... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Karakteristik Umat Pilihan: Menegakkan Keadilan Sesuai Manhaj Rabbani

Foto: Keadilan Islam (Ilustrasi)

KIBLAT.NET – Suatu ketika Ummul Mukminin Aisyah radhiayallahu ‘anha menuturkan, “Bahwasanya bangsawan Quraisy mau memberi ampunan kepada salah seorang perempuan dari bangsawan Quraisy bani Mahzum yang kedapatan mencuri, lantas mereka berkata: Siapa yang bisa dijadikan perantara untuk menghadap Nabi shallahu ‘alaihi wasallam?

Maka sebagian dari mereka menjawab, “Siapa lagi yang mampu untuk itu selain orang yang paling Nabi shallahu ‘alaihi wasallam cintai yaitu Usamah bin Zaid. Kemudian Usamah menghadap Nabi shallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: ‘Apakah anda akan meminta ampunan berkenaan dengan salah satu dari had Allah?’

Kemudian Nabi shallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan berpidato: Sesungguhnya kehancuran umat-umat terdahulu adalah disebabkan (oleh ketidakadilan); jika salah seorang dari bangsawan mereka mencuri, maka mereka memberi ampunan, namun jika yang mencuri itu orang biasa (bukan bangshallahu ‘alaihi wasallaman), maka mereka menegakan had. Dan demi Allah! Jika Fatimah binti Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam itu mencuri, maka aku akan tetap memotong tangannya,”

Akhirnya Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam tetap memerintahkan agar wanita bangwasan Bani Makhzum tersebut dipotong tangannya. (HR. Bukhari-Muslim)

Menegakkan keadilan di muka bumi merupakan tujuan utama diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab suci. Dalam Islam, semua orang memiliki hak yang sama di hadapan hukum. Tidak ada pihak yang merasa lebih tinggi dari yang lain lalu memaksakan hukum kehendaknya. Tidak ada status sosial yang membedakan. Pejabat, rakyat jelata, kaya, miskin, semuanya sama di mata hukum.

Riwayat di atas menunjukkan Ketegasan Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam dalam penegakkan hukum. Ketegasan ini kemudian dipegang erat-erat oleh para sahabat hingga menjadi karakter dalam diri mereka. Terbukti, pada masa kepemimpinan Khulafaurrasyidin, keadilan hukum benar-benar mampu dirasakan oleh semua kalangan. Tak hanya masyarakat muslim, namun juga dirasakan oleh setiap masyarakat yang hidup dalam wilayah kepemimpinan Islam.

Tegaknya Keadilan Tujuan Utama Syariat Islam

Di antara tuntutan utama yang diperintahkan Allah kepada kaum muslimin adalah menegakkan keadilan di muka bumi. Allah menggandengkan perintah ini dengan hakikat iman seorang muslim.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ ۚ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَنْ تَعْدِلُوا ۚ وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 135)

Dalam ayat di atas Allah mengaitkan antara perintah menegakkan keadilan dengan ikatan akidah. Lalu Allah menjadikannya sebagai karakter yang selalu menempel pada umat Islam. Sehingga ketika terjadi suatu masalah, umat Islam harus senantiasa adil dalam melihatnya. Tidak boleh ada unsur hawa nafsu dalam memutuskannya.

Tentu sikap seperti ini tidak lahir begitu saja dalam diri manusia. Namun butuh tarbiyah dan latihan secara kontinu agar nafsunya senantiasa tunduk terhadap kebenaran. Para sahabat berhasil mewujudkan prinsip ini sebagai asas utama dalam kepimpinan mereka. Mereka sangat hati-hati dalam memutuskan perkara. Petunjuk wahyu dari Al-Quran dan Hadis selalu mereka utamakan. Tidak ada keinginan pribadi yang mereka harapkan. Yang mereka tahu bagaimana setiap keputusan yang dilahirkan tidak bertentangan dengan petunjuk wahyu.

BACA JUGA  Khutbah Jumat: Dahsyatnya Dosa Zina di dalam Islam

Hasilnya, keadilan tegak merata, tak hanya dirasakan oleh muslim, bahkan non-muslim yang tinggal di wilayah kepemimpinan Islam pun ikut merasakannya.

Keadilan hukum yang ditegakkan para sahabat memang belum pernah terjadi dalam sejarah penegakkan hukum mana pun sebelumnya. Bahkan hingga hari ini sekali pun, belum ada sistem yang mampu menyaingi keunggulan hukum Islam yang pernah mereka tegakkan dengan sempurna. Bahkan dengan sistem hukum modern hari ini sekalipun.

Perhatikan bagaimana keputusan Umar bin Khatab saat menerima aduan salah seorang Yahudi dari Mesir yang tidak terima rumahnya digusur untuk pelebaran masjid.  Setelah menceritakan masalahnya, Umar mengambil sebuah tulang unta kemudian menorehkan garis lurus dari atas ke bawah kemudian dari kiri ke kanan sehingga berbentuk silang. Oleh Umar, tulang itu diserahkan kepada orang Yahudi tersebut.

Bawalah tulang ini dan berikan kepada Gubernur Mesir, Amr bin Ash. Katakan ini dari Umar bin Khathab,” begitu kata Umar radhiyallahu ‘anhu.

Walaupun masih terasa aneh, Orang Yahudi tersebut memberikan tulang itu kepada Amr bin Ash. Seketika Muka Amr bin Ash pucat pasi begitu melihat tulang yang digaris dengan pedang itu. Dia segera mengembalikan rumah orang Yahudi tersebut tanpa pikir panjang.

Orang Yahudi itu bertanya mengapa Amr begitu ketakutan dan segera mengembalikan rumahnya?

Amr bin Ash menjawab, “Ini adalah peringatan dari Umar bin Khathab agar aku selalu berlaku lurus (adil) seperti garis vertikal pada tulang ini. Jika aku tidak bertindak lurus, maka Umar akan memenggal leherku sebagaimana garis horisontal di tulang ini.”

Sikap para sahabat ini selaras dengan firman Allah Ta’ala, “…Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Miadah; 8)

Keadilan dan Proses Menjadi Umat Pilihan

Dalam al-Quran, Allah ta’ala menyebutkan bahwa Umat Islam merupakan umat yang terbaik. Allah ta’ala hendak menjadikan umat ini sebagai pelopor dalam setiap kebaikan. Sehingga di akhirat kelak mereka akan menjadi saksi atas umat-umat yang lain.

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut, Allah mengutus manusia terbaik, Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin yang akan menyukseskan proses tarbiyah Rabbani terhadap umat ini. Menariknya, sejak awal pengutusannya, Allah ta’ala telah menegaskan bahwa sebagai pemimpin, Rasulullah hanya berperan sebagai penyampai wahyu semata. Tidak ada kekuasaan apapun kecuali hanya mengajak umatnya untuk tunduk dan mencapai ridha Allah semata. Sedangkan hasilnya, semuanya diserahkan sepenuhnya kepada Allah Ta’ala semata.

“Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.” (Ali Imran: 128)

BACA JUGA  IM Gelar Konferensi Internasional di Turki Bahas Idelogi Terkini

Berikutnya, Rasulullah menyadarkan para sahabat bahwa harapan tertinggi dalam proses tarbiyah ini adalah ketundukkan jiwa sepenuhnya terhadap syariat. Maknanya, dalam setiap keputusan, umat Islam diharapkan mampu menghilangkan seluruh unsur hawa nafsunya demi meraih keridhaan Allah. Dan ini merupakan modal utama untuk tegaknya keadilan.

Keadilan itu tidak mungkin tegak kecuali mau menyingkirkan segala unsur hawa nafsu. Lalu ia senantiasa menyucikan jiwa hingga tidak ada satu pun keinginannya kecuali menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah semata. Tujuannya hanya mencari ridha Allah. Karena itu, baik pemimpin maupun rakyat sejatinya sama di mata hukum. Yaitu sama-sama menjalankan perintah Allah untuk teagknya hukum yang adil.

Dalam kitab Waqi’unal Mu’ashir, Dr. Muhammad Qutb menjelaskan bahwa timbangan tegaknya keadilan adalah ketika hukum ditegakkan tanpa ada pengaruh rasa cinta ataupun benci. Tidak dipengaruhi dengan adanya hubungan kekerabatan, kekelurgaan atau pengaruh dunia yang ingin dicapai. Bahkan adanya kesamaan akidah juga tidak boleh mempengaruhi jalannya penegakkan hukum.

Rasulullah SAW memberi contoh kepada para sahabatnya ketika beliau telat melunasi hutang milik Yahudi. Disebutkan oleh Al-Hakim dalam kitab al-Mustadr­ak bahwa salah seorang Yahudi, Zaid bin Su’nah, datang menemui Rasululah SAW untuk menuntut utangnya. Yahudi itu menarik gamis dan selendang beliau sambil memandang dengan wajah yang bengis. Dia berkata,

“Ya Muhammad, lunaskanlah hutangmu padaku!”

Melihat hal itu, Umar bin Khattab yang ada di dekat Rasulullah SAW pun marah dan hendak membunuhnya. Namun Rasulullah menenangkannya dan berkata kepada Umar, “Wahai Umar, saya dan dia lebih membutuhkan perkara yang lain (nasehat). Yaitu engkau anjurkan kepadaku untuk menunaikan hutangnya dengan baik dan engkau perintahkan dia untuk menuntut hutangnya dengan cara yang baik pula. Wahai Umar, bawalah dia dan tunaikanlah haknya serta tambahkanlah dengan dua puluh sha’ kurma.”

Demikianlah salah satu teladan Rasulullah saw yang menganjurkan umatnya agar bersikap adil dalam setiap masalah. Sikap ini kemudian berhasil dicontohkan oleh para sahabat dalam kepemimpinan mereka. Umar bin Khatab sama sekali tidak marah ketika beliau diprotes di depan umum karena kain yang dipakainya lebih lebar dari yang diperoleh rakyatnya. Beliau hanya terdiam dan menyuruh anaknya untuk menjawab tuduhan tersebut. Akhirnya, mereka pun tahu bahwa kain yang dipakai Umar lebih lebar karena jatah anaknya dikasihkan kepada beliau.

Lebih menakjubkan lagi dengan kisah Ali bin Abi Thalib, ketika diangkat sebagai khalifah, beliau pernah berurusan di pengadilan dengan salah seorang Yahudi yang mengambil baju besi-nya. Namun, oleh sang qadhi gugatan beliau dikalahkan karena tidak bisa menghadirkan saksi selain kedua anaknya. Akhirnya, Ali bin Abi Thalib rela dengan keputusan itu tanpa sedikit pun menggunakan jabatan atau kedudukannya untuk mempengaruhi jalannya proses hukum.

Praktek penegakkan hukum yang dicontohkan oleh para sahabat menjadi role model keadilan hukum Islam. Prinsipnya, dalam mengwujudkan keadilan siapapun harus rela meninggalkan unsur hawa nafsunya. Jiwanya harus tunduk dengan hukum yang telah Allah tetapkan dengan adil. Baik pemimpin maupun rakyat, sejatinya hanyalah hamba yang diperintahkan untuk menjalankan hukum tersebut. Karena itu, keadilan hukum sesuai dengan yang telah Allah tetapkan adalah harga mati yang harus kita perjuangkan bersama. Wallahu a’lamu bissowab

Penulis : Fakhruddin
Editor: Arju

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Afrika

Al-Shabab Kuasai Pangkalan Militer di Somalia Selatan

“Kami pertama menyerang pangkalan dengan bom yang diledakkan dari mobil kemudian kami menyerbu. Kami membunuh 27 tentara dan menguasai pangkalan. Sebagian tentara kabur ke hutan,” kata Abdul Aziz Abu Mus’ab, juru bicara Al-Shabab seperti dilansir Reuters.

Senin, 23/07/2018 19:52 0

Indonesia

Beredar Video Klarifikasi Makam Imam Samudra Dipindahkan

Setelah maraknya informasi hoax yang menyatakan bahwa jenazah Imam Samudra dipindahkan dan jenazahnya masih utuh, muncul sebuah video yang membantah hal itu.

Senin, 23/07/2018 19:39 0

Indonesia

Pemerintah Janji Lunasi Utang untuk Divestasi Saham Freeport

KIBLAT.NET, Jakarta – Pemerintah Indonesia melalui PT. Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) mendapatkan 51 persen saham...

Senin, 23/07/2018 19:21 0

Indonesia

Gugatan Ahmadiyah Ditolak, DDII: UU Penodaan Agama Penting

DDII menilai keberadaan UU PNPS No 1 tahun 1965 penting

Senin, 23/07/2018 18:54 0

Indonesia

Awas Hoaks! Ustadz Fadlan Garamatan Bantah Jadi Caleg PDI-P

Ustadz Fadlan Garamatan muncul dalam foto daftar caleg PDIP, dan beredar luas di media sosial

Senin, 23/07/2018 18:39 0

Amerika

Maria Butina, Agen Rusia di Balik KTT Trump-Putin Diadili

Seorang wanita Rusia yang pernah berupaya melakukan mediasi pertemuan rahasia Donald Trump dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, selama masa kampanye pilpres 2016, pada hari Senin tanggal 16 Juli 2018, didakwa dan dituduh telah bekerja sama dengan orang-orang Amerika dalam satu misi rahasia Rusia untuk mempengaruhi kebijakan politik AS.

Senin, 23/07/2018 18:38 0

Suriah

Turki Dikabarkan Keluarkan “Buku Putih” untuk Nasib Idlib

Turki menyerahkan buku ini bertapatan dengan poin kesepakatan penyelesaian blokade Al-Foa dan Kufreya, dua kota Idlib terakhir yang dikontrol milisi pro rezim yang sudah terkepung sejak tiga tahun silam.

Senin, 23/07/2018 17:00 0

Indonesia

Sah! MK Tolak Gugatan Ahmadiyah Terhadap UU Penodaan Agama

Mahkamah Konstitusi (MK) Tolak Gugatan Ahmadiyah Terhadap UU Penodaan Agama

Senin, 23/07/2018 16:11 0

Indonesia

Ekonomi Memburuk, Presiden Jokowi: Tak Usah Khawatir

Presiden Joko Widodo mengklaim bahwa tekanan ekonomi saat ini dirasakan oleh semua negara.

Senin, 23/07/2018 13:10 0

Indonesia

Saran Pemuda Muhammadiyah Agar Tak Ada Ruang Privat Koruptor di Penjara

Ketua PP Pemuda Muhammadiyah menyarankan agar napi koruptor dipenjara bersama pelaku kejahatan-kejahatan lain, sperti pemerkosa dan maling ayam

Senin, 23/07/2018 12:28 0

Close