... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

‘Jalan Terang’ Indonesia 2030

 

KIBLAT.NET – Gegap gempita yang terjadi akhir-akhir ini mengenai Indonesia 2030 membuat saya tergelitik untuk membahas isu ini dari perspektif yang berbeda. Publik dibuat gaduh dengan pernyataan Prabowo Subianto yang menyatakan bahwa Indonesia “kemungkinan” sudah tidak ada lagi di tahun 2030 yang kemudian di respon oleh Presiden Jokowi dengan menyatakan bahwa seorang pemimpin tidak boleh pesimis seperti itu.

Ihwal ini menimbulkan pro-kontra di masyarakat yang berujung pada kegalauan publik mengenai hal ini. Lantas muncul sebuah pertanyaan dalam benak saya tentang cara menanggapi persoalan ini dengan arif dan bijak.

Disisi lain, saya bersyukur dengan adanya diskursus ini menjadi momentum kita untuk melihat tanggapan publik sebagai indikator apakah masyarakat mampu mengambil pelajaran atau malah sebaliknya. Dengan itu, pentingnya kita mengetahui ‘jalan gelap’ dan ‘jalan terangnya’. Dalam hal ini saya melihat framing media dan persepsi publik menjadi kunci penting dalam masalah ini.

Armada Hantu “Ghost Fleet”

Diskursus mengenai prediksi Indonesia “bubar” di tahun 2030 muncul ketika Prabowo Subianto mengutip sebuah buku berjudul Ghost Fleet yang ditulis oleh Peter Warren Singer dan August Cole. Buku yang terbit pada tahun 2015 ini ditulis oleh akademisi ulung yang berkutat pada isu-isu internasional.

Peter Warren Singer sendiri adalah jebolan Universitas Princeton dan Harvard, bekerja di Brookings Institute serta menjadi konsultan bagi kantor utama angkatan bersenjata Amerika Serikat, yakni Pentagon.

Sementara itu, August Cole adalah mantan jurnalis Wallstreet dan Marketwatch yang berkutat dalam meliput isu-isu antarabangsa dari segi keamanan, pertahanan dan teknologi. Dilihat dari segi penulis, rasanya buku ini tidak ditulis main-main meski ditulis dengan bentuk fiksi tetapi buku ini mempunyai catatan referensi hingga 400-end notes!.

Contoh referensinya seperti adanya teknologi rudal dan misil, bentuk dan teknologi satelit Tiangong-3 milik Cina dan WGS-4, satelit canggih milik Angkatan Udara AS yang baru diluncurkan tahun 2012 kemarin.

Ditambah lagi, lembaga intelijen Amerika Serikat seperti CIA dan Biro Investigasinya yaitu FBI pun ikut membuat review dari novel ini. Jarang sekali lembaga sekelas FBI dan CIA membuat review sebuah novel yang notabene bergenre fiksi. Dapat diasumsikan, There is something really serious and important dalam novel ini.

Dilansir dari kumparan, bahwa isi dari novel tersebut menggambarkan bahwa di masa depan akan terjadi perang dunia ketiga antara Amerika Serikat melawan China dan Rusia. Dengan menggunakan teknologi canggih China berhasil menguasai Hawaii, mendirikan kawasan administratif di sana dan mampu melumpuhkan sistem satelit milik Amerika Serikat.

BACA JUGA  Aplikasi Zoom Diselidiki Kejaksaan Agung New York, Ada Apa?

Di tengah berkecamuknya perang tersebut, Indonesia rupanya dilibatkan dalam novel tersebut. Namun, saat itu Indonesia dikisahkan tak lagi menjadi sebuah negara yang berdiri dan memiliki kedaulatan. Yang ada hanya lokasi yang disebut sebagai ‘bekas’ Negara Indonesia. Menariknya, baik China maupun Amerika Serikat mempunyai kepentingan ekonomis dan politis pada ‘bekas’ Negara Indonesia. Poin penting inilah yang menjadi fokus utama pidato tersebut oleh Prabowo Subianto.

Framing Media dan Persepsi Publik

Dalam beberapa minggu terakhir, berita ini menjadi hangat diperbincangkan oleh berbagai kalangan mulai dari politisi, akademisi, budayawan hingga para pengguna media sosial yang notabene diisi oleh kalangan millenial.

Media juga tidak ketinggalan dalam mengangkat isu ini, dengan menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan, media massa sukses dalam menampilkan pesta demokrasi di negeri ini dimana topik ‘Indonesia 2030’ menjadi perseteruan antara dua kutub yang berseberangan.

Intensitas yang tinggi serta berita yang berseliweran di media massa saya yakini akan menimbulkan banyak reaksi yang berimplikasi pada kerancuan dan perasaan dag dig dug bagi publik.

Hal yang menarik bagi saya justru bukan melihat dari kalangan narasumbernya karena jelas mereka mempunyai kepentingan masing-masing. Tetapi melihat reaksi publik tentang isu ini adalah hal yang atraktif karena kita mampu melihat apakah publik mengalami kemandekan berpikir atau tidak.

Permasalahannya, media massa terkesan mengangkat isu ini sebagai perseteruan dua kubu yang akan bertarung pada pilpres 2019 sehingga media banyak menghadirkan pembicara dari kubu petahana dan oposisi. Hal ini saya anggap sebagai sebuah ‘jalan gelap’ dari persoalan ini.

Pada akhirnya saya bertanya, mengapa kita terlalu fokus kepada siapa yang berbicara bukan pada apa yang dibicarakan? Rasanya kurang arif jikalau kita melihat siapa yang berbicara, karena ujung-ujungnya ada faktor kesubjektifan dalam menilai kasus ini.

Segala sesuatu yang bersifat subjektif maka boleh dikatakan ada hawa nafsu yang dikedepankan. Tidak bisa kita pungkiri bahwa setiap diantara kita mempunyai pilihannya masing-masing sesuai dengan akal dan hati kita demi membela kepentingannya. Bagi saya itu adalah hal yang wajar.

BACA JUGA  Uji Coba Pertama Vaksin Virus Corona Dimulai

‘Jalan Terang’ Indonesia 2030

Kendati demikian, saya beranggapan bahwa persoalan ini mempunyai ‘jalan terangnya’ karena sepatutnya sebagai anak bangsa kita perlu memberikan sedikit atensi terhadap persolan negeri ini. Sungguh ironi jikalau 260 juta penduduk Indonesia tenggelam dalam hingar-bingar persoalan ini tanpa memberikan jalan terangnya. Jangan sampai masyarakat kita tertatih-tatih   dalam persoalan ini hingga berlarut-larut.

Maka itu, saya sepakat dengan apa yang dikatakan Khalifah Ali Radhiyallahu’anhu yang mengatakan “Unzhur maa qoola walaa tanzhur man qoola” yang artinya lihatlah apa yang dikatakan bukan siapa yang mengatakan”. Menurut saya, perkataan ini dapat dijadikan sebagai jalan terang bagi masyarakat untuk menyikapi persoalan ini dengan arif dan bijak.

Mengapa? Karena saya melihat bahwa prediksi ‘hilangnya’ Indonesia 2030 yang dilontarkan tokoh tersebut lebih kepada wake up call atau semacam peringatan kepada kita untuk selalu waspada terhadap ancaman yang ada terutama dari pihak eksternal. Prediksi merupakan sebuah kemungkinan yang bisa terjadi atau tidak.

Dengan melihat ‘apa’ bukan dengan ‘siapa’, masyarakat akan bisa mengambil sisi positif dengan menyisihkan sisi subjektifnya terlebih dahulu. Dalam hal ini, saya setuju bahwa sebagai anak bangsa kita harus optimis menghadapi tantangan Indonesia kedepan, tapi jangan lupa bahwa kita harus senantiasa waspada akan ancaman yang datang dari berbagai sisi.

Prof. Salim Said, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pertahanan mengatakan sebuah negara akan maju jikalau negara tersebut mempunyai ketakutan akan ancaman bangsa lain, sebut saja Amerika Serikat yang takut dengan China dan sebaliknya.

Sebuah ancaman pada hakekatnya bisa terjadi kapan saja baik dari internal dan eksternal. Begitu pun dengan Indonesia, dengan 260 juta penduduk dimana masyarakatnya multikultural berpotensi memunculkan dimensi ganda mengenai sebuah permasalahan. Bolehlah kita berdebat dalam masalah ini namun jangan lupa bahwa kita semua berkepentingan dalam menjaga bangsa ini dari krisis.

Semoga dengan adanya persoalan ini, publik mampu mengambil hikmah dan pelajaran berharga serta menyikapinya dengan arif dan bijak sehingga tidak menimbulkan dikotomi di masyarakat. Optimisme masyarakat dibarengi dengan kewaspadaan dari seluruh elemen seantero negeri ini bukan tidak mungkin Indonesia menjadi negara yang besar suatu saat nanti. Wallahu A’lam.

 

Oleh : Ahmad Zacky Makarim

(Wakil Direktur Islamic Economic Forum for Indonesian Development, Kuala Lumpur, Malaysia)

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Tak Berpihak Kepada Buruh Lokal, PKS Desak Perpres TKA Dicabut

PKS Desak Perpres TKA Dicabut

Selasa, 01/05/2018 15:12 0

Indonesia

Kedutaan Palestina Ungkap Modus Pembunuhan Dr. Fadi Oleh Agen Israel

Muslim Palestina yang cerdas dan mampu menguasai teknologi kerap menjadi target pembunuhan Israel

Selasa, 01/05/2018 13:40 0

Indonesia

MUI: Sukseskan Aksi 11 Mei Bela Baitul Maqdis!

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, KH. Ma'ruf Amin menyatakan dukungan terhadap aksi tersebut.

Selasa, 01/05/2018 12:15 1

Indonesia

Wapres Bertemu Menteri Agama Bahas Finalisasi PP Jaminan Produk Halal

Draf PP Jaminan Produk Halal telah final

Selasa, 01/05/2018 11:09 0

Indonesia

Aksi May Day, Buruh Serukan Tolak TKA dari Cina

Salah satu tuntutan para buruh adalah tolak TKA buruh kasar dari Cina

Senin, 30/04/2018 20:12 0

Indonesia

Ijtima Ulama MUI Bahas Masalah Politik, Apa Arahan dari Presiden?

Muncul pertanyaan terkait adanya arahan presiden terkait masuknya pembahasan masalah politik dalam Ijtima Ulama Keenam Komisi Fatwa MUI

Senin, 30/04/2018 19:50 0

Indonesia

Polri Ungkap 3 Strategi Tangkal Radikalisme

Ini tiga strategi yang diterapkan dalam menangkal radikalisme

Senin, 30/04/2018 19:23 0

Indonesia

Menjaga Eksistensi Negara Jadi Bahasan Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI

Menjaga eksistensi negara jadi bahasan Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI

Senin, 30/04/2018 18:48 0

Indonesia

Besok 43 Negara Berkumpul di Bogor, Bahas Islam Wasathiyah

Selain Syaikh Al Azhar, para tokoh agama, mufti dan cendekiawan dari berbagai negara akan turut hadir. Total diperkirakan akan ada perwakilan dari 43 negara yang hadir dalam acara ini.

Senin, 30/04/2018 13:09 0

Indonesia

MUI Tegas Larang Gunakan Agama untuk Kepentingan Politik Sesaat

Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara tegas melarang praktik politisasi agama jelang pemilihan daerah atau pemilihan umum. Termasuk ketika seorang calon kepala daerah ataupun legislatif menggunakan atribut Islam untuk meraih simpati.

Senin, 30/04/2018 10:43 0

Close