... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Nahdlatul Ulama dan Jebakan Politik

NU dan PKB menjadi semakin terikat pada 2014, sebagian besar sebagai hasil dari strategi cerdas oleh ketua partainya, Muhaimin Iskandar. Menjelang pemilu tahun itu, Muhaimin khawatir bahwa PKB berisiko tidak memenuhi ambang 3,5% yang diperlukan untuk mendapatkan perwakilan parlemen dan ia merancang strategi dua bagian untuk memenangkan kembali dukungan NU yang tegas. Bagian pertama dari strategi adalah untuk mengikat partai ke NU dengan menyalurkan dana dan memberikan aset. Semua sayap parlemen PKB di tingkat nasional dan regional diinstruksikan untuk memberikan pembayaran bulanan kepada NU untuk tujuan administratif, yang berasal dari pungutan pada semua legislator PKB. Para politisi ini kemudian menggunakan posisi mereka di legislatif untuk mengamankan dana untuk program sosial dan keagamaan NU. PKB juga menjamin bahwa jika partai dibubarkan, semua asetnya akan ditransfer ke NU.

Bagian kedua dari strategi Muhaimin ialah dengan cara mendapatkan perlindungan dari seorang pengusaha kaya yang dapat membiayai program-program yang terkait pemilu di komunitas NU di daerah pemilihan jantung PKB di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dengan bantuan seorang pialang politik senior, Muhaimin membujuk seorang Cina Kristen pemilik maskapai Lion Air, Rusdi Kirana, untuk bergabung dengan partai dan menjadi wakil ketua PKB. Rusdi kemudian menyediakan dana yang cukup besar bagi PKB untuk menjangkau kiai lokal sebagai pemilih kunci serta program kewirausahaan untuk pengusaha muda NU. Kedua strategi ini terbukti sangat sukses. Dalam kampanye pemilihan, baik Said Aqil dan Ma’ruf Amin memberikan dukungan simbolis kepada PKB dan banyak kiai NU secara terbuka mendukung partai. PKB mencapai 9% dalam pemilihan, membuatnya sekali lagi menjadi partai Islam dengan peringkat tertinggi.

Pemilik Lion Air, Rusdi Kirana diangkat menjadi Wakil Ketua PKB.

Kongres NU 2015 di Jombang, Jawa Timur, semakin memperkuat hubungan antara NU dan PKB. Muhaimin, bersama dengan saudaranya Halim Iskandar, ketua DPW PKB Provinsi Jatim, dan Saifullah Yusuf, wakil gubernur dan calon gubernur Jawa Timur, memberikan banyak pengaruh atas pelaksanaan kongres dan memastikan bahwa Said Aqil dan Ma’ruf Amin , keduanya dianggap menguntungkan PKB, akan mengisi dua posisi paling senior untuk lima tahun ke depan. Ma’ruf adalah mantan politisi PKB dan putrinya adalah mantan calon anggota legislatif PKB. Said pernah muncul dalam kampanye PKB pada tahun 2014 dan putrinya menikah dengan seorang saudara dari anggota PKB terkemuka, Helmy Faishal Zaini.

BACA JUGA  Saat Kampus Terpenjara Isu Radikalisme

Komposisi PBNU berikutnya membuat jelas penetrasi PKB terhadap kepemimpinan NU. Helmy diangkat ke posisi administratif penting yaitu menjabat sebagai sekretaris jenderal. Sekretaris Syuriah (Dewan Penasihat Agama yang paling penting), Yahya Staquf, juga memiliki seorang putri yang adalah seorang legislator PKB. Saifullah Yusuf, yang prospek gubernurnya sangat bergantung pada PKB, ada di dewan pengurus pusat, dan juga banyak tokoh NU lainnya dengan koneksi politik atau keluarga ke PKB. Perkawinan antar keluarga elit NU adalah hal yang biasa tetapi tingkat ikatan kekerabatan antara pemimpin NU dan PKB yang paling senior seperti saat ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Banyak politisi non-PKB dan kiai apolitis berpendapat bahwa NU sekarang adalah organisasi partisan dan nasib organisasi terlalu terikat erat dengan PKB, sehingga melanggar prinsip bahwa NU mewakili dan melayani dengan sama semua anggotanya, tanpa memandang afiliasi politik. Meskipun ada beberapa substansi untuk tuduhan ini, NU telah berdagang secara efektif dengan pemerintah nasional dan daerah selama beberapa tahun terakhir untuk mengamankan konsesi demi keuntungannya sendiri tanpa adanya manfaat langsung kepada PKB.

Masa depan yang menantang?
Terlepas dari keberhasilan NU baru-baru ini, banyak organisasi yang memiliki kekhawatiran tentang dampak pergeseran preferensi kultur-relijius, begitu juga dengan perubahan struktural dalam pendidikan Indonesia. Landasan NU selalu menjadi peran dari ribuan pesantren dan kiai yang mereka pimpin. Kaum kiai secara tradisional dihormati para pemimpin agama, pemimpin sosial, dan juga kelompok politik. Kiai juga memegang status tinggi dalam urusan nasional. Pesantren mereka sangat penting untuk membentuk kehidupan spiritual dan pandangan sosial jutaan Muslim, terutama melalui transmisi pemahaman tradisionalis tentang Islam.

Tetapi peran kiai dan pesantren berubah dengan cepat. Ada banyak bukti bahwa kiai sekarang memiliki sedikit pengaruh politik atas perilaku elektoral pengikut mereka. Mereka juga menghadapi persaingan yang terus bertumbuh dari tipe-tipe pemimpin agama baru yang paham media dan metode-metodenya lebih menarik khalayak yang luas, terutama di daerah perkotaan. Semakin banyak Muslim cenderung mencari bimbingan rohani dari seorang pengkhotbah televisi atau situs web interaktif yang nyaman daripada dari kiai yang terpelajar, tetapi kurang dapat diakses.

Pesantren juga berada di bawah tekanan besar. Penurunan pendapatan dan tingginya permintaan siswa untuk akses ke universitas negeri telah menyebabkan meningkatnya integrasi pesantren ke dalam sistem pendidikan nasional, yang telah menghasilkan homogenisasi konten pengajaran yang lebih besar dan hilangnya pola pengajaran yang berbeda yang telah begitu berpengaruh pada generasi santri masa lalu. Singkatnya, signifikansi pengetahuan agama dan lembaga pendidikan NU mungkin akan menyusut selama dekade mendatang sebagai akibat dari perubahan komunitas Muslim yang mengejar metode alternatif tentang cara belajar dan mengekspresikan iman mereka.

BACA JUGA  Dituduh Radikal, Dikeluarkan dari Kampus, Mahasiswa Ini Malah Dibanjiri Tawaran Kerja

Banyak intelektual NU juga khawatir tentang kapasitas organisasi mereka untuk dapat mempertahanakan nilai progresif yang menjadi ciri khasnya sejak awal 1980-an. Banyak cendekiawan berpikiran liberal yang pernah mendominasi wacana NU telah meninggal atau terpinggirkan. Said Aqil, seorang pendukung pluralisme agama yang konsisten dan mengartikulasikan, harus mundur pada akhir masa jabatannya saat ini sebagai Ketua PBNU pada 2020 dan tidak ada kandidat yang jelas dengan intelektualitas dan profil nasional yang sepadan untuk menggantikannya.

GP Ansor Jember demo anti khilafah dan menuntut pembubaran HTI.

Terlebih lagi, konservatisme meningkat di banyak bagian NU dan bersamaan dengan itu, muncul dukungan untuk aktivis Islamisme. Sentimen sektarian anti-Syiah dan anti-Ahmadiyah sangat dipegang di komunitas NU di Jawa Timur dan Jawa Barat, dan PBNU merasa malu dengan sejumlah besar nahdliyyin yang bergabung dengan unjuk rasa anti-Ahok — Mereka tidak menghiraukan seruan dewan pusat untuk tidak ikut serta dalam mobilisasi massa demonstran. Para pemimpin NU mengakui adanya keragu-raguan dalam menanggapi aktivis Islamisme populer, jangan sampai ketidakmampuan mereka untuk membujuk anggotanya agar mengikuti pandangan tertentu terbuka secara umum, seperti dalam pemilihan umum di Jakarta.

Terakhir, fluktuasi politik juga dapat merugikan NU. Meskipun Jokowi tampaknya akan berpeluang besar untuk dipilih kembali, kemungkinan kemenangan oleh kandidat pesaing yang kurang menguntungkan NU, seperti Prabowo Subianto atau Anies Baswedan, tidak dapat dikesampingkan. Dalam keadaan seperti itu, kedekatan NU dengan PKB dan Jokowi akan membatasi kemampuannya untuk melakukan manuver dengan pemerintah yang baru.

Tak satu pun dari tantangan ini kemungkinan besar secara dramatis mengurangi kemampuan NU untuk menjadi kekuatan utama dalam kehidupan publik Indonesia selama beberapa dekade ke depan. Tetapi sifat dan signifikansi dari kontribusinya dapat berubah. Semua organisasi Islam besar menghadapi ancaman dari individualisasi yang meningkat, budaya religius yang semakin mengikuti pasar, serta dari lingkungan pendidikan yang semakin dikontrol negara. Memperkuat sentimen konservatif juga akan mempengaruhi kepemimpinan dan doktrin NU di masa depan. Mungkin saja perubahan dalam preferensi publik dan konteks politik membuat organisasi keagamaan terbesar di Indonesia lebih cenderung untuk sekadar mengikuti, daripada memulai, arah wacana nasional.

 

Editor: Fajar Shadiq
Tulisan ini diadaptasi dari situs NewMandala, yang menganalisis situasi Asia Tenggara

1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

DSKS Ingatkan Pemkot Surakarta Tak Nekat Bangun Masjid Raya Sriwedari

Berpotensi Konflik, DSKS Ingatkan Pemkot Surakarta Tak Nekat Masjid Raya Taman Sriwedari

Kamis, 19/07/2018 19:20 0

Indonesia

Haris Azhar: Coblos di Luar Gambar Jika Tak Ada Capres yang Komitmen Lawan Korupsi

Haris menambahkan, bila seluruh paslon dinilai tidak mempresentasikan apa yang menjadi persoalan di masyarakat, maka mencoblos di luar kotak adalah solusinya.

Kamis, 19/07/2018 18:59 0

Indonesia

Tanggapan Dr. Abdul Chair Terhadap Pencalonan Kapitra Ampera Sebagai Bacaleg PDI-P

Surat tanggapan ini tidak dimaksudkan untuk mendukung atau tidak mendukung Sdr. Kapitra Ampera yang diberitakan oleh sejumlah media "dicalonkan sebagai Bacaleg DPR-RI" dari PDI-P.

Kamis, 19/07/2018 18:40 0

Indonesia

Lewat Sistem Zonasi, Mendikbud Ingin Jadikan Pendidikan Indonesia Seperti Liga Inggris

Mendikbud ingin pemerataan pendidikan Indonesia seperti Liga Inggris

Kamis, 19/07/2018 15:10 0

Indonesia

Polisi Lakukan Olah TKP di Rumah Mardani Ali Sera

Kapolres Metro Bekasi Kota, Kombes Indarto menggelar olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di kediaman Politisi PKS, Mardani Ali Sera.

Kamis, 19/07/2018 12:09 0

Indonesia

Begini Kejadian Mencurigakan Sebelum Rumah Mardani Dibom Molotov

Namun sebelum kejadian ini, Prada melihat ada beberapa kejadian mencurigakan. Yaitu beberapa orang yang tak dikenal menanyakan rumah Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Kamis, 19/07/2018 11:48 0

Indonesia

Rumah Mardani Ali Sera Dibom Molotov

Rumah politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera mendapat teror dari orang yang tidak dikenal menggunakan bom molotov. Menurut keterangan saksi mata, Eprada Sandyaka, kejadian berlangsung pada pukul 03.00 WIB dini hari.

Kamis, 19/07/2018 11:39 0

Indonesia

Angka Kemiskinan Turun, Rizal Ramli: Standarnya Rendah Banget

Ia menilai ada hal yang seharusnya tidak justru dibanggakan, sebab hitungan angka kemiskinan BPS begitu rendah, tidak sesuai standar internasional.

Kamis, 19/07/2018 11:05 0

Afrika

Buntut Markas Diserang, Panglima Pasukan Anti-Jihadis Sahel Dicopot

“Keputusan ini telah ditandatangani oleh Jenderal Chad, Umar Bekimi, sebagai wakil Sidi pada KTT Uni Afrika di Mauritania,” jelas Diageana.

Kamis, 19/07/2018 10:57 0

Indonesia

Dahnil: Jangan Pilih Capres yang Asal Ngomong “Saya Anti Korupsi”

"Itulah kita butuh capres yang punya komitmen tinggi terhadap pemberantasan korupsi, bukan yang cuma ngomong berantas korupsi," jelas Pendiri Madrasah Antikorupsi ini.

Kamis, 19/07/2018 10:40 0

Close