... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Soal Pemberdayaan Perempuan, Menteri Yohana Sebut Indonesia Perlu Belajar dari Iran

Foto: Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise

KIBLAT.NET, Jakarta – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise mengatakan bahwa Indonesia perlu belajar dari Iran. Hal ini disampaikannya seusai pertemuan dengan Wakil Presiden Iran Bidang Perempuan dan Urusan Keluarga, Masoumeh Ebtekar di Hotel Borobudur, Jakarta pada Selasa 02/05/2018.

Yohana mengatakan bahwa menurut keterangan Masoumeh, perempuan di Iran lebih maju dari Indonesia. Ia menyebutkan bahwa banyak gebrakan-gebrakan wanita Iran yang membuatnya terinspirasi.

“Kami sangat tertarik mempelajari. Salah satu yang membuat kami tertarik adalah isu social resilience (ketahanan sosial) dan family resilience(ketahanan keluarga). Ketahanan sosial mereka sangat kuat,” kata Yohana di Hotel Borobudur, Jakarta pada Selasa 01/05/2018.

“Mereka cukup maju, menurut saya Indonesia harus belajar dari Iran,” imbuhnya.

Seperti yang diketahui, Iran merupakan Negara dengan mayoritas penduduknya menganut paham Syiah. Iran juga disebut-sebut sebagai salah satu negara yang kurang menghargai wanita dengan dilegalkannya kawin kontrak.

Selain mengenai ketahanan sosial dan keluarga, Kementerian PPPA juga menyatakan ingin mempelajari cara Iran menekan pernikahan dibawah umur.

“Itu yang ingin saya pelajari juga. Bagaimana caranya mereka turunkan angka pernikahan anak karena itu sangat membantu indeks pembangunan manusia dan indeks pembangunan gender di negara mereka,” tutur Yohana.

Meski begitu, Yohana pesimis akan mudah menerapkan sistem yang sama dengan Iran di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan komposisi masyarakat Iran dengan Indonesia berbeda.

BACA JUGA  Aneh, Mahfud MD Ngaku Dihubungi Napi Korupsi Lewat Whatsapp

“Masing-masing negara dengan ciri khasnya. Kalau kita kan macam-macam, berbeda. Kalau mereka kan satu rumpun budaya dan agama jadi agak lebih mudah mengaturnya,” ujarnya.

Terkait rencana kerjasama dengan Iran tersebut, Aliansi Cinta Keluarga Indonesia (AILA) menyarankan Kementerian PPPA untuk melakukan pengkajian mendalam. Pemilihan Iran sebagai mitra kerjasama dalam bidang ketahanan keluarga juga dipertanyakan.

“Iran memiliki tingkat perceraian yang cukup tinggi juga, sehingga saya tidak faham indikator ketahanan keluarga seperti apa yang dimaksud oleh Ibu Menteri jika mengganggap keluarga-keluarga di Iran lebih ideal,” ujar Rita.

Rita menilai data yang menyebut perempuan di Iran memiliki pencapaian pendidikan yang lebih baik terlihat agak kontradiktif. Pasalnya, jika merujuk pada akses pekerjaan bahkan keterwakilan perempuan di parlemen, justeru kondisi di Iran lebih rendah dibandingkan Indonesia.

“Tentunya hal ini perlu pendalaman lebih jauh untuk dapat memahami situasi riil yang terjadi dalam isu perempuan dan keluarga-keluarga di Iran,” ujarnya.

Reporter: Qoid
Editor: Izhar Zulfikar


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Opini

“Islam” Washatiyah Ala Abu Thalib

KIBLAT.NET – Para “tokoh” agama, mufti dan cendekiawan dari 43 negara berkumpul di Bogor (01/05)....

Rabu, 02/05/2018 12:30 0

Amerika

Trump Akan Hadiri Pembukaan Kedutaan AS di Al-Quds

pernyataan itu diungkapkan dari Gedung Putih. Dia tidak memberi keterangan lebih lanjut.

Rabu, 02/05/2018 10:56 0

Video Kajian

Sejarah Kejahatan Barat terhadap Umat Islam

KIBLAT.NET – Sejarah Kejahatan Barat terhadap Umat Islam. Dalam sejarah, Thomas Edward Lawrence, perwira Inggris...

Rabu, 02/05/2018 10:08 0

Suriah

Laporan HAM: 408 Sipil Suriah Terbunuh Sepanjang April 2018

Jaringan HAM mengatakan bahwa jumlah korban di bulan April menurun tajam.

Rabu, 02/05/2018 09:59 0

Amerika

Pentagon: Kami Tak Akan Tinggalkan Suriah Sementara Perang Berlanjut

“Anda memenangkan pertempuran kemudian Anda memenangakan kedamaian,” ujarnya kepada media.

Rabu, 02/05/2018 09:22 0

Mesir

Jika Tiga Syarat Ini Terpenuhi, IM Siap Negosiasi dengan Al-Sisi

Munir menjelaskan, tiga syarat itu adalah negosiasi harus digelar langsung dengan orang-orang yang bertanggung jawab, bukan delegasi. Pembicaraan harus melibatkan seluruh oposisi rezim Al-Sisi. Sebelum negosiasi digelar, seluruh tahanan politik harus dibebaskan, termasuk Muhammad Mursi, presiden Mesir pertama yang terpilih secara demokratis.

Rabu, 02/05/2018 08:39 0

Manhaj

3 Faktor Keberhasilan Generasi Sahabat Keluar dari Masa Jahiliyah

Sejatinya, kunci perubahan utama yang dilakukan para sahabat tidak lepas dari Al-Quran dan hadis sebagai pedoman utama dalam hidup mereka. Ia menjadi sumber materi pokok dalam membentuk karakter seorang muslim, membina jamaah dan mengatur negara. Para sahabat dipilih oleh Allah sebagai potret ideal generasi muslim dalam memperjuangkan Islam. Ketika mereka menerapkan nilai-nilai Islam seutuhnya dalam hidup mereka, maka kemenangan itu pun bisa mereka capai dengan sempurna.”

Rabu, 02/05/2018 07:53 0

Iran

Iran Tuduh Aplikasi Telegram Ancam Keamanan Negara

Aplikasi yang dibuat oleh orang Rusia itu dianggap mengancam keamanan negara melalui propaganda pembentukan dan kegiatan teroris.

Rabu, 02/05/2018 07:44 0

News

Maroko Putus Hubungan Diplomatik dengan Iran, Ada Apa?

Hubungan antara Maroko dan Iran kembali normal pada akhir 2016 setelah tujuh tahun kerenggangan menyusul sikap tegas Maroko terhadap Teheran yang berupaya menyebar paham Syiah di negara tersebut.

Rabu, 02/05/2018 06:51 0

Palestina

Selain Pemukiman Ilegal, Begini Cara Israel Tindas Warga Palestina

Di samping itu, sejumlah kantor polisi juga “secara ilegal” berdiri di tanah milik pribadi warga Palestina. Situasi ini digambarkan Kerem Navot sebagai sesuatu yang “memalukan” dan “paradoksikal”.

Rabu, 02/05/2018 06:20 0

Close