... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Karakter Umat Pilihan: Bersatu Karena Iman

Foto: Ka'bah, salah satu simbol persatuan umat Islam

KIBLAT.NET – Adakah orang yang paling bahagia di dunia ini selain dari pada sahabat-sahabat Rasulullah? Adakah orang yang paling kita jadikan teladan selain para sahabat Rasulullah?

Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (HR. Bukhari-Muslim).

Hadits ini secara jelas memberikan penegasan bahwa umat Islam dimana pun dan kapan pun harus meneladani para sahabat Nabi dalam memahami agama ini. Karena para sahabat itu adalah profil sebaik-baik manusia dalam menjalankan dan memperjuangkan tegaknya syariat Islam. Salah satu di antara karakter yang perlu kita teladani adalah semangat persatuan atas ikatan iman.

Prototipe Ummah yang Dibangun Rasulullah

Saat pertama kali tiba di kota Madinah, Rasulullah SAW langsung mempersatukan kaum muslimin dengan tali persaudaraan. Beliau berhasil mempersaudarakan suku Aus dan Khazraj, dua suku besar yang sebelumnya saling bermusuhan dalam waktu yang cukup lama. Ikatan persudaraan yang terbangun di antara mereka diabadikan oleh Allah salam firman-Nya:

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

“…Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara;..” (QS. Ali-Imran: 103)

Persaudaraan yang dibangun oleh Nabi saw memang sangat menakjubkan. Persaudaraan yang belum pernah dikenal dalam sejarah mana pun sebelumnya. Dengan ikatan iman, Rasulullah saw berhasil mempersaudarakan kaum Anshar dan Muhajirin layaknya saudara kandung sendiri. Mereka berbeda suku dan bangsa tapi mereka saling mencintai satu sama lain. Kaum Anshar sebagai pribumi di kota Madinah rela berkorban demi mengutamakan (itsar) terhadap kaum muhajirin yang datang dari Makkah. Sungguh persaudaraan yang sulit dicari badingannya hingga sekarang. Allah ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Demikianlah bentuk ikatan persaudaraan yang diharapkan oleh Rasulullah SAW. Persaudaraan yang dibangun atas dasar iman. Tidak ada hal yang membeda-bedakan selain ketaqwaan semata. Walaupun kabilahnya berbeda, bahasanya tak sama, warna kulit beragam rupa, tapi mereka bersaudara dalam ikatan Islam, “Semua orang mukmin adalah bersaudara,” Rasulullah mempersatukan hati mereka dengan ikatan iman tanpa memandang perbedaan apapun juga. Sungguh sebuah ikatan yang tidak mampu ditandingi oleh ikatan apapun juga yang direkayasa oleh manusia hingga hari ini.

Rasulullah mempersaudarakan kaum bangsawan dengan kaum budak. Pamannya, sebagai bangsawan Quraisy, Hamzah bin Abdul Muthalib beliau persaudarakan dengan budaknya, Zaid bin Haritsah. Abu Bakar dengan Kharijah bin Zaid, Ibnu Rawahah dengan Bilal bin Rabah. Lalu perhatikan juga bagaimana beliau menyambut orang-orang yang berbeda bangsa dan bahasa dengan beliau, Bilal dari Habasyah, Suhaib dari Romawi, Salman dari Persia. Semuanya dianggap sebagai saudara. Bahkan terhadap Salman beliau bersabda, “Salman adalah bagian dari ahlul baitku,”

Seperti ini lah prototipe umat yang dikehendaki dalam Islam. Umat yang disatukan oleh ikatan akidah dan bukan ikatan kebangsaan, kesukuan, kesamaan bahasa, warna kulit, ras atau ikatan apapun yang tidak mengutamakan dasar iman. Ikatan umat seperti ini pula lah yang kemudian disebutkan dalam Allah dalam firman-Nya, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, ..” (QS Ali-Imran: 110)

BACA JUGA  Khutbah Jumat: Ulama Su', Menjual Agama Demi Syahwat Dunia

Julukan umat terbaik yang berhasil disandang oleh para sahabat tidak lepas dari persatuan yang mereka bangun. Ikatan persaudaraan atas dasar iman merupakan ikatan sejati yang mereka pahami dalam agama ini. Ikatan yang benar-benar kuat dan tak mampu dikalahkan oleh ikatan apapun juga. Bahkan ikatan sedarah sekalipun. Jadi, tidak mengherankan jika kemudian Rasulullah SAW pun menyebut mereka sebagai generasi terbaik umat ini. Mereka terhimpun dalam makna ikatan umat yang sesungguhnya. Ikatan yang mempersatukan tanpa memandang latarbelakang suku dan bangsa. Dan dengan persatuan ini pula, pada akhirnya mereka berhasil menjayakan Islam hingga tersebar ke seluruh penjuru bumi.

Persatuan Umat atau Persatuan Bangsa?

Islam menjadikan tali Allah sebagai perekat utama dalam membangun persatuan. Ketika Allah Ta’ala memerintahkan untuk bersatu jelas yang dikehendaki adalah persatuan atas ikatan yang hakiki. Ikatan yang tidak memandang perbedaan apapun selain iman dan taqwa. Adanya suku dan bangsa yang beraneka ragam di tengah pergaulan antar manusia merupakan fakta yang tak terelakkan, tetapi Allah tidak pernah memerintahkan kita bersatu atas kesamaan suku dan bangsa.

Umat Islam selalu diperintahkan untuk bersatu dengan memegang erat tali Allah, yaitu bersandar kepada prinsip kesatuan dalam memenangkan syariat Islam. Rasanya percuma jika ada slogan persatuan umat Islam bilamana bersatu kepada selain tali Allah alias bersandar kepada selain syariat Islam. Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS. Ali-Imran; 103)

Sejarah mencatat, kurang-lebih 14 abad lamanya kaum muslimin berhasil menjaga persatuan umat di bawah satu kepemimpinan. Terhitung sejak pertama kali Rasulullah saw berhasil membangun pemerintahan Islam di Madinah, lalu dilanjutkan dengan era Khulafaur Rasyidin dan Kekhalifahan Islam selanjutnya hingga runtuhnya khilafah Turki Utsmani pada tahun 1924 M.

Adalah Will Durant, seorang filosof dan sejarawan yang berasal dari Amerika Serikat, dalam bukunya The History of Civilization menyatakan, “Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri yang terbentang dari Cina, Indonesia, India, Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir hingga Maroko dan Andalusia. Islam juga mendominasi cita-cita dan akhlak mereka serta berhasil membentuk gaya hidup mereka. Islam telah membangkitkan harapan mereka serta meringankan permasalahan dan kecemasan mereka. Islam telah berhasil membangun kemuliaan dan kehormatan mereka…Mereka telah disatukan oleh Islam; Islam telah berhasil melunakkan hati mereka, meski mereka berbeda-beda pandangan dan latar belakang politik.” (Will Durant, 1926. The History of Civilization, vol. xiii, hlm. 151)

BACA JUGA  Pengamat Politik: Jika Dubes Saudi Diusir, yang Paling Dirugikan Indonesia

Namun setelah kekuatan zionis berhasil meruntuhkan Kekhilafahan Islam terakhir di Turki, gambaran tersebut mulai melemah bahkan lenyap sama sekali. Hal ini mulai tampak ketika berpecahnya umat Islam dalam sejumlah negara-bangsa (nation-state) dengan warna nasionalisme-nya masing-masing. Ide Nasionalisme menjadi cikal-bakal keterpecahbelahan umat Islam sekaligus mengoyak-ngoyak ukhuwah islamiyah yang selama ini terjalin di antara kaum Muslim.

Menurut Wikipedia, kata nasionalisme adalah suatu paham untuk menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara dengan mewujudkan suatu konsep identitas bersama. Identitas tersebut dapat berupa kesamaan darah atau keturunan, suku bangsa, daerah tempat tinggal, bahasa, kebudayaan dan sejenisnya.

Ikatan nasionalisme jelas berlawanan dengan persatuan umat yang dikehendaki dalam Islam. Sebab, ikatan utama yang menyatukan umat bukanlah karena adanya kesamaan bangsa, daerah, keturunan, bahasa dan sebagainya. Namun ikatan yang menjadi simpul utama pemersatu umat adalah ikatan akidah. Semuanya diukur atas kesamaan iman kepada Allah Ta’ala semata. sementara ikatan yang lain, semuanya berdiri di bawah ikatan tersebut. Ikatan bangsa, suku, bahasa, daerah, atau ikatan darah sekalipun semuanya menjadi penguat saja. Bukan unsur utama. Artinya bila semua ikatan itu tidak ada yang sama maka ikatan persaudaraan tetap terjalin dengan kuat.

