... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Mengenal Fikih Istidh’af, Panduan Berislam di Kala Lemah

Foto: Derita muslim Rohingnya, indikasi lemahnya umat Islam

KIBLAT.NETSetelah kekhilafahan Turki Utsmani runtuh, umat Islam ibarat kehilangan mercusuar yang mempersatukannya dalam satu pemerintahan. Wilayah Islam dipecah-pecah menjadi lebih dari lima puluh negara berdasarkan nasionalisme atau kebangsaan. Kondisi ini lantas membuat umat Islam di berbagai belahan dunia menjadi lemah dan mudah tertindas.

Lemahnya umat Islam di akhir zaman ini telah dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :

بَدَأَ الإِسْلامُ غَرِيبًا ، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim no. 145)

Al-Qadhi ‘Iyyad berkata, “Dilihat dari keumuman hadist ini, Islam bermula dari beberapa gelintir orang. Kemudian tersebar dan berkuasa. Kemudian  pemeluknya mengalami penurunan kualitas dan saling berpecah-belah. Hingga akhirnya tersisa beberapa gelintir orang sebagaimana awal kemunculannya.” (Jami’ul Ushul, 1/276)

Dalam kondisi lemah, Islam tidak lantas membiarkan umatnya dalam kesulitan. Saat kondisi lemah, Islam tidak memaksa umatnya untuk melaksanakan kewajiban secara sempurna, juga tidak membiarkan umatnya mengabaikan ajaran Islam dengan bebas. Akan tetapi, Islam telah mengaturnya sedemikian rupa sesuai kondisi yang ada. Pembahasan ini para ulama sering menyebutnya dengan fikih istidh’af.

Makna Fikih Istidh’af

Fikih adalah pengetahuan tentang hukum-hukum syar’i yang berkaitan dengan amal (perbuatan manusia). (al-Mustashfa, 1/50). Sedang istidh’af, diambil dari kata ad-Dha’fu yang berarti lemah… Dan al-Istidh’af adalah jumlahnya lemah/minoritas. (as-Shihah Taj, 4/1390)

Maka fikih istidh’af adalah pengetahuan tentang hukum-hukum syar’i yang dibutuhkan seorang muslim ketika kondisi lemah.

Dalam bahasa Arab disebut dengan Fiqhul Istidh’af (fikih saat kondisi lemah), disebut juga dengan Fiqh al-Aqaliyyat yang berarti kaum muslimin sedikit. Namun kata al-Aqaliyyat kurang tepat karena kondisi sedikit terkadang lemah, namun juga terkadang kuat, atau di beberapa Negara memungkinkan mereka bebas untuk beribadah. Sedang kata al-Istidh’af yang menonjolkan kelemahan kaum muslimin walau terkadang menjadi mayoritas di suatu negara.

Isyarat Syar’i Tentang Fikih Istidh’af

Contoh ideal penerapan fikih istidh’af ini adalah fase Makkah pada masa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Masa itu, kaum muslimin tidak diperintahkan menyelisihi orang-orang musyrik, muslimah tidak dilarang menikahi orang kafir, dan umat Islam tidak dibebani dengan banyaknya kewajiban-kewajiban.

Selain itu, bukti lain yang menguatkan adanya fikih istidh’af dalam kajian Islam adalah ;

  • Turunnya Syari’at Secara Bertahap :

Islam tidak membebani generasi awal Islam, terutama fase Makkah, dengan kewajiban-kewajiban yang banyak. Hal ini digambarkan oleh ‘Aisyah Ummul Mukminin, “Sesungguhnya surat yang pertama kali turun ialah dari kelompok mufashshal (Surat yang pendek-pendek), di dalamnya terdapat sebutan tentang surga dan neraka, sehingga ketika Islam telah diterima oleh banyak orang maka turunlah halal dan haram. Seandainya ayat yang pertama turun larangan minum khamr, maka mereka pasti akan berkata, ‘kami tidak akan meninggalkan khamr selamanya,’ demikian juga seandainya ayat yang pertama turun tentang larangan zina, maka mereka akan merespon, ‘kami tidak akan meninggalkan zina selamanya’.” (HR. Bukhari no. 4993)

BACA JUGA  Menganalisa Faktor Kemunduran Umat Islam

Ibnu Taimiyyah berkata, “Seandainya ada seorang muslim di negeri perang (darul harb) atau di negeri kafir yang sedang tidak berperang, mereka tidak diperintahkan untuk menyelisihi orang-orang kafir dengan amalan-amalan dzahir (tampak), karena hal itu akan membawa mudarat. Sedang ketika seorang muslim di negara Islam dan negari hijrah yang Allah memuliakan Islam di dalamnya, dan orang-orang kafir dibuat lemah dan wajib membayar jizyah, maka umat Islam diwajibkan menyelisihi orang-orang kafir.” (Iqtidha’ ash-Shirat al-Mustaqim, 1/471)

Beginilah syariat memperhatikan tahapan-tahapan dalam tasyri’. Syariat tidak membebankan hal-hal yang sulit untuk dilaksanakan saat lemah atau menyebabkan bahya bagi kaum muslimin. Bukan berarti menghilangkan hukum-hukum syariat yang telah baku dan paten, tapi yang perlu diperhatikan adalah bagaimana syariat memperhatikan kondisi lemah ketika awal Islam, hal ini membuka pintu bagi mujtahid untuk mengkaji kondisi lemah dan tingkat syariat yang bisa dilakukan.

  • Pertimbangan Mudarat

Bentuk rahmat Allah terhadap hamba-Nya dan bentuk kesempurnaan syariat Islam adalah memperhatikan berbagai macam kondisi manusia dan memberikan hukum yang berbeda sesuai dengan perbedaan kondisi tersebut. Asas inilah yang membuat Islam fleksibel dan cocok bagi setiap zaman.

Di antara bentuknya adalah Islam memberikan hukum khusus kepada personal atau kelompok yang berada pada konidis darurat atau terdesak. Allah SWT berfirman :

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَلا إثْمَ عَلَيْهِ

“Barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.” (QS. Al-Baqarah : 173)

Maka, orang yang dalam kondisi lemah diperbolehkan untuk melakukan hal-hal yang dilarang atau meninggalkan kewajiban jika hal itu dapat menyelamatkan dirinya. Dalam kitab Mausu’ah Fiqhiyyah disebutkan, “Kondisi darurat bisa disebabkan karena dipaksa atau karena faktor internal, seperti lapar dan sakit. Seseorang yang mengalami kondisi ini dituntut untuk menyelamatkan dirinya. Ia boleh melakukan yang diharamkan dalam rangka menyelamatkan dirinya.” (Mausu’ah Fiqhiyyah, 5/217)

Kisah Ammar bin Yasir yang terpaksa mengucapkan kalimat kekufuran karena beratnya siksaan Quraisy menjadi bukti bahwa kondisi darurat dan lemah mendapatkan hukum yang berbeda dengan kondisi normal.

  • Pembebanan Berdasarkan Kemampuan

Allah memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan syari’at berdasarkan kemampuan. Allah berfirman :

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah kalian kepada Allah semampunya.” (QS. At-Taghabun : 16)

Rasulullah bersabda :

وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian semampu kalian.” (HR. al-Bukhari no. 6858)

Karena hukum bergantung pada kemampuan, maka hukum untuk orang yang kuat tidak sebagaimana orang yang lemah, hukum orang yang aman tidak sebagaimana orang yang ketakutan, hukum orang yang leluasa dan bebas tidak sebagimana orang yang kondisinya butuh dan mendesak.

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Siapa yang berada di negeri kafir dan ia telah merasa aman (untuk menjaga agamanya), namun ia sulit untuk berhijrah (ke negeri Islam), maka tidak wajib baginya melakukan hal yang ia tidak mampu. Yang ia mampu saja yang ia lakukan” (Minhajus Sunnah, 5/122)

BACA JUGA  Bukan Fiksi, Al-Qur’an Otentik Hingga Akhir Zaman

Orang yang dalam kondisi lemah mendapatkan udzur untuk tidak melaksanakan kewajiban. Kewajibannya menjadi gugur karena hilangnya kemampuan untuk melaksanakannya, atau sulit dilaksanakan. Atau jika dilaksanakan ia akan menuai madharat yang membahayakan jiwanya.

  • Hukum yang Ditangguhkan :

Sebagian ulama muhaqqiq berpendapat bahwa hukum-hukum yang dikatakan telah dihapus (mansukh) sesungguhnya itu hanya ditangguhkan,. Jika kaum muslimin sudah leluasa untuk mengamalkannya maka wajib untuk mengamalkannya.

Allah berfirman ;

مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِّنْهَا

“Ayat mana saja yang Kami nasakh (hapus) kan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya.” (QS. Al-Baqarah : 106) yaitu penangguhan pangamalannya.

Az-Zarkasyi mengatakan, “Segala sesuatu yang diperintahkan karena ada sebab kemudian sebab itu hilang, seperti : perintah untuk bersabar ketika lemah dan menjadi minoritas, dan janji ampunan bagi orang-orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah, tidak wajibnya amar ma’ruf, nahi munkar, jihad dan sejenisnya kemudian dihapus kewajibannya. Hakikatnya ini bukan dihapus, namun hanya penangguhan. Yang ditangguhkan adalah perintah berperang ketika kaum muslimin kuat, namun ketika lemah hukumnya menjadi wajibnya bersabar pada gangguan. (al-Burhan fi ‘Ulumil Qur’an, 2/42)

Meskipun pendapat ini ditentang oleh sebagian ulama. Tetapi setidaknya pendapat ini mengindikasikan bahwa sebagian ulama melihat bahwa terkadang sebuah kondisi yang berbeda menuntut adanya hukum yang berbeda.

  • Korelasi Hukum-hukum dengan Maslahat

Syariat ini dibangun diatas pijakan jalbul mashaalih wa daf’ul mafaasid (membawa kebaikan dan mencegah keburukan). Seandainya syari’at ini dilaksanakan namun berakibat keburukan, ini pertanda ada tata laksana yang salah dalam prakteknya. Maka harus diperhatikan situasi dan kondisi tempat pelaksanaannya.

Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya syari’at dibangun diatas dasar dan pondasi perintah (nash) dan maslahat para hamba untuk kehidupan dan tempat tinggalnya. Syari’at itu seluruhnya adalah keadilan, rahmat dan kebaikan.” (I’lamul Muwaqi’in, 3/11).

5 hal di atas mengisyaratkan akan adanya penyikapan hukum yang berbeda jika terjadi suatu kondisi yang berbeda. Di antara hal yang mempengaruhi kondisi adalah kondisi Tamkin dan istidh’af. Yaitu Islam berjaya dan hadir di seluruh tata kelola kehidupan. Dan sebaliknya jika kondisi berubah menjadi istidh’af, maka pada kasus-kasus tertentu yang tidak bisa dilaksanakan secara ideal maka perlu ada perubahan penyikapan.

Kaidah yang berlaku adalah melaksanakan syariat semampunya. Tentunya yang memiliki otoritas dalam mengkaji, menimbang dan menilai sebuah realita istidh’af dan dampaknya terhadap hukum-hukum Islam adalah para ulama. dan kondisi istidh’af pun tentunya bertingkat-tingkat, sehingga adaptasi masing-masing kondisi berbeda dengan kondisi lainnya. Wallahu a’lam bissowab

Penulis: Zamroni
Editor: Arju

... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

PPI Suriah Tolak Bantu Salurkan Bantuan, Pengamat: Hubungannya dengan Keamanan

"Ini sangat erat hubungannya dengan keamanan PPI di Suriah. PPI Suriah kan di Damaskus, sedangkan Damaskus masih dikuasai oleh pemerintah"

Jum'at, 30/03/2018 20:58 0

Indonesia

Konflik Suriah Membuat Pengungsi Palestina Jadi Korban Perang Dua Kali

KNRP menilai Konflik Suriah Membuat Pengungsi Palestina Jadi Korban Perang Dua Kali

Jum'at, 30/03/2018 20:28 0

Indonesia

Konsolidasi Nasional KNRP Kokohkan Eksistensi Bantu Palestina

Konsolidasi Nasional KNRP Kokohkan Eksistensi Bantu Palestina

Jum'at, 30/03/2018 19:34 0

Indonesia

Bantuan ke Suriah Disoal, Alumnus Al-Azhar: Bentuk Kampanye Anti Kemanusiaan

Bantuan itu disebut tak tepat sasaran karena tidak melalui pemerintah Suriah dan memungkinkan jatuh ke tangan revolusioner Suriah yang sebagai dianggap pemberontak. 

Jum'at, 30/03/2018 18:14 0

Video Kajian

Khutbah Jumat: Semangat Mencari Kematian!

Khutbah Jumat: Semangat Mencari Kematian! Kapan Anda merasa siap untuk menghadapi kematian? Atau hati dan perasaan selalu dihantui oleh cita-cita dunia yang belum tercapai? Simak pesan Rasulullah dalam hal ini!

Jum'at, 30/03/2018 17:35 0

Arab Saudi

Muhammad Bin Salman: Perang Arab Saudi-Iran Mungkin Terjadi dalam 10-15 Tahun

Dalam wawancara dengan The Wall Street Journal Muhammad Bin Salman mengatakan jika sanksi kepada Iran tak terwujud maka akan berpotensi menimbulkan konfrontasi di kawasan

Jum'at, 30/03/2018 16:34 0

Mesir

Menangi Pemilu, Al-Sisi Kembali Jadi Presiden Mesir

Mousa Mostafa Mousa menjadi satu-satunya lawan al-Sisi, dengan perolehan 721.000 suara. Sementara beberapa calon potensial lain mengundurkan diri atau ditangkap.

Jum'at, 30/03/2018 15:16 0

Indonesia

Terduga Teroris Berpotensi Disiksa Karena Tidak Ada UU Ini

Komisioner Komnas HAM, Khoirul Anam menegaskan bahwa selama ini tidak ada kejelasan terkait penempatan seorang terduga teroris setelah ditangkap.

Jum'at, 30/03/2018 14:17 0

Indonesia

BBM Naik Salah Pertamina atau Pemerintah? INDEF Ungkap Fakta Mengejutkan

Pengalihan anggaran untuk peningkatan infrastruktur justru tidak dipergunakan pemerintah membangun infrastruktur yang produktif, tetapi hanya memperbanyak jalan tol.

Jum'at, 30/03/2018 13:33 0

Arab Saudi

Arab Saudi Dilanda Badai Pasir

Badai pasir menyebabkan penutupan sementara 6 bandara di Arab Saudi utara karena angin kencang yang bercampur dengan debu.

Jum'at, 30/03/2018 11:20 0

Close