... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Partai Allah dan Partai Setan, Adakah?

Foto: Ilustrasi

KIBLAT.NET, – Polemik partai setan dan Partai Allah terus berlanjut hingga Amien Rais dilaporkan ke polisi. Dikutip dari teropongsenayan.com,Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zainut Tauhid Sa’adi, menanggapi polemik pernyataan Amien Rais soal partai setan dan partai Allah. Menurutnya, hal itu memang tertuang dalam Alquran surat al-Mujadilah ayat 19-22. Dalam ayat itu, terang Zainut, menjelaskan bahwa adanya dua golongan manusia yaitu golongan setan (hizb as-syaithan) dan golongan Allah (hizb Allah).

“Golongan setan itu disebutkan sebagai golongan orang yang selalu berdusta, lupa mengingat Allah, suka menentang ajaran Allah dan Rasul-Nya, dan mereka itu adalah golongan orang yang merugi,” jelas Zainut di Jakarta, Senin (16/4/2018).

“Sedangkan yang disebut golongan Allah (hizb Allah) yaitu golongan orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Mereka adalah termasuk golongan orang yang beruntung,” sambungnya.

Di dunia memang hanya ada dua golongan. Golongan Allah dan golongan setan. Sama halnya dengan kebaikan ada pula keburukan. Sudah sunnatullah. Mengenai polemik Hizbullah dan Hizbussyaitoh ini kita perlu memahami definisi dan makna hizb itu sendiri agar tak ada fitnah diantara kita terkait partai setan dan partai Allah.

Kata Hizb dalam terminologi bahasa Arab bermakna: partai, pengikut atau golongan. Jadi kata Hizbullah berarti : Partai Allah, atau Pengikut Allah, atau Golongan Allah. Menurut al-Raghib al-Isfahani, kata Hizb mempunyai makna : “Suatu jama’ah yang sangat kuat dan Tegas.” (Tafsir Mizan, ‘Allamah Thabathaba’i). Kata Hizbullah sendiri di dalam al-Quran disebutkan dua kali dalam ayat : QS al-Mujadilah ayat 22, dan QS Al-Maaidah ayat 56. Di antara ciri utama Hizbullah adalah beriman kepada Allah dan hari akhir serta tidak pernah menentang Allah dan RasulNya. Sedangkan Hizbussyaitohn berkebalikan dengan ciri Hizbullah.

BACA JUGA  Idul Fitri dan Pandemi Covid-19

Saat ini banyak diantara golongan umat manusia yang senantiasa menentangi Allah dan RasulNya. Kemaksiatan yang kian merajalela menjadi tanda bahwa setan berwujud manusia itu ada. Perzinahan, narkoba, korupsi, pelegalan miras, prostitusi, penistaan agama, pengkhianat rakyat serta segudang kemaksiatan lainnya menjadi bukti bahwa semua itu dilakukan oleh setan berwujud manusia.

Secara bahasa, setan berasal dari kata: شَطَنَ – يَشْطُنُ – شَيْطَانًا yang berarti menjauhkannya (sesuatu yang menjauhkan dari kebenaran). Secara istilah (menurut Al-Qur’an) diartikan sebagai sebutan bagi jin dan manusia yang jahat yang menggoda dan membisikkan kepada hati manusia supaya durhaka kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Sebagaimana sesuai dengan firman-Nya yang berbunyi, “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu…” (QS Al-Hajj [22] : 52).

Allah SWT telah memberikan petunjuk bagi manusia untuk tidak mengikuti langkah setan. Hal ini tertuang dalam firman Allah: “Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-An’aam [6] : 142). Godaan setan tak hanya berupa bisikan, tapi bisa berbentuk kata-kata yang menyihir. Seperti ajakan untuk menolak syariat Allah diterapkan, sama seperti mengajak manusia menolak hukum Allah dalam kehidupan. Syariat Islam diabaikan dalam mengatur persoalan kehidupan, hal itu seperti sikap kaum fasik yang menolak Allah ikut campur dalam mengatur kehidupan. Penguasa yang mengkhianati amanahnya juga dikategorikan ia sedang bermaksiat kepada Allah SWT. Nabi saw bersabda: Dari Ma’qil bin Yasar Radiyallahu anhu ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Sallallahu Alayhi Wasallam bersabda: “Tidaklah seorang hamba yang diserahi Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, kecuali Allah mengharamkannya masuk surga.” (Muttafaqun ‘alaih)

