Ismail Yusanto Nilai Istilah ‘Radikalisme’ untuk Membungkam Dakwah

KIBLAT.NET, Jakarta – Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Ismail Yusanto mengatakan bahwa penyebutan seorang penceramah atau lembaga pendidikan terkait dengan radikalisme hanyalah sebuah upaya untuk membungkam dakwah.

“Tuduhan ini lebih diarahkan sebagai jalan membungkam dakwah Islam, dan membungkam tokoh-tokoh yang tidak disukai oleh rezim penguasa,” ungkap Ismail di Jakarta, Senin (04/06/2018).

Ismail menilai, penyebutan radikalisme sendiri masih harus dipertanyakan. Sampai saat ini pengertian radikalisme menurutnya tidak jelas.

“Tidak jelasnya definisi radikalisme sendiri seolah menuduh atau menuding sesorang dengan tuduhan yang tidak jelas. Lalu apa maksudnya dengan terpapar radikalisme, jika terpapar narkoba atau pornografi mungkin kita sudah maklum, tapi terpapar radikalisme, indikasinya apa?” ungkap Ismail.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), disebut tujuh Perguruan Tinggi terpapar radikalisme. Ismail mengatakan jangan sampai istilah radikalisme untuk membungkam suatu gairah keislaman yang positif.

“Jangan sampai di kampus ini sudah lama berkembang gairah semangat civitas akademika mahasiswa, semangat mengkaji Islam, mengamalkan dan memperjuangkannya. Ini positif bagi yang bersangkutan, baik juga untuk keluarga yang dibangun, ini positif,” tutur Ismail.

“Lalu apakah gairah keislaman ini yang dimaksud dengan radikalisme? jika ini yang dimaksud, berarti kita ini sedang menggelisahkan sesuatu hal yang positif,” lanjutnya.

Terlebih jika ada yang mengatakan bahwa bukan hanya Perguruan Tinggi saja yang terpapar radikalisme, tapi jenjang lainnya seperti SMA, SMP, dan SD. Menurutnya tuduhan itu perlu dijelaskan.

BACA JUGA  Catatan dan Evaluasi Kemenag Soal Umrah di Masa Pandemi

“Ada pejabat yang ngomong seperti itu, saya kira ini harus jelas, jangan sampai kita memusuhi sesuatu yang sebenarnya sangat baik,” ungkap Ismail.

Sehingga, kata Ismail, jargon radikalisme hanyalah tuduhan dari Rezim untuk membungkam dakwah Islam dan membungkam tokoh-tokoh yang tidak disukai.

“Di UGM bukan hanya saya yang tidak boleh ceramah, ada Fahri Hamzah yang pejabat tinggi. Pak Amien Rais juga, ini pejabat, apalagi rakyat biasa. Jadi ini sebenarnya bukan cerita radikalisme, tapi lebih kepada dislike (tidak disukai) penguasa. Orang yang kritis terhadap penguasa dengan alasan penceramah radikal,” tukasnya.

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: M. Rudy

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat