... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Kebijakan Suku Bunga BI Dikhawatirkan Pengaruhi Pelemahan Rupiah

Foto: Nilai tukar rupiah terhadap dolar (Ilustrasi)

KIBLAT.NET, Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah akhir-akhir ini. Kebijakan Bank Indonesia dalam menaikkan suku bunga acuan dikhawatikan memperburuk kondisi mata uang Indonesia.

Pelemahan nilai rupiah terus terjadi. Dalam transaksi antarbank pada Selasa (10/07/2018), nilai rupiah ditutup pada posisi Rp 14.367, melemah 45 poin dari nilai sebelumnya.

Terkait hal itu, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati menilai kebijakan ekonomi Amerika Serikat terbaru memang memberikan pengaruh pada kondisi rupiah. Baru-baru ini pemerintahan Donald Trump menaikkan suku bunga di negaranya, dan di saat yang sama menurunkan harga pajak.

“Sehingga investor-investor memindahkan modal-modal mereka dari negara-negara berkembang ke AS. Ini akhirnya berdampak pada lemahnya nilai tukar rupiah,” kata Enny kepada Kiblat.net, Selasa (10/7/2018).

Enny menjelaskan faaktor internal yang memicu lemahnya kondisi rupiah adalah adalah adanya kebijakan pengurangan atau penghilangan tarif impor. Kebijakan itu menjadi kesalahan besar turun menurun sejak era Soeharto hingga kini.

Kebijakan itu kemudian menyebabkan ketidakstabilan antara impor dan ekspor negara. Berbeda halnya dengan negara berkembang lain yang menerapkan tarif impor, sehingga mereka bisa menstabilkan keuangan negara mereka saat kondisi keuangan global tak menentu.

“Ditambah lagi dengan kebijakan pemerintah melalui Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan yang diharapkan menjadi penyelamat rupiah. Justru dengan suku bunga terus naik, pemasukan dari aliran dana investor asing dikhawatirkan menurun,” terangnya.

BACA JUGA  Mobil Partai Perindo Tampak di Acara Konferensi Pers Elemen Muda 212

Enny menyatakan jumlah ketergantungan Indonesia terhadap capital inflow selama ini hampir sekitar 200 miliar USD atau Rp 2.880 triliun lebih. Ketergantungan tersebut tak bisa tergantikan dalam jangka pendek, karena jaumlahnya cukup besar.

“Sementara itu, pemasukan dari sisi ekspor Indonesia masih jauh di bawah impornya. Utamanya pangan dan beberapa tahun terakhir di bidang infrastruktur, kebijakan penghapusan tarif impor juga berakibat tinggi nya harga jual pangan hasil impor,” terangnya.

Di tengah kondisi perekonomian global yang dipenuhi ketidakpastian, Enny berharap kebijakan-kebijakan pemerintah yang diambil harus betul-betul diperhitungkan dari segala sisi. Selian mempertimbangkan risiko, kebijakan yang diambil seharusnyanya memperhatikan kepastian dari kemanfaatannya.

“Saya justru melihat berapapun lemahnya nilai tukar rupiah, dapat dijadikan momentum agar pemerintah segera berbenah. Solusinya menciptakan kepercayaan diri (confident) terhadap investor kalau investasi di Indonesia sangat aman,” pungkasnya.

Reporter : Hafidz Syarif
Editor: Imam S.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Eropa

23 Tahun Peringatan Genosida Muslim Srebrenica: 35 Jasad Dimakamkan Ulang

"Hari-hari ini menjelang peringatan ke-23 genosida, kami dikritik seolah-olah penganiayaan di Srebrenica tidak boleh lagi dibicarakan. Mereka harus tahu bahwa selama kerabat korban hidup, pengalaman sedih akan terus berlanjut untuk diberitahu," katanya.

Rabu, 11/07/2018 11:10 0

Suriah

Rusia Ancam Serang Idlib Setelah Daraa

Para pejabat Rusia mengatakan kepada Tentara Pembebasan Suriah (FSA) di Daraa bahwa mereka berencana melancarkan serangan di provinsi utara Idlib di Suriah pada bulan September.

Rabu, 11/07/2018 10:40 0

China

Cina Janjikan Negara-negara Timur Tengah Pinjaman $20 Miliar

Ia menjanjikan, negaranya telah menyediakan 100 juta yuan ($15 juta) bantuan ke Palestina untuk mendukung pembangunan ekonomi dan 600 juta yuan ($91 juta) untuk Yordania, Suriah, Libanon dan Yaman.

Rabu, 11/07/2018 09:30 0

Wilayah Lain

Israel Tak Kesampingkan Jalin Hubungan dengan Assad

Tapi Lieberman mengakui bahwa Assad tampaknya mendapatkan kembali kendali atas sisi Suriah dari Dataran Tinggi Golan.

Rabu, 11/07/2018 08:07 0

Afghanistan

Pernyataan Taliban Untuk Konferensi Ulama di Arab Saudi

KIBLAT.NET – Menanggapi rencana Konferensi Ulama yang akan diadakan di Jeddah, Arab Saudi, 11-12 Juli...

Selasa, 10/07/2018 22:12 0

Arab Saudi

Setelah di Bogor, Muktamar Untuk Perdamaian Afghanistan Bakal Digelar di Jeddah

KIBLAT.NET – Setelah Indonesia, Arab Saudi akan menjadi tuan rumah muktamar atau Konferensi Internasional Cendekiawan...

Selasa, 10/07/2018 16:53 0

Suriah

Tank Kebanggaan Rusia Uran-9 Tak Berfungsi Baik di Suriah

Uran-9 punya masalah dalam menembakkan peluru kaliber 30mm. Menurut laporan Popular Mechanics yang mengutip Blog Pertahanan, dia tidak bisa menembak saat bergerak selain masalah-masalah teknis lain.

Selasa, 10/07/2018 15:00 0

Analisis

Kerap Serang Suriah, Benarkah Israel Memusuhi Rezim Assad?

Israel juga melakukan serangan rutin dalam bentuk tembakan roket, serta pembunuhan dan serangan udara sejak perang dimulai. Sementara pemerintah Suriah tidak pernah secara langsung membalas.

Selasa, 10/07/2018 13:30 0

Afghanistan

Afghanistan Tak Pandang Taliban Organisasi Teroris

“Pemerintah Afghanistan melihat Taliban sebagai oposisi. Presiden Ashraf Ghani menawarkan rekonsiliasi antara sesama warga Afghan (termasuk Taliban). Oleh karena itu, pemerintah tidak memandang mereka sebagai organisasi teroris,” kata Karim ketika ditanyai terkait dukungan Qatar kepada Taliban, ISIS dan Al-Qaidah, yang semuanya dianggap gerakan teror.

Selasa, 10/07/2018 13:00 0

Palestina

Layang-Layang Pejuang Palestina Sebabkan 33 Titik Api di Israel

Menurut statistik terbaru Israel, kerugian ekonomi dari layang-layang api yang diluncurkan dari Jalur Gaza, sejauh ini berjumlah sekitar 8,5 juta shekel (2,5 juta dolar).

Selasa, 10/07/2018 12:00 0

Close