... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Siapa yang Membuat Kita Miskin, Presiden atau Allah?

Foto: Potret kemiskinan di Indonesia (Ilustrasi)

KIBLAT.NET – Ketika polemik “partai Allah”nya Amien Rais belum mereda, publik kembali disuguhkan pernyataan politis yang sebenarnya tak kalah asik untuk dipolemik-polemikkan. Adalah Eggy Sudjana, Wakil Koordinator Nasional Gerakan Indonesia Salat Subuh (GIS) yang pada Ahad kemarin (15/04/2018) melontarkan pertanyaan kontroversial kepada jamaah ketika mengisi tausiyah di Masjid Dzarratul Muthmainnah, Tangerang Selatan.

Eggy menerangkan kepada jamaahnya bahwa menurut UUD 1945 kekayaan alam Indonesia sejatinya adalah milik rakyat Indonesia. Namun, rakyat hanya mendapatkan bagian 10 persen emas saja, karena kekayaan ini diberikan kepada Amerika Serikat. Dia juga menyinggung bahwa Indonesia adalah negara yang kaya minyak, emas, gas, kelapa sawit, dan rempah-rempah. Lalu dia menutup presentasi itu dengan sebuah pertanyaan, “Jadi, siapa yang membuat kita miskin? Presiden atau Allah?”

Baiklah pada tulisan kali ini saya akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Jadi begini, kemiskinan adalah sebuah keniscayaan di muka bumi ini, tidak percaya? Telusuri saja melalui sejarah versi siapa pun, niscaya tidak akan kamu temukan ruang dan waktu tanpa kemiskinan serta kehadiran orang-orang miskin.

Bukankah Allah SWT sendiri menegaskan dalam surat An Nahl ayat 71 bahwa Dia melebihkan sebagian manusia atas manusia lainnya dalam hal rezeki. Bahkan dalam surat Al Isra ayat 30 Allah SWT malah menegaskan bahwa mengenai siapa yang pantas kaya dan yang pantas miskin, itu mutlak menjadi hak preogratif-Nya sebagai Rabbul Alamin. “Sesungguhnya Rabbmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.”

Ayat tersebut ditutup dengan pemberitahuan bahwa Allah SWT Maha Mengetahui akan hamba-hamba-Nya. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah SWT mengetahui manakah di antara hamba-hamba-Nya yang pantas menjadi kaya dan pantas menjadi miskin.

BACA JUGA  Idul Fitri dan Pandemi Covid-19

Jadi kemiskinan sejatinya hanyalah sebuah dinamika dari sekian milyar dinamika kehidupan dunia yang serba fana ini, dia hanyalah sebuah antitesis dari kekayaan. Karena itu miskin atau kayanya seseorang tidak pernah menjadi sesuatu yang harus dibanggakan ataupun direndahkan dalam Islam. Bahkan keduanya merupakan ujian yang mempunyai resiko yang sama; terjerumus dalam kekufuran.

Sebagaimana isi surat Umar bin Khattab RA kepada Abu Musa Al Asy’ari;
“Merasa cukuplah dengan rezekimu di dunia. Karena Allah SWT telah melebihkan rezeki sebagian kamu atas sebagian lainnya. Tetapi sebenarnya yang diberi kelebihan rezeki sedang diuji sebagaimana ujian yang dihadapi oleh yang kekurangan. Yaitu diuji sejauh mana rasa syukurnya kepada Allah SWT serta sejauh mana dia menunaikan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya karena kelebihan hartanya tersebut.”

Ketika seorang muslim mendapat kelebihan rezeki maka dia menjadi mempunyai tanggungan kewajiban, salah satunya adalah zakat yang harus dia bayarkan. Sementara itu seorang miskin dituntut untuk bersabar dalam kondisinya sembari tetap meyakini bahwa Allah SWT adalah Ar Razzaq.

Dan kemiskinan juga bisa jadi merupakan sebuah hukuman atas dosa yang diperbuat seseorang. Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa sebagaimana kekayaan bisa jadi merupakan sebentuk istidraj (pembiaran terhadap keburukan), maka kemiskinan juga bisa jadi merupakan hukuman atas sebuah dosa.

Allah SWT berfirman, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS As Syura : 30)

BACA JUGA  Idul Fitri dan Pandemi Covid-19

Sampai di sini tampaknya kemiskinan tak terkait langsung dengan kondisi masyarakat serta pemerintahan yang berlaku. Yah, secara kasat mata memang kita mendapati orang miskin di kerajaan Firaun, namun kita juga masih mendapati orang miskin di kekhalifahan Umar bin Khattab RA.

Lantas apakah para pemimpin sepenuhnya terlepas dan terbebas dari tuduhan bahwa ketidakcakapan mereka telah menyebabkan kemiskinan. Bisa jadi iya, sebagaimana uraian saya di atas, bahwa kemiskinan mempunyai banyak sebab, dan semua sebab tersebut bisa kita kerucutkan pada satu kata; takdir.

Namun fungsi kepemimpinan khususnya kepemimpinan Islam adalah menjaga agama dan menjaga kehormatan pemeluk agama. Tentu saja kedua hal tersebut tidak bisa ditegakkan di atas fondasi kemiskinan. Maka dari itu sudah pasti kepemimpinan yang baik dan benar haruslah mempunyai visi memerangi kemiskinan. Kepemimpinan tersebut harus mempunyai sistem yang meyediakan kesempatan yang sama terhadap masing-masing individu untuk menjadi tidak miskin.

Maka kalaupun masih ada penduduk yang miskin itu memang benar-benar karena sudah takdirnya atau karena pilihannya untuk menjalani kehidupan sebagai orang miskin. Karena nyatanya pilihan tersebut memang menjanjikan sebuah keutamaan, yaitu mendahului orang kaya masuk surga karena tak terlalu lama dalam prosesi hisab.

Jadi siapa yang membuat kita miskin, Presiden atau Allah?

Yah, tanyakan saja kepada Eggy Sudjana, kenapa melontarkan pertanyaan tak bermutu semacam itu. Untung saja dia tak memakai logo banteng di dada, sehingga masih aman dari tuduhan menista agama.

Penulis : Rusydan Abdul Hadi


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

5 comments on “Siapa yang Membuat Kita Miskin, Presiden atau Allah?”

  1. Ahmad Syarif

    Uraiannya kurang nyambung. Antara kemiskinan suatu bangsa dan adanya orang miskin di dunia ini (yg disebut penulis karena takdir) tentu berbeda. Benar, ada orang miskin masa Umar bin Khattab, tetapi masyarakat ketika itu secara umum makmur. Itu karena mereka berada dalam keberkahan dari Allah. Ayatnya jelas, baldatun thayyibbatun wa rabbun ghafur itu karena umat suatu bangsa taat kepada perintah-Nya.
    Di sisi lain, suatu bagsa/umat yang hidupnya sengsara dan miskin disebabkan oleh korupsi para elit politiknya banyak ditemui dalam sejarah dulu maupun sekarang. Tentu ada orang kaya di antara mereka (yang disebut penulis sebagai istidraj).

  2. Ahmad Syarif

    jadi, bolehkah mengritik presiden karena kemiskinan rakyatnya? boleh donk!

  3. Abdul Rahiim

    Benar. Tidak nyambung. Jika ada kasus seseorang meninggal tertabrak truk. Terus terjadi debat siapa yg menjadikan korban mati. Terus disebut itu takdir Alloh. Iya memang benar itu takdir Alloh. Namun bukan di konteks itu kita bicara bukan? Sampai disini Anda fahaam?

  4. Abu Salma

    Kaya dan miskin adalah kehendak Allah, itu pasti benar.

    Pertanyaannya, sudahkah kita bersabar ketika miskin dan bersyukur ketika kaya?

    Atau kebanyakan kita sebaliknya, sehingga Allah menimpakan azabnya dengan bentuk kemiskinan yang tak berkesudahan.

  5. Aabeer

    Ucapak pak eggy itu bukan bermaksud meniadakan kemiskinan sama sekali . Apalagi menyalahkan Allah swt.. tidak .

    Maksudnya indonesia ni kaya . Tetapi mayoritas miskin berarti president salah kelola.

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

News

Ustadz Abdul Somad: Jangan Mudah Memvonis Sesat

Dai nasional, Ustadz Abdul Somad mengingatkan bahwa umat Islam tidak boleh mudah memvonis sesat saudaranya. Ia menegaskan bahwa hal itu berbahaya.

Kamis, 19/04/2018 17:25 0

Afrika

Khalifa Haftar Dirawat di Paris, Sakit Apa?

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian telah mengkonfirmasi bahwa salah-satu pemimpin terkuat Libya Khalifa Haftar kini tengah dirawat di rumah sakit di dekat Paris.

Kamis, 19/04/2018 17:09 0

Indonesia

Zain An-Najah: Jangan Berlebihan Bandingkan Sahabat dengan Pemimpin Hari Ini

“Ada pengibaratan nama-nama sahabat, Umar bin Khattab dan lainnya dalam kepemimpinan hari ini. Hendaknya kita menempatkan sesuatu dalam tempatnya, jangan berlebihan,” ungkapnya kepada Kiblat.net, Rabu (18/04/2018).

Kamis, 19/04/2018 16:40 0

Indonesia

Tahun Ini, Keluarga Bisa Gantikan Calon Jemaah Haji yang Wafat

Kementerian Agama mengeluarkan kebijakan baru dalam penyelenggaraan jemaah haji 1439H/2018M. Kini, calon jemaah haji yang wafat sebelum keberangkatan, bisa digantikan dengan keluarganya.

Kamis, 19/04/2018 16:18 0

Suara Pembaca

Kekurangan Tak Surutkan Niat Keluarga Ini untuk Bantu Sesama

Rimabergabung menjadi relawan S3 (Sedekah Sehari Seribu) bersama relawan lainnya di daerah Kulonprogo.

Kamis, 19/04/2018 15:55 0

Palestina

Hamas Siap Berunding Soal Tukar-Menukar Tahanan dengan Israel

Gerakan perlawanan Palestina Hamas dan Israel pernah mencapai kesepakatan pertukaran tahanan tahun 2011. Saat itu, Hamas membebaskan tentara Israel bernama Gilad Shalit dengan imbalan sekitar seribu tahanan Palestina

Kamis, 19/04/2018 15:23 0

Suriah

Serangan Amerika CS Tak Halangi Assad Gunakan Senjata Kimia

KIBLAT.NET, Washington – Sejumlah pejabat Amerika Serikat menyatakan rudal AS, Inggris dan Perancis terhadap fasilitas...

Kamis, 19/04/2018 14:37 0

Indonesia

Ustadz Abdul Somad: Islam Bangkit dengan Ilmu

Ustadz Abdul Shomad berceramah di arena Islamic Book Fair (IBF) 2018

Kamis, 19/04/2018 14:07 0

Arab Saudi

Pesan di Balik Perjanjian Minyak Arab Saudi dan Rusia

Pesan Putin kepada Saudi jelas, "Beli gas kami dan Anda akan menghemat minyak Anda."

Kamis, 19/04/2018 13:42 0

Amerika

Sebut Diri ‘Tentara Salib’, Tiga Pria AS Berencana Bom Apartemen Muslim

Target mereka adalah merubuhkan seluruh gedung beserta penghuninya.

Kamis, 19/04/2018 13:02 0

Close