BACA JUGA  Idul Fitri dan Pandemi Covid-19

Sikap yang berkebalikan dengan perintah Allah untuk tunduk kepada aturanNya tidakkah sama halnya menentangi Allah dan RasulNya? Di Surat Al Mujadilah disebutkan hanya partai Allah (Hizbullah) saja yang dimenangkan dan beruntung. Siapakah golongan yang dimenangkan dan beruntung? Allah SWT telah menyebutnya dalam al qur’an. Salah satunya termaktub dalam surat An Nur (24): 51 yang berbunyi, “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka diseru kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Siapa saja yang menetapi jalan kebenaran dan mau memperjuangkan kebenaran Islam tentu masuk ke dalam golongan Allah (Hizbullah), bukan golongan setan (Hizbussyaithon). Di akhirat hanya ada dua tempat yaitu surga dan neraka. Surga diperuntukkan bagi orang-orang bertaqwa dan taat kepada Allah SWT, sedang neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang durhaka dan bermaksiat kepada Allah SWT. Pilih jalan yang mana? Golongan Allah atau golongan setan?Tanyakan pada iman kita.

Penulis: Chusnatul Jannah (Lingkar Studi Perempuan Peradaban)


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

2 comments on “Partai Allah dan Partai Setan, Adakah?”

  1. Adi subahana

    Assalamualaikum Prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah, tidak mengadakan provokasi atau penghasutan untuk memberontak kepada penguasa meskipun penguasa itu berbuat zhalim. Tidak boleh melakukan provokasi baik dari atas mimbar, tempat khusus atau pun umum dan media lainnya. Karena yang demikian menyalahi petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Salafush Shalih.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْبِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَ إِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ.

    “Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkan dengan terang-terangan. Hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya. Jika penguasa itu mau mendengar nasihat itu, maka itu yang terbaik dan bila si penguasa itu enggan (tidak mau menerima), maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban amanah yang dibebankan kepadanya.”[1]

    Jika sudah ada dalil yang shahih, maka wajib bagi seorang Muslim untuk taat kepada Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hujjah itu terdapat pada hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih dan tidak boleh menolak hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan beralasan kepada perkataan ulama atau perbuatan satu kaum atau siapa saja. [2]

    Ahlus Sunnah tidak suka dan tidak rela dengan kezhaliman dan kemunkaran yang dilakukan oleh penguasa atau lainnya. Akan tetapi cara mengingkari kemunkaran yang dilakukan oleh penguasa dan cara menasihati penguasa harus sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan atsar Salafush Shalih.

    Menjelek-jelekkan penguasa, membeberkan aibnya, menyebutkan kekurangannya, menampakkan kebencian kepadanya di hadapan umum atau melalui media lainnya dan mengadakan provokasi, hal tersebut bukan cara yang benar. Bahkan cara ini menyalahi petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdosa karena menyalahi Sunnah, menimbulkan kerusakan dan bahaya yang lebih besar serta tidak ada manfaatnya. Orang yang melakukan hal demikian akan dihinakan Allah pada hari Kiamat.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّنْيَا أَهَانَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

    “Barangsiapa yang memuliakan penguasa di dunia, akan dimuliakan Allah di akhirat, dan barangsiapa yang menghinakan penguasa di dunia, maka Allah akan hinakan dia pada hari Kiamat.” [3]

    Imam Ibnu ‘Ashim dalam kitabnya, As-Sunnah, memberikan bab: “Apa-apa yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan untuk memuliakan penguasa dan melarang keras untuk menghinakannya.” [4]

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita untuk bersabar terhadap kezhaliman penguasa. Dan dengan kesabaran itu Allah akan berikan ganjaran yang besar.

    Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ, فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا, فَمَاتَ عَلَيْهِ إِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً.

    “Barangsiapa yang tidak menyukai sesuatu dari pemimpinnya maka hendaklah ia bersabar terhadapnya. Sebab, tidaklah seorang manusia keluar dari penguasa lalu ia mati di atasnya, melainkan ia mati dengan kematian Jahiliyyah.” [5]

    Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa mentaati pemimpin secara ma’ruf merupakan salah satu dasar utama ‘aqidah. Dari sini para imam Salaf memasukkannya dalam kategori ‘aqidah. Jarang sekali kitab ‘aqidah melainkan (pasti) menyebutkan dan menjelaskannya. Ketaatan ini termasuk kewajiban syar’i atas setiap muslim; karena ini merupakan perkara asasi untuk mewujudkan ketertiban dalam negeri Islam.

    [Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A

  2. anthoni muhammad

    bila pemimpin tidak amanah maka kaum yahudi nasrani dan majusipun takkan berdiam diri melihat kezaliman rajanya,pausnya dan rezimnya……

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Yaman

Terapkan Konsep “Khumus”, Syiah Hutsi Caplok Dana Zakat

harta khumus merupakan harta yang hanya dikhususkan untuk keluarga Nabi saw, boleh diambil oleh para ulama Syiah dengan dalil mereka menduduki posisi al-Mahdi yang masih bersembunyi di sidrab (lubang persembunyian).

Jum'at, 20/04/2018 08:10 0

Info Event

Mahasiswi Muslim, Ayo Hadiri Kajian Ilmiah Ramadhan FMDKI di Kota Anda

Kajian ini digelar serentak di 27 kota di Indonesia. Catat lokasinya!

Jum'at, 20/04/2018 07:17 0

Irak

Iraq Kembali Serang Markas ISIS di Suriah

"Pelaksanaan serangan terhadap ISIS di wilayah Suriah karena kelompok ini masih bisa mengancam wilayah Iraq. Dan juga menunjukkan peningkatan kemampuan angkatan bersenjata kami yang berani dalam mengejar dan menghilangkan terorisme," kata pernyataan militer Iraq.

Jum'at, 20/04/2018 06:40 0

Indonesia

Sukmawati Temui PWNU Jawa Timur Terkait Kasus Puisi, Ini Hasilnya

Sukmawati bertemu dengan PWNU Jawa Timur terkait kasus puisi Ibu Indonesia yang dinilai menodai Islam

Kamis, 19/04/2018 21:15 0

Suriah

Kedatangan DK PBB ke Douma Disambut Tembakan

Hingga kini satuan tim yang diutus PBB untuk menyelidiki insiden gas beracun belum dapat memasuki Douma. Pasalnya, perjalanan mereka terhambat akibat serangan dari orang tak dikenal.

Kamis, 19/04/2018 20:46 0

News

Ustadz Abdul Somad: Jangan Mudah Memvonis Sesat

Dai nasional, Ustadz Abdul Somad mengingatkan bahwa umat Islam tidak boleh mudah memvonis sesat saudaranya. Ia menegaskan bahwa hal itu berbahaya.

Kamis, 19/04/2018 17:25 0

Afrika

Khalifa Haftar Dirawat di Paris, Sakit Apa?

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian telah mengkonfirmasi bahwa salah-satu pemimpin terkuat Libya Khalifa Haftar kini tengah dirawat di rumah sakit di dekat Paris.

Kamis, 19/04/2018 17:09 0

Indonesia

Zain An-Najah: Jangan Berlebihan Bandingkan Sahabat dengan Pemimpin Hari Ini

“Ada pengibaratan nama-nama sahabat, Umar bin Khattab dan lainnya dalam kepemimpinan hari ini. Hendaknya kita menempatkan sesuatu dalam tempatnya, jangan berlebihan,” ungkapnya kepada Kiblat.net, Rabu (18/04/2018).

Kamis, 19/04/2018 16:40 0

Indonesia

Tahun Ini, Keluarga Bisa Gantikan Calon Jemaah Haji yang Wafat

Kementerian Agama mengeluarkan kebijakan baru dalam penyelenggaraan jemaah haji 1439H/2018M. Kini, calon jemaah haji yang wafat sebelum keberangkatan, bisa digantikan dengan keluarganya.

Kamis, 19/04/2018 16:18 0

Suara Pembaca

Kekurangan Tak Surutkan Niat Keluarga Ini untuk Bantu Sesama

Rimabergabung menjadi relawan S3 (Sedekah Sehari Seribu) bersama relawan lainnya di daerah Kulonprogo.

Kamis, 19/04/2018 15:55 0

Close