... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Olahraga dan Nasionalisme di Dunia Global

Foto: Kapten tim Thomas Indonesia Hendra Setiawan mencium bendera merah putih saat pelepasan Tim Thomas dan Uber 2016 di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta, Senin (9/5). Tim bulutangkis beregu putra dan putri Indonesia akan bertanding memperebutkan Piala Thomas dan Uber yang berlangsung di Kunshan, Tiongkok pada tanggal 15-22 Mei 2016. Sumber: ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo/foc/16.

KIBLAT.NET – Ørnulf Seippel, seorang profesor sosiologi olahraga di Departemen Budaya dan Kajian Sosial pada Norwegian School of Sport Science (NIH) membuat satu penelitian menarik tentang nasionalisme dan kaitannya dengan olahraga.

Penelitian yang dimuat dalam jurnal International Journal of Sociology pada tahun 2017 ini mengangkat judul “Olahraga dan Nasionalisme di Dunia Global”. Dengan menggunakan data survei dari 25 negara, studi ini menunjukkan bahwa secara umum tingkat nasionalisme olahraga di sejumlah negara masih cukup tinggi.

Hasil penelitiannya menunjukkan, bahwa negara maju seperti Eropa Barat memiliki tingkat nasionalisme olahraga yang lebih rendah sementara beberapa negara kurang berkembang dan Eropa Timur memiliki tingkat yang lebih tinggi.

Selanjutnya, penelitian ini juga melihat bagaimana nasionalisme di bidang olahraga sangat tergantung pada karakteristik individu dan negara. Di tingkat individu, usia, agama, pendapatan, partisipasi dan kehadiran dalam ritual keagamaan menunjukkan korelasi positif dengan nasionalisme olahraga, sedangkan tingkat pendidikan justru memiliki korelasi negatif. Pengaruh usia bervariasi antar negara. Negara yang lebih demokratis, makmur, dan terglobalisasi adalah mereka yang paling rendah tingkat nasionalismenya di bidang olahraga.

“Apa yang sangat fantastis dalam petualangan ini adalah tanggapan dari seluruh elemen bangsa. Ini menjadi romansa nasional.”

Kalimat itulah yang ditulis Guardian saat menggambarkan keberhasilan tim sepakbola Islandia di kancah Piala Eropa 2016;  olahraga digadang membawa orang-orang dari suatu negara secara bersama-sama dan memberikan sukacita, kebanggaan, dan bahkan cinta.

Dengan demikian, sepakbola Islandia adalah ilustrasi tepat waktu dari fenomena yang lebih umum di mana olahraga memang penting untuk identitas nasional: kriket India, hoki es Kanada, olahraga musim dingin Nordik, skating Belanda, bersepeda Prancis, hoki lapangan Pakistan, kriket Inggris, dan baseball Amerika.

Nasionalisme olahraga muncul di segala bidang.

Dengan contoh sepakbola, kita juga bisa melihat bagaimana proses individu, negara, dan global berinteraksi untuk membentuk identitas nasional. Di satu sisi, sepakbola menyediakan bahasa global; di sisi lain, berbagai negara melambangkan bentuk-bentuk tertentu dari sepakbola: permainan kolektif Islandia, “juego bonito” Brasil, “tiki-taka” Spanyol, “total football” Belanda, sepakbola mesin ala Jerman, “catenaccio Italia, dan “kick and run” ala Inggris.

Penelitian yang dibuat Seippel, menggambarkan secara jelas melalui sepakbola bahwa ada perhatian global secara umum pada bidang olahraga dan bagaimana perhatian terhadap olahraga ini memberikan materi yang sangat baik untuk mempromosikan dan membatasi keunikan nasional.

BACA JUGA  Pakistan Desak China Kurangi Tekanan terhadap Minoritas Muslim

Selain olahraga yang menawarkan kesempatan emas untuk melihat bagaimana faktor individu, negara, dan global bersama-sama mempengaruhi identitas nasional (Skey:2013), studi olahraga dan nasionalisme dianggap penting karena olahraga ada di mana-mana di masyarakat modern dan sangat sering melibatkan dimensi nasionalisme yang terang-terangan.

Hal itu terlihat selama acara olahraga internasional seperti Olimpiade dan Piala Dunia, tetapi juga ditemukan dalam olahraga domestik. Terlebih lagi, karena olahraga kelihatannya begitu penting bagi banyak orang, dan begitu banyak sumber daya yang dikhususkan untuk mereka, maka sudah saatnya untuk mempertanyakan bagaimana mereka mungkin memiliki kepentingan politik dan demokrasi.

Olahraga menjadi sebuah konsekuensi bagi identitas nasional adalah salah satu cara yang mungkin untuk mendekati pertanyaan ini. Meskipun banyak literatur tentang wujud nasionalisme, banyak kritik yang mengangkat kegagalan nasionalisme dalam mengangkat rasa memiliki dari masyarakat terhadap bangsanya sendiri (Billig:1995, Calhoun; 2007:27. Edensor:2006, Skey:2013).

Meskipun studi tentang olahraga dan nasionalisme melimpah ruah, mempelajari nasionalisme melalui olahraga adalah jawaban yang cocok untuk menjawab kritik ini karena menunjukkan bagaimana orang biasa dapat memberikan makna kepada negara mereka masing-masing dalam fenomena sehari-hari.

Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah pertama untuk menguji sejauh mana orang-orang di berbagai negara benar-benar mengalami semacam kebanggaan nasional yang terkait dengan olahraga, dan selanjutnya menanyakan apakah kebanggaan nasional yang terkait dengan olahraga mencerminkan perbedaan individu (misalnya, tingkat penghasilan warga), dan atau variasi antar negara (misalnya, produk domestik bruto [PDB]).

Kedua, penelitian ini juga menyelidiki apakah efek karakteristik individu pada nasionalisme mencerminkan perbedaan antar negara (misalnya, variasi dalam efek pendapatan pada nasionalisme antar negara). Penelitian ini didasarkan pada set data International Social Survey Program (ISSP) (2007 Leisure and Sport) yang mencakup 25 negara.

Nasionalisme suporter Rusia.

Nasionalisme dan Olahraga: Perspektif Teoritis

Inti dari penelitian ini adalah fenomena nasionalisme olahraga, dioperasionalkan melalui pertanyaan survei yang meminta responden betapa bangganya mereka ketika atlet dari negara masing-masing berhasil.

Tujuan pertama dari bagian ini adalah untuk menempatkan bentuk nasionalisme olahraga yang agak sempit ini lebih jelas dalam wacana umum nasionalisme dan untuk mengidentifikasi kerangka konseptual. Setelah itu, tujuannya adalah untuk menyarankan, secara hipotetis, bagaimana sejumlah karakteristik individu dan nasional berkontribusi baik sendiri dan bersama-sama untuk menjelaskan perbedaan dalam jenis nasionalisme olahraga ini.

BACA JUGA  Erdogan dan Putin Sepakati Skenario Baru di Idlib, Begini Isinya

Kebanggaan warga terhadap atlet nasional mereka hanya mewakili satu bagian dari gambaran nasionalisme yang lebih besar, dan untuk menafsirkan hasil empiris kita dengan tepat memerlukan klarifikasi teoretis: apa itu nasionalisme olahraga dan bagaimana itu bisa terjadi?

Kembali ke wacana umum tentang nasionalisme, kita dapat melihat bagaimana olahraga, ketika mereka mengambil bentuk ritual, dapat mengaktifkan sentimen nasional dan perasaan.

Dengan cara ini, olahraga menjadi simbol sentral dalam nasionalisme masyarakat modern, dengan memproduksi dan mungkin yang paling penting, mengaktifkan cerita tentang siapa kita sebagai anggota sebuah negara-bangsa. Kebanggaan nasional yang dihasilkan dari olahraga adalah salah satu cara untuk membuat konsep hasil dari proses tersebut (Evans dan Kelley: 2002, Hilvoorde et al:2010, Kavetsos 2012; Kavetsos dan Szymanski 2010 ; Smith dan Kim 2006 ).

Nasionalisme Olahraga: Sebuah Hipotesis

Secara umum, tampaknya masuk akal untuk menganggap bahwa nasionalisme olahraga memiliki dua sumber. Di satu sisi, nasionalisme olahraga mungkin sejalan dengan nasionalisme: individu dengan sentimen nasional yang kuat juga mereka yang bangga ketika atlet nasional berhasil. Di sisi lain, nasionalisme olahraga mungkin juga tergantung pada kepedulian mereka di bidang olahraga: mereka yang tertarik dalam olahraga mungkin merasa “bangga secara nasional ” terhadap atlet nasional mereka meskipun tidak mengekspresikan perasaan kebangsaan yang kuat.

Sebagaimana dijelaskan Calhoun (2007) dan Smith (2009), identitas nasional sering didasarkan pada lapisan budaya yang mendalam, dan di antaranya, “hubungan antara agama dan kesadaran nasional bisa sangat dekat ” (Hobsbawm 1992: 67).

Agama sering diharapkan untuk meningkatkan perasaan nasionalisme, oleh karena itu, seperti olahraga, sering dikaitkan dengan ritual, tempat, dan orang-orang dengan kebanggan terhadap suatu bangsa.

