Mahasiswa Jabar Gagas Solusi Alternatif dalam Refleksi 20 Tahun Reformasi

KIBLAT.NET, Bandung – Forum Pemuda dan Mahasiswa Islam (FPMI) Jawa Barat menggelar agenda rutin Forum Tokoh dan Aktivis Muda dengan tema ‘Gagasan Alternatif Kaum Muda Membangun Kebangkitan Negeri’. Acara yang diselenggarakan sejak pukul 13.30 hingga menjelang berbuka puasa ini terselenggara di Bandung.

Agenda ini turut menghadirkan beberapa pembicara diantaranya Ipank Fatin A (Dir. Muslim Analyze Institute), Mashun Sofyan (Peneliti Lingkar Kajian Ekonomi Syariah), Fauzi Ihsan Jabir (Dir. Family and Generation Care), Andika Permadi Putra (Peneliti Bandung Political Research) dan Tatang Hidayat (Ketua Umum Lingkar Studi Al Qur’an Pemuda Kota Bandung).

Mengawali diskusi, Tatang menjelaskan tentang keabsahan Al-Quran sebagai pondasi objek kajian dari pelaku pendidikan dan penentuan arah pendidikan itu sendiri. “Kebenaran Al-Quran ditempuh melalui metodologi rasional yang tidak dapat dibantah lagi sekalipun dengan metode ilmiah, karena sudah tercakup di dalamnya,” tuturnya.

Pengkajian manusia berbasis Al-Quran menunjukan keharusan adanya perbaikan tujuan hidup manusia dalam berbagai aspek melihat kondisi saat ini. Apalagi pengetahuan/ sains turut terarahkan untuk mempercepat kapitalisasi kehidupan.

Andika Permadi Putra menambahkan bahwa sains saat ini menjadi objek kapitalisasi sehingga yang mampu menikmati kemajuan IPTEK hanyalah negara-negara maju. “IPTEK apalagi dijadikan standar atau ukuran terhadap suatu negara apakah maju atau tidak,” katanya.

Kemajuan yang diukur secara materi menyebabkan cara pandang masyarakat menyetandarkan makna kebahagiaan dengan standar kapital. Apalagi keadaan ditunjang dengan prinsip-prinsip kebebasan sehingga menjadikan masyarakat mengalami degradasi moral.

“Di sinilah peran pemuda harus memunculkan Izzul Islam. Membangun keluarga dengan mentalitas pejuang bukan tunduk kepada realita yang cenderung mengejar materi,” ungkap Fauzi Ihsan Jabir dan konsen dalam bidang hukum keluarga.

BACA JUGA  Habib Hanif: HRS Sudah Bayar Denda Administratif

Visi tersebut untuk melawan secara perlahan melalui pergerakan politik kaum muda. Apalagi faktor pendorong dari kehidupan materialis ini adalah ekonomi kapitalisme yang diterapkan.

“Ekonomi Kapitalisme yang berpegang kepada prinsip kebebasan kepemilikan telah menyebabkan ketimpangan dan kemelaratan, perlu ada gagasan alternatif yang mengatur kepemilikan individu, masyarakat atau negara,” kata Mashun menuturkan.

Tentu saja, pengaturan tersebut tidak bisa tidak menjadikan negara sebagai aktor utama dalam melakukan aktivitas politik, ditambah dengan objek politik yang turut aktif melakukan aktivitas politik, yakni umat Islam.

“Perlu ada persepsi politik berbasis Islam untuk dapat memberikan sikap terhadap realitas politik yang ada. Tentunya, kaum politis muda harus membekali diri dengan gambaran sistem politik Islam demi mewujudkan gagasan alternatif dalam kancah kehidupan menggantikan sistem politik Demokrasi Kapitalisme,” tandasnya.

Reporter: Tatang Hidayat
Editor: M. Rudy

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat