... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Maria Butina, Agen Rusia di Balik KTT Trump-Putin Diadili

Foto: Agen intelijen Rusia Maria Butina.

KIBLAT.NET, Washington – Seorang wanita Rusia yang pernah berupaya melakukan mediasi pertemuan rahasia Donald Trump dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, selama masa kampanye pilpres 2016, pada hari Senin tanggal 16 Juli 2018, didakwa dan dituduh telah bekerja sama dengan orang-orang Amerika dalam satu misi rahasia Rusia untuk mempengaruhi kebijakan politik AS.

Butina Menjalin Koneksi dan Networking

Atas perintah seorang pejabat senior pemerintah Rusia, wanita bernama Maria Butina tersebut membangun koneksi dan networking melalui Asosiasi Senjata Api Nasional (NRA), organisasi-organisasi keagamaan, termasuk acara tahunan National Prayer Breakfast dalam rangka upaya mempengaruhi arah kebijakan-kebijakan Partai Republik agar lebih pro-Rusia. Demikian menurut data catatan pengadilan.

Secara pribadi, Butina melihat dirinya semacam seorang propagandis di era Perang Dingin Uni Soviet, bekerja untuk menginfiltrasi organisasi-organisasi di Amerika, dan membangun jalur komunikasi lewat “pintu belakang” dengan para politisi Amerika. Seorang agen FBI menulis dalam sejumlah dokumen pengadilan, ”Jalur-jalur komunikasi ini bisa diakses dan digunakan Federasi Rusia untuk melakukan penetrasi ke lingkungan pejabat pembuat kebijakan nasional AS supaya mendukung agenda Federasi Rusia.”

Berkas dakwaan (Butina) diajukan dan masih tersegel pada hari Sabtu (14/07/2018), sehari setelah 12 perwira intelijen Rusia didakwa atas tuduhan meretas komputer Partai Demokrat selama masa kampanye 2016. Butina, wanita 29 tahun ini ditangkap pada hari Ahad dan muncul di pengadilan pada hari Senin. Berbagai dokumen catatan pengadilan dibuka beberapa jam setelah Trump bertemu Putin di Helsinki, dan setelah (Trump) mengatakan bahwa ia melihat tidak ada alasan bagi pemimpin Rusia untuk mencoba mempengaruhi hasil pilpres di Amerika.

Pernyataan Trump Kontra Pengadilan

Fakta menarik bahwa para komandan atau handler intelijen pribadi Trump menyimpulkan sebaliknya, dan dua paket dakwaan pengadilan di atas menjadi “bukti penjelas” latar belakang KTT Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Sementara Presiden Trump cenderung meremehkan hasil temuan selama proses penyidikan dan penyelidikan, Departemen Kehakiman justru membuktikan adanya berbagai upaya yang dilakukan Rusia untuk mempengaruhi hasil pemilu Amerika melalui spionase komputer, penawaran pribadi, dan bantuan mediasi orang-orang Amerika sendiri.

Hingga hari Senin (16/07) saat sidang kasus Butina digelar, Presiden Donald Trump masih menyatakan ragu ada campur tangan Rusia dalam pilpres 2016 di Amerika. Padahal, komunitas intelijen termasuk 7 organisasi telik sandi Amerika lainnya jelas-jelas menyalahkan Rusia yang dituding telah mengintervensi pemilu 2016. Demikian juga ketika Putin menyangkal terlibat dalam berbagai aktifitas semacam itu, dokumen-dokumen pengadilan menunjukkan sebaliknya. Butina memberitahukan kepada rekan-rekannya bahwa berbagai aktifitas rahasianya itu disetujui oleh administrasi atau pemerintahan Putin.

Agen Intelijen, Broker Politik

Butina, pemilik nama depan yang lebih sering ditulis dengan ejaan Maria, pernah dua kali terlibat dalam upaya gagal yang mengatur pertemuan antara Trump dengan Putin pada tahun 2016. Dakwaan yang diumumkan pada hari Senin itu tidak menyebut nama Trump, tetapi jelas bahwa berbagai “tawaran pribadi” Butina itu menunjukkan bagian dari operasi intelijen Rusia yang dilakukan secara hati-hati.

BACA JUGA  CNN: AS Terpaksa Tarik Agen Penting di Rusia Akibat Kesalahan Trump

Maria Butina merupakan orang ke-26 Rusia, dan orang pertama yang ditangkap, untuk menghadapi dakwaan terkait dugaan intervensi Kremlin terhadap pemilu presiden AS. Pada bulan Februari, Departemen Kehakiman mendakwa 13 orang berkewarganegaraan Rusia dan 3 perusahaan dengan tuduhan mencuri identitas warga AS, menyamar sebagai aktifis politik, dan menggunakan celah imigrasi, agama, dan ras untuk memanipulasi kampanye pemilu 2016.

Robert N. Driscoll, pengacara Butina dalam satu pernyataan resmi mengatakan, “Maria Butina bukanlah seorang agen Federasi Rusia.”  Ia (Driscoll) menggambarkan dakwaan itu sebagai sesuatu yang dibesar-besarkan. Driscoll berdalih bahwa mengatur acara makan malam dan menjalin pertemanan yang dilakukan oleh kliennya itu telah dianggap sebagai kejahatan. “Jadi jelas tidak ada indikasi bahwa saudari Butina ingin mempengaruhi atau merendahkan suatu kebijakan atau hukum tertentu,” katanya menambahkan.

Menurut seorang mantan pejabat, surat dakwaan terhadap Butina diajukan oleh para jaksa keamanan nasional di bawah Departemen Kehakiman AS. Sidang kasus Butina ini sempat dilakukan hingga beberapa kali, bersamaan dengan investigasi yang dilakukan oleh lembaga konsul khusus, Robert S. Muller III. Pengacara Maria Butina mengatakan bahwa FBI akhirnya meringkus kliennya itu pada bulan April saat berada di rumahnya.

Menggunakan Visa Pelajar

Butina masuk ke negara AS menggunakan visa pelajar pada tahun 2016, tetapi menurut jaksa penuntut bahwa sebenarnya Butina direncanakan sudah melakukan misinya itu pada tahun 2013. Saat itu, politisi seperti mantan gubernur Jeb Bush dan senator Marco Rubio, keduanya dari Florida, menunjukkan diri mereka tidak berminat menjadi sekutu bagi kepentingan Rusia. Sehingga keduanya terlihat seperti (barangkali) kandidat capres terkuat Partai Republik. Yang jelas bahwa catatan pengadilan menggambarkan ada upaya mengubah cara pandang partai terhadap Rusia.

Ketika pencapresan Donald Trump yang tidak biasa itu tiba-tiba terlihat menguat, pemerintah Rusia datang mendukung Trump untuk mengalahkan Hillary Clinton. Akhirnya Rusia pun mendukung Trump untuk maju dalam pilpres AS. Demikian keterangan para jaksa dan pejabat-pejabat intelijen.

Bekerja Atas Perintah Trump

Departemen Kehakiman mengatakan, Butina bekerja atas perintah seorang pejabat tinggi pemerintah Rusia yang identitasnya tidak diketahui. Sebelumnya, identitas pejabat tinggi Rusia itu diduga adalah Alexander Torshin, wakil gubernur Bank Sentral Rusia yang (juga) terkait dengan dinas intelijen Rusia, dan juga terkait dengan berbagai aktifitas kejahatan terorganisir. Torshin termasuk di antara lebih dari 20 orang Rusia yang mendapatkan sanksi tahun ini atas “kejahatan” mereka, termasuk melakukan upaya menumbangkan demokrasi Barat.

Alexander Torshin termasuk di antara tokoh penting di tubuh partai politik pimpinan Putin, yaitu Rusia Serikat, dan pernah berbicara berapi-api mengenai Trump. Ia (Torshin) menggambarkan Trump sebagai seorang “pendukung nilai-nilai keluarga tradisional” dan “pria sejati” yang “benar-benar siap bekerja sama dengan Rusia.”

BACA JUGA  Pembatalan Negosiasi dengan Taliban Dinilai Rugikan AS

Menurut data catatan pengadilan, Butina melihat NRA (Asosiasi Senjata Api Nasional) sebagai faktor yang kuat untuk mengubah kebijakan Partai Republik. Butina mendiskripsikan organisasi itu sebagai sponsor terbesar bagi pemilu Kongres AS, termasuk sponsor Konferensi Aksi Politik Konservatif. Dalam catatan terbaru di pengadilan, nama NRA memang tidak disebut secara eksplisit, namun dalam laporan sebelumnya NRA terkait dengan Butina dan Torshin. Dan hingga saat ini NRA belum merespon permintaan komentar.

Di bulan Mei 2016, Torshin dan Butina mengusulkan pertemuan Trump dengan Putin dalam sebuah event konvensi asosiasi senjata api NRA di Louisville. Oleh menantu Trump yang bernama Ky. Jared Kushner, proposal pertemuan tersebut ditolak. Namun putra tertua Trump, Donald Trump Jr., sempat bertemu dengan Torshin dan Butina dalam sebuah acara makan malam di konvensi NRA, meskipun (akhirnya) pengacara Trump menghentikan pertemuan singkat tersebut. Menurut sejumlah pihak, para investigator Kongres berhasil mendapatkan foto mereka tengah berada di acara itu.

Dukungan Intel Warga Amerika

Jaksa mengatakan, seorang intel-politik warga Amerika membantu Butina dalam mengidentifikasi pejabat-pejabat politik, media, dan tokoh-tokoh bisnis yang akan dijadikan target. Butina menemui kolega intel Amerika-nya itu di Moskow. Mengutip dari email, para jaksa membeberkan bukti paling eksplisit bahwa orang-orang Amerika secara sadar membantu pengaruh Rusia. Dalam satu email, orang Amerika itu mengatakan telah memberikan sebuah peta kepada Butina tentang bagaimana cara melakukan pekerjaannya. “Saya dan kawan-kawan anda di Amerika tidak bisa memberikan yang lebih mudah dari ini,” tulis agen politik tersebut.

Butina dan Torshin pernah menghadiri sejumlah agenda acara yang diselenggarakan oleh kelompok-kelompok afiliasi Partai Republik, di antaranya: dua kali NPB (National Prayer Breakfasts) tahun 2016 dan 2017. Dalam satu email, Butina menulis, “Pak Torshin menyarankan Presiden Putin untuk hadir dalam acara NPB pada bulan Februari 2017, di mana Trump akan hadir memberikan pidatonya.”

Dan, “Presiden Putin tidak mengatakan ‘jangan’!” tulis Butina dalam emailnya.

Meskipun intel Amerika itu tidak teridentifikasi, namun koran The New York Time sebelumnya pernah memberitakan bahwa Butina menjalin hubungan erat dengan Paul Erickson. Erickson adalah anggota asosiasi senjata api NRA, dan juga seorang aktifis yang sudah lama menjadi bagian dari upaya mendorong dan mengatur pertemuan Putin dengan Donald Trump. Bahkan Butina secara terus terang mengatakan pernah menjamu Erickson di Moskow. Sementara itu, Erickson sendiri dan pengacarnya belum memberikan respon apapun atas permintaan komentar. Sejauh ini, nama Erickson belum disebut dalam dokumen pengadilan, dan juga belum dinyatakan sebagai terdakwa.

Masih menurut jaksa, bahwa Butina juga bekerja sama dengan seorang Amerika lainnya yang identitasnya belum diketahui. Pasca pilpres pada bulan November 2016, Butina mengirim pesan kepada Torshin via Twitter, “Saya siap melaksanakan perintah selanjutnya.” Demikian keterangan jaksa menambahkan.

Sumber: The New York Times
Redaktur: Yasin Muslim

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Sah! MK Tolak Gugatan Ahmadiyah Terhadap UU Penodaan Agama

Mahkamah Konstitusi (MK) Tolak Gugatan Ahmadiyah Terhadap UU Penodaan Agama

Senin, 23/07/2018 16:11 0

Indonesia

Ekonomi Memburuk, Presiden Jokowi: Tak Usah Khawatir

Presiden Joko Widodo mengklaim bahwa tekanan ekonomi saat ini dirasakan oleh semua negara.

Senin, 23/07/2018 13:10 0

Indonesia

Saran Pemuda Muhammadiyah Agar Tak Ada Ruang Privat Koruptor di Penjara

Ketua PP Pemuda Muhammadiyah menyarankan agar napi koruptor dipenjara bersama pelaku kejahatan-kejahatan lain, sperti pemerkosa dan maling ayam

Senin, 23/07/2018 12:28 0

Indonesia

Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional Jelang Tahun Politik 2019 Segera Digelar di Jakarta

Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional akan digelar di Jakarta pada 27-29 Juli 2018

Senin, 23/07/2018 12:13 0

Indonesia

OTT di Lapas Sukamiskin, Presiden Diminta Copot Menkumham

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Kalapas Sukamiskin Wahid Husen dan Fahmi Darmawansyah sebagai tersangka kasus suap fasilitas mewah dan jual beli izin di Lapas Sukamiskin

Senin, 23/07/2018 10:59 0

Khazanah

Begini Kisah Imam Ahmad Pingsan Saat Menuntut Ilmu

KIBLAT.NET - Semangat para ulama salaf dalam menuntut ilmu memang sulit tertandingi. Demi ilmu mereka rela mengorbankan apapun yang mereka miliki.  Semangat mereka dalam belajar benar-benar menakjubkan. Mengalahkan segalanya bahkan terhadap kondisi kesehatannya sekalipun. Imam Ahmad salah satu contohnya, demi mendapatkan beberapa riwayat hadis dari gurunya, beliau rela duduk berdesak-desakan di dalam majlis hingga beliau jatuh pingsan.

Senin, 23/07/2018 10:21 0

Indonesia

Pembunuhan di Luar Pengadilan Meningkat karena Instruksi Presiden Jokowi

meningkatnya extra judicial killing karena instruksi langsung dari Presiden Joko Widodo.

Ahad, 22/07/2018 19:02 0

Indonesia

Koalisi Masyarakat Sipil: Senjata Api Polisi untuk Melumpuhkan, Bukan Membunuh

Menurut anggota Koalisi Masyarakat Sipil dari ICJR, Sustira Dirga menegaskan bahwa pembunuhan di luar pengadilan tidak dibenarkan. Sebab, penembakan hanya untuk melumpuhkan, bukan untuk membunuh.

Ahad, 22/07/2018 17:56 1

Indonesia

Koalisi Masyarakat Sipil Kritisi Pembunuhan di Luar Pengadilan oleh Polisi

Koalisi Masyarakat Sipil mengecam langkah Polisi yang melakukan extra judicial killing (pembunuhan di luar pengadilan.red) kepada terduga pelaku kejahatan.

Ahad, 22/07/2018 17:26 0

Indonesia

Hubungan Dagang Indonesia-AS, Ini Komoditi Ekspor-Impor Kedua Negara

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan para pelaku usaha Indonesia siap meningkatkan transaksi dagang dengan mitra AS.

Ahad, 22/07/2018 16:47 0

Close