... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Di Balik Dukungan Mahkamah Agung untuk Pelarangan Muslim di AS

Foto: Donald Trump sahkan Keppres pelarangan Muslim

KIBLAT.NET, New York – Para pendukung hak-hak Muslim tampak meninggalkan Mahkamah Agung dengan rasa kecewa. Pada Rabu (25/04/2018), para hakim mengisyaratkan dukungan mereka untuk program “Muslim Ban” Presiden Donald Trump yang melarang pendatang dari beberapa negara mayoritas Muslim.

Larangan itu dinilai sebagai tanda permusuhan Trump terhadap Muslim, sesuatu yang melanggar undang-undang imigrasi federal dan larangan Konstitusi AS. Namun, para hakim selama persidangan berdalih larangan itu untuk melindungi AS dari militan di Timur Tengah dan Afrika.

Di sisi lain, ada sejumlah alasan kenapa hakim dari Mahkamah Agung mendukung program Trump tersebut:

1. Soal Keamanan Nasional, Trump Memiliki Wewenang yang Besar

Ketika menyangkut keamanan AS, para hakim cenderung berpihak pada presiden dan panglima tertinggi karena peran mereka memerlukan komunikasi setiap hari dengan para kepala intelijen dan para pemimpin asing untuk melindungi setiap orang Amerika.

Menurut Jonathan Smith, mantan pengacara hak sipil Departemen Kehakiman yang sekarang bekerja sebagai Advokat Muslim, kepentingan itu menjadi halangan besar bagi mereka yang menentang larangan bepergian.

Selama sidang hari Rabu, Hakim Agung John Roberts dan Hakim Anthony Kennedy, juga terlihat merasa enggan untuk menebak-nebak alasan Trump terkait ancaman keamanan nasional yang diajukan dalam program tersebut.

2. Masalah Keadilan di Amerika Serikat

Mahkamah Agung berbicara tentang keadilan dengan slogan “Keadilan Mutlak di Bawah Hukum”. Namun itu hanya slogan yang tidak berarti bebas dari catatan.

BACA JUGA  Para Raksasa Teknologi Dunia Dipanggil Badan Intelijen AS Jelang Pilpres 2020

Pada tahun 1944, pengadilan memutuskan bahwa pengasingan orang Jepang-Amerika selama Perang Dunia II adalah konstitusional. Dalam kasus Dred Scott yang terkenal kejam tahun 1857, hakim juga memutuskan bahwa orang kulit hitam tidak dapat dianggap warga negara AS, apakah mereka bebas atau budak.

Keputusan pengasingan dipandang sangat relevan, karena hakim masa perang memungkinkan penahanan Presiden Franklin Roosevelt terhadap sekitar 112.000 warga Jepang-Amerika setelah Jepang menyerang Pearl Harbor.

3. Sikap Buruk Para Hakim

Pengadilan rendah AS berulang kali memutuskan untuk menentang larangan perjalanan Trump. Tetapi Mahkamah Agung menyatakan sikap berbeda dengan serangkaian keputusan yang menguatkan perintah Trump.

Pada tanggal 4 Desember, hakim Mahkamah Agung memberi isyarat bahwa mereka akan condong untuk mendukung Trump. Pola itu berlanjut pada hari Rabu, dengan penunjukan Trump sendiri hakim Neil Gorsuch untuk maju ke pengadilan.

Di luar ruang sidang, sekitar 150 orang berkumpul di tengah hujan untuk memprotes larangan itu. Di media sosial, mereka menilai banyak hakim yang akan berpihak pada Trump.

Sirine Shebaya, seorang pengacara hak-hak sipil Lebanon-Amerika dengan Muslim Advocates, mencatat bahwa larangan bepergian itu hanya salah satu dari banyak kebijakan anti-imigran dari Gedung Putih yang memiliki pandangan anti-Muslim.

“Saya pikir kami telah melihat banyak hal yang benar-benar mengecewakan yang terjadi tahun ini,” kata Shebaya. “Tidak mengherankan bahwa banyak pendukung di ruang angkasa mungkin merasakan pesimisme.”

BACA JUGA  Penembakan Massal Kembali Terjadi di AS, Remaja Bunuh Semua Keluarganya

Sumber: Middle East Eye
Redaktur: Ibas Fuadi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Anis Matta Bicara Pergantian “Sopir” di Indonesia Leaders Forum

"Kalau sopir itu tidak mampu, maka perlu adanya pergantian sopir. Sopir yang menggantikan itu adalah pemimpin yang menggunakan GPS dan mencari alternatif jalan hingga mencapai tujuan yang jelas," ungkapnya.

Jum'at, 27/04/2018 13:37 0

Indonesia

Alfian Dituntut 3 Tahun Penjara, Pengacara: JPU Gunakan “Pasal Jaring”

JPU meyakini PDI-P mengalami kerugian yakni turunnya elektabilitas dalam Pilkada 2017 silam.

Jum'at, 27/04/2018 10:48 0

Indonesia

ILF: Islam Tak Bisa Dipisahkan dari Indonesia

KIBLAT.NET, Jakarta – Ada suatu persoalan yang mengusik hati umat Islam Indonesia dalam hal keadilan...

Kamis, 26/04/2018 22:50 0

Indonesia

Syam Organizer Komitmen Datangkan Imam Palestina Meski Ada Kasus Kuala Lumpur

Kepergian ilmuwan Palestina DR Fadi Al Batsh dirasakan banyak pihak. Syam Organizer, sebuah lembaga kemanusiaan yang fokus pada masalah Palestina dan Syam turut berduka atas tragedi pembunuhan yang menimpa ilmuwan penghafal Al-Quran itu.

Kamis, 26/04/2018 19:46 0

Indonesia

Soal Palestina, PKS Minta Pemerintah Indonesia Tiru Malaysia

PKS mendesak pemerintah untuk memberikan beasiswa bagi pelajar Palestina

Kamis, 26/04/2018 16:43 0

Indonesia

Pembunuhan Dr. Fadi Dinilai Bentuk Ketakutan Israel

"Israel takut nanti yang bersangkutan bagian dari tim pengembangan persenjataan Izuddin Al-Qasam"

Kamis, 26/04/2018 16:28 0

Indonesia

Panja RUU Jabatan Hakim: Perlu Ada Perangkat untuk Cegah Perdagangan Hukum

Panja RUU Jabatan Hakim menyebut perlunya perangkat untuk mencegah parktik memperdagangkan hukum oleh hakim

Kamis, 26/04/2018 15:26 0

Indonesia

Pengamat: Kecil Kemungkinan Malaysia Bisa Tangkap Pembunuh Dr. Fadi

Kecil kemungkinan Malaysia bisa menangkap pembunuh Dr. Fadi

Kamis, 26/04/2018 14:49 0

Indonesia

Pria Indonesia Ini Mengaku Pernah 5 Kali Jadi Target Pembunuhan Israel

"Jadi kita perlu tahu bahwa para ilmuwan di tanah Palestina telah menjadi target pembantaian Zionis Israel, menambah kesedihan saudara-saudara kita di Palestina," lanjut pria yang saat ini tinggal di Gaza tersebut.

Kamis, 26/04/2018 14:20 0

Indonesia

Akan Ada Aksi Besar Tolak Pemindahan Kedubes AS ke Al-Quds

Titik kumpul akan berada di Kedutaan Besar Amerika Serikat Jl. Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Dan waktunya adalah pukul 10.00 WIB hingga shalat Jumat.

Kamis, 26/04/2018 12:56 0

Close