Dampak Buruk Meninggalkan Shalat Jamaah

KIBLAT.NET – Entah tradisi atau bukan, biasanya pasca berlalunya bulan Ramadhan, beberapa masjid di masyarakat kita kembali menjadi sepi jamaah. Shalat lima waktu berjamaah yang tadinya ramai memenuhi shaf-shaf yang ada, sekarang tiba-tiba menurun dengan jumlah yang memprihatinkan. Biasanya hanya diisi oleh orang-orang yang sudah lanjut usia. Padahal bila mereka tahu dalil tentang perintah shalat jamaah mungkin fenomena ini tidak akan terjadi.

Banyak sekali ayat al-Quran maupun hadis Nabi SAW yang menganjurkan shalat lima waktu secara berjamaah. Sebagian ada yang berisi pujian dan pahala yang bakal diperoleh, dan sebagian lagi juga ada yang mengandung ancaman dan dosa yang bakal didapatkan. Tulisan ini akan mengingatkan kita beberapa ayat al-Quran yang menjelaskan akibat buruk bagi siapa yang tidak memenuhi panggilan shalat jamaah. Allah Ta’ala berfirman:

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ*خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۖ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ

“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah dan diliputi kehinaan. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud dan mereka dalam keadaan sejahtera.” (QS. Al-Qalam; 42-43)

Maksud dari panggilan untuk sujud dalam ayat di atas adalah panggilan untuk melaksanakan shalat jamaah. Ahli tafsir Al-Qur’an, yaitu Abdullah bin Abbas menafsirkan ayat tersebut, “Bahwasanya mereka mendengar azan dan seruan untuk shalat tetapi mereka tidak memenuhinya.” (Rûhul Ma’âni: XXIX/36)

Beberapa orang dari generasi salaf umat ini juga telah menegaskan hal ini. Sebagai contoh ucapan Ka’ab Al-Akhbar, “Demi Allah, ayat ini tidak diturunkan kecuali berkenaan dengan orang-orang yang meninggalkan shalat jamaah.” (Tafsir Al-Baghawy: IV/283, Zâdul Masîr: VIII/342, Tafsir Al-Qurthuby: XVIII/251)

Sa’id bin Jabir berkata, “Maksudnya adalah mereka mendengar Hayya ‘alal falâh, tetapi mereka tidak memenuhinya.”

Makna yang sama juga diungkapkan oleh Ibrahim An-Nakha’i, “Mereka dipanggil dengan azan dan iqamah, tetapi mereka menolaknya.” (Tafsir Al-Qurthuby: XVIII/151, Rûhul Ma’âni: XXIX/36)

Ibrahim At-Taimi menambahkan, “(Mereka dipanggil) menuju shalat wajib dengan azan dan iqamah.” (Tafsir Al-Baghawy: IV/283)

Beberapa ahli tafsir juga menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut terdapat ancaman bagi orang yang meninggalkan shalat jamaah. Sebagai contoh ucapan Al-Hafidz Ibnul Jauzi, “Di dalam ayat ini terdapat ancaman bagi orang yang meninggalkan shalat jamaah.” (Zâdul Masîr: VIII/342, Rûhul Ma’âni: XXIX/36)

Imam Fakhrur Razi menjelaskan, “Firman Allah, ‘Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) telah diseru untuk bersujud, sedang mereka dalam keadaan sejahtera.’ Yaitu, tatkala mereka diseru menuju shalat dengan azan dan iqamah, mereka dalam keadaan sehat sejahtera dan mampu melaksanakan shalat. Dalam hal ini terdapat ancaman bagi orang yang meninggalkan shalat jamaah dan tidak memenuhi seruan muazin untuk melaksanakan shalat berjamaah.” (Tafsir Al-Kabîr: XXX/96)
Imam Ibnul Qayyim berkata, “Sejumlah salaful ummah mengatakan tentang firman Allah, ‘Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, sedang mereka dalam keadaan sejahtera.’ Yakni ucapan muazin, ‘Hayya ‘alash shalâh, hayya ‘alal falâh’.” Ini adalah dalil yang dibangun berdasarkan dua pendahuluan. Pertama, menjawabnya adalah wajib. Kedua, tidak sempurna kecuali dengan berjamaah. Inilah yang dipahami oleh orang-orang yang paling pandai dan paling paham dari umat ini, yaitu para shahabat.

Wajibnya shalat jamaah ditegaskan pula oleh hadits yang dikeluarkan oleh Abdullah bin Abbas  yaitu tentang akibat yang buruk bagi orang yang meninggalkan shalat jamaah. Imam Ibnu Syaibah meriwayatkan dari Mujahid Ibnu Abbas bahwa seseorang datang kepadanya berkali-kali dalam satu bulan untuk menanyakan perihal seseorang yang mengerjakan puasa di siang hari dan mengerjakan shalat Malam, tetapi ia tidak mendatangi shalat Jumat tidak pula shalat jamaah. Ia menjawab, “(Tempatnya adalah) di neraka.” (Al-Mushannaf Ibnu Abi Syaibah: I/346)

Tentunya, perintah shalat jamaah hanya diperuntukkan bagi mereka kaum laki-laki yang tidak memiliki udzur syar’i. Dan akibat buruk itu pun hanya akan ditimpakan kepada mereka yang meremehkan urusan shalat berjamaah. Semoga kita tidak termasuk di antara mereka yang akan ditimpakan akibat buruk tersebut!

Fakhruddin

Sumber: Buku “Fadhilah shalat berjamaah” Karya Fadhl Ilahi, Penerbit; Aqwam Solo

 

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat