... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Download

Laporan Syamina: Melucuti Keprajuritan Orang Jawa

KIBLAT.NET – Orang Jawa termasuk bangsa atau suku yang terkenal dalam keterampilan perangnya di seluruh Nusantara sejak dahulu kala. Jawa yang terus bergolak sejak abad ke 6 M dalam konflik politik, perang perluasan pengaruh, perang pertahanan wilayah dan konfrontasi dengan Belanda, membuktikan kuatnya jiwa keprajuritan (kemiliteran) orang-orang Jawa.

Prajurit Demak yang terdiri dari prajurit tetap dan prajurit sukarelawan (milisi wajib militer) terkenal dengan keberaniannya dan keberhasilannya dalam berbagai peperangan. Masa sebelumnya, masa Majapahit di masa puncak kejayaannya juga dikenal memiliki militer yang kuat dan tangguh.

Prajurit Demak dan Majapahit berhasil menyatukan Jawa dengan tekanan militer dan peperangan. Angkatan laut Demak dan Jepara juga sangat diperhitungkan di kawasan ini saat itu, yang mana Demak dan Jepara beberapa kali mengerahkan ribuan tentaranya dengan puluhan kapal untuk menghancurkan penjajah Portugis yang menganeksasi kesultanan dan pelabuhan Islam Malaka. Menurut para ahli sejarah, Malaka saat itu menjadi pelabuhan dan pusat perdagangan rempah-rempah terbesar di Asia Tenggara.

Orang Jawa juga membuktikan kedigdayaannya pada masa kejayaan Mataram di bawah kepemimpinan Sultan Agung. Sultan Agung saat itu berhasil membentuk kekuatan militer terkuat dan terbesar di Jawa. Hampir seluruh Jawa dapat dikuasainya, bahkan sebagian Kalimantan dan Sumatera menjadi bagian dari wilayah kekuasaannya. Menurut sumber Belanda, saat meninggal, jumlah tentara warisan Sultan Agung begitu besar, yaitu hampir 900.000 termasuk 115.000 orang bersenjata senapan, belum terhitung armada lautnya.

Sepeninggal Sultan Agung, kedigdayaan dan kewibawaan orang Jawa khususnya prajuritnya mulai merosot. Amangkurat I tidak mewarisi idiologi, keyakinan dan jiwa kemiliteran ayahnya. Ia bahkan mulai bekerjasama dan minta bantuan pada penjajah Belanda, musuh bebuyutan ayahnya. Kebijakan politiknya tersebut memicu perpecahan dan pemberontakan yang semakin membuat Mataram lemah dan terpuruk dalam jebakan penjajah Belanda.

BACA JUGA  Kebohongan dalam Pusaran Politik

Pada masa-masa berikutnya semakin dalam terperosok dalam kendali Belanda, hal yang membuat banyak orang Jawa tidak suka dan menimbulkan saling permusuhan diantara orang Jawa sendiri. Rakyat menanti-nanti munculnya seorang kesatria yang bisa memimpin orang Jawa untuk bangkit dari keterpurukan. Munculnya Surapati yang gagah berani melawan penjajah Belanda seakan menjadi obat yang selama ini dinanti-nantikan.

Kemenangan Surapati atas Kompeni disambut hangat oleh rakyat Mataram dan dianggap sebagai kemenangan tentara Jawa. Obsesi bangsa Jawa atas tentaranya sedikit terobati dan kepercayaan diri mulai bangkit kembali.

Namun kebangkitan kepercayaan diri itu tidak berhasil mengembalikan kewibawaan dan kharisma keprajuritan Jawa. Hal itu terjadi karena kekuatan Jawa kembali terpecah dengan konflik politik dan saling bunuh karena perang takhta. Konflik tersebut secara tidak langsung kembali menguntungkan penjajah karena dijadikan pintu masuk untuk terlibat dengan alasan membantu menyelesaikan konflik.

Hasilnya Mataram pecah menjadi dua dan bertambah besarnya pengaruh Kompeni atas kerajaan, yang berarti juga makin kuatnya cengkeraman penjajah membuat kebencian terhadap kekuasaan asing makin meluas. Di saat-saat demikian, maka obsesi terhadap ksatria Jawapun muncul kembali.

Harapan rakyat Jawa kali ini terpenuhi ketika Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) mengangkat senjata berontak melawan penjajah. Secara politis, kemenangan Mangkubumi dan Raden Mas Said sangat merugikan Mataram karena kerajaan terpecah menjadi tiga bagian akibat Perjanjian Giyanti (1755) dan Perjanjian Salatiga (1757). Namun dari segi militer kemenangan itu begitu besar nilainya. Citra prajurit Jawa yang nyaris tenggelam dan kehilangan identitas, bangkit kembali. Kepercayaan dan kebanggaan bangsa Jawa pada tentaranya pulih kembali.

Masa-masa seusai peperangan Mangkubumi dan Sambernyawa (tahun 1755 dan 1757) hingga menjelang pecahnya Perang Diponegoro (1825-1830), tanah Jawa mengalami “masa damai yang panjang”. Situasi yang berlangsung hampir tiga perempat abad ini membuat pandangan masyarakat terhadap masalah kemiliteran berubah. Peran kaum militer menyurut dan masyarakat beralih ke ide dan sikap hidup kepriyayian.

BACA JUGA  Sebab Kelemahan Umat, Cinta Dunia dan Takut Mati

Setelah hampir tiga perempat abad dunia keprajuritan Jawa terlena, tiba-tiba pada tahun 1825 tanah Jawa kembali diguncang peristiwa besar dengan pecahnya Perang Diponegoro (1825-1830). Perang ini dapat dianggap sebagai fase terakhir keterlibatan tentara Jawa dalam perang besar, walaupun sebenarnya hanya sedikit tentara keraton yang terlibat di dalamnya.

Sebaliknya hampir semua elemen masyarakat Jawa terlibat dalam perang tersebut secara langsung maupun tidak langsung. Maka perang Jawa sering disebut sebagai perang antara Belanda melawan seluruh masyarakat Jawa. Belanda kalang kabut dan kuwalahan menghadapi perlawanan ini selama 5 tahun dan hampir saja meruntuhkan kekuasaan Belanda di Jawa walaupun akhirnya dengan tipu muslihat perlawanan dapat di atasi oleh penjajah.

Seusai Perang Diponegoro, terjadilah perubahan besar dunia keprajuritan Jawa. Ketakutan, kekuatiran dan fobia terhadap munculnya jiwa keprajuritan bangsa Jawa membuat pemerintah penjajah Hindia Belanda mengeluarkan strategi baru. Untuk melemahkan kekuatan Jawa, selain diadakan Tanam Paksa, maka pasukan kraton didemobilisasikan.

Bangsawan Kraton dipisahkan dari rakyat dengan cara menghapus tanah lungguh bagi para bangsawan dan pejabat kraton, juga perampasan tanah-tanah mancanegara. Dengan dihapusnya tanah lungguh, berarti para bangsawan tidak lagi memiliki basis masa di pedesaan. Akibat lebih jauh tradisi dan potensi militer kerajaan menjadi lumpuh. Semangat, kemampuan dan ketrampilan prajurit terus merosot. Terlebih lagi dengan dihapusnya tradisi Watangan atau Seton (tradisi latihan perang setiap hari Sabtu) pada masa pemerintahan Pakubuwono VII (18301858) di Surakarta.

 

Laporan Syamina: Melucuti Keprajuritan Orang Jawa
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Palestina

Produsen Senjata Amerika Dirikan Sekolah TK di Israel, Ada Apa?

Salah satu perusahaan produsen senjata terbesar di dunia saat ini, Lockheed Martin, dilaporkan sedang membuka kantor cabang di Yerusalem dalam rangka memberikan program pendidikan bagi anak-anak sejak usia 5 tahun.

Jum'at, 01/06/2018 10:06 0

Libya

Mufti Libya Seru Demonstrasi Besar-besaran Tolong Derna

Ghiryani menjelaskan bahwa warga derna mencari perlindungan dari perang dilancarkan pada mereka dan mereka bersedia rekonsiliasi. Menolong mereka menghadapi permainan internasional yang ingin menghancurkanya Libya hukumnya wajib baik menurut undang-undang terlebih menurut dalil.

Jum'at, 01/06/2018 08:12 0

Indonesia

Dialog Antar Agama, Din Syamsuddin Tersinggung dengan Kristenisasi

Utusan Khusus Utusan Khusus Presiden RI Untuk Dialog Antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP), Prof Dr M Din Syamsuddin menghadiri Konferensi Pekabaran Injil 2018 di Brastagi, Sumatera Utara.

Kamis, 31/05/2018 23:37 0

Indonesia

Kepada Anggota Dewan, TPM Ungkap Perlakuan Aparat Terhadap Napi Teroris

Tim Pengacara Muslim (TPM) mengungkapkan kepada Komisi III DPR RI perihal penanganan narapidana terorisme (napiter). Beberapa penanganan yang dilakukan aparat, dinilai TPM berlebihan, bahkan tidak manusiawi.

Kamis, 31/05/2018 17:40 0

Indonesia

Kata Wasekjen PBNU Soal Capres 2019 Rekomendasi PA 212

Beberapa waktu lalu, Persaudaraan Alumni (PA) 212 merekomendasikan sejumlah nama calon presiden untuk Pemilu 2019.

Kamis, 31/05/2018 17:10 0

Indonesia

Solidaritas Palestina Disebut Picu Terorisme, Sukamta: Ini Statement Berbahaya

Anggota Komisi I DPR RI Sukamta mempertanyakan pernyataan Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol. Hamli yang menyebut  solidaritas terhadap Palestina sebagai salah satu penyebab adanya teroris.

Kamis, 31/05/2018 16:21 0

Palestina

Israel Sebut Larangan WNI ke Al Quds sebagai Pembalasan

Larangan itu dimaksudkan sebagai balasan atas kebijakan Indonesia yang menangguhkan visa bagi warga Israel pasca kekerasan di perbatasan yang menewaskan puluhan warga Palestina.

Kamis, 31/05/2018 15:09 0

Konsultasi

Hukum Puasa Bagi Wanita yang Enggan Berhijab

Jika seorang wanita melaksanakan puasa di bulan Ramadan, sementara dia tidak mau menggunakan jilbab saat keluar dari rumahnya, apakah puasanya sah?

Kamis, 31/05/2018 15:07 0

Palestina

Israel Resmi Larang WNI Kunjungi Al Quds

Kebijakan itu terlampirkan dalam surat Kementerian Pemantauan Perbatasan Imigrasi Israel dan berlaku setelah 9 Juni 2018.

Kamis, 31/05/2018 14:35 0

Eropa

Terus Tindas Warga Sipil, UE Perpanjang Sanksi terhadap Rezim Assad

Terus Tindas Warga Sipil, UE Perpanjang Sanksi terhadap Rezim Assad. Penindasan berlanjut oleh rezim Assad terhadap penduduk sipil menjadi alasan untuk memperpanjang sanksi. Pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels setuju untuk menjatuhkan sanksi terhadap rezim Basyar Assad hingga 1 Juni 2019

Kamis, 31/05/2018 14:01 0

Close