“Islam” Washatiyah Ala Abu Thalib

KIBLAT.NET – Para “tokoh” agama, mufti dan cendekiawan dari 43 negara berkumpul di Bogor (01/05). Selama tiga hari, mereka akan mengikuti High Level Consultation of World Muslim Scholars On Wasatiyyat Islam (HLC-WMS). Sebuah konferensi tingkat tinggi (KTT) yang membahas “konsep baru” dalam ber-Islam yang disebut “Islam Wasathiyah.”

Grand Syaikh Al-Azhar, Prof Dr Ahmed Mohamed Ahmed Altayeb hadir pada acara tersebut. Ia didampingi Rektor Universitas Al-Azhar, Prof. Dr. Muhammad Husin Abdelaziz Hassan. Nama lain muncul dalam daftar peserta, Muhammad Ali Taskhiri dan Qari Muhammad Ashim.

Taskhiri adalah tokoh Syiah asal Iran yang dikenal dengan “Taqrib Baina Al-Adyan,” semacam kampanye dialog antaragama dengan menganggap semua agama itu benar. Ia pernah hadir dalam perayaan Asyura yang digelar ABI (Ahlul Bait Indonesia). Sedangkan Muhammad Ashim dikenal aktif dalam program PVE (Prevent Violent Extremism) di negara asalnya, Inggris.

Secara ringkas, PVE adalah program bikinan PBB untuk mencegah ekstremisme dan kekerasan dengan cara memberikan panduan bagaimana cara ber-Islam yang benar (menurut PBB). Asumsinya, terorisme muncul dari ekstremisme dan kekerasan, yang salah satunya dipicu oleh pemikiran atau agama tertentu.

Anehnya, Islam menjadi satu-satunya keyakinan yang menjadi objek garap PVE. Tidak ada agama lain dalam PVE, selain Islam, yang hendak diberikan tafsir baru, atau ditonjolkan bagian tertentu dengan menegasikan bagian lain agar muncul cara wajah dan ajaran sesuai yang diinginkan.

Utusan Khusus Presiden RI Untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP), Prof. Dr. M. Din Syamsuddin saat membuka acara tersebut menyinggung ketidakteraturan dan kerusakan global di tengah masyarakat dunia sebagai pemicu kekerasan. Atas dasar itulah, menurut Din, perlunya menyodorkan gagasan Islam Wasathiyah yang di Indonesia berhasil mewujudkan Pancasila sebagai dasar negara.

Jadi, ada keterkaitan pelaksanaan KTT tersebut dengan berbagai kekerasan yang terjadi, di mana salah satu yang dianggap pemicunya adalah cara umat Islam dalam memaknai dan melaksanakan agama yang dipeluknya.

Kita memang tidak bisa menafikan berbagai kejadian yang disebut sebagai kekerasan yang terjadi dengan agama Islam sebagai latarnya. Namun berbagai pembicaraan seputar Islam dan kekerasan selalu mendudukkan Islam dan kaum Muslimin sebagai “aktor.” Karenanya, kemudian pelaku dan pikirannya yang perlu diubah.

Pembicaraan sama sekali tidak pernah menyentuh faktor “penyebab.” Hampir seluruh agenda yang diadakan seputar masalah ini selalu berkutat pada faktor “api,” dan berusaha memadamkannya, tanpa pernah menyinggung dari mana sekam, minyak dan korek yang memantiknya.

Istilah yang selalu dikemukakan adalah “kekerasan.” Padahal, hampir dari seluruh kejadian yang ada, apa yang dilakukan umat Islam adalah reaksi dari penindasan dan tindak kezaliman yang terjadi sebelumnya. Siapa yang menindas, siapa yang menzalimi, apa tindakan yang harus diberikan kepada penindas dan penzalim, meminjam iklan mobil diesel era 90-an: nyaris tak terdengar.

Catatan kritis itu perlu kita sodorkan pada KTT ini, agar tidak mubazir, terkesan hanya formalitas dan basa-basi semata. Apalagi kalau definisi “Wasathiyah” ini dimaknai dengan pendekatan berbagai agama dengan cara menganggap benar semuanya (taqrib).

Sebab, cara seperti ini sudah usang. Usang, karena dahulu Abu Thalib juga mempraktikkannya. Ia tidak membantah kebenaran Islam yang dibawa keponakannya, Muhammad SAW. Namun ia juga enggan mengingkari keyakinan syirik kaum Quraisy sebagai kebatilan yang harus ditinggalkan.

Pada akhirnya, sebagai tuan rumah, kita patut berharap bahwa KTT ini bukan merupakan jelmaan baru dari “muktamar” abad ke-17 yang kemudian akhirnya “mereformasi” ajaran Kristen.

Penulis: Tony Syarqi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat