... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Siyasah Syariyyah: Jujur dan Tepat dalam Mengukur Mudharat

Foto: Menimbang mudharat (ilustrasi)

KIBLAT.NET — Menjelang musim Pemilu, kata “mudharat” yang secara mudahnya berarti “bahaya,” menjadi titik silang perdebatan antara kelompok cobloser dan golputer. Di sini, pembahasan hukum demokrasi (dianggap) sudah selesai. Demokrasi, yang menjadi ruh Pemilu itu adalah sistem yang tertolak, karena merenggut kedaulatan Allah untuk diserahkan kepada manusia.

Masalahnya, dalam kondisi istidhaf (lemah) ini kita seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak ideal, sama-sama buruk, tapi kita mencoba mengambil yang terbaik diantara yang terburuk itu.

Dari dua orang yang tampil sebagai kontestan, sebut saja A dan B, sama-sama bukan sosok yang ideal bila dilihat dari kacamata Islam. Namun, setidaknya A lebih berbahaya ketimbang B dari berbagai aspek, misalnya. Akhirnya kita putuskan memilih B.

Atau, kita tahu bahwa sistem Demokrasi yang hari ini berlaku bukanlah sistem Islam. Tetapi, kita (seolah) tidak memiliki pilihan lain untuk menghindari mudharat bagi umat, selain turut meleburkan dalam sistem tersebut.

Hasil akhir yang akan kita peroleh sudah dapat kita prediksi, bahwa kita tidak akan mendapatkan hal yang ideal atau terbaik. Namun setidaknya ada mudharat besar yang bisa kita hindarkan dengan mengambil mudharat yang lebih kecil.

Prinsip ini diilhami oleh sebuah kaidah usul fikih, yaitu bila kita dihadapkan pada dua mudharat, maka mudharat yang kita ambil adalah yang paling kecil nilainya. Masalahnya, ukuran apa yang dipakai untuk menilai mudharat-tidaknya sesuatu? Siapa yang berhak menentukan sesuatu itu mudharat atau tidak?

BACA JUGA  Karakteristik Umat Pilihan: Hidup Berjiwakan Al-Quran

Sifat dan Spektrum Mudharat

Ada tiga bentuk sifat mudharat yang harus didudukkan sebelum menentukan langkah berikutnya. Pertama, mudharat yang bersifat mutawaqqi’ah, yaitu mudharat yang jelas-jelas nyata terjadi. Hampir semua orang berakal menyepakati bahwa mudharat yang dimaksud ada, dan memang mengancam.

Kedua, bersifat mutasyakkikah. Mudharat jenis ini diliputi keragu-raguan, apakah ia benar-benar nyata atau tidak. Atau, ia merupakan mudharat yang bersifat temporer, bukan permanen. Kadang-kadang berbahaya, tapi pada suatu ketika menjadi hal yang lumrah saja dan tidak berbahaya.

Terakhir, mudharat yang bersifat mauhumah. Hakikatnya ia bukan sebuah mudharat, tetapi oleh satu dan lain sebab, manusia mempersepsikannya sebagai bahaya. Sifat bahaya itu hanya pada tataran prasangka, belum terbukti secara nyata.

Selain tiga sifat di atas, sebuah mudharat juga harus ditentukan spektrum, atau wilayah yang menjadi sasaran dari mudharat tersebut. Aspeknya mencakup lima hal yang juga dikenal dengan dharuriyat khamsah. Yaitu, apakah sebuah mudharat yang dimaksud itu mengancam: agama (din), jiwa (nafs), keturunan (nasl), harta (maal), akal (aql).

Lalu siapa yang berhak menentukan sebuah mudharat X itu mempunyai tingkatan mudharat pertama, kedua atau ketiga; berikut spektrum potensi ancamannya?

Tentu saja para alim-ulama yang selain memiliki kompetensi ulumus syar’i standar. Menguasai fikih siyasah syariyah dalam masalah ma’aalat, muwazanah dan ilmu maqashid.

Selain itu, mereka pun perlu mengetahui realitas (waqi’) dengan kadar akurat, tidak ditambah-tambahi atau dikurang-kurangi.

BACA JUGA  Sandal Sang Anak Jadi Kenangan Seorang Bapak Korban Gempa Lombok

Melihat kompleksitas alat ukur di atas, rasanya mustahil bila satu orang sosok atau perwakilan satu kelompok saja mampu menakar dengan adil kadar sebuah mudharat. Sebab, seringkali obyek yang tidak dilihat oleh satu pihak, ternyata disaksikan oleh pihak lain.

Oleh sebab itu, dalam konteks masalah politik yang menjadi PR umat Islam hari ini, diperlukan semacam kaukus alim-ulama yang terus memantau perkembangan (waqi’), membahasnya dalam bingkai kajian ilmiyah untuk kemudian memberikan arahan (guidance, irsyadat) kepada umat.

Penulis: Muhajirin Ibrahim Lc
Editor: Hamdan

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Rusia

Heboh Pengusiran Diplomat Oleh AS dan UE, Rusia Siapkan Aksi Balasan

AS mengumumkan serangkaian tindakan yang mengejutkan, yaitu pengusiran terhadap para diplomat Rusia. Tindakan Washington ini oleh Duta Besar Jon Huntsman digambarkan sebagai yang terbesar dalam sejarah.

Rabu, 28/03/2018 11:50 0

Asia

Hindari Riba, Sebuah Lembaga Islam di India Beri Pinjaman Tanpa Bunga

The Islamic Welfare Society Bhatkal memberikan pinjaman tanpa bunga kepada mereka yang membutuhkan. Uang yang dipinjamkan berasal dari dana masjid.

Rabu, 28/03/2018 11:14 0

Indonesia

Konsep Wilayatul Faqih Jadikan Pengikut Syiah Ingin Kuasai Suriah

Syiah memasukkan wilayatul faqih dalam rukun Islam versi mereka. Ketua Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur (MUI), KH. Abdussomad Buchori mengatakan rukun inilah yang diterapkan pengikut Syiah di Suriah.

Rabu, 28/03/2018 09:00 0

Suriah

Kloter Ketiga Rombongan Pejuang dan Sipil Tinggalkan Ghouta Timur

Kloter ketiga ini, menurut jaringan berita oposisi Shaam Network, terdiri dari 105 bis. Bis-bis itu membawa sekitar 7000 orang, 1620 di antaranya pejuang bersenjata. Konvoi ini dikawal tujuh mobil ambulan.

Rabu, 28/03/2018 08:57 0

Somalia

UEA Bangun Pangkalan Militer Ilegal di Somalia

Osman meminta delegasi Somalia menyeru Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan khusus untuk membahas perkembangan terakhir di Somalia sehingga menghasilkan langkah-langkah yang tepat untuk menghentikan pelanggaran UEA.

Rabu, 28/03/2018 07:38 0

Indonesia

Saksi Joko Sugito Tak Tahu Aman Abdurrahman Amir JAD

"JAD yang saya tau diketuai oleh Zainal Anshori, dan saya ditunjuk menjadi Amir JAD Kalimantan Timur, seusai acara daurah Dai di Malang pada tahun 2015. Dalam pelantikan itu, Aman tidak ada di sana. Saya pun sebenarnya tidak tau apa itu JAD, dan datang ke Malang karena ada undangan dari Zainal dalam rangka Daurah da'i," jelas Joko.

Rabu, 28/03/2018 06:58 0

Indonesia

Bank Wakaf Mikro Diharapkan Mampu Kurangi Kemiskinan

Niken memaparkan, dalam tiga tahun terakhir, kemiskinan telah menurun meski hanya 0,9 %. Dia berharap, dengan hadirnya BWM tersebut bisa semakin menurunkan kemiskinan dan kesenjangan di Indonesia.

Selasa, 27/03/2018 22:30 0

Indonesia

Mantan Napi Terorisme: Menjelekkan Pemerintah Ciri Wahabi

Mantan Narapidana Terorisme, Sufyan Tsauri menyebutkan beberapa sifat yang menginikasikan kelompok wahabi. Ia menyebutkan bahwa salah satu ciri pemahaman wahabi adalah jika tidak mengkafirkan orang kafir dan ragu atas kekafirannya maka ia juga termasuk orang kafir .

Selasa, 27/03/2018 22:17 4

Suriah

Kritik Internasional, Aktivis Suriah Buat Video “Eksekusi” Ala ISIS

“Eksekusi terhadap jurnalis dan sipil sebelumnya telah mendorong mereka membentuk koalisi internasional untuk memukul organisasi ini (ISIS), akan tetapi kejahatan yang dilakukan Rusia, Hizbullah, Iran dan rezim Assad terhadap sipil, yang sampai pada taraf kejahatan kemanusiaan, masyarakat internasional tidak bergerak sama sekali,” ungkapnya

Selasa, 27/03/2018 20:22 0

Indonesia

MUI Jatim: Ahlussunnah di Suriah Harus Bersatu Lawan Assad

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, KH. Abdussomad Buchori memberikan tanggapan terkait konflik Suriah yang telah berlangsung selama tujuh tahun.

Selasa, 27/03/2018 18:10 0

Close