KAMMI: Sampai Kapan Kita Menjadi Asing di Negeri Sendiri?

KIBLAT.NET, Jakarta – Ketua Organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Irfan Ahmad Fauzi mempertanyakan komitmen pemerintah dalam melindungi tenaga kerja lokal dari serbuan Tenaga Kerja Asing. Apalagi, Peraturan Presiden (Perpres) No 20 tahun 2018 tentang TKA disinyalir akan mempermudah masuknya tenaga kerja asing kasar ke Indonesia.

Selain itu, ia menilai Perpres tersebut juga membuka peluang masuknya TKA ilegal, karena dalam ketentuannya menyebutkan bahwa TKA dapat menggunakan visa terbatas (vitas) dan izin tinggal sementara (itas) untuk bekerja di Indonesia. Menurut Irfan hal ini justru akan menjadikan anak negeri menjadi terasing di negaranya sendiri.

“Sampai kapan tenaga kerja kita menjadi asing di negeri sendiri? Negara ini dilahirkan untuk memberi keadilan terhadap anak bangsa bukan kemudahan bagi tenaga asing, ” ujar Irfan dalam rilis yang diterima Kiblat.net pada Selasa (01/05/2018) .

Irfan juga menyampaikan hasil investigasi Ombudsman RI yang menemukan fakta banyaknya masalah dan pelanggaran TKA seperti pelanggaran ijin kerja/tinggal, maraknya TKA pekerja kasar, dan kesenjangan yang jauh antara gaji pekerja lokal dan TKA.

“Seharusnya pemerintah segera melakukan evaluasi, bukan berkilah bahwa di lapangan tidak ada tenaga kerja kasar asing atau unskill yang datang ke Indonesia. Ini kan gak masuk akal,” tegas Irfan

Irfan mengatakan bahwa KAMMI sangat mendukung perjuangan buruh lokal untuk mendapatkan hak-haknya. Bahkan menurut Irfan dalam aksi peringatan May Day kali ini sejumlah KAMMI di daerah-daerah juga terlibat aksi bersama serikat-serikat pekerja.

BACA JUGA  Menag Minta MUI Jadi Teladan Soal Kesejukan dan Toleransi

“Sebagai organisasi mahasiswa dan kepemudaan pasti kami sangat mendukung, bahkan kalau dalam aksi-aksi kami selalu menyanyikan lagu Buruh Tani yang kental dengan perjuangan buruh dan mahasiswa,” pungkas Irfan.

Reporter: Taufiq Ishaq
Editor: M. Rudy

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat