... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Ahok Telah Diadili, Bagaimana dengan Sukmawati?

Foto: Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat sidang ke-4 kasus penistaan agama

KIBLAT.NET – Kasus dugaan penistaan agama oleh Sukmawati Soekarnoputri lambat laun mulai tenggelam. Isu tersebut perlahan mulai menghilang dari media, dan semakin samar di telinga masyarakat. Memang begitulah budaya di Indonesia, jika satu isu penting tertutup dengan isu lain yang lebih menarik, maka isu sebelumnya akan hilang.

Namun, tulisan ini bukan untuk membahas bagaimana sebuah isu bisa menutupi isu lain. Atau, apakah ada pihak-pihak yang memainkan isu baru untuk menutup isu lama. Jika demikian, agaknya terlalu konspiratif.

Meski sudah dilaporkan sebanyak delapanbelas kali, polisi sepertinya belum mempunyai itikad baik untuk memeriksa putri presiden pertama Indonesia itu. Padahal, dugaan penistaan agama dalam puisi ‘Ibu Indonesia’ sudah sangat jelas. Sebab, puisi tersebut merendahkan azan dan cadar yang menjadi bagian syariat Islam.

Jika merujuk pada Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), maka Sukmawati dinilai melanggar pasal 156 A. Yaitu berbunyi barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Yang lebih menggelikan adalah ketika polisi ingin mengedepankan restorative justice (penyelesaian di luar pengadilan) kepada Sukmawati. Padahal tindakan tersebut mensyaratkan adanya korban. Dalam pasal 156 A, yang menjadi korban adalah agama, bukan orang per-orang. Maka, dengan siapa polisi ingin bermusyawarah?

BACA JUGA  Mencintai Tanah Air Bersama Haji Agus Salim

Sesungguhnya, sikap kepolisian yang seperti ini akan memberikan preseden buruk bagi penegakan hukum ke depan. Akan ada anggapan tidak masalah menghina agama, karena bisa diselesaikan dengan musyawarah, tak perlu dilanjutkan ke pengadilan.

Sebagaimana diketahui, kasus penodaan agama di Indonesia sudah berulang kali terjadi. Seharusnya, kepolisian sudah berkaca terhadap kasus sebelumnya. Yang paling kentara adalah penodaan agama oleh Basuki Thahaja Purnama. Ketika menangani kasus Ahok, polisi dianggap seperti bola, yang “menggelinding” ketika ada kaki yang “menendang.”

Jika kita cermati, aksi bela Islam pertama meminta kasus Ahok ditindaklanjuti. Aksi yang dilakukan pada 14 Oktober 2016 itu digelar di Bareskrim Mabes Polri, Gambir Jakarta Pusat. Lalu pada aksi 411, umat Islam meminta agar Ahok menjadi tersangka. Dan pada tanggal 16 November, dua hari setelah aksi, Ahok sudah menjadi tersangka. Proses hukum berjalan ketika ada pihak yang mendesak.

Dalam kasus Sukmawati, Kepolisian tidak layak memposisikannya seperti Ahok. Karena aparatur negara itu seharusnya sudah naik kelas ketika memproses mantan Gubernur DKI tersebut. Apakah menungu desakan massa dari berbagai kota secara berjilid-jilid proses hukum Sukmawati segera dimulai? Seharusnya tidak.

Oleh sebab itu, selayaknya Kepolisian sudah mempunyai sensitifitas. Sebab, aksi menuntut proses hukum Sukmawati juga sudah terjadi. Jika Kepolisian tidak ingin kehilangan kepercayaan masyarakat hanya karena tidak menjalankan keadilan di negara yang disebut menjunjung tinggi hukum ini, Sukmawati harus segera diproses.

BACA JUGA  Merenda Nalar di Balik Cadar

Penulis: Taufiq Ishaq

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Irak

Tiga Pemimpin Syiah Iraq Bertarung Rebut Kursi Perdana Menteri

Setelah jatuhnya rezim Saddam Hussein pada tahun 2003, konstitusi Iraq menjamin jabatan perdana menteri diduduki oleh Syiah karena mayoritas di negara itu.

Senin, 23/04/2018 09:25 0

Afghanistan

ISIS Serang Antrian Pendaftar Calon Pemilih Pemilu Afghanistan

Serangan itu terjadi di pintu masuk ke pusat pendaftaran pemilih yang berhak berpartisipasi dalam pemilihan parlemen yang direncanakan digelar tiga bulan mendatang.

Senin, 23/04/2018 07:23 0

Indonesia

Tetap Gaul dan Trendi dengan Kaos Bernuansa Islam

Dakwah menyiarkan syiar Islam menjadi tugas setiap umat Islam, adapun caranya berbagai macam baik melalui lisan ataupun literasi.

Ahad, 22/04/2018 20:22 0

Indonesia

Diminati Pembeli, Kaos #2019GantiPresiden Ludes Terjual di IBF 2018

Kaos #2019gantipresiden dijual di Islamic Book Fair 2018 di Jakarta Convention Center (JCC). Minat pembeli pun cukup signifikan.

Ahad, 22/04/2018 20:01 0

Palestina

Dalami Pembunuhan Dr Fadi, Hamas Temui Pemerintah Malaysia

Kepala Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh menduga Mossad Israel sebagai pelaku pembunuhan terhadap ulama muda asal Palestina, Dr Fadi al-Batch.

Ahad, 22/04/2018 19:01 0

Indonesia

Sambut Bulan Ramadhan, BMH Gelar Cek Kesehatan Gratis

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menggelar kegiatan cek kesehatan gratis untuk masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Acara ini dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1439 H.

Ahad, 22/04/2018 18:37 0

Indonesia

BUMN dan Bank Tak Lagi Sponsori IBF 2018, Ada Apa?

Islamic Book Fair 2018 nampaknya turut menjadi korban dampak panasnya tahun politik.

Ahad, 22/04/2018 17:45 0

Arab Saudi

Terbang Dekat Istana Raja, Saudi Tembak Jatuh Drone

Pasukan Arab Saudi dilaporkan telah menembak jatuh sebuah benda yang diduga pesawat drone mainan yang terbang di ruang udara dekat istana kerajaan di ibukota Riyadh.

Ahad, 22/04/2018 16:30 0

Suara Pembaca

Derita Penyakit Pernafasan Kronis, Ahmad Aji Butuh Uluran Tangan

Hari-hari Ahmad Aji tak seperti dulu. Sejak penyakit kronis menyerang paru-parunya tak banyak yang bisa ia perbuat kecuali hanya terbaring lemah di tempat tidur.

Ahad, 22/04/2018 16:24 0

Malaysia

Keluarga Minta Malaysia Pulangkan Jasad Dr Fadi ke Gaza

Hingga kini jasad dai asal Palestina itu masih berada di kamar mayat Rumah Sakit Selayang, Malaysia.

Ahad, 22/04/2018 15:39 0

Close