... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Muhannad Abu Anas, Penerus Estafet Perjuangan Khattab di Chechnya

Foto: Muhannad Abu Anas, Komandan Mujahid Arab Chechnya

KIBLAT.NET – Chechnya adalah medan jihad yang melahirkan mujahidin yang berkualitas. Peran orang-orang Arab dalam kancah ini pun sungguh besar. Kita sebut saja tokoh yang paling dikenal jenderal Khattab dan suksesornya Abu Walid Al-Ghamidi rahimahumallah. Juga seorang mufti dari Damam, Arab Saudi yang diangkat oleh Khattab yaitu Abu Umar As-Saif Al-Khalidi rahimahullah. Ketiga orang ini punya andil yang besar dalam perjalanan jihad di bumi Chechnya.

Selain tiga mujahid besar ini, masih ada satu mujahid lagi yang nantinya juga menjadi amir mujahidin Arab di Chechnya.  Ia berasal dari kota Nabi yang bercahaya dan sempat menimba ilmu di Universitas Madinah. Sama seperti pendahulunya, ia juga berpartisipasi aktif dalam perang Chechnya kedua dan peperangan lainnya. Sebelum memasuki Chechnya mujahid satu ini telah merasakan debu-debu perjuangan di Afghanistan, Filipina, Bosnia dan Kosovo. Pada akhirnya ia berjihad di bawah kepemimpinan Khattab dan menjadi suksesornya. Mujahid ini bernama Kholid Yusuf Muhammad atau lebih dikenal dengan nama Muhannad atau Abu Anas.

Kehidupan Awal Muhannad

Lahir di kota Nabi pada 1969. Informasi masa kecilnya sangat sedikit. Rekam jejak hidupnya dimulai sejak kelulusannya dari universitas Madinah dan menyandang gelar sarjana. Dari berbagai informasi yang ada jika silsilah keluarganya dirunut maka Muhannad termasuk Al-Asyraf (dari keluarga Rasulullah).

Pengalamannya berjihad di bumi jihad selain Chechnya pun tidak banyak diketahui. Perjalanan jihadnya mulai terekam ketika ia berusaha masuk ke Chechnya melewati Georgia para awal tahun 2000. Ia bersikeras masuk Chechnya karena melihat hasrat Rusia yang ingin kembali menyalakan api peperangan dengan mujahidin Chechnya.

Sesampainya di sebuah tempat yang bernama lembah Pankisi Gorge timur laut dari perbatasan Chechnya, ia bertemu dengan penduduk etnis Chechen yang tinggal di area itu dan para pengungsi Chechnya. Penduduk etnis Chechen dikenal dengan nama Kist. Karena suatu hal Muhannad tertahan di tempat itu cukup lama. Mujahid arab ini menggunakan waktu menunggu untuk mengajarkan ulumuddien kepada penduduk sekitar. Suksesor Abu Hafs Al-Urduni ini menyebarkan ilmunya yang ia dapat dari universitas Madinah. Setelah menunggu cukup lama, Muhannad masuk ke Chechnya pada tahun 2001 lewat bantuan seseorang bernama Akhmadov.

Muhannad tiba di Chechnya berbarengan dengan tokoh mujahid lainnya seperti Abu Hafs Al-Urduni, Abu Athiya, Abu Rabia dan lainnya. Kiprah Muhannad selain terjun ke medan perang juga sebagai promotor jihad Chechnya ke dunia Arab. Pendanaan bagi para mujahidin sebagian atas prakarsa Muhannad yang giat mempromosikannya pada para muhsinin di Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Mesir.

BACA JUGA  Kuwait Usir Blogger Israel yang Menyusup ke Pameran IBF

Amir pertama mujahidin luar di daerah Kaukasus Utara, khususnya Chechnya adalah Fathi Al-Jordani. Kemudian digantikan oleh Abdurrahman yang juga berasal dari Yordania. Pada tahun 2000, Abdurrahman syahid dan digantikan oleh Samir bin Shalih bin Abdullah As-Suwailim atau yang lebih dikenal dengan jenderal Khattab. Masa keamiran Khattab diwarnai dengan beberapa kemajuan di sektor kaderisasi baik dalam segi fisik dan intelektual. Dua tahun kemudian Khattab syahid karena sebuah pengkhianatan dengan sepucuk surat beracun.

Sepeninggal Khattab, tampuk kepemimpinan dipegang oleh wakilnya, Abu Walid Al-Ghamidi. Dua tahun kemudian Abu Walid pun syahid tepatnya pada April 2014. Setelah itu keamiran dipegang oleh mujahid yang satu daerah dengan Syaikh Abu Mus’ab Az-Zarqawi, Abu Hafs Al-Urduni. Namun, itu pun tak berlangsung lama, 26 November 2006 Abu Hafs kembali terlibat dalam sebuah  konfrontasi dengan tentara khusus Rusia di Khasav-Yurt, Daghestan. Kontak senjata terjadi selama empat jam itu membuat dua mujahid syahid menurut rilisan dari Kavkaz Center. Salah satu dari mujahid yang gugur adalah Abu Hafs Al-Urduni.

Satu demi satu para tokoh elite mujahidin syahid. Strategi licik ini memang disengaja oleh Rusia untuk melemahkan kekuatan mujahidin. Maka, sepeninggal Abu Hafs Al-Urduni, tampillah Muhannad sebagai amir baru pada 9 Desember 2006. Sebelum diangkat menjadi pimpinan baru, Muhannad juga telah diangkat sebagai salah satu dari tiga deputi Magomet ‘Magas’ Yevloyev sebagai komandan sayap militer yang kedepannya dikenal dengan nama “Front Kaukasia”. Selain itu, yang telah disinggung di atas, ia sebagai penanggung jawab keuangan mujahidin Chechnya.

Satu tahun setelah pengangkatan Muhannad, Dokka Umarov mendeklarasikan Emirat Kaukasus pada September 2007. Deklarasi ini menyatukan beberapa etnis diantaranya Republik Kaukasus Utara dari Chechnya, Daghestan, Ingushetia, Kabardino-Balkaria, Nogai Steppe bagian dari Stavropol Krai. Muhannad pun diangkat juga sebagai wakil amir Emirat. Walaupun secara pangkat ia termasuk pejabat penting, mujahid asal Madinah Al-Munawwarah ini tetap ikut serta turun pada operasi mengangkat senjata di lapangan. Bahkan ia termasuk pejuang yang diperhitungkan di dalam satuan khusus yang dipimpin oleh Aslambek Vadalov. Jadi, meskipun dia termasuk petinggi dan tokoh kunci di berbagai bidang, ia tetap disegani karena keterampilannya dalam strategi peperangan.

Memasuki tahun 2008, tepatnya pada Februari Departemen dalam Negeri Rusia (MVD) mengklaim telah menembak mati amir mujahidin Arab di Chechnya. Klaim itu muncul setelah adanya penyerangan di daerah yang bernama Arsthy di Ingushetia. Namun, berita itu langsung dibantah di hari yang sama oleh Amir Emirat Kaukasus, Dokka Umarov. Dokka muncul di sebuah video dan menyangkal berita itu dan menganggap itu hanyalah propaganda untuk melemahkan semangat juang para mujahidin.

BACA JUGA  Hendak Dipulangkan, Pengungsi Rohingya di Bangladesh Menghilang

Pada tahun itu pula Emirat Kaukasus mengadakan penyerangan di daerah Chechnya Timur. Muhannad ikut dalam operasi ini sebagai bagian dari pasukan tempur di bawah komandan Aslambek Vadalov. Jadi, dengan kerendahan hatinya ia tetap ikut andil sebagai prajurit biasa walaupun ia adalah wakil amir Emirat Kaukasus yang diangkat langsung oleh Amir Dokka Umarov.

Tahun 2009, Emirat kembali melancarkan serangan di Barat Chechnya barat  sepanjang perbatasan dengan Ingushetia. Muhannad pun ikut andil dalam penyerangan ini. Di awal tahun 2009 ini juga tepatnya bulan Januari, Muhannad sebagai wakil amir Emirat mendeklarasikan dukungan Emirat pada perjuangan rakyat Palestina melawan Zionis Israel.

Talenta yang mengagumkan ini membuat jajaran petinggi Emirat menaruh hormat pada Muhannad. Hingga segala keputusan yang diambil Umarov selaku pimpinan tertinggi selalu didiskusikan dengan wakilnya. Pada 29 Agustus 2010, Muhannad diangkat menjadi satu dari dua komandan dalam penyerangan di desa Tsentoroy, tempat kelahiran presiden Chechnya, Ramzan Kadyrov. Pada pertempuran berat ini dua belas mujahid syahid dan di pihak musuh jatuh lima korban.

Memisahkan diri dari Dokka Umarov

Pada 1 Agustus 2010, terjadi permasalahan internal di tubuh Emirat Kaukasus Utara. Karena masalah itu pada akhirnya memaksa Muhannad melepaskan diri dari Emirat Kaukasus dan kembali berjuang bersama para mujahidin Arab yang berada di bawah kepemimpinannya.

Syahidnya Muhannad

Seperti yang telah disinggung di atas bahwa salah satu cara melemahkan kekuatan adalah dengan membunuh para tokohnya. Maka, pada 21 April 2011 terjadi pertempuran di daerah pegunungan timur desa Serzhen-Yurt di persimpangan tiga distrik di Chechnya; Shali, Kurchaloi dan Vedeno. Dalam pertempuran itu sebenarnya para mujahidin telah membagi-bagi beberapa peleton agar memecahkan konsentrasi lawan dan menghindari penangkapan. Namun, karena ketatnya pengepungan, Muhannad syahid terkena tembakan peluru tentara Rusia.

Dengan syahidnya Muhannad, kelompok mujahidin Arab di Chechnya kembali kehilangan pemimpin. Maka dari itu, segera diangkat pemimpin baru dari suku penakluk Al-Quds, suku Kurdi. Amir baru itu bernama Abdullah Al-Kurdi. Tampuk kepemimpinan dan beratnya perjuangan beralih pada pada  keturunan Shalahuddin Al-Ayyubi ini.

Penulis : Dhani El_Ashim

Editor : Arju

Sumber

  1. https://www.assakina.com
  2. https://en.wikipedia.org
  3. http://www.refworld.org
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Libya

Kesehatan Pulih, Khalifa Haftar Dikabarkan Pulang ke Libya

Setelah menjalani pengobatan, Khalifa Haftar akhirnya kembali ke Benghazi Timur, Libya. Mantan jenderal Libya itu sebelumnya dikabarkan mengalami stroke dan mendapatkan perawatan di sebuah rumah sakit di Paris.

Jum'at, 27/04/2018 19:35 0

Foto

Wajah Kampung Akuarium Kini

Kondisi Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara

Jum'at, 27/04/2018 19:14 0

Syam

10 Warga Israel Tewas Disapu Banjir di Lembah Tandus

Sembilan remaja Israel ditemukan tewas dan satu dinyatakan hilang disapu banjir bandang setelah sungai di lembah Nahal Tzafit, Negev, Israel meluap dan membanjiri area kering di sekitarnya.

Jum'at, 27/04/2018 18:49 0

Inggris

Pemerintah Inggris “Curi” Miliaran Dolar Uang Rakyatnya untuk Perang Ilegal di Timteng

Smith kemudian mengungkapkan bahwa pemerintah Inggris bukan hanya mengorbankan rakyatnya untuk perang di Suriah. Perang Iraq juga membebani pembayar pajak Inggris sebesar £ 10,3 miliar.

Jum'at, 27/04/2018 18:35 0

Indonesia

Pertemuan Tim 11 Tak Akan Berpengaruh Jika Tak Ada Kemauan dari Jokowi

Pertemuan Tim 11 tak akan berpengaruh jika tak ada kemauan dari Jokowi

Jum'at, 27/04/2018 18:00 0

Prancis

Yaman Tegaskan Terus Kerja Sama dengan AS Hadapi Al-Qaidah

Upaya ini terus dilakukan dengan bekerja sama dan berkoodinasi dengan sekutu-sekutu, terutama Amerika Serikat. Selama bertahun-tahun AS menjadi sekutu paling erat dalam menghadapi “teroris” di Yaman.

Jum'at, 27/04/2018 18:00 0

Indonesia

MKKS SMA Surakarta Akui Kesalahan dalam Surat Edaran Solo Menari

MKKS SMA Surakarta Akui Kesalahan dalam Surat Edaran Acara Solo Menari

Jum'at, 27/04/2018 17:16 0

Malaysia

Cikgu Azmi Berharap Pemerintah Ambil Pelajaran dari Kasus DR Fadi Al Batsh

"Dan ini seharusnya menjadi suatu perhatian besar bagi pemerintah bagaimana kita harus menyaring mereka yang masuk. Walaupun Mossad merupakan organisasi yang sangat licik, tapi sebagai sebuah negara yang tidak mengakui Israel, ini harus menjadi pelajaran kepada umat Islam dan khususnya Kerajaan Malaysia bahwa musuh Islam ada dimana-mana dan kita harus siap menghadapi segala macam kemungkinan," sambung ulama kelahiran Kelantan ini.

Jum'at, 27/04/2018 17:02 0

Afghanistan

4 Alasan Taliban Umumkan Operasi Al Khandaq Lawan AS

Imarah Islam Afghanistan resmi mendeklarasikan operasi musim semi 2018. Operasi ini dinamakan Al Khandaq. Banyak alasan yang menyebabkan operasi ini akhirnya diluncurkan.

Jum'at, 27/04/2018 17:00 0

Amerika

Di Balik Dukungan Mahkamah Agung untuk Pelarangan Muslim di AS

Pada Rabu (25/04/2018), para hakim mengisyaratkan dukungan mereka untuk program "Muslim Ban" Presiden Donald Trump yang melarang pendatang dari beberapa negara mayoritas Muslim.

Jum'at, 27/04/2018 16:27 0

Close