Pileg dan Pilpres Jadi Momentum untuk Menghukum Partai Korup

KIBLAT.NET, Jakarta – Politisi Partai Gerindra Andre Rosiada mengatakan ajang Pemilihan Presiden dan Legislatif merupakan momentum untuk menghukum partai-partai yang kadernya banyak terjerat kasus korupsi.

“Ini kesempatan masyarakat memilih dan menghukum partai yang kadernya banyak menjadi koruptor. Sehingga momentum Pilpres dan Caleg, masyarakat dapat memilih pemimpin tegas dan caleg yang bersih dari korupsi,” katanya dalam diskusi anti koripsi di Cafe Upnormal, Kamis (26/07/2018).

Menurutnya, pemerintahan saat ini tidak tegas dalam memberantas praktik korupsi. Wasekjen Partai Gerindra menandai penanganan kasus penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan yang belum juga usai. Ia juga menilai Pemerintah disetir oleh para cukong, sehingga penanganan kasus korupsi terhenti di tengah jalan.

“Partai Gerindra apabila Prabowo terpilih menjadi Presiden, kami berkomitmen kasus Novel Baswedan akan terselesaikan dalam waktu tiga bulan. Ini yang perlu dilihat, kami tidak ingin diatur oleh cukong dalam menjalankan kepemerintahan,” klaimnya.

Menjawab pernyataan Andre, Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perrjuangan (PDIP) Masinton Pasaribu mengatakan bahwa persoalan korupsi tidak bisa dilihat dari sistem partai semata. Melainkan ada faktor peluang dan kesempatan untuk melakukan korupsi.

“Ketika PDIP berkuasa jadi wajar banyak sekali kesempatan yang menjerumuskan kepada pusaran korupsi, persoalannya bagaimana kita tidak masuk pada pusaran itu. Begitupun faktanya Gerindra yang berkuasa di daerah-daerah pun banyak kadernya yang terjerat,” ujarnya.

BACA JUGA  Slamet Maarif: Reuni 212 Tahun Ini Ditunda

Sementara itu Direktur Indonesia Corruption Watch (ICW), Emerson Yuntho menyebut partai-partai politik hanya mampu berkampanye dengan janji-janji anti korupsi. Namun tidak berani berkomitmen menjadikan partainya bersih dari tindak korupsi.

“Sebab ekosistem anti korupsi partai politik kita sangatlah jelek. Korupsi seakan hal yang tidak menarik untuk menjadi perdebatan partai politik. Alasannya membicarakan korupsi menurut partai politik adalah hal ghibah atau membicarakan temannya. Sebab di tubuh partai mereka sendiri ada koruptor,” tukasnya.

Reporter: Hafidz Syarif
Editor: M. Rudy

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat