... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Jelang Akhir Tugas, Inilah Sosok Pengganti Jenderal Nicholson di Afghanistan

Foto: Jenderal John Nicholson, komandan tertinggi AS di Afghanistan

KIBLAT.NET, Kabul- Seorang jenderal bintang tiga yang mengepalai Komando Gabungan Operasi Khusus dengan tugas dan misi komando militer AS paling sensitif telah ditunjuk untuk memimpin Perang Afghan yang sudah berlangsung selama hampir 17 tahun. Demikian informasi tidak resmi yang disampaikan oleh 5 pejabat Amerika kepada Reuters.

Perwira Angkatan Darat AS, Letnan Jenderal Scott Miller itulah yang dikabarkan akan menggantikan seniornya, Jenderal John Mick Nicholson yang telah lebih dari 2 tahun memimpin pasukan internasional melawan gerakan perlawanan Taliban.

Dua di antara lima pejabat Amerika tersebut secara anonim mengatakan bahwa Nicholson masih akan bekerja memimpin pasukan hingga musim panas berakhir atau paling tidak di sebagian besar periode musim panas ini. Di musim ini pula, pasukan asing dan sekutu lokal mereka pasukan Afghan menghadapi pertempuran terberat di sepanjang sejarah perang Afghanistan. Tanggal 25 April lalu, Imarah Islam (Taliban) mengumumkan kampanye militer dengan sandi “Operasi Khandaq”.

Menyikapi isu di media, Pentagon menolak berkomentar tentang siapa calon pengganti Nicholson selanjutnya. “Kami belum ada pengumuman apapun soal penggantian tersebut,” kata juru bicara Pentagon Letnan Kolonel Kone Faulker.

Seorang pejabat resmi pemerintah yang dekat dengan Miller mengatakan, karir Miller sebelumnya yang banyak menangani isu jaringan global para militan dan hubungan mereka dengan gerakan insurjensi barangkali akan berguna dalam menghadapi tantangan sejenis di Afghanistan.

BACA JUGA  Taliban Lancarkan Operasi Militer di Ghazni

Pergantian pusat komando tempur kemungkinan akan terjadi di fase paling sensitif dalam Perang Afghan, karena para komandan tentu berada di bawah tekanan dan tuntutan untuk segera menunjukkan progres dalam menghadapi salah satu gerakan insurjensi terkuat di dunia, Taliban.

Berbagai kritik memperingatkan bahwa militer Afghan bentukan AS tidak cukup menjanjikan untuk bisa mengalahkan Taliban dalam waktu dekat. Demikian juga, institusi militer proksi asing itu dinilai tidak akan mampu menyelesaikan perpecahan politik dan korupsi di tubuh pemerintah. Bahkan, AS sendiri tidak mampu menangani “wilayah aman” Taliban yang berada di sepanjang perbatasan dengan Pakistan.

Sebelum menjadi presiden, Donald Trump termasuk orang yang skeptis dan sudah lama memandang perang Amerika di Afghanistan sebagai perang yang melelahkan. Bahkan berulangkali Trump menyatakan mendukung penarikan mundur militer AS dari tanah Afghanistan. Namun setelah menjadi presiden, mengingat segala konskuensi dan resiko yang akan dihadapi mengenahi potensi ancaman Taliban, Trump menjadi berbalik arah. Bulan Agustus 2017, Trump menyetujui strategi baru yang lebih agresif di bawah Jenderal Nicholson.

Sebuah lembaga pengawas kinerja pemerintah AS merilis laporan pada hari Senin (21/05) bahwa antara Januari dan Maret hanya ada sedikit progres yang dianggap signifikan yang dicapai oleh pasukan Afghan. Hal itu sangat kontradiktif dan berlawanan dengan pengakuan militer AS yang mengklaim Taliban sudah melemah. Sejumlah pihak melihat laporan militer AS tersebut dianggap menyesatkan karena menggunakan indikator-indikator & parameter secara tidak tepat.

BACA JUGA  Konvoi Tentara NATO Kembali Jadi Sasaran Taliban

Sumber: Reuters
Redaktur: Yasin Muslim

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Analisis

Amaq; Media ISIS yang Diragukan, Namun Dibesarkan Media Barat

Amaq; Media ISIS yang Diragukan, Namun Dibesarkan Media Barat. Amaq menyajikan breaking news secara cepat setiap aksi yang diakui sebagai "prajurit khilafah". Karakter ekslusif penyajian Amaq, biasanya diikuti dengan rekaman kesetiaan (baiat) kepada ISIS, video selfie atau pesan singkat sebelum melakukan aksi.

Rabu, 23/05/2018 22:38 2

Indonesia

Muhammadiyah: Sebenarnya Indonesia Tidak dalam Suasana Darurat UU Terorisme

Sebenarnya Indonesia tidak dalam suasana darurat undang-undang terorisme

Rabu, 23/05/2018 21:06 1

Indonesia

Ini Pandangan Jihadis Tentang Boleh Tidaknya Jadi Anggota DPR

Syarat ini dikutipnya dari Dr. Abdullah Azzam, sosok yang membangkitkan jihad empat dekade terakhir.

Rabu, 23/05/2018 20:15 1

Indonesia

Mantan Jenderal Polri Klaim Densus 88 Paling Tahu Masalah Terorisme

Wakil Direktur Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (UI) Benny J Mamoto mengatakan yang lebih mengetahui informasi intelijen terkait perkembangan terorisme adalah interogrator dan tim cyber Densus 88.

Rabu, 23/05/2018 17:10 0

Indonesia

Sidney Jones: Pola Bom Bunuh Diri di Surabaya Tak Akan Terulang

Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones menyakini bahwa bom bunuh diri yang melibatkan satu keluarga seperti di Surabaya tidak akan terjadi lagi.

Rabu, 23/05/2018 17:05 0

Indonesia

Komnas HAM: Jangan Gara-gara Ada Bom Aparat Semena-Mena Menindak Teroris

Komnas HAM tidak setuju dengan penilaian aparatur negara bahwa terorisme adalah 'ekstra ordinary crime'. 

Rabu, 23/05/2018 16:37 0

Indonesia

Densus 88 Tolak Definisi Terorisme, Ketua Pansus Ungkap Alasannya

Romo menyebutkan bahwa ketika tidak ada definisi yang konkrit tentang terorisme, maka penanganan terorisme akan liar.

Rabu, 23/05/2018 16:12 0

Indonesia

Setara: Pemerintah Harus Perhatikan HAM dalam RUU Terorisme

Ketua Setara Institute, Hendardi meminta Pemerintah untuk memperhatikan hukum dan menghormati HAM dalam penanganan terorisme. Termasuk dalam menyusun RUU Anti-Terorisme.

Rabu, 23/05/2018 15:05 0

Indonesia

Kasus Arya Wedakarna di Tahap Penyidikan, Polda Bali Periksa Saksi

Perkara persekusi Ustadz Abdul Somad di Bali yang menjerat Arya Wedakarna naik ke tahap penyidikan. Polda Bali telah melakukan gelar perkara pada Rabu (09/05/2018).

Rabu, 23/05/2018 14:44 0

Indonesia

Ingat Kasus Persekusi UAS? Arya Wedakarna Akan Jadi Tersangka

Kasus persekusi Ustadz Abdul Somad yang menyeret anggota DPD Dapil Bali, Arya Wedakarna di Hotel Aston Gatsu Denpasar Bali pada 8 Desember 2017 lalu masih berlanjut.

Rabu, 23/05/2018 10:54 0

Close