... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Membaca Peta Suara Umat Islam dalam Demokrasi

Foto: Aksi Bela Islam III di Palu

KIBLAT.NET – Indonesia sebagai negeri mayoritas muslim terbesar di dunia memiliki potensi yang besar. Sejarah mencatat bagaimana potensi besar ini memberikan pengaruh masa depan Indonesia baik sebelum kemerdekaan maupun pasca reformasi tejadi. Nampaknya potensi itu menjadi penentu pula di tahun politik saat ini. Memanasnya perhelatan pilkada dan pilpres menjadikan posisi dan suara umat Islam sangat diperhitungkan bagi elite politik dan partai politik. Mereka berlomba mencari simpati umat Islam.

Di tengah gelombang sensitifitas umat dengan rezim berkuasa saat ini, terjadi pertemuan antara Luhut Binsar Panjaitan dengan Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto. Spekulasi pun bermunculan. Dilansir dari cnnindonesia.com, pengamat politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio menilai, dalam pertemuan dengan Prabowo itu Luhut sebagai perwakilan dari pemerintah ingin memastikan sosok yang akan di usung oleh Partai Gerindra. Sebab, hingga saat ini partai oposisi itu belum bersuara mengenai calon yang akan diusung, meski beberapa akar rumput sudah mendeklarasikan Prabowo sebagai capres. Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno menilai pertemuan Luhut dengan Prabowo tak sekedar pertemuan biasa, akan tetapi mengarah pada pembicaraan politik dan pilpres.

Sebelumnya, Prabowo gencar bersuara terkait kinerja rezim. Mengatakan Indonesia Bubar 2030 lalu menyebut ada elite bermental maling dan sebagainya, dinilai oleh sebagian pengamat politik sebagai pelemparan isu untuk menaikkan elektabilitasnya yang masih jauh dibawah Jokowi. Berbagi survei menilai elektabiltas Prabowo masih dibawah Jokowi. Dikutip dari tirto.id, Poltracking Indonesia misalnya, merilis hasil survei terbarunya tentang peta elektoral kandidat calon presiden (capres) di Pilpres 2019, pada 18 Februari 2018. Berdasarkan survei terbuka terhadap 1.200 responden pada 27 Januari-3 Februari 2018 tersebut, Jokowi memiliki elektabilitas 45,4 persen. Sementara elektabilitas Prabowo Subianto adalah 19,8 persen.

Lalu apa keterkaitannya dengan umat Islam? Tak dapat dipungkiri suara umat Islam dapat mempengaruhi hasil pemilu. Bisa kita lihat peristiwa pilkada DKI Jakarta lalu. Paslon yang tidak diunggulkan menang, justru memenangi pilkada kala itu. Wacana capres dan cawapres bermunculan. Mulai dari Prabowo, AHY, Jenderal Gatot Nurmantyo, Anis Matta, Anies Baswedan hingga TGB Zainul Majdi. Dari yang berlatarbelakang militer, parpol, nasionalis bahkan yang religius menjadi sasaran bursa pencalonan presiden dan wakil presiden. Rupanya umat sudah merindukan sosok pemimpin yang paham agama, bertanggungjawab dan amanah. Kerinduan akan sosok pemimpin ideal inilah yang menjadikan partai politik benar-benar menimbang, mengukur, dan mencermati siapa sosok pemimpin yang diinginkan umat. Rival utama Jokowi semacam Prabowo saja tak kunjung mendeklarasikan diri karena pasti ada banyak hal yang menjadi pertimbangan untuk tidak gegabah dalam menentukan sosok capres dan cawapres yang diinginkan umat.
Suara umat Islam adalah penentu bagi mereka. Namun, benarkah sosok pemimpin ideal dambaan umat akan lahir di tengah sistem demokrasi ini? Di alam demokrasi, tak ada ikatan diantara parpol kecuali ikatan kepentingan. Lawan bisa menjadi kawan, begitu pun sebaliknya. Hal-hal yang mungkin di luar nalar dan perasaaan, memungkinkan terjadi karena kepentingan masing-masing.

Umat Islam harus bersiap diri meghadapi fenomena itu. Bersiap pil pahit yang sifatnya hakiki. Kekecewaan terhadap parpol atau sosok yang diyakini mewakili kepentingan umat pasti terjadi dalam demokrasi. Suara umat Islam dijadikan kekuatan dalam memenangkan pertarungan antar elite partai. Salah satu cara memenangkan pilkada maupun pilpres adalah menampilkan sosok pemimpin yang diharapkan oleh umat Islam. Sosok inilah yang akan menjadi cikal bakal agar umat Islam berperan aktif dalam keikutsertaannya dalam pilkada maupun pilpres. Maka survei elektabilitas sang sosok menjadi tumpuan layak tidaknya sosok ini dicalonkan di hadapan rakyat.

Pertanyaannya, benarkah kehadiran sosok pemimpin dambaan ini mampu membawa perubahan yang lebih baik? Faktanya, sudah sekian kali berganti sosok pemimpin namun gagal. Dari kalangan nasionalis, militer, agamis, hingga yang bertampang ‘ndeso’ tak mampu memberikan perubahan hakiki untuk Indonesia lebih baik. Artinya, kesalahan bukan hanya terletak pada ‘nakhoda’ (baca: pemimpin) nya. Ada kesalahan metode dan sistem yang diterapkan negeri ini. Kesalahan sistem inilah yang bisa jadi tidak terbaca oleh umat Islam. Sehingga kita hanya fokus pada sosok-sosok baru yang diharapkan membawa perubahan, namun sistem tetaplah sama, tak ada yang berubah. Mungkinkah lahir sosok pemimpin ideal dambaan dalam model sistem politik demokrasi yang sarat dengan kepentingan? Lalu kemanakah suara umat Islam berlabuh?

Pahamilah bahwa Islam memiliki seperangkat hukum dan aturan yang mampu melahirkan sosok pemimpin ideal. Sistem Islam mampu membawa perubahan bagi negeri ini. Siapapun yang berpikir dengan landasan iman, tak ada yang mampu menandingi sistem terbaik yang Allah turunkan untuk rahmat bagi seluruh alam. Berlabuhlah suara itu untuk melantangkan penerapan aturan Islam dalam kehidupan. Hanya Islam yang mampu menjadi solusi dan tumpuan harapan.

Penulis: Chusnatul Jannah (Lingkar Studi Perempuan Peradaban)

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

News

Ramai Isu 2019 Ganti Presiden, Sekjen PBNU: Saya Tidak Setuju

Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini mengaku tidak setuju dengan gerakan #2019 Ganti Presiden.

Selasa, 10/04/2018 14:16 0

Suriah

Dokumen Resmi Mengungkap Assad Sembunyikan Senjata Kimia di Suriah

Pemindahan dilakukan dari Institute 1000 di Jamraya kepada Brigade 105 di dekat Istana Presiden di Damaskus.

Selasa, 10/04/2018 13:01 0

Video News

Abdul Chair: Orasi Saya Tidak Menyerang Kiai H. Ma’ruf Amin

KIBLAT.NET – Dr. Abdul Chair Ramadhan, SH. MH. menampik tuduhan orasinya menyerang Kiai H. Ma’ruf...

Selasa, 10/04/2018 11:59 0

Suriah

HTS dan JTS Janji Balas Serangan Kimia di Douma

"Rezim kriminal (Suriah) dan sekutunya, Iran dan Rusia, aman dari segala hukuman atau kecaman atas kejahatan yang mereka lakukan terhadap rakyat tak berdaya," tegas HTS.

Selasa, 10/04/2018 09:37 0

Indonesia

Jadi Tuan Rumah KTT Cendikia Dunia, Indonesia Usung Islam Wasatiyah

"Sejatinya Wasatiyyah menekankan jalan tengah, menyelesaikan masalah dengan konsultasi, berpegang pada prinsip kebenaran, dan dinamika serta kemajuan dalam peradaban Islam dunia," kata Din dalam jumpa pers di kantornya, Senin (09/04).

Selasa, 10/04/2018 08:00 0

Indonesia

Ini Alasan Aparat Minta Data Dosen dan Khatib di STIE Ahmad Dahlan

"Kalau misalnya saya mengundang, kan personal. Yang dimaksud mengundang sebagai dosen kami, tapi kenapa kok di bawahnya (anak buah-red) minta data!?” tuturnya.

Selasa, 10/04/2018 07:30 0

Indonesia

YPSI Luncurkan Aplikasi Pantau Salat Subuh Anggotanya

Dewan Syuro YPSI, Arisakti Prihatwono, mengatakan bahwa aplikasi tersebut diperuntukkan bagi anggota Pejuang Subuh di seluruh dunia dan dilengkapi dengan kode registrasi khusus.

Selasa, 10/04/2018 07:00 2

Afrika

Operasi Udara AS terhadap Al-Syabab Fokus di Jilib, Kenapa?

Sejak Januari 2018, AS mengkonsentrasikan serangan di daerah Jilib dan sekitarnya, termasuk di daerah dekat Jamaame dan sebuah lokasi tertentu di luar wilayah Kismayo. Namun sebagian besar serangan selama 2018 dan satu dekade terakhir memang terjadi di Jilib.

Selasa, 10/04/2018 06:30 0

Munaqosyah

Melecehkan Syariat, Tanda Hilangnya Pengagungan Allah dari dalam Hati

ika kita melihat lebih jauh, apa yang dilakukan oleh putri Soekarno tersebut berasal dari nihilnya “iman” dalam dirinya tentang pengagungan terhadap syariat.

Selasa, 10/04/2018 06:00 0

Manhaj

Menganalisa Faktor Kemunduran Umat Islam

Meski mereka kalah pada perang Salib dan agresi Tartar, amun kekalahan tersebut tidak membuat mereka ragu akan Islam sebagai akidah dan sistem pemerintahan. Kekalahan mereka, tidak membuat mereka ingin mengkuti pola hidup, norma, nilai, falsafah hidup dan budaya musuh-musuh mereka.

Selasa, 10/04/2018 05:10 1

Close