... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Fokus

Sepakbola, Politik dan Sujud Syukur

Saat berhadapan dengan Perancis di perempat final Piala Dunia 1938, para pemain Italia melakukan salam ala fasis sebelum bertanding. Seragam yang mereka kenakan pun warna hitam, Maglia nera, warna kebesaran rezim. Seragam hitam adalah pertama dan terakhir kalinya mereka kenakan. Aksi pemain italia ini disambut dengan caci maki penonton. (Evans Edgar Simon: 2018) Wajar, karena Perancis adalah negara pelarian para penolak fasisme di Italia. Meski demikian Mussolini pasti tersenyum puas. Italia menang melawan Perancis dan terus melaju hingga menjadi juara.

Pemain Timnas Italia melakukan salam fasis dalam pertandingan Piala Dunia 1938 melawan Perancis.

Ketika pada 13 Mei 1990, Yugoslavia diambang perpecahan, karena Slovenia dan Kroasia yang hendak memerdekakan diri, satu pertandingan sepak bola digelar di Zagreb, Yugoslavia (kemudian Kroasia). Dynamo Zagreb melawan Red Star Belgrade. Dynamo mewakili etnik kroasia, dan Red Star mewakili etnis serbia. Suasana sudah panas di dalam dan di luar stadion. Di dalam para suporter Red Star sudah menyanyikan lagu-lagu kebangsaan seraya mengejek suporter Dynamo Zagreb. (Allen L. Sack & Zeljan Suster: 2000)

Kerusuhan akhirnya tercipta. Pertandingan dibatalkan dan polisi memasuki lapangan. Satu momen penting terjadi ketika Kapten Dynamo Zagreb, Zvonimir Boban menendang dan memukul polisi karena dianggap tidak melindungi Bad Blue Boys, suporter Dynamo. Sejak itu Boban, yang nantinya menjadi bintang AC Milan, dianggap pahlawan Kroasia. (Allen L. Sack & Zeljan Suster: 2000)

Pihak serbia menuding Bad Blue Boys sengaja menciptakan kerusuhan dan terkait dengan organisasi paramiliter. Di pihak Serbia, satu hal yang pasti, saat pertandingan berlangsung, di samping pelatih Red Star, terdapat Zeljko Raznatovic alias Arkan. (Allen L. Sack & Zeljan Suster: 2000) Arkan adalah seorang pemimpin paramiliter brutal saat perang Serbia – Kroasia, membantai muslim Bosnia dan Kosovo. Ia di dakwa melakukan kejahatan kemanusiaan kepada Muslim Bosnia oleh International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia.

Sepakbola yang membakar nasionalisme atau nasionalisme yang membakar sepakbola? Sulit dijawab. Satu hal yang pasti, sepakbola mampu menyatukan berbagai identitas. Tetapi di bawah bendera nasionalisme pula, ia mampu menyekat-nyekat manusia. Nasionalisme adalah garis pembatas diantara kami dan mereka. Lagu-lagu kebangsaan, seragam tim, satu kumpulan manusia dengan latar belakang yang sama mampu membakar semangat identitas tertentu.

BACA JUGA  Kematian Mengintai Para Tahanan Politik di Penjara Mesir, Ini Sebabnya

Ørnuff Seippel dalam Sports and Nationalism in a Globalized World (2017) menyebutkan bahwa olahraga (termasuk sepakbola) menjadi simbol sentral untuk nasionalisme masyarakat modern, dengan memproduksi dan mungkin yang paling penting, mengaktifkan kisah tentang siapa kita sebagai satu anggota dari sebuah negara. Kebanggaan nasional yang dihasilkan dari olah raga adalah satu cara untuk mengonseptualisasikan proses tersebut.

Pemain Timnas U19 saat final piala AFF.

Batas-batas negara bangsa yang mulai cair oleh globalisasi dan “mendatarnya dunia” bisa jadi tumbuh kembali lewat “nasionalisme” sepakbola. Hal ini bisa terlihat misalnya di Eropa. Bangkitnya kaum sayap kanan juga hadir lewat nasionalisme-rasialisme dan Islamophobia di sepakbola. Menariknya di tengah maraknya rasialisme dan Islamophobia di Eropa muncul pemain-pemain muslim di klub-klub Eropa.

Yaya Toure, Sadio Mane, dan khususnya Mohammad Salah menjadi pemain-pemain Muslim yang bukan saja bermain apik tetapi juga menonjolkan identitasnya sebagai Muslim. Selebrasi sujud syukur di tengah liga Eropa yang dihinggapi islamophobia menjadi satu “aksi” yang menonjol dan menarik. “Pertunjukan di muka publik akan sebuah keyakinan agama dari seorang bintang sepak bola kelahiran Mesir ini bukanlah hal kecil di Inggris, di mana kebijakan imigrasi yang bermusuhan bertepatan dengan meningkatnya Islamophobia,” demikian menurut Yasmin Serhan dalam artikelnya di The Atlantic (2018)

Yasmin Serhan benar. Islamophobia justru berkembang pesat di Utara Inggris. Tempat Liverpool FC, klub Mohammad Salah saat ini. Bagi Fans Liverpool mereka bukan saja menerima aksi sujud Salah, tetapi bahkan mendukungnya. Fans The Reds menyanyikan lirik seperti ini untuk Salah;

BACA JUGA  Antara Kematian Mursi dan Kematian Demokrasi di Mesir

“Mo Salah-la-la-la-la-la-la-la-la-la / If he’s good enough for you, he’s good enough for me / If he scores another few, then I’ll be Muslim too / If he’s good enough for you, he’s good enough for me / Sitting in the mosque, that’s where I wanna be.” (Yasmin Serhan: 2018)

Mo Salah dan Sadio Mane, dua pemain Muslim di klub sepakbola Inggris, Liverpool.

Nyanyian dukungan itu memang satu hal yang luar biasa untuk wilayah yang sedang terjangkit virus Islamophobia. Namun apakah seorang Salah dapat membalikkan keadaan di sana? Apakah Islamphobia menjadi lenyap? Atau jangan-jangan akan tumbuh persoalan baru?

Yasmi Serhan dalam The Power of Mo Salah’s Goal-Scoring Ritual mengutip pendapat yang menyatakan satu kekhawatiran: Bisa jadi orang akan menganggap Salah adalah ‘Muslim yang berbeda.’ Salah adalah pengecualian.

Kekhawatiran tersebut bisa saja terjadi. Namun dengan semakin banyaknya pesepakbola Muslim di benua Eropa akan semakin mudah mengikis ‘pengecualian-pengecualian’ tadi. Kehadiran mereka menjadi cermin bukan saja permainan yang memukau tetapi juga akhlak yang memikat.

 

 

 

1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Hitung Cepat KPU: Kotak Kosong Kalahkan Calon Tunggal Pilkada Kota Makassar

Calon satu-satunya pada Pilkada Kota Makassar 2018 Munafri Arifuddin-A. Rachmatika Dewi Yustita (Appi-Cicu) kalah melawan kotak kosong

Jum'at, 29/06/2018 16:06 0

Suriah

Kiper Suriah Marah-marah Ketika Bendera Revolusi Berkibar di Tribun Lapangan

Alma ketika berlatih di kamp pelatihan di Austria, marah-marah saat melihat supporter itu membawa bendera revolusi Suriah. Ia mendesak agar bendera itu dibuang.

Jum'at, 29/06/2018 14:46 0

Yaman

PBB Buktikan Rudal Pemberontak Hutsi Diproduksi Iran

Lima pecahan rudal yang ditemukan di daerah Yanbu dan Riyadh pada bulan Juli 2017 mirip dengan jenis rudal Iran "Qiam-1". Selain itu, di beberapa komponen rudal juga tertulis kata "Made in Iran".

Jum'at, 29/06/2018 14:13 0

Indonesia

ISAC Desak Pemerintah Tegas Tegakkan Hukum Kasus Teroris Sparatis Di Papua

ISAC Desak Pemerintah Tegas Tegakkan Hukum Kasus Teroris Sparatis Di Papua

Jum'at, 29/06/2018 11:15 0

Amerika

Pria Bersenjata Tembaki Kantor Sebuah Koran di Maryland, Lima Tewas

Aksi penembakan menargetkan koran lokal terjadi di Annapolis, negara bagian Maryland, Amerika Serikat

Jum'at, 29/06/2018 09:03 0

Suriah

HTS Gerebek Markas Sel ISIS di Idlib

Al-Shami mengatakan kepada kantor berita yang berafiliasi dengan HTS, Iba’, bahwa aparat keamanan telah menyerbu beberapa posisi sel ISIS di kota Neirib di pedesaan Idlib.

Jum'at, 29/06/2018 08:54 0

Malaysia

Malaysia Keluar dari Koalisi Militer Arab Saudi di Yaman

Ia menambahkan bahwa negaranya "selalu mengadopsi kebijakan netral dan tidak mendukung arah politik negara-negara besar dunia."

Jum'at, 29/06/2018 07:59 0

Indonesia

Sudah Ketahui Kekuatan Pelaku Penyerangan di Nduga, Polisi: Semoga Segera Dituntaskan

Polisi menyebut pelaku penyerangan di Bandara Kenyam, Nduga sebanyak 8 orang dan masih melakukan pemngejaran

Kamis, 28/06/2018 19:34 0

Eropa

Jelang KTT Trump-Putin, Negara-negara Anggota NATO Cemas

Menurut Maria, Putin orangnya “terlalu menawan”, dan sulit untuk memprediksi bagaimana cara Trump nantinya dalam merespon dan memberikan reaksi terhadap Putin.

Kamis, 28/06/2018 15:21 0

Tazkiyah

Hidayah Suami Lantaran Doa Istri

Suatu hari, suamiku memasuki kamarku dan memukulku serta berlaku buruk kepadaku. Ketika itulah saya tidak sabar lagi untuk terus bersamanya. Saya putuskan untuk menelepon orang tua sedang saya menangis.

Kamis, 28/06/2018 15:01 0

Close