... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Paradoks Nasionalisme Indonesia

Foto: Peta Hindia Belanda, yang kini disebut Indonesia.

KIBLAT.NET – Ahli sejarah dan teori politik dari India, Partha Chaterjee pernah bilang, bangunan nasionalisme tidak pernah utuh. Di dalamnya mengandung serpihan-serpihan yang tidak pernah bisa menyatu bagai minyak dan air. Imajinasi yang menjadi materi dasar ideologi nasionalisme seperti yang dilontarkan Ben Anderson berubah menjadi arena kekerasan ketika ide kebangsaan berbenturan dengan realitas masyarakat yang penuh dengan fragmen-fragmen sosial budaya yang bersanding diametrikal. Dalam wujud ekstrim, nasionalisme adalah wacana penuh kekerasan, simbolik maupun dalam arti sebenarnya, yang memberangus kemerdekaan individu karena di dalamnya mengandung ikatan kolektif paling primitif yang membentuk identitas. Inilah paradoks nasionalisme yang paling brutal. Dan paradoks ini bersembunyi dengan nyaman di wacana nasionalisme Indonesia tanpa pernah digugat secara tuntas.

Seratus tahun kebangkitan nasional mungkin terdengar gagah. Setidaknya untuk menakut-nakuti negara tetangga yang masih belia (namun berlari kencang). Tetapi Indonesia bukanlah anak kandung bumi pertiwi. “Indonesia” adalah imposisi identitas kaum intelektual Eropa yang kebingungan harus memanggil apa bangsa di kepulauan ini. Dari “kebingungan” itulah Indonesia mungkin terjadi yang kemudian mengalir melalui gagasan modernitas kaum elit Jawa yang ingin mengecap apa rasanya menjadi orang modern. Inilah awal paradoks nasionalisme Indonesia. Paradoks karena dia tidak pernah ada tetapi ada. Sebuah wujud tanpa bayangan masa lalu. Sebuah diskontinuitas.

Baca juga: Laporan Syamina: Akhir Negara Bangsa?

Tetapi bukankah bangsa Indonesia telah ada sejak 5000 tahun yang lalu seperti Muhammad Yamin pernah bercerita? Ideologi bangsa selalu berdiri di atas mitos dan mitos seperti kita pahami tidak segaris dengan realitas. Setiap masyarakat yang memiliki identitas memiliki mitos. Karena identitas adalah mitos yang terinstitusionalisasi. Nasionalisme dimanapun selalu berpijak pada mitos. Dia dapat merujuk pada ancaman, utopia, atau superioritas ras. Adolf Hitler, Sukarno, Deng Xiao Ping, Lee Kuan Yew, Fidel Castro, hingga George W. Bush adalah aktor-aktor yang sangat lihai mengeksploitasi mitos demi tujuan-tujuan politik kebangsaan. Mitos-mitos nasionalisme dilengketkan pada seremoni kenegaraan dan diidentikkan dengan patriotisme dan heroisme.

Ikatan-ikatan yang dipercaya harus ada dan membentuk sebuah bangsa.

Nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme dengan cetakan masa lalu. Eksistensi bangsa kepulauan ini dibingkai oleh mitos tentang kerajaan-kerajaan masa silam seperti yang diajarkan oleh guru-guru sejarah di sekolah. Dalam wacana ini, “Indonesia” adalah sebuah kerumuman orang-orang yang sama tuanya dengan tanah dan air di negeri ini. Pada titik ini, diskontinuitas sejarah seakan-akan sirna oleh sebuah mitos yang dihidupkan untuk menghubungkan Indonesia moderen dengan “Indonesia” masa lalu yang jaya, gemah ripah nan sejahtera seperti dalam penggambaran Majapahit yang begitu kental dengan aroma romantisisme.

BACA JUGA  Sarasehan 25 Tahun Komnas HAM: 10 Kasus Pelanggaran HAM Berat Belum Ditangani

Kenyataannya, nasionalisme seperti ini membuat Indonesia masa kini terbelenggu oleh keterbatasan imajinasi ke depan. Nasionalisme bukanlah wacana yang mencari sebuah harmoni melainkan hegemoni. Karenanya tidak heran jika nasionalisme menjadi alat institusi negara yang efektif untuk memobilisasi dukungan massa sekaligus menjadi alat legitimasi untuk memberangus musuh-musuh negara yang dianggap tidak nasionalis. Dalam wacana nasionalisme ala negara, kekuasaan menjadi tujuan utama di mana gagasan-gagasan alternatif tentang makna kebangsaan dikungkung dalam ruangan sempit dan gelap. Itulah nasionalisme Indonesia hasil konstruksi sejarah Orde Baru yang hingga sekarang masih kuat mencengkeram dalam kepala-kepala kita. Sebuah nasionalisme yang berpusat pada praktek terorisme negara, begitu kata Ariel Heryanto.

Nasionalisme Orde Baru yang hegemonik tentu saja tidak muncul dari Cendana tetapi berakar pada sejarah Indonesia sebagai suatu politik moderen yang penuh kontestasi. Kontestasi antara nasionalis-sekuler vis-à-vis nasionalis-relijius, sosialisme vis-à-vis kapitalisme, elit vis-à-vis rakyat jelata, Jawa vis-à-vis non-Jawa, pribumi vis-à-vis non-pribumi, individualisme vis-à-vis kolektivisme. Konflik multi dimensi ini menghasilkan ambivalensi yang menunjukkan bahwa nasionalisme Indonesia sebenarnya belum, dan mungkin tidak akan pernah utuh sempurna.

Baca juga: Nasionalisme Santri(?)

Jika memang harus tetap ada, nasionalisme Indonesia harus didekonstruksi. Tantangan generasi saat ini adalah menciptakan nasionalisme dengan cetakan yang menghadap ke depan. Imajinasi-imajinasi tentang masa lampau yang masih erat menempel pada materi nasionalisme Indonesia seharusnya dipasang pada tempat yang sepantasnya yang memungkinkan terjadinya interpretasi dan reinterpretasi akan makna nasionalisme, sebuah nasionalisme pasca Majapahit. Sebagai bangsa moderen, bangunan nasionalisme Indonesia seharusnya dibangun di atas tanah yang masih segar, bukan di atas kuburan masa lampau yang kering dan gelap.

BACA JUGA  Rezim Saudi Dikabarkan Tangkap Syaikh Safar Al-Hawali

 

 

Ditulis oleh: Sulfikar Amir, pengajar Sosiologi di Nanyang Technological University (NTU) di Singapura
Tulisan ini pernah dimuat di jakartabeat.net

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “Paradoks Nasionalisme Indonesia”

  1. mantap.. tulisan kaya begini nih yang dicari

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suriah

Al-Muhaisini Beberkan Motif Amerika Ingin Serang Suriah

Dr. Abdullah Al-Muhaisini menjelaskan alasan sebenarnya di balik rencana serangan Amerika Serikat terhadap rezim Assad di Suriah. Hal itu diungkapkannya melalui saluran Telegram pribadinya, Kamis (12/04/2018).

Kamis, 12/04/2018 13:13 0

Suriah

Jelang Serangan AS, Assad Pindahkan Armada Udaranya ke Pangkalan Rusia

Said Seif, juru bicara unit brigade Ahmed la-Abdu, mengatakan pasukan rezim telah mengosongkan bandara al-Seen (Sayqal) yang terletak di wilayah Timur Qalamoun.

Kamis, 12/04/2018 11:33 0

Indonesia

IKAMI: Kasus Puisi Sukmawati Bisa Dibawa ke Mahkamah Internasional

"Dia (kasus puisi Sukamawati.Red) bisa pakai Mahkamah Internasional. Jadi adalah suatu yang tidak mungkin dilakukan penyelesaian secara restorative justice dalam perkara yang dihadapi oleh Sukmawati seperti yang akan dilakukan oleh pihak kepolisian," kata Al Katiri.

Kamis, 12/04/2018 10:38 1

Indonesia

IKAMI Tak Akan Cabut Laporan Dugaan Penistaan Agama Sukmawati

"IKAMI punya sikap tegas bahwa penghinaan agama ini tidak main-main," ujar Ketua Umum Ikatan Advokat Muslim Indonesia (IKAMI), Abdullah Al Katiri, di Jakarta, Rabu (11/04/2018).

Kamis, 12/04/2018 10:05 0

Suriah

Militer Suriah Amankan Peralatan Tempur di Pangkalan Rusia

Bahkan, warga khawatir serangan AS itu hanya menambah kerusakan di negara mereka.

Kamis, 12/04/2018 09:40 2

Video Kajian

Kiblat Review: Peran Turki di Tanah Syam

Kiblat Review: Peran Turki di Tanah Syam. Selain itu Turki juga berbatasan dengan Suriah, wilayah konflik yang terus berlanjut sampai tujuh tahun ini. Saat ini, sebagian masyarakat kita sedang menunggu peran Turki untuk penyelesaian konflik di wilayah yang secara historis disebut Syam itu.

Kamis, 12/04/2018 09:26 0

Indonesia

Alfian: PKI Tinggal Tunggu Pencabutan TAP MPRS

"Buku yang saya sampaikan di persidangan tadi adalah buku-buku khusus tentang pembekalan kepada kader PKI pemula," ungkapnya.

Kamis, 12/04/2018 08:50 0

Suriah

Penasihat Media Bashar Assad Anggap Ancaman AS Hanya Perang Psikologi

Hal itu berdasarkan adanya pernyataan yang saling bertentangan antara Gedung Putih dan Menteri Pertahanan dan Luar Negeri AS.

Kamis, 12/04/2018 08:09 0

Indonesia

Ini Argumen Alfian Tanjung Yakini 85% PKI Ada di PDIP

"Keluarnya angka tersebut dari perhitungan matematikanya, bahwa pada tahun 2002 di Lativi (sekarang tvOne) ada salah satu kader PDIP yang namanya, Ribka Tjiptaning, yang menyatakan bahwa ada 20 juta kader PKI di Indonesia, dan itu pun menurut yang bersangkutan semua itu memilih partai tersebut (PDIP)," katanya kepada Kiblat.net seusai persidangan lanjutan kasus yang menderanya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (11/04/2018).

Kamis, 12/04/2018 07:23 0

Indonesia

Indonesia Tak Punya UU untuk Lindungi Data Pribadi di Medsos

Karenanya, perlu segera dilakukan revisi UU ITE atau dibuat undang-undang baru tentang perlindungan data pribadi.

Rabu, 11/04/2018 21:35 0

Close