... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Fokus

Politik (Wacana) Teror di Mesir

Foto: Presiden Mesir AbdulFattah As-Sisi dan Grand Syaikh Al-Azhar Ahmad Thayyib dalam sebuah momen bersama.

Oleh: Beggy Rizkiyansyah, pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB), anggota Divisi Wacana Publik Jurnalis Islam Bersatu 

KIBLAT.NET – Ia tinggal di dalam sel yang terisolir selama 23 jam sehari. Tidur beralaskan lantai semen. Keluarganya hanya sekali diizinkan menemuinya dalam tiga tahun terakhir. Ia hanya diberi makanan kaleng, kadang kala dalam keadaan busuk. Keadaan ini membuat ginjal dan hatinya terganggu. Ia juga menderita diabetes. Tetapi dokter hanya memeriksanya dengan stetoskop dan alat pengukur tekanan darah. Itupun enam bulan yang lalu. (Middleeasteye.com : 2018)

Dalam keadaan serba terbatas, seorang bekas sipir di tempat itu mengatakan, tahanan itu tak akan bisa keluar lagi, kecuali dalam keadaan mati. Mungkin memang ia dikondisikan seperti itu. Vonis 48 tahun penjara dari berbagai tuntutan menimpa presiden pertama mesir yang dipilih secara demokratis, Muhammad Mursi.

Tokoh Ikhwanul Muslimin itu tak sendirian. Ratusan orang dari Ikhwanul Muslimin juga mengalami nasib yang sama. Kini hidup dalam kezaliman rezim Presiden As-Sisi. Belum lama ini, middeleasteye.net memberitakan bahwa 31 orang yang disebut sebagai anggota Ikhwanul Muslimin (IM) divonis hukuman mati oleh pengadilan Mesir. Kita masih mengingat, pada Maret 2014, pengadilan Mesir memvonis hukuman mati pada 529 anggota IM.

Arab Spring yang berhasil menjatuhkan Tirani Husni Mubarak berbalik 180 derajat. Presiden Mursi yang terpilih lewat pemilu demokratis pada Juni 2012 di Mesir digulingkan. Shadi Hamid (2017), yang menulis untuk theatlantic.com, menyebut betapapun buruknya, Mursi bukanlah diktatur teokratis. Ia masih memberi ruang untuk beroposisi;

“Egypt under Morsi was undergoing a remarkably ordinary transition, neither wholly autocratic nor wholly democratic, falling almost exactly at the mean value of political transitions globally.”

Aktivis liberal Mesir, Sally Toma mengatakan, meski ia kala itu beroposisi pada Mursi, namun ia tak mengharapkan Mursi dijatuhkan semacam itu. Apa pun yang terjadi, kini Ikhwanul Muslimin telah menjadi sasaran tembak. Anggotanya dipersekusi, dipenjara tanpa peradilan, atau diadili dalam peradilan yang tak adil.

Bukan kali ini memang Ikhwanul Muslimin mengalami berbagai tekanan dari rezim. Penangkapan, pelarangan hingga pembunuhan pemimpinnya, Hassan al-Banna, mewarnai perjalanan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Semua itu biasanya terkait dengan sikap oposisi Ikhwanul Muslimin terhadap pemerintah Mesir.

BACA JUGA  Dituduh Radikal, Dikeluarkan dari Kampus, Mahasiswa Ini Malah Dibanjiri Tawaran Kerja

KH Wahid Hasyim, tokoh Nadhlatul Ulama dalam tulisan Di Belakang Lajar Perebutan Kekuasaan Djendral Nadjib di Mesir (1954) pernah menyatakan soal ini. Ia mempertanyakan kejadian terbunuhnya Hassan al-Banna yang menurutnya mencurigakan. Menurutnya;

“Aneh sekali, bahwa mobil jang melepaskan tembakan itu menurut saksi2 memakai sebuah nomor jang kemudian dikenal sebagai mobilnja seorang pembesar polisi, tetapi tidak ada pengusutan sama sekali. Di saat itu djuga, gerakan Ichwan dinjatakan dilarang, kantor2nja ditutup, harta bendanja dirampas, surat2 kabarnja dihentikan, rumah2 sakitnja disita, pemuda2nja be-ribu2 ditangkap dan dikembalikan kedala negeri untuk dipendjara,” demikian gugat KH Wahid Hasyim.

