Kritik Pemerintah Mesir di Medsos, Seorang Ibu Ditangkap

KIBLAT.NET, Kairo – Polisi Mesir menahan seorang wanita karena mengkritik pemerintah dalam sebuah postingan video di media sosial. Kritikan diberikan karena Pemerintah gagal melindungi perempuan dari pelecehan seksual dan kondisi ekonomi Mesir yang semakin memburuk.

Middle East Eye belum mendapatkan komentar langsung dari pihak kepolisian. Namun, sumber-sumber keamanan mengatakan bahwa Fathy ditahan atas tuduhan menghina negara Mesir melalui postingan media sosial.

Amnesty International mengatakan Amal Fathy ditahan di rumahnya ketika menjelang fajar pada Jumat (11/05/2018) lalu bersama suami Mohamed Lotfy dan anaknya. Mereka dibawa ke kantor polisi di Maadi di selatan Kairo. Lotfy dan anaknya dibebaskan sekitar tiga jam kemudian, tetapi Fathy masih ditahan.

Jaksa penuntut kemudian memerintahkan dia ditahan selama 15 hari untuk ditanyai atas tuduhan hasutan untuk menggulingkan sistem yang berkuasa, menyebarkan hoaks dan menyalahgunakan media sosial.

Media Pemerintah sebelumnya mengecam Fathy, dan menyebutnya telah menggunakan “bahasa kotor” dalam rekaman video selama 12 menit. Fathy menyatakan kemarahan kepada layanan publik yang buruk di bank lokal, lalu lintas padat, pelecehan seksual oleh sopir taksi lokal dan kerusakan umum di kondisi hidup.

Kelompok hak asasi manusia telah berulang kali mengkritik Mesir atas tindakan kerasnya terhadap para pembela hak asasi manusia. Mereka mengatakan kondisi negara semakin memburuk di bawah Presiden Abdel Fattah al-Sisi. Sisi mulai berkuasa pada 2013 setelah militer menggulingkan presiden Mohamed Morsi.

Amnesty Internatinal menyebut, bahwa penangkapan Fathy -seorang anggota gerakan pemuda 6 April- merupakan tindakan keras terbaru Mesir terhadap kebebasan berekspresi. Gerakan itu sendiri diketahui memainkan peran penting dalam protes massa 2011 yang memaksa presiden Hosni Mubarak mundur dari jabatannya.

Amnesty International mengatakan bahwa dalam video yang diposting ke Facebook pada 9 Mei, Fathy berbicara tentang prevalensi pelecehan seksual di Mesir dan mengkritik pemerintah karena kegagalannya melindungi perempuan, serta memburuknya perlindungan hak asasi manusia, kondisi sosial ekonomi dan layanan publik.

“Ini adalah hari yang gelap ketika pihak berwenang Mesir lebih peduli untuk membungkam seorang wanita yang berbicara tentang pelecehan seksual daripada mengambil langkah untuk mengatasi masalah ini,” kata Najia Bounaim, Direktur Kampanye Afrika Utara di Amnesty International.

Sumber: Middle East Eye
Redaktur: Ibas Fuadi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat