Rupiah Anjlok, Pemerintah Didesak Revisi Kebijakan

KIBLAT.NET, Jakarta – Posisi dolar yang menyentuh Rp. 14.400 telah melampaui angka psikologis yang ditetapkan oleh bank Indonesia. Asumsi makro yang ditetapkan oleh bank Indonesia adalah Rp. 13.800.

Pengamat Ekonomi, Dina Nurul Fitria mengatakan bahwa pemerintah harus segera melakukan revisi-revisi terhadap apapun yang berhubungan dengan US Dollar. Dikarenakan kurs yang telah melampaui asumsi, maka menurutnya pemerintah perlu untuk menetapkan kebijakan baru yang sesuai kondisi.

Dina menyebut salah satu perang dagang antara US dan Cina adalah salah satu faktor eksternal yang menyebabkan posisi rupiah semakin terpuruk. Meski cadangan devisa masih sehat, namun posisi ini akan membahayakan kemampuan impor Indonesia kedepannya.

“Jika dalam jangka panjang, situasi rupiah terus melemah, maka komponen impor juga akan semakin tinggi nilainya sementara industri kita banyak ditopang oleh impor,” kata Dina seusai diskusi HUMANIKA di Jakarta pada Jumat (13/07/2018).

Tak hanya itu, hutang Indonesia yang dalam bentuk USD juga merupakan masalah lain bagi keuangan Indonesia. Meskipun pasti pemerintah telah mempertimbangkan sebelumnya, namun menurut kamu Dina hal itu akan menjadi masalah ketika jatuh tempo dalam kondisi ekonomi yang sedang melemah.

“Untuk itu saya menyarankan kepada pemerintah agar segera melakukan renegosiasi hutang yang menggunakan USD tadi,” ujar Dina.

Dalam persoalan ini, dia memberi masukan agar pemerintah lebih meningkatkan ekspor. Dia juga menanggapi persoalan ekspor kelapa sawit Indonesia yang mendapat tantangan dari Uni Eropa dengan saran agar pemerintah mencari pasar baru untuk ekspor kelapa sawit.

BACA JUGA  KH Miftachul Akhyar Terpilih Menjadi Ketua Umum MUI 2020-2025

“Mungkin sudah saatnya pemerintah mencari sumber pasar yang lain yang bisa menyerap ekspor kita,”pungkasnya.

Qoid

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat