Serangan Rezim Assad ke Kamp Pengungsi Palestina Meningkat

KIBLAT.NET, Damaskus – Militer Suriah meningkatkan gempuran ke kompleks kamp pengungsi Palestina, Kamp Yarmouk, pada Kamis (26/04). Kamp yang sudah terkepung itu merupakan titik terakhir wilayah yang dikontrol oposisi di sekitar ibukota Damaskus.

Sebagian besar warga sipil telah melarikan diri dari kamp Yarmouk, yang merupakan kamp pengungsi Palestina terbesar di Suriah. Kamp ini menjadi sasaran rezim setelah penduduknya mendukung revolusi Suriah.

Pasukan pemerintah Suriah, yang didukung Rusia, melancarkan serangan besar pekan lalu untuk mendapatkan kembali kontrol di kantung selatan Damaskus, yang termasuk kamp Yarmouk dan daerah-daerah sekitarnya. Sejak awal revolusi, wilayah ini dikontrol oleh oposisi Suriah dan sebagian anggota Daulah Islamiyah (ISIS).

Kampanye militer Yarmouk merupakan bagian dari serangan yang lebih luas untuk merebut sisa wilayah oposisi dan terus berlanjut sejak negara-negara Barat melancarkan serangan udara ke rezim pada 14 April lalu, untuk menghukum pemerintah Assad atas dugaan serangan gas beracun.

Secara kekuatan, Presiden Suriah Bashar al-Assad hari ini berada dalam posisi yang jauh lebih kuat daripada bulan-bulan pertama konflik meletus.

Komisaris PBB untuk Pengungsi (UNRWA) memperingatkan konsekuensi bencana eskalasi di kamp, yang membawa rasa sakit dan penderitaan yang tak terhitung selama konflik bertahun-tahun.

Media pemerintah memperlihatkan gambar-gambar serangan darat yang dipimpin oleh tank-tank di pinggiran daerah Al-Hajr Al-Aswad yang berhadapan dengan Kamp Yarmouk. Daerah pemukiman di wilayah itu mengalami serangan udara dan tembakan artileri tiada henti dalam beberapa hari terakhir.

Militer Suriah mengatakan bahwa pihaknya telah membuat kemajuan dan berhasil membunuh puluhan pejuang. Namun, oposisi di wilayah itu mengatakan bahwa Al-Hajr Al-Aswad dan kamp Yarmouk tidak menyaksikan serangan darat meski serangan udara terus terjadi.

Ayman Abu Hashim, seorang pengacara yang pernah tinggal di Yarmouk dan saat ini terus berkomunikasi dengan warga di kamp itu, mengatakan setidaknya 19 warga sipil telah tewas dan 150 orang terluka sejak kampanye dimulai. Sebagian besar korban adalah wanita dan anak-anak. Kamp besar itu adalah bagian dari daerah padat penduduk dan sabuk daerah miskin, yang jaraknya hanya beberapa kilometer di utara ibukota.

Dua sumber yang dilansir Reuters di dalam kamp menyebutkan bahwa sekitar 1.500 keluarga saat ini masih bertahan di dalam kamp.

Juru bicara UNRWA, Christopher Gunness, mengatakan kondisi warga sipil terus memburuk di Yarmouk. “Banyak warga tidur di jalanan dan membutuhkan banyak obat. Hampir tidak ada air atau listrik … penderitaan mereka tak tertahankan,” ujarnya.

Pasukan pemerintah telah mengepung kamp sejak warga di kamp tersebut menyatakan mendukung revolusi Suriah pada 2012 silam. Sejak saat itu, kota itu dikuasai oleh pejuang Suriah. Namun pada 2015, faksi-faksi yang pada akhirnya berbaiat kepada ISIS menyerang oposisi lainnya. Akibatnya, mayoritas warga melarikan diri untuk mengungsi. Hanya tersisa ribuan.

Dalam laporan terbaru UNRWA, setidaknya 3.500 pengungsi Palestina dari kamp melarikan diri pekan lalu ke kota terdekat Yilda akibat kampanye terakhir militer Suriah.

Sumber: Reuters Arabic
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat