Antara Ridha, Maaf dan Ampunan Allah, Apa Bedanya?

ثُمَّ عَفَوْنَا عَنْكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Kemudian sesudah itu Kami maafkan kesalahanmu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 52)

KIBLAT.NET – Di dalam al-Quran, banyak sekali ayat-ayat yang bersinggungan dengan maaf, ridha dan ampunan Allah. Sebenarnya apa perbedaan ketiganya?

Ridha Allah adalah tingkatan yang paling tinggi. Dalam setiap beribadah dab berdo’a, kita selalu memohon kepada Allah agar Dia ridha kepada kita semua.

Ketika Allah Ta’ala ridha kepada kita berarti Allah memaafkan dosa kita, tidak mencela dan menghukum dengan sesuatu apapun. Dan ini berlaku selamanya. Seperti ketika kita mempunyai kesalahan kepada seseorang, lalu kita mendatanginya dan ria ridha kepada kita dengan sepenuhnya. Lalu ia berkata, “Saya ridha kepadamu karena saya mencintaimu.” Maka setelah itu, kesalahan yang pernah kita lakukan sudah tidak menjadi masalah lagi buat dia.

Sedangkan ampunan Allah maknanya adalah seperti seseorang berkata, “Saya telah mengampunimu, tetapi hati saya  hanyalah Allah saja yang mengetahuinya, dan saya tidak akan balas dendam serta berlaku jahat kepadamu. Pergilah!” artinya, ampunan berada di bawah satu tingkatan dari makna ridha.

Adapun makna dari kata maaf Allah adalah dia memaafkan namun terkadang masih disertai dengan celaan. Tingkatannya berada di bawah kata ampunan. Misalnya, seseorang memaafkan kita, lalu ia berkata, “Saya telah memaafkanmu, tapi mengapa anda melakukan perbuatan ini?!” Dia masih mencela dan mengkritik kita.

Lalu apa hubungannya dengan ayat di atas?

Allah berfirman, “Kemudian kami memaafkan kamu,” ayat ini Allah turunkan mengenai kelakuan bani israil yang hidup pada masa Nabi Musa. Lalu mengapa dalam ayat tersebut Allah tidak berfirman, “kemudian kami meridhai kamu,” kenapa bisa demikian?

Sebagian ulama tafsir menyebutkan bahwa Allah Ta’ala telah ridha dan memaafkan Bani Israil yang hidup bersama Musa, namun tidak demikian dengan Bani Israil lainnya yang tidak mau kembali kepada petunjuk Nabi Musa.

Fakhruddin

Sumber: Buku “Manusia Langit Manusia Bumi”, Karya Aidh Al-Qarni, Penerbit: Aqwam, Solo

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat