... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Membaca Manuver Rusia VS Inggris dan Implikasinya

Foto: Presiden Rusia, Vladimir Putin.

KIBLAT.NET – Usir mengusir diplomat sedang ramai dilakukan negara barat. Dimulai adanya tudingan Perdana Menteri Inggris, Theresa May terhadap penyerangan warga Inggris yang pernah menjadi agen intelijen militer Rusia, Sergei Skripal dan Putrinya, Yulia. Theresa May menuding Rusia melakukan penyerangan menggunakan agen saraf kelas militer bernama Novichok pada 4 Maret lalu.

Dilansir dari republika.co.id, Inggris menuding Rusia menjadi dalang aksi penyerangan Skripal. Tuduhan itu didasarkan pada fakta bahwa agen saraf Novichok pernah dikembangkan pada era Uni Soviet pada 1970-an. Rusia membantah tegas tudingan tersebut. Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan negaranya sudah tak lagi memiliki senjata kimia karena telah dihancurkan di bawah pengawasan organisasi internasional.

Pengusiran terhadap diplomat ini dinilai yang terbesar. Diawali dari Inggris yang mengusir 23 diplomat Rusia, disusul 20 negara Eropa lainnya lalu AS yang mengusir 60 diplomat Rusia, terakhir Australia pun ikut-ikutan mengusir diplomat Rusia dari negaranya. Akhirnya berujung pada pengusiran balasan dari Rusia dengan mendepak 60 diplomat AS.

Ketegangan Rusia dan barat yang dikomandoi AS serta sekutu NATO nya bukanlah hal baru. Jauh sebelum itu kedua negara adigdaya ini pernah terlibat perang dingin di akhir perang Dunia II. Nampaknya perang dingin ini akan berlanjut setelah konflik Rusia – AS dan barat semakin meruncing pada titik nadir.

Ketegangan Rusia dengan Eropa dipicu oleh perebutan wilayah Krimea di Ukraina. Bergabungnya semenanjung Krimea inilah yang menjadi perebutan bagi Ukraina – yang diindikasi merapat ke negara NATO – dengan Rusia hingga memunculkan polemik antar kedua negara yang melibatkan negara eropa lainnya. Krimea diperebutkan karena ia primadona di wilayah eropa timur. Secara hukum, wilayah Krimea yang berada di semenanjung Laut Hitam adalah bagian dari Ukraina, namun memiliki ikatan budaya yang kuat dengan Rusia. Wilayah Krimea yang luasnya 26 ribu km persegi,  hampir seluruhnya dikelilingi oleh Laut Hitam. Wilayah ini penting bagi Rusia karena jalur ini adalah jalur ekspor gas Rusia ke uni eropa.

BACA JUGA  Gara-gara Corona?

Berbeda Ukraina, berbeda pula AS. Perseteruan kedua negara ini mencapai puncak tatkala Rusia mulai terlibat dalam perang Suriah. AS dan Rusia saling berebut pengaruh di Timur Tengah. Kawasan Timur Tengah yang memiliki jalur sutera strategis di dunia menjadi incaran kedua negara ini. Pertemuan tiga benua, Eropa, Asia, dan Afrika berada di kawasan ini. Semua ini terjadi karena kekayaan alam melimpah di kawasan ini. Bayangkan saja, tatkala Timur Tengah berhasil dikuasai, mudah bagi negara penguasa untuk menguasai negeri lain yang terlibat pada pertemuan jalur ini. Sebut saja Afrika dan Asia yang terindikasi juga memiliki kekayaan alam yang tak kalah banyak dengan Timur Tengah.

Sebuah kewajaran ketika dua kekuasaan saat ini, yaitu Rusia dan AS sedang berseteru. Bukan hanya secara ideologi mereka bersaing, namun juga secara geografi mereka berebut wilayah untuk mencengkeram negara dunia ketiga. Walaupun faktanya ekonomi mereka sedang bermasalah. Kekuatan hegemoni dan ideologi nyatanya masih menopang mereka. Artinya, pengaruh politik mereka di pentas internasional masih diperhitungkan.

Hal yang menjadi kewaspadaan bagi kekuatan blok barat dan timur adalah kekuatan dunia ketiga, yaitu Islam. Sejarah mencatat Islam pernah menguasai hampir dua per tiga dunia. Sinyal kebangkitan Islam pun mulai menunjukkan ‘taring’nya. Pada akhirnya, ancaman sejati bagi barat dan timur saat ini adalah munculnya kekuatan Islam global yang mengancam hegemoni mereka di dunia ketiga (baca: Islam). Jadi, negara barat dan timur tak akan berhenti ikut campur dalam konflik yang menimpa negeri-negeri muslim semacam Timur Tengah, afrika, asia, dll. Tak terkecuali melakukan segala upaya meredam kebangkitan Islam dengan beragam opini global seperti terorisme dan radikalisme yang sedang dijajakan ke negeri muslim.

BACA JUGA  Darurat Corona Akankah Menjadi Darurat Negara?

Dalam hal memerangi radikalisme dan terorisme, mereka satu suara. Karena Islam dianggap sebagai agama yang melahirkan benih teroris yang menjadi agenda global WOT dalam menangkal paham radikal. Sejatinya, musuh mereka adalah Islam dan perangkat aturannya. Kalaulah negara barat dan timur itu berseteru tak lain karena ada kepentingan yang tengah mereka perebutkan. Kepentingan ideologi dan hegemoninya.

Penulis: Chusnatul Jannah (Lingkar Studi Perempuan Peradaban – LSPP)


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Dorong Minat Baca, GPAN Bali Adakan Perpustakaan Kaget di CFD

Komunitas Perpustakaan Anak Nusantara (GPAN) Regional Bali mengadakan kegiatan Perpustakaan Kaget di areal Lapangan Sebelah Selatan Monumen Perjuangan Rakyat Bali Bajra Sandhi Renon, Denpasar pada hari Ahad (01/04/2018).

Senin, 02/04/2018 10:44 0

Suriah

Akhir Negosiasi Alot Jaisyul Islam dan Rusia di Ghouta Timur

Bagi yang ingin bertahan harus tunduk di bawah rezim.

Senin, 02/04/2018 09:36 0

Turki

Erdogan: Benyamin Netanyahu Teroris

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu teroris pada Ahad (01/04)

Senin, 02/04/2018 08:17 0

Indonesia

Komisi I DPR: Terkutuklah Zionis Israel

"Kebiadaban dan apalagi kata yang tepat buat negara Zionis yang membantai ribuan demonstrasi damai di Gaza, terkutuklah Israel dan pendukungnya," katanya dalam rilis yang diterima Kiblat.net pada Ahad (01/04/2018).

Senin, 02/04/2018 07:22 0

Artikel

AS dan NATO Gagal Pahami Strategi Taliban?

Setelah hampir 17 tahun menginvasi Afghanistan, misi NATO pimpinan AS “Resolute Support” dianggap masih belum bisa memahami strategi Taliban.

Senin, 02/04/2018 06:57 0

Artikel

Tak Banyak Diungkap, 5 Fakta di Balik Kemenangan Al-Sisi dalam Pemilu Mesir

Partai Salafi An-Nuur Mesir muncul sebagai salah satu pendukung utama Al-Sisi selama pemilu. Partai itu memberikan kontribusi dengan memobilisasi anggota partainya untuk memilih dan menolak seruan boikot.

Ahad, 01/04/2018 17:38 1

Palestina

Belasan Warga Palestina Tewas, Netanyahu Puji Pasukan Israel

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji pasukan keamanan Israel setelah pembunuhan 17 warga Palestina di Jalur Gaza. Meskipun banyak kecaman bermunculan karena aksi represif tersebut. 

Ahad, 01/04/2018 16:16 0

Indonesia

Satgas Tinombala Diterjunkan Cari 5 Warga Hilang di Hutan Poso

Lima warga yang hilang itu itu adalah Leonar Geso, Nikson Geso, Yoel Losong, Karni Farno, dan Juan Tudai.

Ahad, 01/04/2018 15:24 0

Artikel

Setelah Ghouta Jatuh, Assad Perkuat Negara Alawi di Suriah

Jangan lupa bahwa tujuan rezim Suriah adalah mendirikan negara Alawi yang membentang ke pantai dengan Damaskus sebagai ibukotanya.

Ahad, 01/04/2018 14:33 0

Indonesia

Viral Wanita Bercadar Pelihara Anjing, Dr. Zain: Ada Standar Ganda

Dr. Ahmad Zain An-Najah lantas menyoroti sikap sebagian masyarakat yang merespon positif wanita bercadar yang memelihara anjing, di sisi lain mendukung larangan cadar di kampus.

Ahad, 01/04/2018 14:01 0

Close