... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Editorial: Ketika Olahraga Jadi Alat Politik

Foto: Pendukung Glasgow Celtic mengusung bendera dukungan terhadap negara Palestina yang dijajah Zionis Israel.

KIBLAT.NET – Perselingkuhan antara olahraga dan politik bukanlah sesuatu yang baru. Seorang politikus sejati haruslah serentak merupakan simbol kejantanan sportif. Sementara, olahraga juga kerap dimaknai sebagai manifestasi penting semangat ideal kolektivisme yang rasional dan higienis.

Jadi, dari pertalian antara olahraga dan politik atau ideologi, sudah tampak betapa olahraga dalam peradaban modern, bukan lagi sekadar kegiatan yang netral, melainkan kental sekali kandungan multimakna itu. Bahkan sudah tidak terlihat makna olahraga itu sendiri setelah semuanya terbaur oleh politik, yang ada hanyalah manipulasi sebuah kepuasan pribadi.

Sejak awal kebangkitan Olimpiade modern 1896 di Athena, gerakan Olimpiade (Olympic Movement) mencanangkan bahwa Olimpiade mengemban misi untuk menyebarluaskan isme, sebuah idealisme yang mengandung pesan perdamaian, kebebasan dan persaudaraan sebagai landasan tatanan dunia baru, termasuk membina manusia menuju kesempurnaan, seperti terkandung dalam motto: citius, altius, forties yang berarti lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat.

Pada awalnya, kegiatan Olimpiade dan Piala Dunia yang diklaim sebagai langkah paling dini dalam penciptaan globalisasi olahraga, hanya diikuti oleh kelompok ekslusif dari kalangan bangsawan. Memasuki tahun 1920 mulai meluas, diikuti oleh khalayak luas, meskipun masih amat terbatas, sementara pada tahun 1950 berbarengan dengan meletusnya perang dingin, konflik dalam konteks geopolitik yang dipicu oleh perang ideologi antara komunisme Timur dan dan demokrasi Barat tidak terelakkan.

Sejak lama ada usaha untuk menceraikan kegiatan olahraga, dengan politik. Tapi, upaya itu selalu gagal. Kalau saja dunia mau jujur, sebenarnya keterkaitan antara keduanya sudah terpatri dalam peraturan penyelenggaraan pertandingan olahraga itu sendiri. Ambil saja pengibaran bendera dan pengumandangan lagu kebangsaan negara asal atlet pemenang salah satu cabang olahraga sebagai contoh. Itu saja sudah menunjukkan tentang bagaimana olahraga sudah terpolusi oleh politik.

BACA JUGA  Politik (Wacana) Teror di Mesir

Sejarah telah beberapa kali merekam tentang intervensi politik terhadap ajang tersebut. Contoh klasik terjadi pada Olimpiade 1936 di Berlin, ketika faham Nazi Jerman tengah berada di puncaknya. Jesse Owens, pelari berkulit hitam AS yang sebelum pesta olahraga itu dibuka, sudah dihina media Jerman, tak disangka tiba-tiba saja ia berhasil merebut tak kurang dari empat medali emas. Dan, itu dilakukannya di depan mata Hitler, sang pendaku konsep tentang supremasi bangsa Aria.

Tahun 1968, pada upacara menghormati pemenang, dua atlet kulit hitam AS mengacungkan tinju sebagai protes atas diskriminasi rasial di negara mereka. Orang juga tak melupakan tragedi pada Olimpiade 1972 di Muenchen, ketika para pejuang kemerdekaan Palestina menyandera dan kemudian membunuh 11 atlet Israel. Itu adalah upaya menarik perhatian dunia akan nasib bangsa Palestina yang dijajah oleh Zionis Israel di tanah leluhur mereka.

Peraih medali emas Amerika, Tommie Smith (tengah) dan peraih medali perunggu, John Carlos, mengangkat tinju mereka di udara sebagai protes atas sikap rasisme selama pemutaran lagu kebangsaan AS di Olimpiade 1968.

Pada Olimpiade 1980 di Moskow, AS dan negara-negara Barat memutuskan tak hadir sebagai protes atas penyerbuan Uni Soviet terhadap Afganistan. Empat tahun kemudian, Uni Soviet dan sekutunya membalas boikot itu dengan tak hadir pada Olimpiade 1984 di Los Angeles. Aksi Uni Soviet diikuti oleh negara-negara satelitnya di Eropa Timur. Akibatnya, Olimpiade 1984 berjalan hambar. Maklumlah, negara-negara sosialis di masa itu merupakan gudang atlet kelas dunia.

Olahraga digadang-gadang juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan identitas nasional. Konsep negara-bangsa, yang dianut oleh manusia modern membutuhkan alat perekat, simbol dan sistem yang bisa membedakan antara seseorang dengan lainnya. Konsep itu diglorifikasi oleh pesta pertandingan olahraga yang bisa membawa seseorang teridentifikasi dengan suatu kelompok.

BACA JUGA  Sarasehan 25 Tahun Komnas HAM: 10 Kasus Pelanggaran HAM Berat Belum Ditangani

Contohnya dengan sangat mudah bisa ditemukan di dekat kita, pendukung klub Persija Jakarta dan klub Persib Bandung yang kerap berseteru, bisa sama-sama bersatu di Stadion Gelora Bung Karno saat mendukung Tim Nasional Indonesia ketika bertanding melawan Tim Nasional Malaysia. Lucunya lagi, seorang Muslim bisa bersorak sorai gembira saat Boaz Salossa dari Papua mencetak gol ke gawang Malaysia, dan bersedih saat timnas Malaysia yang seluruh pemainnya beragama Islam memenangkan pertandingan melawan Timnas Indonesia.

Di bawah tatanan konsep negara-bangsa, sejumlah negara yang penduduknya mayoritas beragama Muslim dan masih terjajah seperti Palestina kerap muncul di ajang pertandingan olahraga sebagai alat diplomasi politik. Jika olahraga sangat lekat dengan politik, muncul pertanyaan, mungkinkah syiar Islam dilakukan dengan menggapai prestasi di bidang olahraga?

Muncul dua pandangan yang saling berseberangan di sini. Pendapat pertama, tak ragu lagi menyatakan bahwa di bidang apapun, termasuk olahraga, ajaran Islam harus disyiarkan. Barangkali itulah yang dilakukan oleh sejumlah pesepakbola Muslim yang kerap bersujud ke arah kiblat saat selebrasi usai mencetak gol. Atau fenomena Mohammed Salah, yang selalu tampil rendah hati dan berakhlakul karimah baik di dalam maupun di luar lapangan sehingga mengundang simpati banyak orang.

Tapi muncul pendapat lain yang mencibir peran olahraga sebagai media untuk menyebarkan ajaran Islam. Alasannya beragam. Sejak olahraga disinggung sebagai permainan yang sia-sia dan melalaikan hingga standar ganda atau hegemoni politik olahraga yang masih didominasi oleh Barat. Kita kerap melihat penerapan sanksi terhadap olahragawan Muslim yang dihukum karena menunjukkan dukungannya terhadap Muslim Palestina.

Sebaliknya hal itu tak pernah berlaku jika ada olahragawan yang menunjukkan simpati terhadap bangsa Israel. Bahkan, mereka mendukung kampanye anti semit digalakkan di seluruh kontetasi bidang olahraga. Jadi, di dunia nyata, semangat sportifitas dalam dunia olahraga pun tak pernah lepas dari kepentingan. Ia takluk pada mereka yang berkuasa.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “Editorial: Ketika Olahraga Jadi Alat Politik”

  1. Rafdien Y

    Salah satu pertanyaan yg cukup mengganjal di hati saya saat ini demam piala dunia di Rusia. Bagaimanakah caranya kita di Indonesia yg senang menonton siaran pertandingan sepak bola tersebut agar tidak dikatakan sebagai hanya perbuatan yg sia-sia dan melalaikan waktu saja? Mohon sharing dari yg lain.

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Kapolri Tito Sebut Penembakan di Papua Ada Kepentingan Politik

Tito menyebutkan, terkadang ada sejumlah oknum yang memanfaatkan mereka demi kepentingan politik, terutama saat Pilkada. "Ada kelompok tertentu yang mengendalikan kelompok bersenjata ini saat Pilkada," ujarnya.

Selasa, 26/06/2018 15:05 1

Indonesia

Usai Tembaki Brimob, Kelompok Bersenjata Papua Bunuh Tiga Warga

Kelompok bersenjata Papua membunuh tiga orang warga setelah menembaki pesawat Trigana Air yang mengangkut personel brimob di Bandara Keneyam, Kabupaten Nduga, Papua.

Selasa, 26/06/2018 14:32 0

China

Awasi Aktivitas Muslim Xinjiang, China Gunakan Drone “Burung”

China telah mengerahkan sekelompok drone teknologi tinggi yang menyamar agar terlihat seperti burung untuk meningkatkan pengawasan di wilayah Xinjiang yang berpenduduk mayoritas Muslim.

Selasa, 26/06/2018 14:12 0

Iran

Ribuan Pedagang Iran Protes Krisis Ekonomi yang Memburuk

Ribuan pedagang di Grand Bazaar Teheran melakukan aksi protes melawan situasi ekonomi yang memburuk pada Senin (25/06/2018). Sejumlah polisi Iran dikerahkan untuk mengamankan aksi.

Selasa, 26/06/2018 12:00 0

Yaman

Koalisi Klaim Tewaskan Delapan Milisi Syiah Hizbullah di Yaman

"Di antara yang tewas delapan anggota teroris Hizbullah Lebanon, seorang komandan dan tujuh elemen teroris lainnya," kata pernyataan itu.

Selasa, 26/06/2018 10:51 0

Turki

Gunakan Kertas Suara Palsu, Pemilih di Turki Hadapi Proses Hukum

"Terdakwa berusaha memberikan suara menggunakan kertas suara palsu, yang diduga mereka salin dari internet," kata sebuah pernyataan.

Selasa, 26/06/2018 10:38 0

Suriah

HTS Siap Bantu Hadapi Serangan Rezim di Suriah Selatan

“Kami di HTS membuka tangan terhadap seluruh saudara-saudara kami dari faksi-faksi dan jamaah-jamaah, dengan meninggalkan seluruh perselisihan dan mengedepankan kemaslahatan lebih luas. Kami menyeru membentuk ruang operasi bersama,” seru HTS dalam pernyataannya pekan ini.

Selasa, 26/06/2018 10:23 0

Afghanistan

Taliban: Seruan Gencatan Bertujuan Lucuti Senjata

"Mereka tidak berbicara tentang penjajahan atau penarikan diri orang asing. Tujuan mereka adalah melucuti senjata dan menerima rezim yang disetir oleh penjajah," tegas Mujahid.

Selasa, 26/06/2018 08:11 0

Asia

AS Segera Resmikan Pangkalan Militer Baru di Korea Selatan

AS Segera Resmikan Pangkalan Militer Baru di Korea Selatan

Senin, 25/06/2018 20:04 0

Indonesia

Hijrah Dari Roker Jadi Dai, Meninggal Di Jalan Dakwah Jadi Cita-cita Harry Moekti

Meninggal Di Jalan Dakwah Jadi Cita-cita Harry Moekti

Senin, 25/06/2018 15:09 1

Close