... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Mengeja Te-Ro-Ris-Me

Foto: Stacks of coins with plastic letter blocks spelling the word terrorism, representing the cost of terrorism.

KIBLAT.NET – Bagi dunia barat, 5 Desember 2013 mungkin menjadi hari berkabung internasional. Pada hari itu Nelson Mandela yang sangat mereka hormati menghembuskan nafas terakhirnya. Hampir seluruh pemimpin dunia mengucapkan belasungkawa atas kepergian tokoh yang menjadi tonggak berakhirnya politik apartheid di Afrika Selatan. Hal ini wajar, karena Nelson Mandela telah dianggap sebagai pahlawan pembebas dunia. Presiden AS saat itu Barrack Husein Obama sampai menyatakan bahwa dirinya tak bisa membayangkan bentuk kehidupannya hari ini tanpa jasa seorang Mandela.

Namun yang menarik adalah pernyataan PM Inggris David Cameron, dia mengatakan bahwa cahaya besar telah meninggalkan dunia dan tak lupa dia menyebut Mandela sebagai pahlawan di zaman kita. Ungkapan belasungkawa yang sangat-sangat normal, bahkan bisa dibilang terlalu standar. Namun kita akan sedikit mengeryitkan dahi ketika tahu bahwa ketika masih menjadi mahasiswa Cameron merupakan aktivis Federation of Conservative Students, sayap pelajar dari partai Konservatif. Kampanye utama mereka pada saat itu adalah “Gantung Mandela”. Bagi mereka Nelson Mandela beserta kelompok African National Congress (ANC) adalah teroris.

Namun sejatinya Cameron tidak sendiri, ANC pada waktu itu memang dipandang sebagai organisasi teroris oleh dunia barat, termasuk Amerika Serikat. Pada tahun 1987, Margaret Thatcher menyebut ANC sebagai “tipikal organisasi teroris, siapapun yang menganggap bahwa mereka akan memerintah Afrika Selatan berarti sedang tinggal di alam mimpi.”

Kita mungkin bertanya, bagaimana bisa sebuah pandangan umum berubah seratus delapan puluh derajat dalam rentang waktu tiga puluh tahun. Dari “teroris” menjadi “pahlawan”, dari “pembunuh” menjadi “cahaya”. Sementara Nelson Mandela sebagai objek mungkin tak berubah sama sekali, dia masih orang yang sama yang mendukung praktik necklacing, yaitu eksekusi dengan mengalungkan roda yang sudah diberi minyak ke leher korban untuk kemudian dibakar, pemikiran serta cara pandangnya terhadap dunia pun tak ada yang berubah, dan dia pun tak lantas menjilat para pemimpin barat agar tak lagi disebut teroris. Tetapi mengapa kini dunia barat seolah lupa dengan apa yang mereka pikirkan tentang Mandela di masa lalu.

Potret di atas merupakan satu dari sekian potret yang mengarah pada absurditas teror dan terorisme sebagai sebuah istilah. Terorisme ternyata mempunyai makna yang berbeda bagi orang yang berbeda, dan lebih daripada itu sifat terorisme juga akan berubah seiring perjalanan sejarah. Dari “pelabelan Mandela” kita tahu bahwa aktivitas kekerasan yang hari ini dilabeli terorisme, extraordinary crime, pada satu periode sejarah tertentu akan dilabeli sebagai perang, gerakan pembebasan, bahkan sekedar kejahatan biasa.

BACA JUGA  Editorial: Berisik RUU HIP

Kisah Mandela juga bisa menjadi contoh yang baik untuk sebuah ungkapan populer “teroris bagi seseorang adalah pejuang kemerdekaan bagi yang lain”, hal ini tentu menjadi cerminan ketidakberesan dalam pendefinisian terorisme. Terorisme sebagai sebuah istilah telah berada di ruang publik selama dua abad, namun sepanjang itu belum ditemukan definisi yang universal, bahkan Alex Schmid dalam penelitiannya mengutip lebih dari 250 definisi terorisme. Hal ini juga pernah diungkapkan oleh mantan kepala BNPT Ansyaad Mbai bahwa definisi terorisme yang disepakati secara global itu memang belum ada, dan dalam kalimat lanjutannya Mbai justru menegaskan bahwa itu tidak akan pernah ada.

Selain itu, dari kisah Mandela kita juga bisa menyimpulkan bahwa definisi terorisme cenderung bersifat politis dan berdiri di atas basis kepentingan. Baik dalam ruang lingkup politik ataupun akademik, definisi terorisme yang kita baca ataupun dengar cenderung mencerminkan kepentingan siapa yang mendefinisikan.

Richard Jackson dalam bukunya Terrorism: A Critical Introduction menjelaskan bahwa definisi terorisme secara tak terpisahkan selalu bersifat politis dalam dua pengertian. Pertama, politis karena penggunaannya mencegah kita dari mengeksplorasi pemahaman alternatif dari hal yang telah ditetapkan. Jackson mencontohkan peristiwa 11 September, persepsi yang telah berkembang luas bahwa serangan tersebut adalah aksi terorisme sejatinya bukanlah sesuatu yang tak terelakkan, menurutnya masih ada interpretasi alternatif yang lebih masuk akal seperti “aksi kriminal”, namun nyatanya interpretasi tersebut benar-benar dikesampingkan demi sebuah kepentingan politik.

Dan yang kedua, definisi tersebut bersifat politis karena memiliki konsekuensi sosial dan kemanusiaan yang sangat nyata dan seringkali berbahaya. Ya gambaran umum bahwa teroris adalah orang yang sangat jahat bisa melegitimasi bentuk-bentuk tertentu dari respon kontraterorisme yang tidak manusiawi. Jadi meskipun tidak manusiawi, respon tersebut cenderung “dimaklumi” dan “dimaafkan” oleh publik. Teknik interogasi waterboarding, yaitu teknik interogasi dengan cara mengikat tangan dan wajah, kemudian kepala ditutup dan dituangkan air yang dilakukan AS terhadap tahanan Guantanamo manjadi contoh yang baik dalam hal ini.

Selanjutnya, dari kisah Mandela kita juga mengetahui bahwa pelabelan teroris selalu dari pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah. Sayangnya hal tersebut masih berlangsung hingga hari ini, dan siapaun yang berpikir pasti akan menyadari bahwa pada hari ini kita dihadapkan pada sebuah bias perspektif yang mengerikan, bahwa setiap tindakan melawan Barat dengan segenap kepentingannya adalah terorisme, Adapun segala bentuk kekerasan yang tidak melawan Barat dan tidak mengganggu kepentingan mereka jarang, bahkan tidak pernah, dianggap sebagai terorisme.

BACA JUGA  Momen Hari Bhayangkara, KontraS: 287 Warga Tewas Ditembak Dalam Setahun

Dan terakhir, dari kisah Mandela kita bisa mengetahui bahwa pelabelan teroris cenderung diarahkan kepada aktor non negara. Apa yang dialami ANC di masa lampau pada hari ini dialami oleh Al Qaeda di Timur Tengah, MILF di Filipina, HTS di Suriah, ataupun JI di Asia Tenggara, mereka dilabeli teroris lebih karena status mereka, lebih karena perlawanan mereka terhadap aktor negara, sebaik apapun kebijakan alternatif yang mereka tawarkan tidak akan mengubah label mereka sebagai teroris.

Bruce Hoffman, yang dianggap sebagai pakar terorisme, dalam bukunya Inside Terrorism menyatakan bahwa terorisme dilakukan oleh kelompok subnasional atau non-negara. Demikian pula James Lutz dan Brenda Lutz dalam Global Terrorism menulis bahwa terorisme adalah kekerasan atau ancaman kekerasan dan melibatkan aktor non-negara.

Sebuah pelabelan yang mengundang tanda tanya yang sangat besar, jika kita melihat sepanjang abad ke 20 saja, sebagaimana yang tertulis dalam Dictionary of Terrorism dibandingkan 500.000 orang yang telah dibunuh oleh aktor non negara, berbagai negara dalam proses perang menewaskan 34 juta orang dan 170 juta lainnya di luar kontur perang.

Maka hal yang paling krusial adalah, jika “Siapakah teroris itu?” tak punya jawaban yang pasti, maka bisa dipastikan tindakan kontraterorisme juga tidak mempunyai arah yang pasti juga. Maka bisa dipastikan pula selama jawaban yang pasti belum ditemukan, semua respon kontraterorisme yang ada pasti politis dan berpijak di atas basis kepentingan pihak yang berkuasa.

Dan terakhir, tulisan ini bukan dimaksudkan untuk meributkan sesuatu yang tekstual sembari mengabaikan fakta jatuhnya korban dari setiap tindakan yang dilabeli terorisme. Namun penulis hanya ingin mengingatkan setiap pihak bahwa terorisme adalah istilah yang sangat merendahkan. Dan terorisme adalah istilah yang sangat berbahaya, karena orang cenderung menyalahgunakannya dengan menyematkannya kepada pihak yang mereka benci, sebagai cara untuk menghindari diskusi yang seimbang dan rasional, dan juga sebagai pembenar atas tindakan illegal dan tak bermoral yang mereka lakukan sendiri.

Mungkin, demi kehidupan yang setidaknya lebih tenang dan damai, ada baiknya kita mulai berhenti menggunakan istilah terorisme di ruang publik. Atau kalaupun masih ingin menggunakan hendaknya dengan definisi yang lebih jujur dan lebih diterima semua pihak. Salah satunya definisi yang dilontarkan oleh John Whitbeck, pengacara internasional Amerika bahwa “terorisme adalah kekerasan yang tidak saya dukung.”

 

Penulis : Rusydan Abdul Hadi

 

 

 


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “Mengeja Te-Ro-Ris-Me”

  1. didik hariyono

    Teroris sejati adalah Yahudi & Nasrani (Barat) beserta antek-anteknya.

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

PNS Sumatera Barat Akan Dapat Keringanan Masuk Kerja Untuk I’tikaf

Gubernur Sumatra Barat (Sumbar) Irwan Prayitno memberikan keringanan dengan membolehkan PNS yang melakukan i'tikaf terlambat masuk kantor

Sabtu, 26/05/2018 14:14 0

Irak

Bom Meledak di Markas Partai Komunis Iraq Sekutu Al-Sadr

Seorang anggota Biro Politik Partai Komunis Iraq, Jassim al-Hilfi, mengatakan bahwa "dua alat peledak dilemparkan ke markas besar Partai Komunis Iraq di alun-alun Andalusia di pusat ibu kota.

Sabtu, 26/05/2018 10:14 0

Palestina

200 Ribu Jamaah Padati Masjid Al-Aqsha di Jumat Kedua Ramadhan

Wanita dari segala usia dibolehkan masuk Al-Quds sementara bagi laki-laki hanya yang berumur minimal 40 tahun, yang boleh masuk.

Sabtu, 26/05/2018 09:21 0

Palestina

Protes Warga Palestina di Perbatasan Terus Berlanjut

Protes yang disebut "Masirah Al-Uudah Al-Kubra (aksi kepulangan besar)" telah dimulai pada 30 Maret untuk menuntut kembalinya para pengungsi Palestina dan keturunan mereka ke tanah keluarga dan rumah yang mereka tinggalkan pada saat pembentukan Negara Israel pada tahun 1948.

Sabtu, 26/05/2018 08:42 0

Indonesia

Kisah Aman Abdurrahman Ditemui Profesor dari Singapura Di Penjara

Saat membacakan pledoi, Aman menceritakan kisah pertemuannya dengan seorang profesor asal Singapura saat dipenjara

Jum'at, 25/05/2018 16:55 0

Amerika

Nikki Haley Terdiam saat Diteriaki sebagai Pembunuh Rakyat Palestina

Nikki Halay, Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB mengalami kejadian tak mengenakan saat berpidato di Universiy of Houston, Texas pada Selasa (23/05/2018).

Jum'at, 25/05/2018 15:44 0

Indonesia

Bacakan Pledoi, Aman Abdurrahman Mengaku Baru Tahu Kasus Bom dari Persidangan

"Saya, Aman Abdurrahman tidak mengakui apapun tentang hal itu,"

Jum'at, 25/05/2018 15:34 0

Afrika

Ledakan Bom Terjadi di Pusat Kota Benghazi

Sebuah bom mobil meledak di sebuah jalan di kawasan padat di pusat kota Benghazi di Libya timur pada Kamis malam. Menurut sumber medis setempat, sedikitnya tujuh orang tewas dan 10 korban lainnya mengalami luka-luka.

Jum'at, 25/05/2018 14:31 0

Foto

Masjid Al-Khandaq, Tandai Strategi Perang Ala Salman Al-Farisi

Masjid ini terletak di parit barat laut Madinah, tempat Perang Khandaq terjadi.

Jum'at, 25/05/2018 14:26 0

Indonesia

Terhimpun Kata Sepakat, DPR Sahkan UU Antiterorisme

Undang-undang tersebut disahkan langsung dalam sidang paripurna yang dipimpin oleh Wakil Ketua DPR Agus Hermanto di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (25/05/2018).

Jum'at, 25/05/2018 13:59 0

Close