... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Mencari Identitas Muslim: Antara Ikatan Kebangsaan dan Ideologi

Foto: Nasionalisme

KIBLAT.NET – Mari kita sepakati, dengan segenap kekurangan serta kelebihannya kekhilafahan Ustmani adalah bentuk pemerintahan Islam yang terakhir.

Anda mau menyanggah saya, lantas menjawab Saudi? Aduh, maaf-maaf saja nih ya, kalau bukan karena keberadaan dua kota suci, kehadiran para ulama kibar dan murid-muridnya, negeri itu tak lebih dari sekumpulan orang-orang arab yang lumayan menyebalkan.

Anda mau menjawab Turki, yah anda tau sendiri lah, tanpa Erdogan -yang sebentar lagi mungkin tak berkuasa- Turki mungkin tak lagi Islami dan akan sekuler kembali.

Yah, saya sepenuhnya menyadari bahwa tulisan di paragraf pertama akan memicu perdebatan tanpa ujung, dan saya cukup tahu jika terkadang kalimat terakhir dalam perdebatan ini bukanlah opini yang lantas benar dan disepakati semua pihak sebagai kebenaran. Karena itu izinkan saya melanjutkan tulisan ini sembari melanjutkan perdebatan tanpa ujung ini.

Sejak runtuhnya kekhilafahan Ustmani, ruang geopolitik Islam bertransformasi ke dalam bentuk negara-negara bangsa dengan kecepatan yang sangat mengagumkan. Negara-negara baru terlahir dan berdiaspora hanya dalam waktu seperempat abad. Identitas-identitas pemersatu alternatif -selain Islam-dipilih secara selektif untuk diajarkan dan diperkenalkan kepada umat Islam. Identitas itu berupa nasionalisme  yang dibangun di atas sebuah momen sejarah tertentu, ikatan suku tertentu, ancaman dari pihak luar dan semacamnya.

Meskipun massa umat Islam secara umum masih memiliki ikatan kuat dengan Islam baik secara nilai maupun simbol. Namun yang berkuasa atas negara-negara baru tersebut pada umumnya adalah penguasa serta elite politik sekuler ataupun setengah sekuler yang mempunyai berbagai agenda politik yang tidak lagi berkaitan dengan kepentingan Islam.

Terlebih pada hari ini, “bersih-bersih” ala Mohammad bin Salman tampaknya akan menjadi tahap akhir bahwa dunia Islam telah bertransformasi sepenuhnya untuk mengikuti norma-norma dunia yang termodernisasi dan terindustrialisasi. Kini umat Islam akan dituntut untuk sepenuhnya beradaptasi dan menyesuaikan diri, kini kita dihadapkan dengan sekian pilihan jalan untuk menjadi modern, namun yang jelas pilihannya bukan antara Islam dan yang lainnya.

Hasil perdebatan seolah sudah diputuskan, Islam tak perlu dibicarakan lagi khususnya dalam ruang lingkup politik. Kini diskusi menjadi lebih terfokus pada klaim-klaim manakah yang lebih unggul: demokrasi barat, blok Rusia, China, serta varian-varian lain yang berkembang dari liberalisme serta sosialisme radikal. Kelompok-kelompok masyarakat yang mencoba membicarakan khilafah atau setidaknya menyebut Islam di ruang politik akan dicap sebagai tradisionalis yang dianggap tidak lagi relevan dengan modernitas.

BACA JUGA  Khutbah Idul Adha 1439 H: Khutbah Wada' Rasulullah, Menjaga Kesucian Umat Islam dan Berlepas Diri dari Kejahiliyahan

Sederhananya, bagi para penguasa negara-negara baru tersebut Islam menjadi sekedar sebuah fase yang telah berlalu dan hanya perlu dipertahankan sebagai keimanan pribadi dan seperangkat prinsip moral serta etika yang semakin hari semakin diperlonggar sesuai kepentingan mereka. Hingga pada akhirnya ibadah shalat jumat di masjid menjadi mirip dengan “pergi ke gereja” di dunia barat pasca keruntuhan kekuasaan gereja, dan Islam juga diharuskan mengalah pada hukum-hukum kemajuan sosial, ekonomi, serta budaya.

Namun sejatinya upaya transformasi tersebut jalannya tak begitu mulus, dikarenakan sejak awal mula –hingga detik ini- konsep nation state (negara bangsa) tak pernah mampu dijiwai secara maksimal oleh muslim terlebih bagi seorang muslim yang taat. Tidak ada kata dalam bahasa arab yang mampu memberikan makna yang sepadan untuk nation. Pemahaman teritorial nation sebagai sesuatu yang terbatas di dalam suatu ruang geografik dan politik yang ketat, yang di dalamnya berlaku suatu etnisitas umum, tak pernah mengakar dalam budaya politik Islam.

Meskipun di masa lampau, terjadi pertempuran antar entitas politik Islam yang dilatarbelakangi kebanggan berlebihan terhadap suatu ras atau etnis, namun secara tekstual dan konstitusional mereka tak pernah mengelompokkan manusia berdasarkan asal-usul maupun tempat kelahirannya. Tolok ukur penilaian manusia adalah tentang ketaatannya terhadap perjanjian dengan Allah, dan pengelompokan manusia pun lebih sederhana; muslim dan kafir, muslim menjadi penguasa dan kafir menjadi pengikut.

Salah satu landasannya adalah Surat Ali Imran ayat 110 yang menyatakan bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik. Selama ayat tersebut masih berdengung di telinga umat Islam, sulit bagi orang Islam untuk menjiwai sepenuhnya panggilan “hai bangsa Turki, hai bangsa Irak, hai bangsa Indonesia”.

Maka dari itu, para penguasa tersebut setidaknya menempuh dua cara untuk “membantu” umat Islam memahami tatanan dunia yang baru ini. Pertama melalui pendekatan arkeologis, kedua melalui pemaksaan liberalisme dan sekularisme.

The pattern is actually a mosaic, consisting of very fine pieces of tile. A detial of Cordoba’s Mezquita.
© Yu
Photo selected by bitofinspiration.com.
For link to original source visit flickr

Melalui pendekatan arkeologis-historis, sejarah masa lalu digali untuk membentuk ulang kesetiaan umat Islam pada dunia pra-Islam, narasi sejarah pun dibuat sedemikian rupa agar Islam nampak sebagai satu bagian kecil dalam sejarah mereka.

Upaya “penyadaran” umat Islam akan “identitas asli” mereka dengan mengkait-kaitkan mereka kepada sejarah masa lampau nyaris terjadi di seluruh belahan dunia Islam. Mesir bisa menjadi contoh yang baik dalam hal ini. Taha Hussein merumuskan dalam karyanya yang berjudul “Mustaqbal Ats Tsaqafah fi Mishr” tentang pentingnya Mesir untuk menjadi barat ketimbang Islam.

BACA JUGA  Diguncang Gempa, Pondok Pesantren Ibnu Masud Lombok Tak Roboh

Menurutnya, perkembangan peradaban Islam di masa lampau tak lepas dari kesediaan umat Islam pada masa itu meminjam budaya Persia dan Bizantium, maka sudah seharusnya Mesir secara terbuka meminjam budaya Barat yang modern.

Bagi Hussein, menjadi Barat bagi Mesir sejatinya adalah pulang kampung. Posisi geografis Mesir, budaya mediteraniannya, sejarah kejayaan Firaun, dan tak lupa Alexandria yang menjadi benteng bagi filosof-filosof Yunani lebih dari cukup untuk menyebut Mesir sebagai Barat. Karena itulah, bagi Hussein sudah merupakan sebuah keharusan bagi Mesir untuk menyatu ke Barat dalam pengertian, bentuk, maupun realitas.

Pada akhirnya pemikiran Taha Hussein ini menjadi justifikasi intelektual bagi penguasa Mesir untuk menelan bulat-bulat cara-cara dan kebiasaan Eropa. Asrama-asrama bergaya Inggris pun dibangun untuk anak-anak kelas berkuasa, pertemuan-pertemuan sastra ala Eropa mulai diadakan, mampu berbicara dua bahasa Eropa menjadi sebuah prestasi, dan menonton film vulgar yang diputar di bioskop menjadi hal yang biasa.

Adapun cara yang kedua, yaitu pemaksaan liberalisme dan sekularisme telah dicontohkan dengan baik oleh seorang Mustafa Kamal Attaturk. Di atas puing-puing reruntuhan kekhilafahan, Mustafa Kamal mendirikan negara baru bernama Republik Turki. Dirinya bertekad penuh membentuk sebuah negara bangsa yang benar-benar sekuler dan tak lagi berkaitan dengan masa lalu.

DR Abdullah Azzam menggambarkan dengan baik dalam Al Manarah Al Mafqudah bahwa sekularisme ala Attaturk telah mencapai pada tingkat yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh dunia barat sekalipun. Di mana masjid-masjid ditutup dan dirubah menjadi gudang makanan, menggunakan bahasa arab dianggap kejahatan, dan berjilbab adalah sebuah tindak kriminal.

Memang tidak semua penguasa dunia Islam mengambil langkah ekstrem seperti Mesir pada awal abad ke 20 dan Turki era Attaturk. Meskipun terkadang melakukan tindak kekerasan terhadap kelompok-kelompok yang dianggap mengganggu kepentingan mereka, para penguasa dunia Islam lainnya lebih memilih melakukannya secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan masyarakat yang ada dalam menerima elemen-elemen perubahan. Tetapi sama saja, hal itu akan berakhir pada perpisahan jalan umat Islam dengan sejarah dan warisan peradaban Islam.

Hingga pada akhirnya, umat Islam menjadi umat yang cenderung defensif namun peragu. Mereka akan mempertahankan mati-matian identitas mereka, namun di saat yang sama mereka semakin ragu mengenai subtansi, arah, dan tujuan yang terkandung dalam identitas mereka.

 

Penulis : Rusydan Abdul Hadi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Ruang Publik

5 Tahun Lebih Perut Membengkak, Ibu Epinopita Butuh Uluran Tangan

Ibu Epinopita (44 tahun) menderita penyakit yang tak biasa. Perutnya membesar seperti tengah hamil tua. Penyakit itu diderita sejak suaminya masih hidup.

Kamis, 10/05/2018 16:04 0

Indonesia

Bachtiar Nasir Tak Yakin Pemerintah Berani Usir Dubes AS

Ustadz Bachtiar Nasir menyoroti peran Amerika Serikat dalam menjajah bangsa Palestina. Karena perannya, AS kini sudah tidak dipercaya lagi sebagai penengah perdamaian dari konflik-konflik yang terjadi.

Kamis, 10/05/2018 15:10 0

Indonesia

Napi Mako Brimob Disebut Gunakan Pecahan Kaca untuk Lukai Korban

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen Pol M Iqbal mengatakan saat ini pihaknya tengah melakukan olah tempat kejadian perkara setelah insiden bentrok antara napi teroris dengan penyidik polisi di Mako Brimob. 

Kamis, 10/05/2018 14:39 0

Suriah

Cegah Agresi Turki, AS Dirikan Pangkalan Militer Baru di Manbij

Juru bicara Dewan Militer di Manbij (pasukan yang dikelola SDF), Syarfan Darwish, Rabu (09/05), mengungkapkan bahwa foto pangkalan militer berbendera AS di Manbij yang dirilis kantor berita Reuters pekan ini itu juga menjadi markas pasukan Perancis.

Kamis, 10/05/2018 14:14 0

Indonesia

TPM: Pelanggaran HAM Jadi Faktor Penyebab Bentrok di Mako Brimob

“Makanan hanya masalah kecil. Di dalam ada pelanggaran hak asasi juga. Misalnya hak didampingi penasehat hukum. Mereka rata-rata nggak boleh didampingi kuasa hukum sesuai keinginan mereka,” tuturnya

Kamis, 10/05/2018 13:47 1

Iran

Empat Hal Perlu Diketahui tentang Perjanjian Nuklir Iran

KIBLAT.NET – Presiden AS Donald Trump telah menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran dan akan...

Kamis, 10/05/2018 13:39 0

Mesir

Video Tentara Mesir Eksekusi Pemuda Sinai Picu Kemarahan Warganet

Organisasi Arab untuk Hak Asasi Manusia telah mencatat lebih dari 2.934 pembunuhan di luar hukum terjadi di Mesir sejak Abdel Fattah al-Sisi mengambil alih negara pada tahun 2013 menyusul kudeta militer.

Kamis, 10/05/2018 12:52 0

Indonesia

Oemar Mita: Mari Fokus kepada Masalah Palestina

Ustadz Oemar Mita Lc. mengingatkan umat Islam agar fokus pada permasalahan Palestina. Terutama ketika mengikuti Aksi Bela Palestina yang akan diselenggarakan pada hari Jumat 11 Mei besok.

Kamis, 10/05/2018 11:19 0

Amerika

Peneliti AS: Donald Trump Presiden yang Paling Zionis

Seorang ilmuwan politik Amerika mengecam Presiden Donald Trump karena ketidakpeduliannya terhadap isu-isu yang dihadapi rakyat Palestina.

Kamis, 10/05/2018 10:37 0

Myanmar

Dunia Gagal Melakukan Langkah Nyata untuk Muslim Rohingya

Dunia gagal melakukan langkah nyata untuk melawan genosida Muslim Rohingya di Myanmar. Demikian diungkapkan Kepala Jaringan Hak Asasi Manusia Burma yang berpusat di Inggris.

Kamis, 10/05/2018 09:56 0

Close