... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Analisis: Naga Merah Siap Mereguk Pundi Dolar Pascaperang Suriah

Foto: Suriah yang luluh lantak tengah diincar proyek rekonstruksi dari negeri Naga Merah.

KIBLAT.NET – Upaya Presiden Xi Jinping untuk membangun Jalur Sutera (One Belt One Road) di abad ini mendapat hambatan yang sangat besar: yaitu, perang sipil selama tujuh tahun Suriah. Konflik itu telah menghalangi jalan ambisi Cina menuju Eurasia, Afrika, dan Timur Tengah. Jadi, Beijing berada dalam barisan terdepan untuk membangun kembali negara yang dilanda perang, bahkan sebelum konflik di Syam benar-benar berakhir.

Namun, Negeri Naga Merah mendapat angin segar. Pemerintah Suriah tengah bertekad untuk bergerak maju dengan menggencarkan pembangunan kembali pasca perang yang menjadikan negara itu babak belur, tetapi mereka memerlukan bantuan internasional dengan perkiraan angka senilai $250 miliar. Sementara itu, proyek rekonstruksi akan mendapat sedikit bantuan dari negara-negara koalisi “Sahabat Suriah” – terutama Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris – yang telah membekukan $9,6 milyar dalam pendanaan yang dijanjikan hingga tercapainya transisi politik yang mempersyaratkan Bashar Assad harus lengser. Proposal “Pakta Tidak Ada Bantuan untuk rezim Assad” akan secara efektif melarang bantuan keuangan untuk rekonstruksi di daerah-daerah di bawah kendali pemerintah Suriah.

Hal ini membuat lapangan terbuka bagi para investor non-Barat, dan memang, pada Damascus Fair bulan Agustus lalu- yang pertama diadakan sejak perang pecah pada tahun 2011 – telah menarik para investor dan pebisnis dari Cina, Rusia, dan Iran untuk menjelajahi proyek dan peluang investasi di sana. Kedua negara terakhir adalah pendukung terbesar pemerintah Assad. Rusia telah menghabiskan hampir $4 miliar untuk terjun dalam kancah perang di Suriah, sementara perkiraan bantuan dari Iran sekitar  $6 miliar hingga $35 miliar. Namun, besarnya seluruh pengeluaran ini akan membatasi kemampuan mereka untuk berinvestasi dalam proyek rekonstruksi di Suriah dalam waktu dekat.

BACA JUGA  Pengamanan Reuni 212 Tahun Ini Lebih Ketat, Ada Metal Detector di Setiap Pintu Masuk Monas

Dengan persaingan yang begitu terbatas, Cina siap untuk memenangkan kontrak substansial dan memperluas pengaruh ekonominya ke arah barat.

Peran Beijing yang relatif tidak terlalu kelihatan memihak dalam konflik Suriah memberikannya kesempatan yang tepat untuk mendominasi proyek rekonstruksi sambil mempertahankan kaki dalam negosiasi atas proses politik. Sejak awal konflik, Cina secara konsisten memveto resolusi Dewan Keamanan yang mengarah pada rezim Assad. Naga Merah bersikeras bahwa Suriah harus membentuk masa depan politiknya sendiri. Atas dukungannya ini — dan juga tentunya bantuan militer — pemerintah Assad secara terbuka menyambut investasi dan perdagangan Cina.

Selama setahun terakhir, perundingan Cina-Suriah mengenai perdagangan dan investasi berkembang dari pertukaran diplomatik awal hingga komitmen hampir $2 miliar dalam kontrak rekonstruksi. Cina telah menjadi mitra dagang terbesar Suriah, dan mengambil 80 persen ekspornya. Pada bulan April, delegasi Cina dari para investor yang dipimpin oleh Qin Yong dari Asosiasi Pertukaran Arab Cina mengunjungi Provinsi Homs dan Kota Damascus untuk bertemu dengan para menteri dan pemimpin senior bidang investasi di kantor Perdana Menteri. Hadir di antaranya ialah Gubernur Homs, Presiden Bank Sentral Suriah, menteri pekerjaan umum, menteri ekonomi dan perdagangan, serta menteri komunikasi dan teknologi. Kunjungan pertama delegasi Cina ini mengawali komunikasi dengan mitra Suriah potensial, yang memungkinkan investor Cina untuk mencari peluang, dan menelurkan dua ekspedisi lanjutan.

