... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Pemuda Patani Kampanyekan Cinta Baju Melayu di Momen Idul Fitri

KIBLAT.NET, Patani – Pada hari Raya Idul Fitri tahun ini, warga masyarakat Patani baik yang di desa maupun di kota serentak untuk mengenakan pakaian ciri khas budaya tempatan. Kampanye itu digerakkana oleh kaum muda muslim di wilayah Thailand Selatan itu.

Ketua tim kampanye Cinta Baju Melayu, Muhammad Rusdi Syeik Harun mengatakan pihaknya telah 4 tahun menggalakkan kampanye yang mengajak warga masyarakat untuk mengenakan budaya Melayu khususnya pada hari kebesaran. Hal itu dilakukan karena sebelumnya warga diintimidasi oleh pihak kerajaan yang mendesak penduduk lokal tidak berani mengenakan pakaian ciri khas budaya Melayu.

“Saya buat kampanye baju Melayu ini sudah 4-5 tahun, selepas itu tanggapan masyarakat sangat baik, dan pada tahun ini saya buat dengan lebih besar lagi proyek ini dengan mengajak kedai-kedai lain untuk menyokong proyek tersebut,” jelas Rusdi, Jumat (15/06/2018).

Rusdi mengajak pemuda dan pemudi Patani yang belum pernah berpakaian baju Melayu untuk mengenakan kembali pakaian budaya sendiri. Kemudian mereka diminta mengunggah foto masing-masing di media sosial dengan hastag Cinta Baju Melayu.

“Proyek ini dikampanyekan melalui Facebook dengan tujuan mengajak pemuda dan pemudi untuk kembali mengenakan baju budaya Melayu Patani saat berhari Raya Idul Fitri tahun ini,” kata Rusdi seperti dilansir TV3 Malaysia.

Negera Melayu Patani Tersisa Nama

Sejak 1785 kerajaan Siam Thailand telah melakukan ekspansi wilayah jajahan sehingga berhasil menganeksasikan ke atas sebuah Negeri Melayu Patani Darussalam melalui perjanjian Anglo-Siamese Treaty pada 1909 yang ditandatangani Raja Thailand dan pemerintah Inggris, tanpa mengumumkan bagi penduduk lokal. Tragisnya, hal tersebut menyebabkan rakyat Patani terpisah dengan saudaranya penduduk Melayu di wilayah sebelah utara bagian Negara Malaysia.

Kerajaan Thailand kemudian menyingkirkan raja dan putra-putra Melayu, menguasai wilayah jajahannya dan beberapa wilayah diperintahkan oleh seorang berbangsa Siam. Secara politik kekuasaan dan otoritas diserahkan kepada pegawai-pegawai Siam yang dilantik oleh kerajaan yang berpusat di ibukota Bangkok.

Sementara tahun 1939 Thailand di bawah perdana menteri Phibun Songkhram ketika itu memulai menerapkan kebijakan asimilasi terhadap penduduk Patani di wilayah bagian selatan. Kebijakan asimilasi yang mengupayakan pembauran dua kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli sehingga membentuk kebudayaan baru. Penduduk Patani dilarang berpakaian ciri khas Melayu, memaksa untuk berbahasa Thai, dan mengamalkan sesetengah ajaran Islam.

BACA JUGA  Wasekjen MUI Minta GP Ansor Berhenti Buat Kegaduhan ke Pihak Berseberangan

Demikian kampanye Cinta Baju Melayu, penduduk Patani hari ini membangkit kembali untuk membuktikan bahwa jati diri dan bangsa Melayu Patani tak akan hilang di dunia.

Kemeriahan Muslim Melayu Patani di Hari Raya Idul Fitri

Penduduk masyarakat Muslim Melayu Patani menyambut Hari Raya Idul Fitri dengan penuh antusias dan gembira riang. Saling bermaaf-maafan, kunjung-mengunjungi sesama saudara untuk mengeratkan tali silaturahim. Pada momen ini juga mereka mengenakan baju budaya Melayu sebagai corak merefleksikan adat pakaian kebudayaan yang dirintis oleh leluhur bangsanya.

Wan Muhamad Noor Matha, selaku mantan Menteri Keamanan, dan DPR Thailand yang juga sangat mendukung seluruh warga masyarakat Melayu Patani untuk mengenakan budaya Melayu pada hari raya Idul Fitri, bagi laki-laki untuk mengenakan baju Telok Belango dan perempuan untuk mengenakan Baju kurung. Ia mengatakan jati diri bangsa Melayu semakin hilang kalau warga tidak ingin mempertahankan.

“Hari Raya Idul Fitri tahun ini, saya sangat suka sekali yang ada para pemuda yang bangkit aksi kempanye budaya Melayu oleh karena kita adalah orang Melayu. Kalau kita cinta budaya Melayu tetapi tidak menunjukan budaya Melayu kita, saya takutnya suatu hari masa depan anak cucu kita tidak kenal lagi budaya Melayu. Oleh karena itu sepakatlah kita untuk cinta budaya Melayu, denga setiap orang pada pagi hari raya marilah kita pakai baju Melayu,” tandas Wan Muhamad Noor Matha didalam rekaman video yang telah viral melalui akun facebook cinta baju Melayu pada Jum’at (15/5) lalu.

Saat ini, aspirasi masyarakat Patani sudah tidak lagi bertahan dalam suasana kerusuhan konflik yang sudah berkepanjangan itu. Mereka tidak berharap lagi dengan jalan kekerasan bersenjata yang telah banyak terkorban. Namun jauh sebelumnya perjuangan masyarakat Patani telah diperjuangkan oleh seorang tokoh dengan cara damai, seperti Tuan Guru Haji Sulong Abdul-Qadir.

Penduduk masyarakat Patani telah melahirkan kesadaran (spirit nation and state) mereka ingin menentukan nasibnya sendiri yang tidak menggantungkan lagi harapan dan cita-cita kepada pemerintah dalam masalah proses penyelesaian konflik di Patani, Thailand bagian selatan.

BACA JUGA  Dugaan Pemurtadan di Lombok, Begini Respon Aa Gym

Dewasa ini, warga Patani ingin menentukan nasib bangsa mereka. Baik di dalam maupun di luar negeri. Orang tuanya mengirimkan putra putri untuk melanjutkan studi di nageri jiran seperti Malaysia, Indonesia, Brunei bahkan sampai ke Timur Tengah. Hingga saat ini, jumlah mencapai lebih dari 6000 orang Patani sedang menuntut ilmu di luar negeri.

Aksi Kostum Melayu Muslim Patani di Internasional

Kempanye Cinta Baju Melayu juga dirayakan oleh para mahasiswa Patani yang berada di perantauan. Mereka mengenakan baju Malayu saat berhari raya di nageri orang. Tujuannya, mempromosikan budaya Melayu Patani untuk lebih dikenal oleh warga Negara luar, entah mayarakat serumpun Melayu dan masyarakat lingkungan internasional.

Kampenye Cinta Budaya Melayu, menurut Nik Saibudin, selaku ketua umum PMIPTI Yogyakarta untuk mendorong visi kesatuan nasional untuk maju kedepan, tak terkecuali yang sedang di perantauan juga harus mendukung hal ini.

“Pada hari raya tahun ini kita juga berpakain baju Melayu. Meskipun kita sedang di tanah Jawa, dengan sebab pada tahun ini seluruh masyarakat Patani telah berpakain baju Melayu untuk menjunjung tinggi nilai budaya atau disebut jati diri bangsa” ujarnya di sela-sela acara menyambut malam takbiran di asrama PMIPTI Yogyakarta, Kamis malam (14/6/2018) pekan lalu.

Sementara Suharianto, selaku Tim Pembangunan Masjid Jogokariyan mengatakan bahwa Patani bagi warga Indonesia adalah warga minoritas muslim yang berada di Negara Thailand dan sering diintimidasi dan teraniayai oleh pemerintah non muslim dengan berbagai macam. Dia berpesan agar warga Patani tetap konsisten dalam menjaga keimanan dan nilai kebudayaan meskipun secara geografisnya masih dibawah Thailand, dan semoga semangat perjuangan bangsa Patani tidak pernah pudar.

“Patani bagi kami secara garis besarnya adalah saudara Muslim yang menjadi minoritas berada di bawah Thailand, yang sering di kejar-kejar dan dianiaya oleh pemerintah non muslim, meskipun dari segi geografis wilayah masih di bawah Negara Thailand yang tidak pro Islam. Namun mereka masih tetap konsisten mempertahankan budaya,” kata Suharianto, saat ditemui di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Sabtu (16/6/2018).

Kontributor: Hamsyari
Editor: Imam S.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Afghanistan

Taliban: Tak Ada Niat Perpanjang Gencatan

“Gencatan senjata berakhir Senin besok. Tidak ada niat untuk memperpanjang,” kata juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid.

Senin, 18/06/2018 09:02 0

Suriah

Drone Asing Serang Markas Militer Assad di Suriah Timur

“Pesawat tanpa awak tak dikenal yang kemungkinan besar milik AS menggempur lokasi faksi-faksi Iraq di wilayah antara Bokamal dan Tanaf serta wilayah lainnya milik militer Suriah,” kata sumber komandan koalisi militer pendukung rezim Assad kepada Reuters.

Senin, 18/06/2018 08:40 0

Afghanistan

Kabul Perpanjang Gencatan Idul Fitri, Taliban Belum Merespon

Sebelum Idul Fitri, Ghani mengumumkan gencatan senjata tiga hari di hari raya. Namun gencatan itu hanya berlaku untuk Taliban, tidak untuk Organisasi Daulah Islamiyah (ISIS).

Senin, 18/06/2018 06:03 0

Video Kajian

Agar Semangat Ramadhan Tetap Membara Setelah Idul Fitri

KIBLAT.NET – Agar Semangat Ramadhan Tetap Membara Setelah Idul Fitri. Ramadhan adalah karunia yang sangat...

Sabtu, 16/06/2018 09:10 0

Yaman

Pertempuran Memanas Antara Koalisi Saudi dan Pemberontak Hutsi di Hodeidah

Serangan terhadap Hodeidah dimulai hari Rabu untuk merebut pelabuhan Laut Merah penting di kota itu, yang dikenal sebagai "mouth of Yaman" karena menjadi titik masuk sebagian besar impor negara itu dan bantuan kemanusiaan PBB.

Sabtu, 16/06/2018 07:41 0

Asia

Riset: India Sedang Hadapi Krisis Air Terburuk Sepanjang Sejarah

India sedang menghadapi krisis air terburuk, dengan sekitar 600 juta orang menghadapi kekurangan air akut. Demikian kata sebuha lembaga think-tank pemerintah.

Sabtu, 16/06/2018 07:07 0

Prancis

Paris Bangun Pagar Anti-Teror di Sekeliling Menara Eiffel, Warga Mengeluh

Pembangunan dijadwalkan selesai pada pertengahan Juli dengan biaya hampir € 35 juta (Rp 566,2 miliar).

Sabtu, 16/06/2018 06:22 0

Afrika

Dua Jamaah Masjid di Afsel Tewas Ditikam Usai Shalat Subuh

Dewan Peradilan Muslim (MJC) mengatakan para jamaah, salah satunya berusia 70-an, sedang melakukan i'tikaf di masjid ketika penyerang masuk dan bergabung dengan jamaah untuk melaksanakan shalat Subuh.

Sabtu, 16/06/2018 06:03 0

Tazkiyah

Tangisan Umar bin Khattab Saat Membaca al-Qur’an

Ibnu Mas’ud a berkata, “Islamnya Umar bin Khattab adalah kemenangan, hijrahnya adalah pertolongan, dan kepemimpinannya adalah kasih sayang.”

Jum'at, 15/06/2018 13:00 0

Tazkiyah

Ketika Seorang Ulama Menasehati Harun Ar-Rasyid

Ulama itu kembali menjawab dengan tegas,"Maaf aku tidak suka menerimanya. Apakah anda mengira bahwa Allah memberimu rizki dan melupakan aku?"

Jum'at, 15/06/2018 10:00 0

Close