat saja, dan tunggu hingga ajal menjelma. Ulama yang kontra dengan penguasa, dipersekusi tanpa diadili. Hampir lima tahun Jokowi memimpin, namun tak mampu membawa perubahan yang nyata, rakyat merana dan tertindas di negeri sendiri. Haruskah ada chaos lagi?

Sekali lagi, apakah ini yang dinamakan bangsa yang merdeka? Sudah lebih dari setengah abad, namun kesejahteraan rakyat tak juga nampak. Tak nampak bahwa bangsa ini benar-benar telah lepas dari penindasan. Sudah berganti-ganti rezim, tapi tetap saja sama bahkan lebih parah lagi. Apa sudah saatnya kita bertanya tentang Revolusi? Barangkali sudah waktunya kita mengganti sistem, mencari ideologi baru yang lebih mampu menyejahterakan. Agar tak ada lagi yang bertanya, “Benarkah Indonesia sudah MERDEKA”?

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Analisis

Ijtima Ulama dan Peran Politik Umat

Ijtima Ulama tersebut tentu bukan yang sempurna dan memuaskan semua pihak. Namun banyak hal yang patut disyukuri.

Jum'at, 03/08/2018 16:44 0

Rusia

Di Bawah Kekuasaan Rusia, Penindasan terhadap Muslim Tatar Krimea Meningkat

Sumber Daya Tatar Krimea selama paruh pertama tahun 2018, pihak berwenang Rusia melakukan 66 penggerebekan ilegal di rumah-rumah, 89 interogasi dan 98 penangkapan di Krimea yang diduduki.

Jum'at, 03/08/2018 16:40 0

Eropa

10 Negara Eropa yang Melarang Busana Muslimah

Sejak April 2011, Perancis telah melarang pakain muslimah yang menutupi wajah, termasuk burqa dan niqab. Wanita yang ditemukan melanggar larangan didenda 150 euro (Rp 2,5 juta).

Jum'at, 03/08/2018 15:05 0

Asia

Dipicu Lakalantas Mematikan, Puluhan Ribu Siswa Bangladesh Turun ke Jalan

"Kami belum pernah melihat jumlah siswa yang belum pernah terjadi sebelumnya (di jalanan)," kata Tanvir Chowdhury dari Al Jazeera, melaporkan dari Dhaka.

Jum'at, 03/08/2018 11:37 0

Indonesia

Pendiri PKS Yusuf Supendi Meninggal Dunia

Pendiri Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menjadi Caleg PDI-P, Yusuf Supendi meninggal dunia.

Jum'at, 03/08/2018 11:08 0

Video Kajian

Hati-hati! Poligami, Tapi Salah Motivasi

Hati-hati! Poligami, Tapi Salah Motivasi. Saudara ingin menikah lagi? Menikahi janda atau perawan? Alasanmu ingin menegakkan sunnah, menolong janda?

Jum'at, 03/08/2018 10:55 0

Suriah

Rombongan Pertama Jamaah Haji Suriah Bertolak ke Tanah Suci

Mereka berangkat melalui perlintasan Bab Al-Hawa menuju Turki, kemudian melanjutkan perjalanan ke Saudi

Jum'at, 03/08/2018 10:48 0

Palestina

Menhan Israel Lega Rezim Assad Kuasai Perbatasan Golan

"Dari sudut pandang kami, situasi kembali ke seperti sebelum perang saudara, yang berarti bahwa ada pihak yang dapat ajak bicara dan orang yang bertanggung jawab serta kekuasaan terpusat,” kata Lieberman.

Jum'at, 03/08/2018 10:10 1

Video News

Haikal Hassan: 2019 Ganti Presiden! Ini Kriteria Menurutnya

KIBLAT.NET – Haikal Hassan: 2019 Ganti Presiden! Ini Kriteria Menurutnya. Haikal Hasan, Wasekjen MIUMI, antusias...

Jum'at, 03/08/2018 09:37 0

Yordania

Yordania Bombardir Pasukan ISIS yang Dekati Perbatasannya

“Tidak ada satupun dari mereka (ISIS) yang berhasil menembus perbatasan Yordania. Mereka berhasil dipaksa kembali masuk ke wilayah Suriah dan sebagian mereka tewas,” kata sumber seperti dilansir dari Al-Sarq Al-Ausath.

Jum'at, 03/08/2018 08:59 0

Close