BACA JUGA  Peserta Reuni 212 Membubarkan Diri dengan Tertib

Delegasi inilah yang membuka jalan bagi “Simposium Proyek Rekonstruksi Suriah” pada Juli, yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Suriah di Beijing dan Asosiasi Pertukaran Arab-Cina. Acara tersebut digagas untuk membina 150 perusahaan terkait zona industri bersama Suriah, menarik sekitar 1.000 investor Cina dan perusahaan pengembang. “Hanya China yang dapat memainkan peran utama dalam membantu Suriah merealisasikan rekonstruksi,” kata duta besar Suriah untuk Beijing, Imad Moustapha, kepada para investor China. Dua bulan kemudian, dia memberi tahu Global Times China bahwa bisnis dan perusahaan Cina akan mendapat prioritas dalam proyek rekonstruksi.

Baca halaman selanjutnya: Apa untungnya bagi China?...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Amerika

Washington Post Ungkap Kegagalan Penangkapan Mullah Akhtar Saat di Dubai

Mantan pemimpin Taliban Mullah Akhtar Mohammad Mansoor dilaporkan mengunjungi sejumlah negara Teluk untuk penggalangan dana beberapa bulan sebelum pembunuhannya pada Mei 2016, dalam serangan udara AS di Pakistan, lapor Washington Post.

Senin, 26/03/2018 13:59 0

Indonesia

Bertahun-tahun, Facebook Simpan Catatan Panggilan dan SMS dari Perangkat Android

Hal ini memicu kekhawatiran beberapa pengguna yang telah menemukan data riwayat panggilan mereka yang disimpan di server Facebook.

Senin, 26/03/2018 12:10 0

Amerika

UU Baru AS Disahkan, Bantuan untuk Palestina Dipotong Hingga Mendekati Nol

Salah satu dari sekian banyak peraturan perundangan yang ditambahkan ke dalam rencana anggaran belanja yang ditandatangani Presiden Trump adalah Undang-Undang Taylor Force.

Senin, 26/03/2018 10:37 0

Indonesia

Ditanya Kenapa Tak Kirim Bantuan Senjata ke Suriah, Begini Jawaban ACT

"Ibaratnya, jika memang hanya mengirim bantuan beras atau makanan, seperti memberi pangan kepada ayam untuk kemudian disembelih," ungkap salah satu perwakilan komunitas yang enggan disebutkan namanya, Ahad (25/03/2018).

Senin, 26/03/2018 09:59 0

Arab Saudi

Syiah Hutsi Lepaskan Tujuh Rudal Balistik ke Saudi, Targetnya Bandara

Di antara bandara yang ditarget, Bandara Internasional Raja Khalid di Riyad, pangkalan udara Jazan di Saudi selatan dan Bandara Abha di provinsi Asir. Selain bandara, kata Hutsi, serangan itu juga menargetkan lokasi lainnya di jantung Saudi.

Senin, 26/03/2018 09:00 0

Indonesia

Meski Dinilai Banyak Madharatnya, UU MD3 Tetap Sah

"PPP tidak ingin pasal MD3 disahkan, Karena banyak mudharatnya," ungkap Muhammad Iqbal di Jakarta Pusat, Ahad (25/03/2018)

Senin, 26/03/2018 08:00 0

Indonesia

Umat Islam Bukittinggi Gelar Musyawarah Akbar Sikapi IAIN, Ini Hasilnya

"Kami mengadakan musyawarah terbuka ini untuk menyikapi sikap IAIN Bukittinggi yang masih menerapkan larangan bercadar di lingkungan kampus. Kami yang terdiri lebih dari 30 elemen umat Islam ini setelah musyawarah ini tetap akan menolak larangan bercadar ini," ungkap Sekjen GNPF-ULAMA Bukittinggi Kabupaten Agam, Ridho Abu Muhammad saat dihubungi Kiblat.net, Ahad (25/03/2018).

Senin, 26/03/2018 07:20 1

Indonesia

ACT dan Komunitas Islam Bekasi Akan Gelar Konser untuk Ghouta Timur

"Kegiatan bertajuk "Road to Konser Kemanusiaan" ini adalah sarana untuk menggaet komunitas-komunitas peduli untuk bersinergi, khususnya dalam menyampaikan situasi terkini di Ghouta, Suriah," ungkap Dicky.

Senin, 26/03/2018 07:00 0

Turki

Antisipasi Serangan Turki, PKK Mundur dari Perbatasan Iraq Utara

Pasukan PKK Kurdi dilaporkan sedang menarik diri dari wilayah Iraq bagian utara yang berbatasan dengan Turki pada hari Jumat (23/03) pekan lalu.

Senin, 26/03/2018 06:23 0

Opini

Gagalnya Toleransi di Negeri Demokrasi

Memang, sudah menjadi rahasia umum bahwa ada 'kecacatan' dalam nalar toleransi dalam keberagamaan di Indonesia, yang dianggap negeri menjunjung tinggi demokrasi. Karena jika kita perhatikan, seolah hanya umat Islam yang diminta untuk toleransi kepada umat agama lain.

Ahad, 25/03/2018 18:54 1

Close