Rezim Suriah “Legakan” Israel dalam Pertempuran Quneitra

KIBLAT.NET, Qunetra – Garis pemisah antara tentara Israel dan Suriah di Dataran Tinggi Golan yang diduduki, Selasa (17/07), menyaksikan yang tak biasa. Kekuatan rezim menarik kendaraan berat mereka dan sebagian tentara ke arah timur untuk menghindari bentrokan dengan Israel di daerah Quneitra.

Analis Israel menunjukkan bahwa gerakan militer di Quneitra ini terjadi setelah tercapainya kesepakatan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Donald Trump Amerika di KTT Helsinki. Pembicaran itu, lanjut mereka, kedua kepala negara menyatakan dukungan terhadap Israel dan mendorong rezim Suriah mematuhi perjanjian yang ditandatangani pada tahun 1974.

Sebagaimana diketahui, perkembangan di Suriah selatan telah membuat Israel khawatir setelah rezim meraih banyak kemajuan. Wilayah kontrol rezim sudah mencapai perbatasan dengan Israel. Kekhawatiran itu muncul seiring rezim mengerahkan banyak kekuatan ke wilayah yang belum direbut, yang berdekatan dengan perbatasan.

Dalam perkembangan di kawasan yang sama, lembaga pengawas HAM Suriah, SOHR, melaporkan bahwa enam warga sipil, termasuk dua wanita dan tiga anak, tewas dalam serangan di pinggiran Ain al-Tinah di provinsi Quneitra. Lembaga yang bermarkas di London itu belum bisa menentukan apakah serangan itu dilakukan oleh angkatan udara Rusia atau Suriah.

Pada saat yang sama, sekitar 200 pengungsi Suriah yang terlantar bergerak menuju garis perbatasan. Mereka meminta tentara penjaga perbatasan Israel membukakan pintu untuk masuk Dataran Golan namun ditolak.

Di sisi lain, Rusia dan Turki mencapai kesepakatan untuk mengevakuasi milisi Syiah di Kota Al-Fua dan Kufreya, yang sudah dikepung pejuang sejak tiga tahun lalu. Belum diketahui kesepakatan itu teralisasi.

Sumber: Al-Sarq Al-Ausath
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat