... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Privatisasi Jihad; Ketika Penguasa Absen dari Tugasnya

Foto: Salah satu film dokumenter dari Aksi 212

Privatisasi Jihad; Ketika Penguasa Absen dari Tugasnya

KIBLAT.NET – Dalam hubungan elit dan masyarakat, gerakan protes masyarakat pada akhir 2016, yang lebih dikenal sebagai Aksi 212, bisa disebut sebagai salah satu contoh kontemporer akibat absennya penguasa dari kewajibannya. Dalam kasus ini, menegakkan hukum secara tegas kepada penista agama. Maka masyarakat “berjihad” sendiri untuk menegakkan amar makruf nahi mungkar. Dari mana akar gerakan “jihad” ini? Artikel ini mencoba untuk untuk menemukannya.

Jihad Kewajiban Penguasa

Ulama Syafiiyyah Imam Al-Mawardi (Al-Mawardi:1999) melihat jihad adalah tugas dan tanggung jawab yang dikelola oleh kepala negara (imamah). Ibnu Qudamah dari ulama Hambaliyah menambahkan bahwa rakyat berkewajiban untuk menaati apa kebijakan penguasa dalam masalah jihad. Bahkan, jihad di tangan penguasa itu telah berkembang menjadi fatwa kontemporer, seperti Ibnu Utsaimin, sebagai larangan tanpa izin penguasa, kecuali dalam jihad defensif (jihad ad daf’i).(Utsaimin:2002)

Jihad perlu diatur oleh penguasa agar tidak kacau dan menimbulkan akibat-akibat yang tidak terpuji di masa mendatang. Hal ini telah dimulai oleh Rasulullah SAW sendiri, bahkan ketika perintah jihad belum turun. Pasca perjanjian Hudaibiyyah (6 H), beliau secara tegas menolak Abu Basyir yang ingin bergabung ke Madinah. Tindakan Abu Basyir membunuh utusan Mekkah yang menjemputnya, dinilai bisa memicu perang yang belum waktunya, “Celaka, dia bisa memicu perang kalau ada yang menolongnya.” (HR Al-Bukhari) Kalimat Rasulullah ini dipahami oleh Abu Bashir bahwa ia akan ditolak oleh Rasulullah, maka ia pun pergi. (Al-Mubarakfury:2013)

Ketika jihad telah diizinkan, Rasulullah mengatur secara detail, mulai dari mobilisasi masyarakat sampai pada pemilihan komandan perang, dalam kasus peperangan yang tidak beliau pimpin sendiri. Dalam perang Mu’tah, misalnya, formasi diatur rapi sampai pada penentuan siapa yang menggantikan komandan pertama ketika gugur, dan seterusnya.

Karena perang bukan sekedar pertaruhan nyawa, ada perhitungan yang jelas terhadap kelangsungan kelompok. Perhitungan matang dilakukan untuk meraih kemenangan! Misalnya dalam Perang Hamra’ al-Asad, satu hari setelah kaum muslimin menderita banyak korban dalam perang Uhud. Rasulullah hanya mengajak para sahabat yang ikut dalam perang Uhud untuk mengejar musuh, sementara sisanya tetap di Madinah. Untuk memastikan rombongan Quraisy tidak kembali, beliau meminta bantuan Ma’bad bin Abu Ma’bad untuk mengelabui Abu Sufyan, sehingga Madinah dipastikan aman dari serangan musuh. (Al-Mubarakfury:2013)

Tradisi itu dilanjutkan dengan baik oleh Abu Bakar dalam perang Riddah, yang dilanjutkan jihad ke Irak dan Syam. Sebagai khalifah, ia sendiri memimpin langsung manajemen perang dengan sangat detail; sebagai pengambil keputusan dan strategi secara umum, bukan para komandannya. Abu Bakar menggunakan layanan dari para utusannya yang terpercaya dan cepat untuk bisa berkomunikasi secara konstan dengan para komandannya. Manajerial jihad ini terus berlangsung di bawah kendali khalifah Islam sampai pada masa kekuasaan Umayyah dan awal Abbasiyah.

Buah Jihad dalam Manajerial Penguasa
Jihad dan tentara yang diatur oleh negara telah memperlihatkan efektivitas yang nyata dalam mendukung penyebaran Islam, hingga keluar Jazirah Arab. Bandingkan di peta, wilayah penyebaran Islam sejak zaman Rasulullah, Khulafa’ Ar-Rasyidin, dan Bani Umayyah!

Pada masa Umayyah, jihad dimulai oleh Yazid bin Muawiyah dengan mengirimkan pasukan untuk membuka Konstatinopel. Jihad terus berkobar hingga Masa Al-Walid bin Abdul Malik, kekuasaan Islam telah mencapai wilayah terluasnya. Lihat peta!

Perluasan wilayah Islam dari masa Nabi SAW sampai Dinasti Umayyah [Foto: thethinkingmuslim.com)

Selain perluasan wilayah, jihad juga menghasilkan kemakmuran militer dan masyarakat. Gaji militer diatur dengan baik oleh negara. Pada masa Umayyah, gaji untuk tentara, nafkah untuk keluarga dijamin pemerintah. Manajemen ini meneruskan badan usaha negara yang dikenal dengan nama Diwan (Departemen). Banyak bidang kerja pemerintahan diatur dalam nama ini, Diwan Al-Jund (Departemen Militer) salah satunya. Sistem administrasi ini telah dirintis oleh Khalifah Kedua Umar bin Khattab r.a.(As-Sallumi: 1987)

Diwan tetap menjadi dasar pembayaran tentara khalifah selama masa Umayyah dan masa awal Abbasiyah. Namun, sejatinya tidak berbeda dengan penggajian pada masa Nabi SAW. Sumber gaji didapat dari hasil perang, baik ghanimah maupun fa’i dibagi-bagi dengan prinsip keadilan.

Pada awal periode Umayah, sejumlah besar pasukan telah tercatat nama mereka di Diwan. Menurut Al-Baladhuri, seperti dikutip oleh Peneliti Inggris (Kennedi: 2013), jumlah tentara di Basrah dan Kufah saja berkisar 80 ribu sampai 140 ribu personel. Mereka mendapatkan gaji tetap dan juga tunjangan keluarga.

Prinsip penggajian menekankan peran keadilan. Salah satu yang unik adalah karpet besar yang didapat dari istana Persia. Ukurannya mencapai 30 m2. Karpet ini sangat mewah, menurut riwayat, biasanya dipakai oleh raja Persia dalam pesta-pesta kerajaan. Ada yang menyarankan agar karpet itu dikirim ke Madinah untuk istana Umar bin Khattab. Namun Umar bin Khattab tidak menyukai kemewahan, karpet itu dipotong-potong untuk tentara dengan pembagian sesuai jasa masing-masing. (Kennedi: 2007)

Umar bin Khattab juga menerapkan kebijakan yang adil dalam pemberian (atha’) kepada arab dan non-Arab (mawali). Ammar bin Yasir dan Salman termasuk yang mendapatkan gaji tinggi; 6ribu dan 4 ribu. (Kennedi: 2013) Kebijakan ini berubah pada masa Umayyah, yang membedakan gaji untuk Arab dan non-Arab. Namun demikian, jihad dan perluasan wilayah terus berlanjut!

Konsentrasi Bani Umayyah untuk berjihad dan memperluas wilayah itu dikomentari oleh Ibnu Katsir, “Roda jihad terus berputar pada masa Bani Umayyah. Mereka tidak memiliki kesibukan selain itu. Suara Islam menggema di timur dan barat; di darat dan di lautnya. Mereka telah membuat hina kekafiran dan penganutnya….” (Ibnu Katsir:1999)

BACA JUGA  Nahdlatul Ulama dan Jebakan Politik

Para komandan perang penaklukan pada masa Umayyah adalah Maslamah bin Abdul Malik, Al-Mulhab bin Abi Shafrah, Qutaibah bin Muslim, Muhammad bin Al-Qasim, Abu Muslim Al-Khaulani, Uqbah bin Nafi’, Abu Muhammad Al-Baththal, dan Hassan bin An-Nu’man Al-Ghassani, Musa bin Nashr. (Al Munashir:2000)

Akhir jihad Dinasti Umayyah I diawali oleh perselisihan keluarga Umayyah pasca kematian Hisyam bin Abdul Malik. Sampai pada keruntuhan kekhalifahan Umayyah setelah kekalahan dalam perang Al-Zab 132 Hijriah. Kekalahan ini sekaligus mengawali masa kekuasaan Abbasiyah.

Penaklukan dan perluasan wilayah yang dihasilkan dari jihad fi sabilillah sampai masa Bani Umayyah [Foto: wikispaces.com]

Privatisasi Jihad
Sebelum kekalahan dalam perang Al-Zabb itu, Bani Umayyah telah mengalami kemunduran yang dipicu oleh pemberontakan-pemberontakan dan kehidupan mewah para penguasa.

Penguasa mulai lupa akan tugasnya dan terlena oleh kemewahan dunia, hidup berfoya-foya. Masyarakat mulai tidak percaya dan dari sinilah ulama memainkan perannya. Sebab, khalifah sebagai imam kaum muslimin telah absen dari fungsinya. Imam sudah bukan lagi sebagai junnah (tameng)* bagi tentara Islam untuk berjihad di bawah komandonya.

Gerakan dan seruan untuk berjihad atas kemauan sendiri mulai muncul pada awal Abbasiyah. Gerakan ini pada akhirnya menjadi awal pengalihan kepemimpinan jihad dari khalifah ke relawan-relawan “nonpemerintah”, dalam hal ini para ulama, yang mirip dengan privatisasi dalam sistem pemerintahan modern.

Selain seruan jihad secara mandiri dengan mengabaikan penguasa, para prajurit relawan juga aktif dalam memerangi orang-orang yang menyimpang dari ajaran sunah Nabi SAW, yang dikenal dengan amar makruf nahi mungkar. Sasaran mereka pada saat itu adalah kelompok Khawarij. (Al-Sam’ani:1999) Ringkasnya, mereka berperang melawan musuh luar di perbatasan, sedangkan di dalam, berperang memerangi kaum khawarij.

Semangat jihad mandiri semakin meluas. Pada masa kekhalifahan Al-Ma’mun, kekuatan masyarakat atau prajurit relawan dianggap sebagai ancaman nyata terhadap kekuatan politik. Dan itu terbukti! Dari peperangan yang dipimpin oleh Ya’qub bin Laits melawan khawarij, Dinasti Saffariyah (247-393 H) berdiri sebagai pesaing kekhalifahan Abbasiyah. Demikian pula Dinasti Samaniyah (261-389 H) dan Dinasti Ghaznawiyah (366-582 H) terbentuk dari kekuatan tentara relawan.

Tokoh Awal Relawan Perang

Tokok awal dari gerakan relawan perang adalah Abdullah bin Mubarak (lebih dikenal sebagai Ibnu Mubarak), Abdurrahman Al-‘Auzai, Ibrahim bin Adham, dan Abu Ishaq Al-Fazari. Ide mereka dilanjutkan, di antaranya oleh Abu Ishaq As-Surini, Sufyan bin Uyyainah, Abu Ya’la Al-Mausili, Ibnu Abi Dunya, Ubaidillah bin Abdul Karim Ar-Razi, dan Abu Hatim Ar-Razi.(Tor:2005)

Melalui mereka, para relawan menjadi sebuah gerakan yang disatukan oleh ikatan sosial dan pandangan religius bersama. Buku-buku pertama tentang jihad ditulis untuk membangkitkan semangat umat dan mengingatkan penguasa akan kewajiban mereka.

Masa Abbasiyah menjadi awal penulisan buku-buku tentang jihad dan keutamaannya, yang membedakan dengan masa sebelumnya. Al-Izz bin Abdussalam (660 H) dalam buku Ahkam Al-Jihad wa Fadhailatuhu menyebutkan bahwa sampai pada masanya, sekurang-kurangnya 2 judul buku bertema khusus jihad fi sabilillah, yang dimulai sejak masa Abbasiyah. Di antaranya kitab Al-Jihad karya Ibnu Mubarak (merupakan buku pertama yang secara khusus membahas jihad), As-Siyar Ibrahim Al-Fazari (186 H), Kitab Al-Jihad Ibu Abi Dunya, (281H), juga Kitab Fi Fadhli Al-Jihad karya Majduddin Thahir bin Nashrullah (596 H) yang khusus dipersembahkan untuk mengingatkan tugas jihad kepada Sultan Nuruddin Al-Abbasi.(Al-Izz:1986).

Usaha mereka tidak sia-sia. Di antara keberhasilannya, mereka mampu membangkitkan kembali semangat jihad para khalifah Abbasiyah, pada periode kekhalifahan Al-Mahdi (127 H) sampai masa Harun Al-Rasyid (193 H). Al-Mahdi mengirim banyak serangan, demikian pula masa Harun Ar-Rasyid, yang dipimpin oleh dirinya sendiri atau anaknya, ke wilayah Bizantium. Begitu Harun menjadi Khalifah, dia terus fokus pada jihad. Serangan terhadap Byzantium terus berlanjut dari distrik perbatasan sejak awal masa pemerintahan Ar-Rashid. Bahkan, ia mengirim putranya, Al-Qasim sebagai gubernur perbatasan untuk mengatur jihad kaum muslimin. (Tor:2005)

Selain kitab-kitab jihad, mereka juga menulis buku-buku pertama tentang zuhud. Zuhud adalah sebuah komitmen pada diri sendiri, dan menjauhi kucuran dana dari penguasa. Sehingga seorang mukmin memiliki tekad yang tak tergoyahkan untuk terlibat dalam peperangan (jihad fi sabilillah) atas dasar iman dan sebagai kewajiban pribadi, terlepas dari arahan khalifah atau pemerintah.

Salah satu kutipan Ibnu Mubarak dalam masalah ini, ketika ia ditanya, “Siapakah manusia utama?” Dia menjawab, “Ulama”. Dikatakan, “Dan siapakah raja-raja itu?” Dia menjawab. “Orang-orang yang zuhud.”(Azh-Zhahabi:2001)

Gerakan para ulama tersebut sangat beralasan! Sebab, selain perluasan wilayah telah berhenti pada masa Abbasiyah, wilayah kekuasaan Islam yang berbatasan dengan Bizantium di Syam sering mendapatkan serangan dari musuh. Pada masa awal Abbasiyah, umat Islam tergerak untuk berjaga di perbatasan tersebut atas seruan ulama.

Selain menjadi panutan umat, keberanian para ulama untuk menyuarakan kebenaran juga berdampak pada kenaikan wibawa mereka di hadapan penguasa. Al-‘Auzai, misalnya, yang juga dipanggil Abu Amr, dikenal sebagai ulama yang tidak takut di depan penguasa.

Dalam salah satu peperangan di perbatasan dengan Bizantium, banyak tentara Islam yang ditawan oleh Romawi. Kaisar Romawi meminta tebusan untuk membebaskan mereka, namun Khalifan Al-Manshur-yang berkuasa ketika itu-menolak untuk mengeluarkan uang tebusan.

BACA JUGA  Sarasehan 25 Tahun Komnas HAM: 10 Kasus Pelanggaran HAM Berat Belum Ditangani

Menanggapi hal itu, Al-‘Auzai mengingatkan Al-Manshur dengan kata-kata pedas. Ia menyindir keengganan penguasa untuk berjihad dengan ayat Qur’an. Atas ketidakpedulian terhadap tawanan, dalam surat yang ditujukan kepadanya, Al-‘Auzai mengutip hadits Nabi SAW, “Saya tidaklah mendengar tangis bayi di belakangku dalam shalat, kecuali saya memperingan (memperpendek) shalat itu karena khawatir membuat ibunya gelisah.”

“Lalu bagaimana dengan engkau, wahai Amirul Mukminin, yang membiarkan mereka berada di tangan musuh, yang menghinakan dan menelanjangi mereka; yang kita tidak menghalalkannya kecuali dengan nikah? Pantaskah itu, sedangkan engkau adalah pemegang amanah Allah…?” Akhirnya Al-Manshur menebus mereka setelah membaca surat Al-‘Auzai.(Al-Ashfahani:1996)

Sikap Al-Auzai mencontohkan kuatnya komitmen kepada ajaran agama, yang kemudian memperkuat otoritas religius ulama di mata umat, pada saat otoritas keagamaan khalifah melemah.

Sikap itu terus diwarisi! Ketika Abbasiyah telah melemah dan negara Islam menghadapi serangan tentara Salib dan bangsa Mongol, motivasi jihad umat dibangkitkan oleh para ulama.

Ulama mampu membangun semangat umat untuk melawan musuh dari luar. Membangkitkan motivasi jihad untuk membela kehormatan, tanah, dan harta mereka. Ibnu Taimiyyah dan Al-Izz bin Abdus Salam berperan penting dalam mengobarkan jihad melawan tentara Mongol atau Tartar. Ada keraguan (syubhat) yang melanda umat dan sebagian intelektual muslim ketika itu karena Tartar telah berafilasi kepada Islam, namun mengadopsi hukum yang tidak berdasarkan syariat Islam. Ibnu Taimiyyah mampu meyakinkan umat dan menepis syubhat tersebut.

Semangat itu dilanjutkan oleh Al-Mundzir bin Sa’id Al-Baluthi dan ulama Andalusia dalam perang Salib. Ketika Baitul Maqdis diserobot oleh Salibis, Ibnu Uqail, dan ulama fikih lainnya berkeliling di tengah masyarakat untuk membangkitkan perlawanan.

Di era modern, ada Abdul Hamid bin Badis dari Aljazair, pendiri Asosiasi Ulama Muslim, yang dikenal jasanya dalam menghadapi penjajah Perancis. Ada lagi Izzuddin Al-Qasam yang mengobarkan spirit jihad untuk melawan Prancis dan Inggris dari bumi Syam.

Setelah lulus kuliah dari Universitas Al-Azhar Kairo tahun 1906, tokoh kelahiran Lattakia ini berprofesi sebagai guru ngaji dan khatib Jumat. Ketika tanah umat Islam dijajah, ia pun berkeliling desa untuk memobilisasi umat Islam melawan Inggris. Di jihad Afghanistan, hal serupa juga dilakukan oleh Abdullah Azzam. Ulama yang juga asli Suriah ini berkeliling ke negara-negara Arab untuk mendapatkan dukungan dan menjelaskan bahwa jihad di Afghanistan adalah kewajiban umat Islam.

Sebagai penutup, dapat disimpulkan bahwa jihad yang dikelola dengan baik oleh penguasa terbukti efektif untuk mendukung perluasan Islam. Ketika penguasa mulai lalai dari tugasnya, ulama mengambil perannya dalam menghidupkan semangat umat, yang kemudian membentuk arus jihad mandiri.

Ulama sukses membangkitkan semangat umat dan beberapa khalifah Abbasiyah untuk memimpin jihad. Namun perlu dicatat bahwa perang internal (amar makruf nahi mungkar; memerangi khawarij, dalam kasus ini) terbukti telah merongrong kesatuan umat Islam dari kesatuan otoritas, dan memulai terbentuknya negara-negara kecil, yang secara umum telah melemahkan kekuatan sentral negara Islam.

Apakah relawan perang pada masa Al-Makmun telah menyimpang dari visi para pencetus jihad mandiri? Bisa saja, atau lemahnya kontrol pusat pemerintahan dan adanya kesempatan menjadi peluang untuk mendirikan negara baru. Tetapi, patut digarisbawahi, ada perbedaan yang terang antara gerakan tersebut dengan gerakan khawarij pada masa itu!

Gerakan Khawarij tidak lebih daripada tukang protes, yang menentang pemerintahan Umayyah dan juga Abbasiyah dengan perlawanan bersenjata. Tetapi, perlawanan itu tidak menghasilkan sebuah kedaulatan baru dalam politik. Keberadaannya justru menguntungkan Abbasiyah pada awal pembentukannya, dengan pemberontakan mereka terhadap Umayyah. Nyatanya, pada masa Abbasiyah, mereka hancur!

Semangat para ulama pada saat itu terlihat jelas: menghidupkan kewajiban jihad saat penguasa absen dari tugasnya. Semangat ini terus diwarisi oleh umat Islam hingga sekarang. Term “jihad” tidak lagi terbatas pada perang senjata, tetapi mengakar dalam setiap gerakan mereka, termasuk aksi turun ke jalan seperti Aksi 212.

Penulis: Agus Abdullah

__________________
* “Sesungguhnya seorang pemimpin itu adalah perisai, rakyat akan berperang di belakangnya serta berlindung dengannya.” HR Muslim. Imam Nawawi menjelaskan maksud perisai karena ia bertanggung jawab untuk mencegah musuh dari upaya mengganggu kaum muslimin, mencegah rakyat dari saling menzalimi, menjaga keutuhan Islam.

Bahan Bacaan:

1. Abu Nu’aim Al Ashfahani, Hilyah Al-Aulia. 1996. Darul Fikr Beirut, Lebanon. VI/136
2. Adz-Zhahabi. Siyar A’lam An-Nubala’. 2001. Muasassah Ar Risalah, VIII/399.
3. Al Munashir, Muhammad Abdul Hafidz. Al-Jaisy fi Al Ashr Al-Abbasi Al Awwal (132-232 H). Dar Mujadalawi. Oman. 2000.
4. Al-Izz, Abdul Aziz bin Abdissalam. Ahkam Al-Jihad wa Fadhailatuhu. Maktabah Dar Al-Wafa’ Jeddah. 1986. 39-43.
5. Al-Mawardi, Abul Hasan Ali bin Muhammad Al-Baghdadi. Al-Ahkam Al-Sulthaniyah:Al-WIlayat Al Diniyyah. Dar Al-Kutub Al Arabi. 1999.
6. Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyyur Rahman. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar, 2013. Hlm. 243.
7. Al-Sam’ani, Abdul karim bin Muhammad. Kitab Al-Ansab. Dar Al-Ihya’ At-Turats Al-Arabi. 1999. II/ 365.
8. As-Sallumi, Abdul Aziz Abdullah. Diwan Al-Jund. Maktabah Ath-Thalib Al-Jami’i Mekkah. 1987.
9. Ibnu Utsaimin. Asy-Syar’ Al-Mumti’, VIII/22.
10. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah. 1988. Ihya At-Turats. IX/104
11. Kennedy, Hugh. The armies of the caliphs: military and society in the early Islamic state. Routledge, 2013. Page 19.
12. Kennedy, Hugh. The great Arab conquests: How the spread of Islam changed the world we live in. Da Capo Press, 2007. Hlm. 122.
13. Tor, Deborah. “Privatized Jihad and public order in the pre-Seljuq period: The role of the Mutatawwi ‘a.” Iranian Studies 38.4 (2005): 555-573.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Amerika

Putra Mahkota: Warga Israel Berhak Hidup Aman di Negara Mereka

Dia menambahkan bahwa negaranya terlibat dalam banyak kepentingan dengan Israel jika perdamaian terwujud. Bahkan, kepentingan itu juga akan terjadi antara Israel dan negara-negara Teluk.

Selasa, 03/04/2018 08:16 0

Indonesia

MUI Papua Desak MUI Pusat Perkarakan Puisi SARA Sukmawati

"MUI Papua mengutuk keras atas puisi yang provokatif Sukmawati. Dan mendorong MUI Pusat untuk mengambil langkah untuk proses hukum," katanya kepada wartawan di Restoran Abu Nawas, Jakarta pada Senin (02/04/2018).

Selasa, 03/04/2018 07:15 0

Indonesia

Begini Perkembangan Kasus Pembangunan Menara Masjid di Jayapura

“Pertama masalah menara masjid Al-Aqsa, itu tidak akan ditinggikan lagi. Cukup sampai di situ,” katanya kepada wartawan di Restoran Abu Nawas, Jakarta pada Senin (02/04/2018).

Selasa, 03/04/2018 06:38 0

Suriah

ISIS Tewaskan 19 Pasukan Pemerintah di Suriah Timur

Memang ada sejumlah pernyataan yang timbul tenggelam dari kelompok ISIS bahwa mereka tengah mencoba konsolidasi dan merebut kembali wilayah yang hilang.

Selasa, 03/04/2018 05:58 0

Indonesia

Puisi Sukmawati Soekarnoputri Dinilai Benturkan Islam dengan Indonesia

Puisi Ibu Indonesia yang dibacakan Sukmawati Soekarnoputri dinilai sebagai bentuk upaya pembenturan Islam dengan Indonesia

Senin, 02/04/2018 18:52 3

Indonesia

Ustadz Fadlan Minta Maaf atas Kesalahpahaman Video Ceramah yang Viral

Ustadz Fadlan Rabbani Garamatan menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat adat Papua

Senin, 02/04/2018 17:54 0

Pakistan

Bentrokan Meletus Antara Pejuang Kashmir dan Pasukan India

Pejuang Kashmir terlibat bentrokan dengan tentara India di dua lokasi berbeda, Ahad (02/04/2018)

Senin, 02/04/2018 17:04 0

Indonesia

Protes Puisi SARA Sukmawati, Warganet Sampaikan Surat Terbuka

Hingga berita ini diturunkan, surat terbuka itu telah disukai oleh 13.000 orang dan dibagikan hingga 27.000 kali oleh warganet.

Senin, 02/04/2018 15:25 0

Indonesia

Begini Isi Puisi Sukmawati yang Sudutkan Syariat Islam, Cadar dan Adzan

Putri Bung Karno Sukmawati Soekarnoputri bikin ulah. Tadi malam, dia membacakan sebuah puisi yang ditulisnya sendiri. Judulnya, Ibu Indonesia.

Senin, 02/04/2018 14:57 12

Indonesia

Kelompok Teror Bersenjata di Papua Tembak Mati Satu Prajurit TNI

Seorang anggota Yonif 751/Raider, Pratu Vicky Rumpaisum, dilaporkan tewas ditembak kelompok teror bersenjata dalam insiden baku tembak dengan pasukan TNI di Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, Ahad (1/4) sore.

Senin, 02/04/2018 13:39 0

Close