... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

[Wawancara] Pakar Sejarah: Nasionalisme Sekuler Bisa Jadi Nasionalisme Atheistik

Foto: Pakar Sejarah, Dr. Tiar Anwar Bachtiar

KIBLAT.NET – Sukmawati Soekarnoputri jadi sorotan setelah membacakan puisi Ibu Indonesia dalam sebuah acara peragaan busana di Jakarta. Dia menyinggung syariat Islam, dan dinilai telah merendahkan simbol keislaman, yaitu cadar dan azan.

Pakar sejarah Dr. Tiar Anwar Bachtiar membeberkna fakta bahwa pertentangan yang dilakukan oleh kalangan nasionalis sekuler telah ada sejak awal abad 20. Menurutnya, nasionalisme sekuler yang dianut oleh orang-orang semacam Sukmawati jika diteruskan akan menjadi nasionalisme atheistik yang menolak agama dan tuhan. Simak wawancara lengkapnya berikut ini.

Bagaimana Anda melihat puisi Ibu Indonesia yang dibacakan Sukmawati?

Pertama saya ingin mengatakan bahwa Ibu Sukmawati ketika membacakan puisi atau ketika menulisnya dia tidak berpikir ulang, tidak berfikir efeknya dan akibatnya. Saya kira puisi ini terlalu vulgar, menyinggung perasaan umat Islam. Yang disinggung adalah masalah cadar, menghina cadar, dengan dibandingkan dengan sari konde. ini tentu sebuah perbandingan yang tidak apple to apple, dan pastinya akan menimbulkan kontroversi dan sekarang sudah terlihat kontroversinya di mana-mana.

Yang kedua beliau menyinggung masalah suara azan, nah apalagi suara azan. Suara azan itu adalah sesuatu yang sakral banget dalam ajaran Islam, tiba-tiba kemudian dibandingkan dengan kidung. Sehingga jadi sesuatu yang akan sangat menyinggung umat Islam.

Ibu Sukma ini tidak belajar dari kasus Ahok, bagaimana Ahok dia yang memelintir ayat Alquran untuk kepentingan tertentu dan mendapat reaksi keras dari umat Islam. Kasus Ahok ini belum lama baru 1 tahun lebih sedikit saja, dan itu setiap saat masih diingat terus oleh umat Islam. Kemudian ibu Sukmawati muncul dengan puisi yang menurut saya tidak kreatif dan tidak memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai hal yang penting, yang perlu dilakukan oleh masyarakat.

Apakah lewat puisi itu Sukmawati ingin menjadikan nasionalisme berhadap-hadapan dengan Islam?

Jadi begini, dulu memang ada semacam pembelahan yang diametral antara kelompok yang mendukung Islam, disebutnya sebagai gerakan Islam. Orang-orang barat menyebutnya islamis lah. Dia dibenturkan dengan kelompok nasionalis, jadi kelompok nasional ini maknanya adalah orang-orang yang berpandangan sekuler dan mendukung nasionalisme Indonesia.

Hanya saja nasionalis ini kemudian mencoba mencari ideologi, akar untuk membangun nasionalisme itu dengan sesuatu yang tidak berbau agama. Misalnya dengan kebudayaan, kebiasaan-kebiasaan masyarakat, adat istiadat. Itu yang diinginkan oleh kelompok nasionalis. Makanya, dulu di awal abad 20 kelompok nasionalis itu sering berbenturan dengan kelompok Islam.

Padahal sebetulnya yang kelompok Islam ini juga bukan berarti anti-nationalisme, maksudnya anti terhadap Indonesia. Tentu ini salah salah besar. Sebab setelah abad 20 kelompok-kelompok Islam ini berjuang untuk memerdekakan Indonesia. Jadi, artinya dia setuju dengan kemerdekaan Indonesia, artinya punya semangat untuk mencintai bangsanya, membangun bangsanya.

Hanya saja kelompok Islam ini punya definisi sendiri tentang karakter yang harus dibangun oleh bangsa Indonesia. Jadi bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang asasnya atau dasarnya, kebudayaannya, pemikirannya dipengaruhi oleh agama, dipengaruhi Islam. Makanya komprominya nanti di dalam Undang-undang Dasar terutama bagian pembukaan yang disitu ada Pancasila, yang menyatakan bahwa nasionalisme Indonesia itu asasnya adalah agama, Ketuhanan Yang Mahaesa.

Sehingga, sebetulnya tidak perlu lagi dikonfrontasikan sekarang ini antara keindonesiaan dengan keislaman. Itu sudah masa lalu sudah seabad ke belakang. itu sudah dijawab oleh umat Islam Indonesia. Gerakan-gerakan Islam di Indonesia tidak ada yang berusaha untuk menghancurkan Indonesia, seperti bikin negara baru. Walaupun adalah, sempalan-sempalan yang sedikit dan itu tidak hanya dikerjakan oleh umat Islam. Seperti gerakan Papua merdeka, Republik Maluku Selatan, lalu PKI mau bikin negara baru ingin kudeta, jadi itu bukan monopoli umat Islam.

BACA JUGA  Polri Bisa Gunakan Restorative Justice untuk Sukmawati, Asalkan...

Justeru umat Islam lah yang paling depan untuk membela kemerdekaan Indonesia ini. Jadi Indonesia waktu diancam oleh OPM, RMS, PKI yang paling depan menghadapi mereka adalah umat Islam, gerakan-gerakan Islam. Sehingga gerakan-gerakan Islam kalau kita lihat hari ini sudah tidak perlu dipertanyakan tentang komitmennya terhadap keindonesiaan ini. Sehingga umat Islam sangat tidak layak lagi untuk dipertentangkan dengan keindonesiaan. Sehingga nanti kita perlu definisi baru, bukan nasionalisme di awal abad 20 yang dibenturkan dengan Islam, itu tidak benar cara pandang seperti itu sekarang ini.

Melihat isi puisi Sukmawati, sebagian kalangan mengingat kembali kelompok kesenian yang anti tuhan era PKI. Bagaimana menurut Anda?

Kalau dulu PKI jelas, kalau PKI ideologinya adalah komunis anti agama sehingga dibuatlah kesenian Lekra atau lembaga kesenian rakyat. Dibikin oleh orang-orang komunis PKI itu untuk menghantam seniman-seniman muslim. Bahkan dia musuhnya bukan hanya islam tetapi semua yang anti PKI itu dihantam juga oleh PKI ini. Kalau PKI jelas ideologinyaanti Islam, anti agama dan akarnya ada di situ.

Tapi kalau kasus puisi Sukmawati ini, menurut saya karena kebodohannya saja karena kejahilannya. Ibu Sukmawati ini tidak bisa menempatkan di mana posisi agama, dalam hal ini posisi Islam, dengan pembangunan identitas kebangsaan, keindonesiaan. Padahal secara hukum, kebudayaan, dan politik sebetulnya tidak perlu dipertentangkan. Pembangunan identitas kebangsaan itu bisa dibangun di atas dasar keagamaan, karena Islam adalah rahmatan lil alamin. Islam itu shalih likulli makan wa zaman, jadi bisa beradaptasi di semua tempat dan di semua waktu, termasuk dengan orang Indonesia.

Karena kejahilannya Ibu Sukma ini tidak faham, dan seolah-olah memusuhi agama dan dia sekarang kena batunya. Dan dia sudah menemui ulama, mungkin untuk meminta perlindungan.

Jika dilihat dari ekspresinya, nasionalisme macam apa yang diadopsi Sukmawati ini?

Nasionalisme sekuler sebenarnya. Kedepannya jika diteruskan bisa menjadi nasionallisme atheistik atau nasionalisme tanpa Tuhan, jadi tanpa agama. Itu yang terjadi di Barat sekarang. Mungkin ini yang mempengaruhi pemikiran orang seperti Ibu Sukma yaitu pemikiran-pemikiran sekuler, pemikiran-pemikiran atheistik yang ingin menyingkirkan sepenuhnya agama. Jadi nasionalisme ingin dibangun hanya sekadar dengan kemampuan pemikiran manusia saja.

Ini tentu saja dalam Islam sangat bertentangan dan bagi setiap muslim jika melalukan itu berarti melakukan sesuatu yang menentang agama. kalau dibiarkan begini, maka Indonesia akan menjadi negara tanpa Tuhan. jadi bisa-bisa nanti Pancasila disingkirkan. Pancasila itu kan identitas keindonesiaan yang memberikan corak bahwa Indonesia ini berada di atas landasan agama dan salah satunya adalah Islam itu. Jadi jika tanpa Islam anti akan menjadi Indonesia yang atheis Indonesia tanpa Tuhan.

Seperti diketahui, hubungan dalam Islam menyeberangi sekat-sekat kewilayahan. Bagaimana hubungannya dengan sekat nasionalisme itu?

Islam itu kan sifatnya universal dan akan memberi ciri universal yang bisa menyambungkan satu umat Islam satu dengan umat Islam yang lain. Nah, makna nasionalisme di dalam Islam, Islam bisa mewarnai keindonesiaan. Maksudnya adalah Islam ini bisa memberikan identitas kepada Indonesia. Identitas yang di situ akan kelihatan Indonesianya, karena Indonesia punya ciri khas tentu saja.

Kalaupun pada saat yang sama ketika dia punya ciri khas Indonesia, tetapi tetap punya nilai universal Islam. Nilai universal Islam itu adalah suatu konsekuensi yang tidak bisa dihindarkan dari Alquran dan Sunnah, sebagai dasar dari ajaran Islam. Dan juga ijtihad para ulama yang lintas batas, lintas negara. Ini yang nanti akan mengikat universalitas masyarakt islam di seluruh negara.

BACA JUGA  Sukmawati Temui PWNU Jawa Timur Terkait Kasus Puisi, Ini Hasilnya

Jadi tidak usah khawatir kalau misalnya Indonesia punya ciri khas keindonesiaan, tetapi dia ada Islam di dasarnya. Maka secara otomatis akan bisa menyambung dengan umat Islam di mana saja. Sekarang juga sudah kelihatan, misalnya orang Islam Indonesia yang punya ciri khas keindonesiaa tapi bisa nyambung dengan orang Afganistan, orang Pakistan, orang Arab, dengan di mana saja. Tidak ada sekat-sekat tidak ada barrier nasionalisme.

Apalagi sekarang jaman kosmopolitan orang-orang sudah biasa berpindah-pindah tempat atau mungkin berganti-ganti kenegaraan, sudah tidak ada halangan lagi. Sehingga nasionalisme yang diasaskan kepada keislaman itu tidak akan menjadi nasionalisme yang eksklusif. Justeru akan menjadi nasionalisme yang punya basic, untuk bergabung dengan yang lain. Dan inilah nanti yang akan menjadi kekuatan berdirinya satu kekuasaan Islam yang sifatnya mendunia. Nah itulah yang nanti menjadi suatu kekuatan dunia baru yang akan menyaingi kekuatan kekuatan-kekuatan lain.

Dulu juga sama sebenarnya di zaman kekhalifahan Islam, Bani Umayyah, Bani Abbasiyah itu kan setiap wilayah itu meskipun Islam tetapi ada khasnya. Misalnya orang Islamnya orang India punya ciri khas, Islamnya orang Indonesia itu khas, Islamnya orang Turki juga khas. Semua punya kekhasan masing-masing.

Tetapi mereka universal, kenapa universal karena ajaran Islam itu sendiri universal. Alquran dan hadis itu universal, tidak bisa di lokalkan. itu adalah satu ajaran universal yang mengikat, makanya ikatan Islam itu sebagaimana disebutkan dalam Alquran ikatannya itu dengan hablullah. Wa’tasimu bi hablillah, “kalian harus berpegang teguh kepada tali Allah”. Nah hablullah itu apa, dienullah agama Allah. Agama Allah itu apa, representasinya adalah Alquran dan As-sunnah, maka akan menjadi pengikat universal.

Jadi umat Islam seluruh dunia walaupun, seandainya pun tidak ada kepemimpinan islam yang sifatnya mengatur umat Islam seluruh dunia, tetapi dia pasti secara hakiki sudah terikat dengan aturan Allah.

Dengan mengatasnamakan nasionalisme, belakangan muncul sindiran bahwa kalau Islam ke Arab saja. Bagaimana Anda melihat itu?

Islam itu bukan agama lokal. Islam itu bukan milik orang Arab, bukan agama milik orang mana pun. Dia adalah agama milik manusia, rahmatan lil alamin. Sehingga orang menjadi islam itu tidak perlu pindah ke mana-mana, tinggal di tempatnya saja sudah bisa Islam. Tinggal bagaimana menjaga batas, ini nasionalisme ini Islam. Batasnya itu sebenarnya ada pada syariat, mana yang diperbolehkan syariat dan mana yang dilarang oleh syariat itulah yang akan menjadi batas-batasnya.