Selanjutnya, dalam konteks penelitian survei perbandingan, budaya sering dikaitkan dengan keterampilan kognitif (Bollen dan Medrano 1998; Inglehart 1990). Idenya adalah bahwa orang yang lebih berpendidikan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang hal lain, lebih mudah membayangkan diri mereka sebagai bagian dari kelompok sosial yang lebih besar, dan dengan demikian akhirnya menjadi lebih kosmopolitan (Beck 2009).

Berdasarkan data penelitian, ini mucul asumsi kuat bahwa orang-orang dengan pendidikan tinggi kurang memiliki kebanggaan terhadap olahraga daripada mereka yang berpendidikan rendah. Inti dari argumen tersebut adalah bahwa orang-orang yang aman secara finansial merasa kurang terancam oleh “orang lain” daripada mereka yang secara finansial tidak aman. Dalam konteks ini, menyiratkan bahwa orang-orang dengan penghasilan tinggi seharusnya kurang nasionalis daripada mereka yang berpenghasilan rendah.

Baca halaman selanjutnya: Hasil dari penelitian...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Pecah..! Ribuan Warga Solo Deklarasikan #2019GantiPresiden

Ribuan warga Solo Raya mendeklarasikan #2019GantiPresiden di kawasan lapangan Kota Barat, Jl. Dr. Moewadi, Solo, Ahad (1/7/2018). Deklarasi itu berlangsung tepat setelah mereka melakukan jalan sehat di kota Solo.

Senin, 02/07/2018 16:40 0

Indonesia

“Kalau Tidak Dekat dengan Allah SWT, Ganti Presiden Akan Susah”

Karena menurutnya, tujuan dari gerakan #2019GantiPresdien adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Gerakan ini, lanjutnya, bukan semata hanya untuk mengganti presiden tapi juga untuk mendekat diri kepada Allah.

Senin, 02/07/2018 16:29 1

Indonesia

DSKS Adakan Silaturahmi Dan Sarasehan Takmir Masjid se-Solo Raya

Moderator acara, Yusuf Suparno mengatakan agenda tersebut diselenggarakan dengan mengharap tersambungnya tali silaturahmi antar jemaat masjid dan ummat Islam se-Soloraya. Terlebih, dengan adanya acara silaturahmi tersebut bisa menjadi wadah konsolidasi ummat Islam untuk memecahkan suatu masalah di kemudian hari.

Senin, 02/07/2018 16:19 0

Indonesia

Amnesty Internasional: Papua Lubang Hitam Pelanggaran HAM di Indonesia

Usman melanjutkan penelitian Amnesty Internasional menemukan setidaknya hampir 100 orang terbunuh selama delapan tahun teralhir maka sekitar satu orang dibunuh setiap bulannya di Papua. Ini adalah noda hitam HAM di Indonesia. 

Senin, 02/07/2018 15:36 0

News

Drone Tak Dikenal Kembali Teror Pangkalan Udara Rusia di Lattakia

KIBLAT.NET, Lattakia – Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan, Ahad (01/07), menjatuhkan sejumlah pesawat tanpa awak di...

Senin, 02/07/2018 13:49 0

Suriah

Update Suriah Selatan: Oposisi Bersenjata Dipaksa Negosiasi

"Lima perjanjian rekonsiliasi baru telah dicapai hari ini di kota Masifra, Kahil, Al-Sahwa dan Giza, sebagaimana yang terjadi seperti di kota Basra. Pasukan rezim saat ini berada di posisi tujuh kilometer dari perbatasan Yordania," jelas Rami Abdel Rahman, direktur SOHR.

Senin, 02/07/2018 10:02 0

Mali

Pejuang Mali Sergap Patroli Tentara Prancis, Empat Terluka

pemerintah Mali mengutip dari sumber medis mengatakan bahwa hasil sementara serangan itu empat orang tewas dan 23 terluka.

Senin, 02/07/2018 09:22 0

Iran

Demonstrasi Di Iran Memanas, 4 Pengunjuk Rasa Tewas Ditembak

Situasi di kota Muhammarah, wilayah barat daya Iran memanas dengan meletusnya unjuk rasa warga

Ahad, 01/07/2018 22:17 0

Indonesia

Jalan Sehat #2019GantiPresiden Solo, DSKS: Kita Ingin Indonesia Jadi Lebih Baik

"Kita hanya ingin Indonesia menjadi lebih baik, dan tidak ada kaitannya dengan politik,"

Ahad, 01/07/2018 21:55 0

Indonesia

Aksi OPM dan Kericuhan Kalbar Pasca Pilkada Seharusnya Masuk Tindak Pidana Terorisme

Aksi OPM dan Kericuhan Kalbar Pasca Pilkada Seharusnya Masuk Tindak Pidana Terorisme

Ahad, 01/07/2018 21:38 0

Close