Represi terhadap Ikhwanul Muslimin bukan saja dipertanyakan oleh KH Wahid Hasyim, tetapi juga oleh para tokoh Islam dari Indonesia lainnya seperti Buya Hamka. Buya Hamka mengecam persekusi dan eksekusi terhadap para anggota Ikhwanul Muslimin. Ia menceritakan pengalamannya ketika berkunjung ke Mesir tahun 1950. “Ketika saya ke Mesir di tahun 1950, saya melihat rumah-rumah Ikhwan yang pintunya disegel. Di zaman pemerintahan Wafd tahun 1952, barulah perkumpulan Ikhwan dibebaskan kembali dan dinyatakan tidak bersalah. Dan setelah terjadi, “Revousi Mesir”, mereka memberikan sokongan yang amat besar bagi revolusi itu,” demikian jelas Buya Hamka dalam artikelnya di Majalah Hikmah edisi 11 Desember 1954.

Menurut Buya pembungkaman terhadap Ikhwanul Muslimin disebabkan karena sikap mereka yang menolak tunduk pada penyimpangan pemerintahnya. “Siapakah yang berani membatah persetujuan ini  padahal pers dikekang, suara rakyat dibekukan, partai-partai politik telah bubar? Siapa yang berani membantah ini sedang parlemen telah lama tidak ada persidangannya lagi? Dan suara apakah yang terdengar lain daripada suara pemerintah? Hanya Ikhwanlah yang berani menyebut hal itu sebagai saluran daripada jiwa kecil rakyat Mesir,” tukas Buya Hamka. (1954)

Buya Hamka (1954) menilai bahwa,“…bangunnya Ikhwan adalah sebagai gejala daripada kebangunan Islam kembali, beratus tahun Islam dan umat Islam jatuh tersungkur dihadapan pikiran-pikiran Barat dan penjajahan Barat. Sudah hampir putus asa umat muslimin melihat aliran ideologi yang simpang siur. Al Ikhwan Al Muslimun adalah pelopor daripada penggalian cita-cita itu kembali.”

Senada dengan Buya Hamka, A.R. Baswedan, kakek dari Gubernur DKI, Anis Baswedan, menilai Ikhwanul Muslimin adalah gerakan intelektual. Dalam artikelnya di Majalah Hikmah, tahun 1954, Beliau menilai bahwa kesadaran kaum intelektual di Mesir “…dibangkitkan oleh I.M. mengenai agama (Islam) dan kesanggupan agama ini untuk mengatur pergaulan hidup serta pembinaan negara dengan dasar2 dan nilai2 jang tinggi jang diadjarkan oleh Islam…”

H. Agus Salim, Ketua Delegasi RI, bersama H. Rasyidi menyampaikan terima kasih bangsa Indonesia kepada Syaikh Hasan Al-Banna, Mursyid Am Al-Ikhwan Al-Muslimun, yang kuat sekali menyokong perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sumber gambar:Hassan, M.Z. 1980. Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri. Bulan Bintang. Jakarta. Hal. 220

Tekanan demi tekanan itu memang terus berulang. Jika dahulu tuduhan terhadap IM adalah terlibat dalam penggulingan pemerintah, maka di masa kini label teroris ditimpakan pada Ikhwanul Muslimin. Organisasinya dicap sebagai organisasi teroris, meski kiprah sosial IM di Mesir ada sejak lama dan mengakar.

BACA JUGA  Akhirnya, Fahri Hamzah Dirikan Partai Politik

Cap teroris ini memudahkan untuk melakukan berbagai pembungkaman terhadap Ikhwanul Muslimin, meski sebenarnya tuduhan ini tanpa dasar. Terlebih bagi organisasi yang menelurkan presiden pertama yang terpilih secara demokratis di Mesir. Nuansa politik lebih terasa ketimbang berdasarkan fakta yang cermat.

Susan Moeller dalam Packaging Terrorism (2009) mengingatkan bahwa istilah teroris bisa membingungkan, dan lebih bertendensi politik. “Terrorism” and “Terrorist” often have little menacing -they are instead political epithets. When used, they can confuse more than illuminate a political event or environment- especially because politicians and media only rarely explain that “terrorism” is a contested concept and that the language used to make the moral case on terrorism is typically loaded.” (Moeller: 2009)

Ikhwanul Muslimin adalah organisasi Islam terbesar dan tertua di Mesir. Tak mudah melumpuhkan organisasi sedemikan mengakar tanpa satu legitimasi dan dukungan masyarakat. Menciptakan wacana teroris terhadap IM adalah cara termudah untuk menaklukkan benak masyarakat. Kekhawatiran akan teror(is) dengan mudah mengeksploitasi rasa takut masyarakat dan menyingkirkan akal sehat sehingga melakukan pembenaran atas berbagai penyimpangan nama keamanan. Praktek-praktek penangkapan dan pembunuhan tanpa proses peradilan yang adil dan transparan menjadi justifikasi untuk menjamin rasa aman.

Satu hal yang perlu dicermati adalah dalam menghadapi IM sebagai organisasi Islam terbesar dan tertua di Mesir, rezim As-Sisi memerlukan ‘legitimasi agama’ dalam menjalankan kebijakan tersebut. Hal inilah yang menjadi salah satu kuncinya. ‘Legitimasi agama’ ini dipakai untuk mematahkan anggapan IM sebagai organisasi yang islami dan menyokong segala tekanan terhadap IM.

Baca halaman selanjutnya: Kementerian Wakaf Mesir di...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “Politik (Wacana) Teror di Mesir”

  1. Rizal

    Kebenaran yang hakiki, tak akan hilang walaupun kebijakan membelenggu dan pemusnahan di lakukan oleh pihak-pihak yang tak sekalian.

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Manhaj

Karakter Umat Pilihan: Bersatu Karena Iman

“Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri yang terbentang dari Cina, Indonesia, India, Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir hingga Maroko dan Andalusia. Islam juga mendominasi cita-cita dan akhlak mereka serta berhasil membentuk gaya hidup mereka. Islam telah membangkitkan harapan mereka serta meringankan permasalahan dan kecemasan mereka. Islam telah berhasil membangun kemuliaan dan kehormatan mereka…Mereka telah disatukan oleh Islam; Islam telah berhasil melunakkan hati mereka, meski mereka berbeda-beda pandangan dan latar belakang politik.” (Will Durant, 1926. The History of Civilization, vol. xiii, hlm. 151)

Jum'at, 20/07/2018 19:04 0

Indonesia

Wiranto Ingin Peraturan Pemerintah Soal UU Terorisme Dipercepat

Menkopolhukam menargetkan agar rancangan RPP dapat lebih cepat selesai hingga dapat digunakan sebelm akhir tahun.

Jum'at, 20/07/2018 18:31 0

News

PM Israel Sebut “Islam Radikal” Jadi Ancaman Dunia

Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu mengatakan bahwa Islam radikal merupakan ancaman bagi Eropa, bahkan dunia.

Jum'at, 20/07/2018 14:40 0

Indonesia

Kurban Bisa Berdampak Besar Pada Ketahanan Pangan

Qurban Bisa Berdampak Besar Pada Ketahanan Pangan

Jum'at, 20/07/2018 13:52 0

Indonesia

Kesaksian Jemaah Haji Indonesia Lewati Jalur Cepat Keimigrasian Arab Saudi

Tahun ini jemaah haji Indonesia mendapatkan fasilitas jalur cepat keimigrasian di Arab Saudi

Jum'at, 20/07/2018 13:07 0

Turki

Turki: Kami Tak Ingin Skenario Ghoutah Timur dan Daraa Terulang di Idlib

Aksawi mengatakan pada konferensi pers bahwa serangan yang terjadi di Daraa menargetkan ribuan warga sipil. Turki mengutuk keras serangan yang sama saja merongrong negosiasi yang sedang berlangsung di Jenewa.

Jum'at, 20/07/2018 12:16 0

Myanmar

Pemusnahan Muslim Rohingya Dilakukan Terencana dan Sistematis

Laporan berjumlah 162 halaman dengan judul "Mereka Memberi Mereka Pedang Panjang" itu diterbitkan oleh Hak Fortify pada Kamis (19/07/2018). Laporan menunjukkan bahwa militer Myanmar bersalah melakukan "kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida".

Jum'at, 20/07/2018 11:40 0

Indonesia

Kapitra Ampera Jadi Caleg PDIP, UBN: Umat Punya Polarisasinya Sendiri

"Umat sudah punya polarisasinya sendiri"

Jum'at, 20/07/2018 11:26 0

Inggris

Inggris Tugaskan Anak-anak Muda Sebagai Agen Intelijen

Rights Watch Inggris, sebuah lembaga amal yang fokus pada langkah-langkah keamanan nasional, menyatakan keprihatinan mendalam dalam sebuah tweet pada hari Kamis (19/07/2018) terkait penggunaan anak-anak sebagai agen intelijen.

Jum'at, 20/07/2018 11:10 0

Indonesia

Global Qurban Jadi Ikhtiar Persatuan Bangsa

Global Qurban Jadi Ikhtiar Persatuan Bangsa

Jum'at, 20/07/2018 10:44 0

Close