... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Timbangan Fikih dalam Teror Bom Surabaya

Foto: Bom Surabaya

KIBLAT.NET – Pada hari Ahad 13 Mei kita dihenyakkan oleh 3 bom yang mengguncang kota Surabaya. Bom tersebut dilakukan oleh satu keluarga. Dita Oeprianto adalah kepala keluarga dari keluarga ini. Sebagian pihak menilai bahwa itu adalah pengalihan isu dari Rupiah yang menembus angka 14.000 per US Dolar disertai dengan ramainya tagar #2019ganti presiden.

Ada juga yang mempertanyakan profesionalitas Polri dalam pengamanan, setelah sebelumnya ada insiden penyanderaan di Mako Brimob Kelapa Dua. Di sisi lain, pihak kepolisian mengusulkan kepada presiden untuk membuat PERPU dan penambahan anggaran.

Namun, hal yang sangat disayangkan dari kejadian itu adalah adanya reaksi yang tidak baik terhadap simbol-simbol Islam. Sebut saja cadar dan atribut keislaman lainnya. Bahkan ada pula yang menggiring opini bahwa penyebab terorisme adalah keberadaan Rohis di SMA-SMA dan kampus-kampus.

Di tengah kesimpangsiuran di atas, penulis mencoba mengkaji bom gereja Surabaya, melalui pendekatan jihad sejauh yang penulis pahami. Setidaknya ada beberapa fakta terkait bom Surabaya yang bisa kita jadikan objek kajian.

Mengawal Jihad Dari Ekstremitas

Syariat  Jihad adalah amalan yang sangat mulia di dalam Islam. Di dalam sebuah hadits, jihad disebut sebagai puncak amalan tertinggi. Rasulullah SAW bersabda, “Induk dari segala perkara adalah Islam, tiangnya adalah sholat dan puncak amalan tertinggi adalah jihad fi sabilillah.” (HR Tirmidzi dan dishahihkan oleh Albani)

Penyematan kata fi sabilillah dalam kata jihad, juga memberikan tashowwur bahwa jihad yang dilakukan seorang muslim harus  selalu berada dalam kerangka dan rambu-rambu syar’i. Ini menandakan bahwa jihad di dalam Islam bukan bertujuan untuk genosida, pembantaian ataupun sekedar balas dendam, tapi memiliki tujuan yang luhur dan agung.

Setidaknya ada beberapa tujuan jihad di dalam Islam.

  1. Sistem pertahanan umat Islam dari musuh Islam.
  2. Membebaskan kaum lemah dari perbudakan diktator dan tiran.
  3. Mewujudkan penghambaan total kepada aturan Allah dan menjaga akidah umat Islam.
  4. Menjaga marwah dan wibawa negara Islam.
  5. Dan lain-lain.

Semangat perlawanan dari ruh jihad inilah yang menghalangi musuh-musuh Islam untuk merebut negeri kaum muslimin. Bagi mereka ruh jihad adalah penghalang utama. Maka kita bisa lihat bagaimana musuh-musuh Islam berupaya memadamkan jihad dari pikiran kaum muslimin.

Di antara cara mereka adalah dengan memberikan penafsiran alternatif terhadap makna jihad, sehingga jihad yang semula bermakna perlawanan terhadap musuh yang ingin merongrong negeri Islam, berubah makna menjadi sekedar bekerja mencari nafkah, menolong tetangga dan lain-lain. Sehingga esensi dari jihad itu dilupakan oleh kaum muslimin, yang dengannya musuh Islam akan leluasa merongrong negeri kaum muslimin.

Cara berikutnya adalah dengan memunculkan potret Islam yang ekstrem, praktek jihad yang salah dan meligitimasi itu bagian dari jihad. Sehingga umat antipati dengan jihad dan mujahidin. Penggiringan opini yang mengidentikkan aksi jihad dengan terorisme adalah salah satu upaya musuh-musuh Islam untuk menghapus jihad dari kamus umat Islam.

Syaikh Abu Mus’ab As-Suri menyebutkan bahwa kombinasi antara penguasa kafir dan zalim (antek musuh) , diktator bengis dan jahat, para ulama penguasa yang munafik, kebangkitan Islam yang cukup lemah, masyarakat awam yang jauh dari nilai Islam, dan adanya kelompok pemuda yang penuh semangat, bodoh, terzalimi, maka komposisi dari semua ini melahirkan aliran takfir yang cendrung melakukan praktek jihad yang salah.

Praktek jihad yang salah inilah yang kemudian dieksploitasi oleh musuh-musuh Islam untuk mencitrakan buruk terhadap jihad. Yang paling berperan di sini adalah kaum munafik. Kita bisa berkaca dari kasus haditsul ifki (fitnah yang menimpa Aisyah) di mana orang-orang munafik, menyebarkan isu tersebut karena mereka mendapatkan bahan untuk menjatuhkan kredibilitas Nabi. Sama halnya hari ini, mereka akan mendiskreditkan jihad sebagai syariat Islam karena adanya praktek jihad yang salah dan ekstrim.

Oleh karena jihad rawan kekeliruan, Islam mengharuskan agar jihad dan perjuangan dikawal dengan ilmu, sehingga kekeliruan dan kesalahan jihad bisa dibenarkan dan jihad tetap berjalan dalam kontrol syariat.

Allah SWT berfirman :

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Artinya, “Tidak selayaknya orang-orang beriman itu berangkat (berperang semua). Hendaklah ada sekelompok dari mereka yang memahami agama. Guna memperingatkan kaumnya jika mereka kembali. Agar mereka berhati-hati (terhadap peringatan).” (QS At-Taubah : 122)

BACA JUGA  AS Ancam Sanksi ICC Jika Usut Kejahatan Perang di Afghanistan

Aturan-aturan tentang jihad sudah banyak tertera di buku para ulama. Aturan-aturan tadi menyangkut siapa saja yang boleh berjihad, musuh seperti apa yang boleh menjadi sasaran, bahkan Rasulullah SAW juga mewasiatkan adab-adab berperang ketika ingin memberangkatkan sebuah pasukan.

Dalam sebuah wasiat perang, Rasulullah SAW berpesan, “Beperanglah dengan menyebut nama Allah, perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah, jangan kalian berkhianat, jangan mencuri harta rampasan perang, jangan kalian mencincang, jangan membunuh anak-anak dan orang yang beribadah di rumah ibadah.” (HR Ahmad)

Pesan Rasulullah ini mengindikasikan bahwa adanya potensi praktek jihad yang salah. Bahkan hal ini pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW. Dalam sebuah perang sahabat Usamah bin Zaid pernah melakukan kesalahan dalam aksi jihad.

Ketika itu Usamah berhadapan dengan musuh yang sudah terdesak, ketika Usamah ingin menyerangnya, tiba-tiba saja musuh ini mengucapkan kalimat syahadat. Sepintas Usamah melihat itu hanyalah akal-akalannya agar terhindar dari sabetan pedang. Terang saja, Usamah bin Zaid langsung menghunjamkan pedangnya ke musuh tadi.

Cerita ini sampai kepada Rasulullah SAW. Beliau seketika itu pula megingkari dan berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh Usamah bin Zaid. Namun beliau tidak serta merta menghentikan jihad, tapi yang beliau lakukan adalah mengingatkan praktek yang salah dengan tetap menjaga berlangsungnya jihad.

Pernah juga Rasulullah SAW mengutus sebuah ekspedisi dan menunjuk seorang komandan. Di tengah perjalanan, komandan ekspedisi ini membakar kayu dan berbekal perintah taat pasukan kepadanya, dia menyuruh pasukannya untuk memasuki kepulan api tersebut. Namun tidak ada dari pasukannya yang memasuki api. Setiba di Madinah hal ini diceritakan kepada Rasulullah SAW. Belia bersabda, “Seandainya kalian memasuki api tersebut, niscaya kalian tidak akan keluar dari api selamanya.” Sebuah isyarat, jika mereka mentaati perintah tersebut, niscaya mereka akanmasuk neraka.

Beginilah Rasulullah SAW dalam mensikapi praktek jihad yang salah, cukup adil dan tidak gebyah uyah. Karena jika gebyah uyah, yang terjadi adalah umat Islam akan kehilangan maslahat dengan absennya jihad.

Bom Surabaya dalam Pendekatan Fikih

Hal yang banyak diperdebatkan secara fikih adalah aksi bom syahid. Ada yang menolak aksi bom syahid secara mutlak, namun ada pula yang memperbolehkannya pada kondisi-kondisi tertentu seperti di Palestina, Afganistan dan Suriah.

Jika melihat kepada fatwa-fatwa dan kajian ulama tentang bolehnya melakukan bom syahid, maka kita akan dapati bahwa fatwa tersebut memiliki konteks. Yaitu jika hal tersebut dilakukan di medan jihad dan ada hajat yang mendesak untuk melakukannya dan terciptanya maslahat yang nyata bagi perjuangan jihad umat Islam di daerah tersebut.

Para ulama yang memperbolehkan aksi bom syahid di medan jihad pun, memberikan syarat dan ketentuan agar aksi itu bisa dilakukan. Pemberian syarat dan ketentuan itu mengingat bahwa bom syahid bukanlah praktek jihad yang biasa.

Setidaknya ada dua hal yang membuat aksi bom syahid menjadi tidak biasa. Pertama, praktek “bunuh diri”nya yang hukum asalnya terlarang dalam agama. Kedua, efek bom yang tidak bisa diperkirakan korbannya. Sehingga syarat-syarat yang disampaikan oleh para ulama perlu untuk dikaji baik-baik oleh mereka yang ingin melakukannya di medan jihad.

Hal yang perlu digarisbawahi di sini adalah, fatwa-fatwa tentang kebolehan aksi bom syahid adalah fatwa yang menghukumi aksi bom syahid di medan jihad seperti di Palestina dan Chechnya ataupun bom syahid yang memberikan pukulan telak bagi musuh-musuh Islam.

Maknanya harus ada maslahat yang didapat, atau setidaknya harus ada perhitungan maslahat yang matang dalam sebuah aksi amaliyah istisyhadiyah. Karena jihad adalah sebuah amalan ma’qulul makna (tujuan dan maslahatnya bisa diukur). Dan pengukuran maslahat tersebut parameternya haruslah parameter keumatan, bukan hanya kelompok tertentu dari umat Islam.

Di antara dalil yang dijadikan dasar dalam membolehkan amaliyah istisyhadiyah adalah fenomena Ghulam dalam kisah Ashabul Ukhdud. Sebagaimana yang diceritakan di dalam Shahih Muslim, hadits no 3005, bahwa Ghulam memberi tahu kepada si raja cara membunuh dirinya setelah berkali-kali gagal. Yaitu, sang raja harus mengucapkan kalimat syahadat. Mengetahui rajanya bersyahadat, rakyatnya pun mengikuti bersyahadat.

Di sini, tindakan Ghulam bisa dikategorikan sebagi “bunuh diri.” Tetapi kematian Ghulam tidak sia-sia karena melalui kematiannya, penduduk negeri tersebut beriman kepada Allah.

BACA JUGA  GP Ansor Riau Mengaku Dukung Pengajian Ustadz Abdul Somad

Di antara dalil lainnya yang menyatakan akan kebolehan aksi “bunuh diri” adalah apa yang dilakukan oleh sahabat Barra’ bin Malik. Dikisahkan di dalam Sunan Al Baihaqi 9/44, bahwa suatu ketika kaum muslimin kesulitan memasuki benteng musuh.

Pada saat itu Barra’ bin Malik menawarkan diri untuk dilempar ke dalam benteng musuh guna membuka pintu benteng. Resiko yang dihadapi Barra’ bin Malik adalah kematian. Bagaimana tidak, ia seorang diri menghadapi musuh di kandang mereka. Akhirnya Barra’ bin Malik berhasil membukakan pintu dan menjadi sebab kemenangan bagi kaum muslimin.

Dari dua kisah di atas dapat diambil kesimpulan bahwa aksi bom bunuh diri harusnya memberikan kemaslahatan bagi kaum muslimin. Sementara pada kasus bom Surabaya, kemaslahatan apa yang didapat?

Secara hukum fikih, bom syahid bersifat darurat. Tidaklah sesuatu yang darurat itu dilakukan kecuali hal yang konvensional tidak bisa dilakukan atau bisa dilakukan tapi tidak menimbulkan hasil sesuai harapan. Oleh karena dia bersifat darurat, maka tidak boleh dilakukan setiap saat dan setiap waktu. Dan sebelum melakukan harus betul-betul dikaji, apakah kondisinya darurat atau tidak?.

Mencegah Eksploitasi Musuh Terhadap Amal Jihad

Sebagaimana sudah disebutkan di atas, praktek jihad yang salah seringkali menjadi alat eksploitasi musuh untuk mengeleminir jihad secara keseluruhan. Sebagai muslim yang cerdas, ada baiknya kita jeli menutup pintu-pintu yang rawan dieksploitasi musuh.

Meskipun permusuhan musuh Islam itu nyata, akan tetapi kita dituntut untuk berupaya menghindarkan diri dari makar-makar mereka. Spirit ini diambil dari firman Allah

“Dan di mana pun kalian berada maka palingkanlah wajah kalian ke arahnya, agar tidak menjadi alasan bagi manusia (dalam menentang kalian) kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka.” (Al-Baqarah : 150).

Di dalam ayat ini Allah swt memerintahkan umat Islam menghadap ke Ka’bah. Setelah 16 bulan menghadap Baitul Maqdis. Tujuannya adalah membantah perkataan dan permusuhan dari Ahli Kitab terhadap kaum muslimin. Sebelumnya Ahli Kitab merasa menang terhadap kaum muslimin dengan ungkapan, “Mereka (kaum muslimin) meninggalkan kiblat kita dan menghadap ke kiblat bapak kita Ibrahim.” Maka Allah mematahkan klaim Ahli kitab itu karena sebenarnya Nabi Muhammad menghadap ke kiblat ke rumah bapaknya (Ibrahim).

Ayat ini menjelaskan cara mematahkan dan membungkam argumentasi musuh. Dengan itu upaya musuh gagal untuk memenangkan opini di atas kaum muslimin. Upaya mereka untuk mengeksploitasi bagian dari Islam telah gagal. Sebenarnya, Ahli Kitab tidak membutuhkan alasan ini. Perbedaan agama cukup bagi mereka terus membantah dan mereka tidak akan berhenti membantah. Kemudian dengan ayat ini, Allah membungkam mereka yang telah memanfaatkan celah umat Islam untuk mengkesploitasi syariat Islam.

Ayat ini juga mengandung fungsi melindungi citra baik Islam dan senantiasa menjaganya. Hal ini tercermin dalam firman Allah, “Agar tidak menjadi alasan bagi manusia”. Di atas itu semua, agama Islam memiliki daya tarik tersendiri. Allah menjaga agama ini dengan mensyariatkan segala hal yang menjaga daya tarik itu. Di antaranya adalah dengan cara menutup celah yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang senantiasa menunggu celah itu.

Di dalam ayat lain Allah swt berfirman, “Janganlah kalian mencela orang-orang yang berdoa kepada selain Allah hingga menyebabkan mereka mencela Allah atas rasa permusuhan tanpa mereka ketahui.” (Al-An’am : 108)

Orang-orang kafir walaupun menyelisihi Allah, Rasul dan agama-Nya, mereka tidak memiliki alasan untuk mencela Allah, Rasul dan agama-Nya. Maka Allah mencegah segala hal yang menyebabkan mereka mencela dan mencaci Allah, rasul-Nya dan agama-Nya. Sehingga larangan mencela tuhan-tuhan mereka, agar mereka tidak balik mencela Allah. Di dalam fikih hal seperti ini disebut sadduz zaroi’.

Sebagai seorang muslim, kita dituntut untuk menjaga Islam, baik dengan akhlak dan perbuatan kita ataupun dengan dakwah dan jihad fi sabilillah. Namun satu hal yang perlu kita tulis tebal-tebal adalah, jangan sampai upaya kita dalam membela Islam dieksploitasi oleh musuh Islam.

Namun, kita juga tidak boleh meninggalkan jihad hanya karena takut dieksploitasi musuh. Maka agar jihad tidak diksploitasi oleh musuh, lakukanlah jihad sesuai dengan tuntunan syar’i dengan mempertimbangkan kajian masalahat dan madhorot bagi Islam dan kaum muslimin.  Wallahu a’lamu bissowab

Penulis: Miftahul Ihsan
Editor: Arju

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “Timbangan Fikih dalam Teror Bom Surabaya”

  1. rano parno

    akan tetapi sekarang ini mana yang disebut negara islam, yaitu negara yang menjadikan sistem syareat islam dijadikan sebagai segala sumber hukum untuk melakukan kebijakan kenegaraan dan kebangsaan. jaman sekarang blm ada negeri spt tersebut di atas… apalagi negara INDONESIA

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Mengejutkan, BNPT Akui Pelaku Sejumlah Aksi Bom Sudah Dideradikalisasi

Kepala BNPT mengatakan pelaku sejumlah aksi pemboman telah kena program deradikalisasi

Jum'at, 18/05/2018 15:26 0

Irak

Qasem Soleimani Jadi Mediator Pembentukan Koalisi Syiah di Iraq

IRGC pimpinan Soleimani adalah pendukung asing utama organisasi Badr, yang bertanggung jawab dalam melakukan pembantaian dan kejahatan terhadap warga Sunni di Iraq.

Jum'at, 18/05/2018 15:22 0

Amerika

Dikenal Gunakan Teknik Interogasi Brutal, Ini Sosok Direktur Baru CIA

Senat AS telah menetapkan Gina Haspel sebagai direktur baru Central Intelligence Agency (CIA). Haspel mendapatkan dukungan 54 senator dalam proses voting pada Kamis (17/05/2018).

Jum'at, 18/05/2018 14:22 0

Indonesia

Definisi Harus Jelas, Agar Stigmatisasi Teroris Tidak Bermasalah

"Ini yang mau kita masukkan dalam konteks definisi, ini yang kita dorong, sehingga tidak sembarangan orang disebut sebagai teroris," ungkapnya.

Jum'at, 18/05/2018 13:30 1

Indonesia

Viral Santri Digeledah Polisi, Pengamat: Jangan Munculkan Masalah Baru

Yon kemudian menyarankan pemerintah agar lebih memperbanyak kerja-kerja intelijen yang sunyi dan tersembunyi. Sehingga bisa menyelesaikan satu persatu potensi yang muncul.

Jum'at, 18/05/2018 12:52 0

Yaman

Sejak Awal Tahun, AS Luncurkan 17 Kali Serangan Udara di Yaman

Serangan udara lainnya diluncurkan di provinsi Al-Bayda, Hadramout, daerah "Zamakh dan Manukh Direktorat" di Hadramaut dan Shabwa.

Jum'at, 18/05/2018 12:04 0

Indonesia

Direktur STIBA Makassar Bagi Tips Gapai Kemuliaan Ramadhan

Ustadz Yusran mendahului materinya dengan menyebutkan tiga sifat bulan Ramadhan, yakni Ramadhan Mubarak, Ramadhan Karim dan Ramadhan Azhim.

Jum'at, 18/05/2018 11:11 0

Indonesia

Amnesty International: Dana dan Program BNPT Harus Dievaluasi

Direktur Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid menegaskan bahwa harus ada evaluasi menyeluruh ke beberapa lembaga setelah kasus teror akhir-akhir ini.

Jum'at, 18/05/2018 10:49 0

Indonesia

KontraS: Jangan Deligitimasi HAM dalam Penanganan Terorisme

Yati menekankan bahwa HAM adalah prasyarat mutlak dalam upaya penanggulangan terorisme. Menurutnya, rinsip-prinsip HAM telah diadopsi dalam pasal-pasal konstitusi negara ini.

Jum'at, 18/05/2018 10:14 0

Irak

Kontes Politik Iraq: Al-Sadr Bentuk Blok Koalisi Jegal Al-Maliki dan Al-Amari

Hasil perhitungan sementara, Muqtada Al-Sadr menang melalui koalisi politiknya, “Sairun”. Sementara Ammar Al-Hakim, pemimpin Gerakan Syiah Al-Hikmah mendapat 22 kursi di parlemen.

Jum'at, 18/05/2018 09:41 0

Close