... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Jalan Panjang Menuju Rekonsiliasi di Pattani, Thailand Selatan

Foto: Tank militer Thailand.

KIBLAT.NET – Rekonsiliasi pemerintah Thailand dengan masyarakat Pattani dalam menyelesaikan konflik yang selama ini terjadi masih komplek. Pelibatan pihak ketiga yaitu aktor asing seperti Malaysia sehingga melahirkan kesepakatan resolusi konflik dan membangun perdamaian, menurut pandangan warga setempat “hanya permainan semata.”

Sejak tahun 2013 upaya rekonsiliasi di Pattani, pemerintah Thailand pertama kalinya menandatangani perundingan damai bersama Barisan Revolusi Nasional (BRN) Melayu Pattani, yang dipercaya mewakili rakyat Pattani dan salah satu dari beberapa kelompok militan yang beroperasi di Thailand bagian selatan untuk tujuan kemerdekaan.

Wilayah Pattani yang dihuni penduduk mayoritas etnis Melayu Muslim telah mengalami gejala konflik senjata berkepanjangan. Eskalasi konflik meningkat sejak Januari 2004, sedikitnya 13.000 orang luka-luka dan korban tewas mencapai lebih dari 7.000 jiwa; termasuk tentara, polisi, pemimpin lokal, pemimpin agama, warga sipil, dan kombatan.

Dalam sebuah penelitian dari University of Maryland Amerika Serikat tahun 2016, statistik kehancuran sekolah dan lembaga pendidikan di Negara Thailand mencapai tingkat kedua setelah negara Pakistan. Peneliti juga menemukan bahwa serangan yang terjadi mencapai 3.400 kali. Sedikitnya 213 kali serangan menghancurkan sekolah dan lembaga pendidikan di Thailand.

Tidak hanya itu, serangan juga menghancurkan fasilitas publik, masjid, dan jalan raya di Pattani. Pemicu konflik adalah pertempuran Angkatan Bersenjata Thailand dengan Angkatan Bersenjata Revolusi Patani. Kondisi demikian menunjukkan suasana kehidupan masyarakat di sana yang sedang mengalami kerusuhan dan peperangan, sehingga perlu adanya pihak ketiga yang terlibat sebagai mediator dalam proses penyelesaian konflik di kawasan selatan negara itu.

Kesepakatan pertama kali ditandatangani untuk perundingan damai di Kuala Lumpur pada Kamis (28/02/2013) yang lalu. Malaysia hanya bertindak sebagai fasilitator dalam negosiasi diantara pemerintah Thailand dengan Barisan Revolusi Nasional (BRN) Melayu Pattani. Namun proses damai dengan BRN terpaksa berhenti di awal, dan ketika itu belum disahkan menjadi “Agenda Negara.”

BACA JUGA  Bahaya Disertasi “Zina” Abdul Aziz

Kendati demikian, setahun kemudian sejarah kudeta Negara Thailand berulang lagi pada Mei 2014. Militer berhasil menggulingkan pemerintahan sipil yang dipimpin Yingluck Shinawatra. Setelah itu, Junta Prayuth Chan-ocha ditunjuk sebagai menteri berikutnya. Dari sini, proses negosiasi damai memulai babak baru dengan organisasi payung yang dikenal dengan nama Majelis Amanah Rakyat Patani atau Majelis Syura Pattani (MARA Pattani). Organisasi itu terdiri dari beberapa faksi diantaranya yaitu Barisan Revolusi Nasional (BRN), Pattani United Liberation Organization (PULO), gerakan Mujahidin Islam Pattani (GMIP), dan Front Islam Pembebasan Pattani (BIPP).

Namun hingga saat ini arahnya juga belum jelas. Yang nampak hanya istilah “Daerah Aman/ Safety Zone” di tengah realita yang masih bergejolak dalam konflik bersenjata antara Angkatan Bersenjata Thailand dengan Angkatan Bersenjata Revolusi Pattani.

Meski telah diadakan berbagai usaha mencari jalan penyelesaian menuju rekonsiliasi di Pattani, sulit bagi penduduk Pattani saat ini untuk mengharapkan terjadinya rekonsiliasi dan perdamaian di sana. Ada beberapa faktor penghambat rekonsiliasi, yaitu sebagai berikut:

1. Korban perang yang paling besar adalah penduduk sipil. Hal ini tentunya menimbulkan luka dan dendam membara pihak-pihak yang telah kehilangan salah satu, atau lebih anggota keluarganya. Upaya rekonsiliasi yang dipaksakan dari pemerintah pusat dapat dipastikan tidak akan memberikan hasil.

2. Status Darurat Militer selama ini mengancam penduduk masyarakat sipil di Pattani.

BACA JUGA  Bahaya Disertasi “Zina” Abdul Aziz

3. Perundingan yang sedang berlangsung tidak melibatkan kelompok militan yang memiliki kapasitas kekuatan angkatan bersejata. Sehingga dalam upaya menciptakan daerah aman ijalan buntu.

Sementara itu, hanya ada dua faktor pendukung rekonsiliasi, yaitu:

1. Mulai munculnya kesadaran di sebagian penduduk Pattani untuk berhenti ‘perang’. Sebagian menyadari bahwa mereka telah hidup dalam situasi kekerasan terus-menerus.

2. Secara perlahan namun pasti terlihat menguatnya kepentingan bersama untuk segera mempercepat perdamaian dan pembangunan kembali Pattani.

Selama ini kerusuhan di bawah undang-undang darurat militer berdampak pada warga setempat. Organisasi hak asasi sejak lama mengkritik penerapan undang-undang darurat. Karena aturan ini memberi militer kekuasaan dan kewenangan yang terlalu besar.

Penerapan undang-undang darurat mendorong terjadinya penyalahgunaan kekuasaan. Sunai Pathak dari Human Rights Watch dengan tegas mengatakan, “Sejak sembilan tahun terakhir ada berbagai kasus yang tidak tuntas tentang pembunuhan ilegal, penyiksaan dan penculikan. Banyak orang diculik dan menghilang. Tidak ada pelaku yang dikenai sanksi.”

”Spiral kekerasan ini berputar makin lama makin cepat. Ini lingkaran setan,” tambahnya.

Yang paling menderita adalah penduduk setempat yang terperangkap di tengah lingkaran kekerasan ini. 90 persen korban kekerasan adalah warga sipil. “Pemerintah harus menjamin, bahwa praktek-praktek ilegal semacam itu tidak dilakukan lagi. Dan kalau ini terjadi, pelakunya harus dihukum. Hanya dengan cara itu pemerintah pusat bisa mengembalikan rasa percaya masyarakat,” tegas Pathak.

Penulis: AM Faton
Editor: M. Rudy

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Dinas Kebudayaan Gelar Acara ‘Solo Menari’, Begini Respon DSKS

Dinas Kebudayaan Pemerintah Kota Surakarta berencana mengadakan acara 'Solo Menari' pada Ahad (29/04/2018).

Kamis, 26/04/2018 11:35 0

Indonesia

SNH Advocacy Center Apresiasi Pemkot Langsa Soal Pengungsi Rohingya

SNH Advocacy Center Apresiasi Pemkot Langsa dalam Tangani Pengungsi Rohingya

Kamis, 26/04/2018 11:09 0

Rusia

Rusia Akan Bekali Rezim Assad Sistem Pertahanan Udara S-300

Terkait biaya yang akan dikeluarkan Suriah untuk S-300, wartawan Al-Jazeera di Moskow mengatakan bahwa senjata itu diberikan cuma-cuma.

Kamis, 26/04/2018 11:00 0

Video Kajian

Ust. Abu Rusydan: Dosa Inggris kepada Umat Islam

KIBLAT.NET – Ust. Abu Rusydan: Dosa Inggris kepada Umat Islam. Sejarah telah mencatat, bahwa Inggris...

Kamis, 26/04/2018 09:44 0

Suriah

Tiga Anggota Koalisi Nasional Oposisi Suriah Mundur, Ada Apa?

Mereka beralasan, koalisi oposisi itu sudah tidak komitmen pada prinsip-prinsip revolusi Suriah dan saat ini menyelaraskan jalan politik dengan jalan yang diinginkan Rusia, yang berupaya membangun kembali rezim Assad.

Kamis, 26/04/2018 09:41 0

Afrika

Baru Tiba di Libya, Dua Mantan Tahanan Guantanamo Hilang Misterius

Informasi yang beredar lainnya menyebut milisi “Rahbah Duruk Tajura’”, yang dipimpin Bashir Khalifullah atau yang dikenal Al-Buqrah, berada di balik penculikan itu. Namun milisi tersebut juga membantah.

Kamis, 26/04/2018 08:57 0

Suriah

Drone Tak Dikenal Serang Pangkalan Udara Rusia di Lattakia

Terdengar ledakan keras di sisi selatan pedesaan Lattakia, lokasi Hameimim berada.

Kamis, 26/04/2018 07:54 0

Afghanistan

Tentara Afghanistan yang Kabur saat Dilatih AS Masih Tinggi

McCaskill mengatakan 11 peserta training militer tentara Afghan yang AWOL berasal dari kamp pelatihan di Fort Leonard Wood, di negara bagian Missouri. Missouri merupakan daerah asal sekaligus dapil pemilu legislatif McCaskill.

Kamis, 26/04/2018 07:35 0

Indonesia

Di Balik Pertemuan Alumni 212 dan Presiden Jokowi di Bogor

Pertemuan Tim 11 ulama Alumni 212 dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor pada Ahad (22/04/2018) berlangsung tertutup. Banyak hal yang dipertanyakan, mulai dari proses hingga dialog yang terjadi antara kedua belah pihak.

Rabu, 25/04/2018 22:05 0

Malaysia

Kisah di Balik Gelar Doktoral Fadi Al Batsh dan Kesetiaan Sang Istri

Enas berbicara di hadapan media untuk pertama kalinya sejak suaminya meninggal. Dari wajahnya tampak masih diselimuti kesedihan. Namun ia tetap tegar dan menerima kepergian suaminya itu.

Rabu, 25/04/2018 20:32 0

Close