Bachtiar Nasir: Ada Perbedaan Ideologis, Sunni-Syiah Mustahil Bersatu

KIBLAT.NET, Bogor- Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama dan Cendikiawan Muslim Dunia di Bogor dihadiri banyak tokoh agama dari berbagai belahan dunia. Pembicaraan seputar Islam moderat (wasathiyah) itu menghadirkan tokoh dari kalangan sunni dan syiah.

Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Ustadz Bachtiar Nasir juga menghadiri acara tersebut. Ia menuturkan, Islam wasathiyah telah lama berkembang di Indonesia. Namun dalam penerapannya, Islam wasathiyah berhadapan dengan berbeda defenisi antara kalangan sunni dan syiah.

“Paling kita akan ada sedikit perbedaan di persimpangan defenisi wasathiyah. Di tingkat emplementasi pastinya. Saya melihat di tengah aliran-aliran Islam malam ini misalnya pembicara Ali Taskhiri adalah tokoh taqrib antara sunni dan syiah,” ujarnya kepada Kiblat.net di Hotel Novotel, Bogor, Selasa (01/05/2018)

Faktor utama yang menjadi kendala ialah persoalan akidah kedua belah pihak. Bachtiar Nasir menegaskan selama taqiyah dan penghinaan terhadap sahabat masih dilakukan oleh kelompok syiah, maka mustahil akan ada persatuan.

Langkah untuk mendekatkan antara syiah-sunni pernah dilakukan oleh Syaikh Yusuf Al Qardhawi dengan membangun Lajnah Taqrib. Namun, kata Bachtiar, Syaikh Al Qardhawi tidak bisa mewujudkan hal itu, lantaran adanya taqiyah dalam ajaran syiah.

“Pada akhirnya apa yang dilakukan oleh Qordhawi pengalaman-pengalaman dulu sudah, Lajnah Taqrib itu sudah dibuat. Ujung-ujungnya, dia mengatakan selama belum ada keterusterangan (taqiyah) tidak akan pernah ada persatuan. Sama juga selama ada penghinaan terhadap sahabat misalnya. Itu juga selama itu ada tidak akan pernah ada yang namanya persatuan,” jelasnya.

BACA JUGA  Pencopotan Baliho Habib Rizieq dan Operasi Militer Selain Perang

Selain itu, pendekatan antara sunni dan syiah sulit untuk diwujudkan. Pasalnya, perbedaan antara sunni dan syiah bersifat ideologis. Kemungkinan terbaik kata Bachatiar Nasir, wasathiyah (jalan tengah) yang akan muncul antara kedua belah pihak adalah sepakat untuk tidak sepakat.

“Pada akhirnya, suatu kelompok pemikiran itu saling menghargai saja. Ujung-ujungnya kita sepakat untuk tidak sepakat. Apalagi ada hal yang sifatnya ideologi yang mendasar, ya sudah kita sepakat saja,” tukasnya.

Reporter: Syafi’i Iskandar
Editor: Izhar Zulfikar

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat