Faksi Jihadis Deklarasikan “Aliansi Nushratul Islam” di Suriah Utara

KIBLAT.NET, Idlib – Sebuah aliansi militer militer faksi jihadis baru-baru ini kembali dideklarasikan di Suriah utara. Koalisi ini bernama “Aliansi Nushratul Islam (Penolong Islam)”. Deklarasi ini menimbulkan perbincangan di kalangan aktivis dan rakyat Suriah bahwa itu merupakan aliansi Organisasi Al-Qaidah cabang Suriah.

Deklarasi ini digelar di dunia maya pada Ahad (29/04). Dalam teks deklarasi yang disebar oleh faksi “Hurrasuddin”, faksi yang banyak dihuni anggota Al-Qaidah tersebut beraliansi dengan faksi Ansharut Tauhid.

“Langkah ini bagian dari kerja sama atas kebaikan dan ketakwaan untuk menegakkan agama Allah,” kata teks deklarasi tersebut, seperti dinukil portal Enabbaladi.net, Ahad.

Teks deklarasi

Organisasi Hurrasuddin dibentuk beberapa bulan lalu dari sejumlah faksi. Kelompok-kelompok yang tergabung dalam organisasi jahadis ini Jaisyul Malahim, Jaisyul Badiyah, Saraya As-Sahil, Sirryatul Kabul, Jundusy Syariah dan sebagian mantan anggota Jundul Aqsha, yang terduga ISIS. Pimpinannya mantan komandan senior Hai’ah Tahrir Al-Syam (HTS), Abu Hammam Al-Syami.

Para komandan utusan resmi Al-Qaidah bergabung dalam organisasi itu, di antaranya Abu Julaibib Thubas, Abu Khudaijah Al-Urduni, Sami Al-Uraydy, Abu Al-Qassam dan Abu Abdurrahman Al-Maky. Komandan lainnya merupakan mantan anggota Jabhah Nusrah yang menolak keputusan faksi tersebut saat itu memisahkan diri dari Al-Qaidah.

Organisasi Daulah Islamiyah (ISIS) telah memuertadkan dan mengkafirkan organisasi ini (Hurrasuddin). ISIS menuduh gerakan ini memiliki hubungan dengan Taliban.

Terkait faksi Ansharut Tauhid, menurut informasi yang dihimpun, anggotanya mayoritas mantan Jundul Aqsha di kota Sarmin, Idlib, yang membelot. Mereka sebelumnya beroperasi di distrik Deirob, dekat dengan Aleppo.

Jundul Aqsha sendiri dibentuk pada 2012 oleh Abu Abdul Aziz Al-Qathari, yang terbunuh pada 2014 secara misterius. Jasadnya ditemukan di Deir Sunbul, dekat dengan markas Jabhah Tsuwar Suriah yang merupakan faksi didukung Barat. Jamal Makruf, ketua Jabhah Tsuwar Suriah, dituduh di balik pembunuhan itu.

Jundul Aqsha bermanhaj Salafi Jihadi dan termasuk faksi paling menonjol yang dekat dengan Jabhah Nusrah, saat itu. Namun dia menolak memerangi ISIS secara keseluruhan. Sikapnya itu melahirkan ketegangan dengan aliansi Jaisyul Fath (aliansi yang berhasil membebaskan Idlib) pada 2015.

Mereka pun dituduh terlibat berbagai pembunuhan para komandan faksi-faksi oposisi, khususnya faksi sekular. Pada puncaknya, faksi-faksi Islamis di Idlib menuduh mereka condong pada ISIS. Pada 2017, sebagian banyak dari mereka akhirnya menuju Raqqah bergabung dengan ISIS.

Sumber: Enabbaladi.net
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat