... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Ikuti AS, Guatemala Resmikan Kedubes untuk Israel di Al Quds

Foto: Hilda Patricia Marroquin, istri Presiden Guatemala Jimmy Morales, memotong pita meresmikan kedutaan Guatemala di Yerusalem [Ronen Zvulun / Reuters]

KIBLAT.NET, Yerusalem- Di tengah kemarahan dunia dan warga Palestina, Guatemala melangsungkan peresmian Kedutaan Besar untuk Israel di Al Quds pada Rabu (16/05/2018). Guatemala menjadi negara kedua setelah Amerika Serikat yang mengakui Al Quds sebagai ibu kota Israel saat Hari Nakba.

Peresmian Kedubes Guatemala dihadiri Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Guatemala Jimmy Marales. Peresmian dilakukan saat aksi penolakan dari warga Palestina masih berlangsung dan telah menewaskan 62 jiwa sejak peresmian Kedubes AS pada Senin 14 Mei 2018.

Hari Nakba diperingati oleh Palestina, menandakan 70 tahun berdirinya negara Israel. Hari itu disimbolkan dengan “kunci” yang menandakan terusirnya puluhan ribu warga Palestina dari rumahnya. Lantaran imigran Yahudi dari berbagai negara membanjiri Palestina setelah negara Zionis Israel dideklarasikan.

Presiden Guatemala Jimmy Marales mengatakan, peresmian ini sekaligus mengirim pesan cinta, perdamaian dan persaudaraan ke Israel. Selain itu, Pemerintah Guatemala mengaku tidak ditekan oleh AS untuk memindahkan kedutaannya.

Sementara itu, Harry Fawcett jurnalis Al Jazeera yang meliput ke lokasi mengatakan bahwa banyak analis yang berpandangan, jika Guatemala dan negara Amerika latin lainnya ingin memiliki hubungan baik dengan AS, kuncinya ialah menjalih hubungan sedekat mungkin dengan Israel dari segi politik dan ekonomi.

Guatemala, negara kedua yang mengakui Israel sebagai negara pada 1948. Kedua negara memiliki hubungan erat terutama kerjasama militer. Yang terakhir adalah pemasok senjata utama ke negara Amerika tengah. Selain itu, Paraguay, Honduras dan Republik Ceko mengaku ingin ikut memindahkan kedutaan mereka ke Yerusalem.

BACA JUGA  Palestina Rugi Rp35,3 Triliun Per Tahun Akibat Penjajahan Israel

Sejak berdirinya Israel pada 14 Mei 1948 tak satupun negara yang mengakui Al Quds atau Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Hingga akhirnya, Donald Trump pada Desember 2017 menjadi negara pertama mengumumkan wacana itu.

Kebijakan Donald Trump telah menyelisihi pemerintahan AS sebelumnya yang mendukung resolusi PBB. Di mana pasca Perang 1967 ketika Israel menduduki Yerusalem Timur, PBB mengeluarkan resolusi pembagian Yerusalem antara Israel dan Palestina. Wilayah negara Palestina disebutkan di Tepi Barat dan Jalur Gaza dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.

Sumber: Al Jazeera
Redaktur: Syafi’i Iskandar

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

23 Orang Ditangkap Terkait Bom Surabaya, Ini Daftarnya

Polda Jatim menyampaikan bahwa Densus 88 telah menangkap 23 orang yang diduga terkait bom Surabaya. Adapun 4 orang di antaranya ditembak mati.

Kamis, 17/05/2018 16:00 0

Indonesia

Kejadian Mako Brimob dan Bom Surabaya Momentum Evaluasi BNPT dan Densus 88

Kejadian serangan di Mako Brimob dan Bom Surabaya seharusnya jadi momentum valuasi BNPT dan Densus 88, bukan malah terbutkan Perppu Terorisme

Kamis, 17/05/2018 15:22 0

Opini

Setengah Hati Indonesia untuk Palestina

Dan akhirnya, pernyataan yang sebelumnya hanya wacana kini benar-benar terlaksana. Kedubes Amerika telah diresmikan di Al-Quds.

Kamis, 17/05/2018 15:00 0

Indonesia

Satu Keluarga Ledakkan Bom, Pakar Psikologi: Ada Kemungkinan Objek Brainwash

Pakar psikologi menilai tak tertutup kemungkinan keluarga Dita Oeprianto merupakan objek cuci otak atau brainwash

Kamis, 17/05/2018 14:56 0

Indonesia

PAHAM: Definisi Terorisme Dapat Digunakan Sebagai Alat Politik

Heru mencontohkan tentang Amerika yang mudah memberi label kepada gerakan-gerakan perjuangan di Palestina sebagai teroris, seperti Hamas. Sedangkan Israel sebagai penjajah Palestina tidak disebut sebagai teroris.

Kamis, 17/05/2018 13:50 0

Editorial

Editorial: Teror di Tahun Politik, Cui Bono?

Markus Tullius Cicero, seorang politisi Romawi yang lahir pada tahun 106 sebelum Masehi dalam pidatonya yang berjudul Pro Roscio Amerino menyatakan sebuah konsep hukum yang menarik. Istilahnya disebut, “Cui Bono” (dibaca: kui bono). Cicero bilang: “Lucius Cassius yang terkenal, yang oleh orang-orang Romawi sering dianggap sebagai hakim yang jujur dan bijaksana, biasanya bertanya berulang kali, “Cui Bono?”. Siapakah yang paling mendapat keuntungan?

Kamis, 17/05/2018 13:02 0

Indonesia

Selain Definisi Terorisme, DPR dan Pemerintah Belum Sepakat dalam Hal Ini

Panitia Khusus Revisi Undang-undang Tindak Pidana Terorisme mengaku sudah merampungkan pembahasan dan tengah menanti keputusan final dari Pemerintah. Hal ini menjadi faktor kenapa RUU Terorisme belum disahkan. 

Kamis, 17/05/2018 11:56 0

Suara Pembaca

Sasar Generasi Milenial, Sinergi Foundation Kampanyekan “Giving is Cool”

Dengan mengampanyekan Giving is Cool, Sinergi Foundation memotivasi milenial muslim untuk semakin bersemangat berbagi. Apalagi, kini tengah menginjak Ramadhan, yang dikenal sebagai bulannya berbagi.

Kamis, 17/05/2018 11:23 0

Rilis Syamina

Laporan Syamina: Al-Kahfi dan Dajal – Pertarungan Iman dan Materialisme

Surah Al-Kahfi turun sebagai anti-thesis dari materialisme. Keempat kisah yang disajikan di dalamnya menghasung satu tema, kritik terhadap materialisme sekaligus mematahkannya.

Kamis, 17/05/2018 10:15 0

Indonesia

Marak Aksi Teror, Pemuda Muhammadiyah Minta Kinerja Polisi Dievaluasi

Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Virgo Sulianto menegaskan bahwa ia khawatir tidak ada penanganan serius dalam kasus terorisme. Sebab, sudah 16 tahun masih ada kasus tersebut.

Rabu, 16/05/2018 20:20 0

Close