Kemusyrikan tentu saja kalau itu menjadi identitas lokal maka ia harus disingkirkan karena itu musyrik, misalnya begitu. tetapi identitas lokal yang tidak dilarang oleh agama, tidka berbau kemusyrikan kan tidak masalah. Contoh kita memakai batik yang tidak dilarang oleh agama Islam, itu bisa dibangun menjadi identitas keindonesiaan, bahasa misalnya. Itu hal-hal yang secara syar’i tidak melanggar ketentuan-ketentuan syariat, maka itu yang boleh kita bangun sebagai landasan identitas kelokalan kita sebagai orang Indonesia.

Gampang saja, Islam itu shalih likulli makan wa zaman . Islam itu mau dibawa di zaman apa saja dan di tempat mana saja bisa beradaptasi. Dan tidak perlu menghilangkan identitas kita sebagai orang Indonesia, orang Afghanistan, orang India atau orang Arab, identitas itu akan tetap terpelihara. Justeru Islam itu akan mengkonservasi adat, kebiasaan yang baik dimana Islam itu berada.

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: Imam S.

... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Polri Bisa Gunakan Restorative Justice untuk Sukmawati, Asalkan…

Pakar Hukum Pidana, Dr. Abdul Chair Ramadhan mengatakan upaya restorative justice (penyelesaian di luar pengadilan) tidak tepat jika diterapkan dalam kasus penodaan agama.

Jum'at, 06/04/2018 20:58 0

Indonesia

Tumpahan Minyak Pertamina Tewaskan Nelayan

Luas tumpahan minyak Pertamina di Teluk Balikpapan mencapai 12.987 hektare

Jum'at, 06/04/2018 19:07 0

Tazkiyah

Ini Nih Figur Pemimpin yang Merakyat

Siapa yang tidak mengenal Al-Faruq, Amirul Mukminin Umar bin Khattab? Beliau adalah sosok pemimpin yang dikenal tegas, zuhud dan merakyat.

Jum'at, 06/04/2018 19:00 0

Indonesia

DSKS: Kasus Sukmawati Sudah Jelas, Polisi Segera Periksa!

Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) medesak polisi segera memeriksa pihak-pihak terkait dalam kasus Sukmawati

Jum'at, 06/04/2018 18:13 0

Indonesia

Cabang Istimewa Muhammadiyah Pakistan Ikut Berkomentar Soal Puisi Sukmawati

Muhammadiyah Pakistan (PCIM) menyebut puisi Sukmawati mengandung unsur penistaan agama

Jum'at, 06/04/2018 17:44 0

Indonesia

OKI Desak India Buka Akses Bagi Tim Pencari Fakta Pembantaian di Kashmir

OKI Desak India Buka Akses Bagi Tim Pencari Fakta Pembantaian di Kashmir

Jum'at, 06/04/2018 17:20 0

Indonesia

Aksi Bela Islam Desak Proses Hukum Kasus Sukmawati Diawali Azan

Ribuan massa Aksi Bela Islam mendatangi Kantor Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri mendesak proses hukum terhadap Sukmawati Soekarnoputri

Jum'at, 06/04/2018 16:21 0

Palestina

Potret Bocah “Bawang” Palestina; Targetku Merebut Kembali Tanah Moyangku

Tujuanku adalah mengambil kembali tanahku, tanah kakek nenekku, dan tanah kenangan keluargaku. Inilah slogan bocah 9 tahun Mohamed Ayyash, yang berada di garis depan aksi unjuk rasa mematikan di dekat perbatasan Gaza-Israel Jumat pekan lalu.

Jum'at, 06/04/2018 15:00 0

Indonesia

Pakar: Tak Ada Ruang Restorative Justice pada Kasus Penodaan Agama

Pakar Hukum Pidana, Abdul Chair Ramadhan menilai tak ada peluang bagi polisi untuk menggunakan pendekatan restorative justice dalam kasus Sukmawati

Jum'at, 06/04/2018 14:11 0

Amerika

Pentagon Tegaskan Strategi AS di Suriah Tak Berubah

Trump mengumumkan pekan lalu saat unjuk rasa di Ohio, bahwa ia ingin segera menarik pasukan dari Suriah. Trump mengindikasikan awal pekan ini bahwa dia ingin membawa pasukan kembali ke rumah. Meskipun pada hari Rabu Gedung Putih menyatakan pasukan akan tinggal.

Jum'at, 06/04/2018 14:02 0

Close