Ikatan atas dasar kesamaan akidah mampu menyatukan barisan umat layaknya susunan bangunan yang kokoh. Bahkan dalam hadis, Rasulullah SAW menyebutkan ikatan ini ibarat satu tubuh jika salah satu anggota tubuhnya yang kesakitan, maka yang lain pun ikut merasakannya. Ikatan seperti  ini juga berulangkali ditegaskan dalam al-Qur’an. Ketika suku kebangsaannya berbeda, budaya dan bahasanya pun tidak sama, tetap terikat dalam satu ikatan yang kuat bila akidahnya sama. Sebaliknya, ketika bangsanya sama, bahasanya juga serupa namun akidahnya berbeda maka ikatan itu akan rapuh dan sulit dikokohkan.

Perhatikan bagaimana Al-Quran memberi teladan kepada kita tentang Nabi Ibrahim berlepas diri dari kaumnya karena berbeda dalam keyakinan. Allah Ta’ala berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…” (QS. Al-Mumtahanah: 4)

Demikianlah ikatan sejati yang harus diperhatikan seorang muslim dalam membangun persatuan. Adanya hubungan darah, suku, bahasa, warna kulit, memang bisa menjalin persatuan. Tapi itu bukan prinsip utama dalam membangun persaudaraan. Ia hanya penguat semata. Prinsip utama tetap berpijak kepada kesamaan akidah. sebab, persatuan yang hakiki dan mampu menyatukan kita di dunia atau bahkan hingga di akhirat kelak adalah persatuan kita di atas ikatan iman. Wallahu a’lamu bissowab

Penulis : Fakhruddin
Editor: Arju

 

 

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Wiranto Ingin Peraturan Pemerintah Soal UU Terorisme Dipercepat

Menkopolhukam menargetkan agar rancangan RPP dapat lebih cepat selesai hingga dapat digunakan sebelm akhir tahun.

Jum'at, 20/07/2018 18:31 0

News

PM Israel Sebut “Islam Radikal” Jadi Ancaman Dunia

Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu mengatakan bahwa Islam radikal merupakan ancaman bagi Eropa, bahkan dunia.

Jum'at, 20/07/2018 14:40 0

Indonesia

Kurban Bisa Berdampak Besar Pada Ketahanan Pangan

Qurban Bisa Berdampak Besar Pada Ketahanan Pangan

Jum'at, 20/07/2018 13:52 0

Indonesia

Kesaksian Jemaah Haji Indonesia Lewati Jalur Cepat Keimigrasian Arab Saudi

Tahun ini jemaah haji Indonesia mendapatkan fasilitas jalur cepat keimigrasian di Arab Saudi

Jum'at, 20/07/2018 13:07 0

Turki

Turki: Kami Tak Ingin Skenario Ghoutah Timur dan Daraa Terulang di Idlib

Aksawi mengatakan pada konferensi pers bahwa serangan yang terjadi di Daraa menargetkan ribuan warga sipil. Turki mengutuk keras serangan yang sama saja merongrong negosiasi yang sedang berlangsung di Jenewa.

Jum'at, 20/07/2018 12:16 0

Myanmar

Pemusnahan Muslim Rohingya Dilakukan Terencana dan Sistematis

Laporan berjumlah 162 halaman dengan judul "Mereka Memberi Mereka Pedang Panjang" itu diterbitkan oleh Hak Fortify pada Kamis (19/07/2018). Laporan menunjukkan bahwa militer Myanmar bersalah melakukan "kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida".

Jum'at, 20/07/2018 11:40 0

Indonesia

Kapitra Ampera Jadi Caleg PDIP, UBN: Umat Punya Polarisasinya Sendiri

"Umat sudah punya polarisasinya sendiri"

Jum'at, 20/07/2018 11:26 0

Inggris

Inggris Tugaskan Anak-anak Muda Sebagai Agen Intelijen

Rights Watch Inggris, sebuah lembaga amal yang fokus pada langkah-langkah keamanan nasional, menyatakan keprihatinan mendalam dalam sebuah tweet pada hari Kamis (19/07/2018) terkait penggunaan anak-anak sebagai agen intelijen.

Jum'at, 20/07/2018 11:10 0

Indonesia

Global Qurban Jadi Ikhtiar Persatuan Bangsa

Global Qurban Jadi Ikhtiar Persatuan Bangsa

Jum'at, 20/07/2018 10:44 0

Indonesia

KontraS Kecam Rencana Menkopolhukam Bentuk DKN

"Dan kami ingatkan sekali lagi bahwa usulan pembentukan DKN ini sangat tidak konsisten sejak awal"

Jum'at, 20/07/2018 10:31 0

Close