... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Editorial: Teror di Tahun Politik, Cui Bono?

Foto: Teror di tahun politik, cui bono? Gambar: Gedung Reichstag terbakar.

KIBLAT.NET – Markus Tullius Cicero, seorang politisi Romawi yang lahir pada tahun 106 sebelum Masehi dalam pidatonya yang berjudul Pro Roscio Amerino menyatakan sebuah konsep hukum yang menarik. Istilahnya disebut, “Cui Bono” (dibaca: kui bono). Cicero bilang: “Lucius Cassius yang terkenal, yang oleh orang-orang Romawi sering dianggap sebagai hakim yang jujur dan bijaksana, biasanya bertanya berulang kali, “Cui Bono?”. Siapakah yang paling mendapat keuntungan?

Pikiran Cicero, yang khotbahnya sering dikutip Karni Ilyas dalam acara ILC, pada akhirnya menjelma menjadi semacam gagasan dalam ilmu hukum untuk membantu pengadil mencari siapa aktor intelektual dalam tindak kriminal. Teori “Cui Bono” digunakan untuk mengidentifikasi para tersangka kejahatan, yang dikonfirmasi oleh paradigma kaum utilitarian bahwa pelaku kejahatan dapat ditemukan di antara mereka yang mendapatkan sesuatu untuk diperoleh, terutama sekali adanya keuntungan finansial. Pihak yang diuntungkan tidak selalu dapat ditemukan jelas bahkan kadang-kadang mereka berhasil mengalihkan perhatiannya pada kambing hitam.

Celakanya, dalam aksi teror belakangan ini perhatian kita berhasil dibuat teralih. Pada acara ILC yang dipandu Karni Ilyas pekan lalu, di bawah tajuk “Tragedi Mako Brimob dan Bom Surabaya,” hadir seorang mantan napi teroris. Kata dia, masih banyak asatidz yang memakai teori “Cui Bono” dan yang setuju dengan hal itu adalah orang yang berpikiran jahat. Sebagai mantan pelaku dia juga menegaskan bahwa tragedi teror di Mako Brimob dan Bom Surabaya bukanlah konspirasi tapi fakta.

Apa yang salah dalam perkataan tersebut? Jika kita kuliti satu persatu akan sangat banyak pertanyaan yang sulit ditemukan jawabannya. Pertama, mengapa dalam kasus Mako Brimob, polisi berbeda-beda dalam memberikan pernyataan kepada wartawan? Mengapa kasus peledakan bom terjadi di Surabaya dan Riau, bukannya di Jakarta? Apakah memang ada upaya untuk menghindari imej buruk di mata internasional karena bertepatan dengan acara Asian Games? Mengapa teroris ini tidak sekalian mengincar agenda Asian Games yang lebih besar sorotannya? Apakah aktor intelektual ini masih memikirkan dampak serangan terhadap kepentingan nasional, jika iya maka siapa pelakunya?

BACA JUGA  Takmir Masjid Beberkan Alasan UGM Tolak Ustadz Abdul Somad

Kita semua sepakat bahwa aksi teror di Indonesia ialah fakta bukan fiksi. Kejadiannya betul-betul ada. Muncul di semua media dan layar kaca. Tapi yang menjadi keresahan bersama umat Islam adalah mengapa pemerintah tidak pernah berlaku adil terhadap semua tindakan terorisme dari semua agama? Akibatnya, muncul pikiran-pikiran di alam bawah sadar masyarakat, bahwa definisi terorisme diciptakan khusus dan istimewa hanya untuk umat Islam. Apalagi, setelah aksi terorisme terjadi kerap muncul serangan dan persekusi terhadap atribut dan cara pandang Islam, dan kadang-kadang juga serangan kepada kubu lawan politik.

Saat ini gejala tersebut sudah muncul. Sejumlah orang yang menganggap bahwa kejadian terorisme adalah settingan dan rekayasa pemerintah diburu aparat. Mereka diciduk dan ditangkap atas pasal penyebaran berita palsu. Sebenarnya, jika kita mau sedikit berpikir dengan paradigma sosiologis, adanya pandangan bahwa aparat merekayasa kejadian terorisme sudah dimulai oleh Mantan Presiden RI yang keenam Abdurrahman Wahid. Pandangan semacam itu lahir karena adanya kejadian di lapangan dan minimnya kepercayaan publik terhadap pemerintah. Seharusnya, kepercayaan publik itu diraih kembali dengan cara persuasif, bukannya semakin represif.

Jadi, pernyataan mantan teroris di acara ILC tersebut menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah dua kali berkhianat. Pertama, ia mengkhianati prinsip “Cui Bono” yang dipegang semua penegak hukum, termasuk dirinya yang pernah 13 tahun menjadi polisi, meski akhirnya dipecat. Kedua, ia mengkhianati pandangan orang-orang yang bekerja sama demi kepentingan penegakan hukum bersama Polri dan BNPT. Dan, entah apakah nantinya ia juga akan berkhianat kepada teman-temannya sesama alumni pegunungan Jalin Jantho, yang telah ia sebut teroris.

BACA JUGA  Muslim United Murni untuk Persatuan Umat Islam

Pada akhirnya, kisah teror ini perlu kita sadari terjadi di tahun politik. Tahun penuh kemunafikan. Di tahun itu, semua orang berwajah ganda. Apa yang terjadi hari ini bukan tak penting, tapi perlu kita lihat akhir kisahnya, supaya kita bisa membaca kejadian itu membawa agenda apa dan kepentingan siapa. Barangkali kisah pembakaran gedung Reichstag pada 27 Februari 1933 bisa diambil hikmahnya. Pembakaran gedung itu pada akhirnya memicu sebuah “Perppu darurat” yang dibuat Adolf Hitler untuk mencabut hak asasi warga Jerman.

Kala itu, sambil menatap kobaran api dengan penuh kegembiraan, Hitler mengatakan: “Api ini hanyalah sebuah awalan.” Apakah pelaku pembakaran Nazi atau bukan, Hitler melihat sebuah peluang politik: “Tidak akan ada belas kasih sekarang. Siapapun yang menghalangi jalan, akan kita habisi.”

Apakah hari ini Adolf Hitler terlahir kembali?

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

News

Adakan Bazar Pakaian Bekas, Masjid di Tangerang Galang Donasi Pembangunan

Di bulan suci Ramadhan, sejumlah masjid di Kecamatan Teluknaga, Tangerang mulai mencari donasi untuk pembangunan masjid. Ada yang menyediakan kotak infaq khusus ataupun menawarkan kepada para pengguna jalan. 

Kamis, 17/05/2018 12:45 0

Indonesia

Selain Definisi Terorisme, DPR dan Pemerintah Belum Sepakat dalam Hal Ini

Panitia Khusus Revisi Undang-undang Tindak Pidana Terorisme mengaku sudah merampungkan pembahasan dan tengah menanti keputusan final dari Pemerintah. Hal ini menjadi faktor kenapa RUU Terorisme belum disahkan. 

Kamis, 17/05/2018 11:56 0

Suara Pembaca

Sasar Generasi Milenial, Sinergi Foundation Kampanyekan “Giving is Cool”

Dengan mengampanyekan Giving is Cool, Sinergi Foundation memotivasi milenial muslim untuk semakin bersemangat berbagi. Apalagi, kini tengah menginjak Ramadhan, yang dikenal sebagai bulannya berbagi.

Kamis, 17/05/2018 11:23 0

Mesir

Kritik Pemerintah Mesir di Medsos, Seorang Ibu Ditangkap

Polisi Mesir menahan seorang wanita karena mengkritik pemerintah dalam sebuah postingan video di media sosial. Kritikan diberikan karena Pemerintah gagal melindungi perempuan dari pelecehan seksual dan kondisi ekonomi Mesir yang semakin memburuk.

Kamis, 17/05/2018 10:55 0

Rilis Syamina

Laporan Syamina: Al-Kahfi dan Dajal – Pertarungan Iman dan Materialisme

Surah Al-Kahfi turun sebagai anti-thesis dari materialisme. Keempat kisah yang disajikan di dalamnya menghasung satu tema, kritik terhadap materialisme sekaligus mematahkannya.

Kamis, 17/05/2018 10:15 0

Arab Saudi

Saudi Bekukan Aset dan Dana Para Petinggi Syiah Hizbullah Lebanon

Dinas Keamanan Negara Saudi dalam pernyataannya yang dilansir Al-Sarq Al-Ausath, 10 orang itu terdiri dari Dewan Syura Hizbullah dan orang serta perusahaan yang aktif mendukung gerakan Syiah itu.

Kamis, 17/05/2018 09:59 0

Irak

Iran Berupaya Bentuk Koalisi Politik Syiah untuk Pimpin Iraq

Pembicaraan formal untuk membentuk koalisi pemerintahan Syiah akan dimulai setelah hasil akhir diumumkan pekan ini.

Kamis, 17/05/2018 09:20 0

Wilayah Lain

Serangan Senjata Kimia di Wilayah Oposisi di Idlib Terbukti

OPCW tidak menjelaskan pihak yang menggunakan senjata kimia di kota Saraqib itu. Kota Saraqib merupakan kota di provinsi Idlib yang dikontrol oleh oposisi.

Kamis, 17/05/2018 08:22 0

Irak

Tak Puas Hasil Pemilu, Gerilyawan Kepung Kantor KPU Kirkuk

"Beberapa petugas dalam kondisi disandera," kata Al-Badran seraya meminta pihak berwenang untuk melindungi mereka.

Kamis, 17/05/2018 07:02 0

Indonesia

Marak Aksi Teror, Pemuda Muhammadiyah Minta Kinerja Polisi Dievaluasi

Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Virgo Sulianto menegaskan bahwa ia khawatir tidak ada penanganan serius dalam kasus terorisme. Sebab, sudah 16 tahun masih ada kasus tersebut.

Rabu, 16/05/2018 20:20 0

Close