... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

MUI Sumbar: Ranah Minang Tidak Membutuhkan Islam Nusantara

Foto: Shalat Idul Fitri di Parik Malintang, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat

KIBLAT.NET, Padang- Majelis Ulama Indonesia Sumatera Barat menegaskan bahwa Ranah Minang tidak membutuhkan istilah “Islam Nusantara”. Hal itu disepakati setelah MUI Sumbar menggelar rapat koordinasi daerah (rakoorda) yang diikuti pengurus MUI Sumbar dan MUI kabupaten dan kota se-Sumbar di Hotel Sofyan Rangkayo Basa Syariah, Padang, Sabtu (21/07/2018).

“Islam Nusantara dalam konsep/ pengertian/defenisi apapun tidak dibutuhkan di Ranah Minang (Sumatera Barat). Bagi kami, nama Islam telah sempurna dan tidak perlu ditambah lagi dengan embel-embel apapun,” tegas Buya Gusrizal Gazahar, Ketua MUI Sumbar.

kesimpulan demikian didapatkan setelah MUI Sumbar menggelar rakorda. Pertimbangan dan alasannya ditampilkan utuh dalam surat resmi berkop MUI Sumbar yang memuat 7 butir alasan ditolaknya Islam Nusantara di Sumatera Barat.

Keputusan itu diteken di Padang pada 21 Juli 2018 oleh Ketua Umum MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar. Lc., MA, Sekretaris Umum MUI Sumbar, Buya Zulfan, S.Hi, M.H, Ketua Rapat Dr. Zulkarnaini, M. Ag dan Dr. Zainal Azwar, M. Ag Sekretaris Pimpinan Rapat.

Berikut salinan hasil rakorda MUI se-Sumbar itu:

ISLAM NUSANTARA

(1) Istilah “Islam Nusantara” melahirkan berbagai permasalahan yang akan mengundang perdebatan yang tidak bermanfaat dan melalaikan umat Islam dari berbagai persoalan penting yang sedang dihadapi. Bahkan istilah “Islam Nusantara” bisa membawa kerancuan dan kebingungan di tengah umat dalam memahami Islam.

(2) Susunan bahasa Indonesia yang menganut konsep DM (Diterangkan-Menerangkan), menunjukkan pembatasan Islam dalam wilayah yang disebut “Nusantara”. Ini berakibat terjadinya pengerdilan dan penyempitan ruang lingkup Islam yang semestinya menjadi rahmat untuk seluruh alam semesta (rahmatan lilalamiin) dan untuk seluruh umat manusia (kaaffatan linnaas).

(3) Jika yang dimaksudkan dengan istilah “Islam Nusantara” adalah keramahan washatiyah (proporsional dan pertengahan dalam keseimbangan dan keadilan), toleransi dan lainnya, itu bukanlah karakter khusus Islam di daerah tertentu tetapi adalah di antara mumayyizat (keistimewaan) ajaran Islam yang sangat mendasar. Karena itu, menghadirkan label “Nusantara” untuk Islam, hanya berpotensi mengkotak-kotak umat Islam dan memunculkan pandangan negatif umat kepada saudara-saudara muslim di wilayah ini.

BACA JUGA  Vandalisme Mushola Darussalam Tindak Pidana Serius

(4) Wasathiyyah, samhah, adil, aqliy dan lainnya yang disebutkan sebagai karakter “Islam Nusantara”, hanyalah sebagian dan keistimewaan Islam yang tidak bisa dipisahkan dengan keistimewaan lainnya seperti rabbaniyyah ilahiyyah, syumuliyyah, dan lainnya. Mengapungkan satu-satu dari mumayyizat dengan memisahkan dari mumayyizat yang lain hanya akan menimbulkan kerancuan dalam memahami Islam dan mengeluarkan Islam dari kesempurnaannya.

(5) Jika “Islam Nusantara” dipahami dengan dakwah yang mengacu kepada ajaran dan pendekatan Wali Songo di pulau Jawa, ini bisa berdampak serius kepada keutuhan bangsa, karena di berbagai daerah dalam wilayah NKRI, ada para ulama dengan pendekatan ajaran yang bisa saja berbeda dengan Wali Songo. Memaksakan pendekatan dan ajaran Wali Songo ke seluruh Indonesia, berarti mengecilkan peran ulama yang menyebarkan Islam di daerah lain yang memiliki karakteristik dakwah yang beragam.

(6) Jika pendekatan kultural yang menjadi ciri khas “Islam Nusantara”, maka itu bukanlah monopoli “Islam Nusantara” tapi telah menjadi suatu karakter umum dakwah di berbagai wilayah dunia ini karena sikap Islam terhadap tradisi dan budaya tempatan, telah tertuang dalam kajian ilmu Ushul al-Fiqh secara terang. Bahkan para ulama Sumatera Barat dengan perjalanan panjang sejarah dakwah Islam di Ranah Minang yang diwarnai dengan dinamika yang begitu hebat, telah menjalani langkah-langkah pendekatan kultural tersebut bahkan mereka sampai kepada komitmen bersama melahirkan “Sumpah Sati Marapalam” dengan falsafahnya yang dipegang oleh masyarakat Minangkabau sampai hari ini yaitu: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Syarak Mangato, Adat Mamakai”. Walaupun telah sampai pada titik kebersamaan tersebut namun tak seorang pun ulama Minangkabau menambah label Islam di Minang ini dengan “Islam Minang”.

BACA JUGA  MUI: Pencoretan Mushola Darussalam Sakiti Umat Islam

(7) Jika dimaksudkan dengan “Islam Nusantara” adalah Islam yang toleran, tidak radikal kemudian memperhadapkan dengan kondisi Timur Tengah sekarang, maka sikap ini mengandung tuduhan terhadap ajaran Islam sebagai pemicu lahirnya sikap radikal dan tindakan kekerasan terhadap konflik Timur Tengah. Ini juga pencideraan terhadap ukhuwwah Islamiyyah antara kaum muslimin di dunia, kjarena perjuangamn yang dilakukan oleh sebagian kamum muslimin seperti Palestina, sangat tidak pantas dilabeli dengan radikalisme dan kekerasan. Seharusnya mereka mendapatkan simpati kita kaum muslimin di negeri ini sebagaimana mereka memperlakukan kita di saat perjuangan kemerdekaan Indonesia dahulunya.

Dengan berbagai alasan di atas yang merupakan sebagian kecil dari alasan yang telah dipertimbangkan oleh peserta Rakorda, maka kami MUI Sumbar dan MUI Kab/Kota se-Sumbar, menyatakan tanpa ada keraguan bahwa: “Islam Nusantara” dalam konsep, pengertian, defenisi apapun tidak dibutuhkan di Ranah Minang (Sumatera Barat). Bagi kami, nama Islam telah sempurna dan tidak perlu ditambah lagi dengan embel-embel apapun.

Padang, 21 Juli 2018/ 08 Zul Qaidah 1439

Pimpinan Rapat

Dr. Zulkarnaini, M. Ag (Ketua)
Dr. Zainal Azwar, M. Ag (Sekretaris)

Pimpinan Harian MUI Sumatera Barat

Buya Gusrizal Gazahar. Lc., MA (Ketua Umum) 
Buya Zulfan, S.Hi, M.H (Sekretaris Umum)

Reporter: Syafei Irman


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “MUI Sumbar: Ranah Minang Tidak Membutuhkan Islam Nusantara”

  1. aditiawarman

    islam nusantara hanya milik NU dan orang jawa

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Afghanistan

Gubernur Taliban Wilayah Kapisa Gugur

Dalam pernyataan yang dirilis Selasa (23/07), gerakan yang juga dikenal Taliban itu menunjukkan tiga pejuang lainnya juga gugur dalam serangan tersebut. Satu dari mereka, kepala hakim distrik Tajab, Qari Ihsanullah Utsman.

Selasa, 24/07/2018 20:30 0

Wilayah Lain

Cuaca Panas Selimuti Jepang, 65 Orang Tewas dalam Sepekan

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana mengatakan bahwa total 80 orang tewas akibat panas sejak awal Juli. Lebih dari 35.000 orang telah dirawat di rumah sakit.

Selasa, 24/07/2018 16:46 1

Artikel

Perang Dagang USA Vs China

Genderang perang Amerika Serikat (USA) dengan China sudah dikumandangkan. Namun perang ini bukan perang senjata (hard power) tetapi ini adalah perang ekonomi (soft power) yaitu perang dagang

Selasa, 24/07/2018 14:58 0

Video Kajian

Kiblat Review: Ulama di Tahun Politik

KIBLAT.NET – Kiblat Review: Ulama di Tahun Politik. Indonesia dikenal banyak ulama-ulama hebat kaliber internasional....

Selasa, 24/07/2018 12:34 0

Philipina

Tak Disetujui DPR, RUU Otonomi Bangsamoro Gagal Disahkan

Rancangan Undang-undang Otonomi Bangsamoro (BOL) gagal ditandatangani Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada Senin (23/07/2018). Hal ini disebabkan DPR belum memberikan ratifikasi terhadap usulan UU tersebut.

Selasa, 24/07/2018 11:11 0

Wilayah Lain

Delegasi Rusia Kunjungi Israel Bahas Pengaturan Suriah Selatan

"Hari ini saya akan bertemu dengan delegasi Rusia yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri dan kepala Staf Umum Angkatan Darat Rusia," kata Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melalui akun Twitternya.

Selasa, 24/07/2018 08:49 0

Suriah

Ulama Suriah Seru Pejuang Idlib Bersiap Hadapi Pertempuran Besar

Berharap pada Turki untuk mencegah kampanye militer tersebut tidak mungkin. Ankara, menurut Syaikh, nampak tidak mampu berbuat ketika mereka bertekad menyerang wilayah oposisi.

Selasa, 24/07/2018 07:24 0

Manhaj

Karakteristik Umat Pilihan: Menegakkan Keadilan Sesuai Manhaj Rabbani

Lebih menakjubkan lagi dengan kisah Ali bin Abi Thalib, ketika diangkat sebagai khalifah, beliau pernah berurusan di pengadilan dengan salah seorang Yahudi yang mengambil baju besi-nya. Namun, oleh sang qadhi gugatan beliau dikalahkan karena tidak bisa menghadirkan saksi selain kedua anaknya.

Selasa, 24/07/2018 05:00 0

Afrika

Al-Shabab Kuasai Pangkalan Militer di Somalia Selatan

“Kami pertama menyerang pangkalan dengan bom yang diledakkan dari mobil kemudian kami menyerbu. Kami membunuh 27 tentara dan menguasai pangkalan. Sebagian tentara kabur ke hutan,” kata Abdul Aziz Abu Mus’ab, juru bicara Al-Shabab seperti dilansir Reuters.

Senin, 23/07/2018 19:52 0

Amerika

Maria Butina, Agen Rusia di Balik KTT Trump-Putin Diadili

Seorang wanita Rusia yang pernah berupaya melakukan mediasi pertemuan rahasia Donald Trump dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, selama masa kampanye pilpres 2016, pada hari Senin tanggal 16 Juli 2018, didakwa dan dituduh telah bekerja sama dengan orang-orang Amerika dalam satu misi rahasia Rusia untuk mempengaruhi kebijakan politik AS.

Senin, 23/07/2018 18:38 0

Close
CLOSE
CLOSE