Bola Pingpong 212

KIBLAT.NET – Belum sempat isu pengadaan plastik sembako Presiden senilai Rp 3 miliar mengembang, muncul berita baru. Presiden Jokowi bertemu dengan sejumlah tokoh yang menamakan diri sebagai Tim 11 Alumni 212. Ini adalah derivasi baru dari Aksi 212 yang hingga kini melahirkan berapa nama dan kelompok setelahnya.

Riuhnya berita ini dipicu oleh beredarnya foto Jokowi bersama beberapa orang, diantaranya: Al-Khaththath, Sobri Lubis, Usamah Hisyam, Slamet Maarif, dan Yusuf Muhammad Martak. Sejumlah pertanyaan pun muncul, mengapa tiba-tiba ada sekelompok orang mengatasnamakan 212 bertemu dengan Jokowi?

Akhirnya, Rabu (25/04) para tokoh tersebut memberikan klarifikasi. Disebutkan, agenda utama pertemuan mereka dengan Presiden adalah soal kriminalisasi ulama. Pertemuan itu sebenarnya dinyatakan tertutup. Karena itulah, para tokoh itu meminta pihak Istana mengusut siapa yang membocorkan pertemuan itu.

Sayangnya, klarifikasi tersebut justru menambah blunder yang sudah ada sebelumnya. Pertama, keinginan membebaskan ulama dari kriminalisasi adalah hal yang positif dan pasti diterima oleh umat Islam. Mengapa harus dilakukan secara tertutup?

Blunder itu makin kentara ketika mereka menuntut Jokowi untuk mengusut penyebar informasi pertemuan tersebut. Ini mengesankan bahwa agenda pertemuan itu memang benar-benar disembunyikan dan tidak boleh dibuka ke publik. Ada apa?

Kedua, kelompok yang identik dengan 212 selama ini cenderung bersikap oposisi bagi Jokowi. Bukan hal yang mudah bagi kedua belah pihak untuk bertemu. Namun ketika kesempatan itu—terlepas dari pro dan kontranya—datang, agenda yang dibicarakan seharusnya bisa lebih besar ketimbang kriminalisasi satu-dua orang ulama.

Isu yang mencakup kepentingan lebih luas; misalnya menyangkut bidang hukum, ekonomi dan politik—baik dalam maupun luar negeri seharusnya bisa menjadi big-deal dalam pertemuan sepenting itu.

Bukan berarti ulama boleh dikriminalisasi semaunya Penguasa. Namun pencabutan kriminalisasi yang mengarah kepada personal, apalagi dilakukan secara tertutup, dikhawatirkan hanya akan menghasilkan deal-deal kepentingan terbatas sebagaimana terjadi pada lazimnya kasus serupa.

Tetapi mau bagaimanapun, itu semua sudah terjadi. Jokowi pulang dengan menangguk keuntungan politis yang besar. Saatnya bagi kita semua untuk bermuhasabah, agar ke depan spirit ukhuwah dan perjuangan Islam yang dipantik oleh Aksi 212 tetap terpelihara dengan baik.

212 harus dipandang sebagai proses, bukan pencapaian akhir, apalagi kuda hitam bagi kepentingan sempit pribadi dan kelompok. Bila dalam Aksi 212 yang ditonjolkan adalah semangat dan luapan emosi yang membara, maka proses berikutnya membutuhkan kecerdasan yang lebih besar untuk menentukan langkah dan strategi perjuangan.

Para tokoh yang terlibat di dalamnya harus menyadari bahwa popularitas label 212 dan sejenisnya, adalah amanat yang harus dipikul secara jujur. Umat harus dijelaskan dengan gamblang ke mana dan dengan cara apa para tokoh itu akan membawa mereka melangkah berjuang.

Sekali lagi, penting bagi umat untuk menjadikan 212 sebagai sebuah proses dan tahapan. Di dalam tahapan tersebut akan berlaku tamhish (seleksi) Rabbani yang akan membedakan mana kelompok yang—sadar atau tidak—menjadikan umat ini sebagai bola pingpong kepentingan, dan mana yang memang pantas memegang panji hingga di garis akhir.

Penulis: Tony Syarqi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat