... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Trump: Saudi Negara Kaya, Mereka Akan Memberikan Kekayaan Itu untuk AS

Foto: Putera Mahkota Arab Saudi Muhammad Bin Salman diterima di kantor Oval, Gedung Putih, Washington DC oleh presiden Donald Trump.

KIBLAT.NET, Washington – Presiden AS Donald Trump dan Putera Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) telah membahas kesepakatan militer, investasi di AS, dan kerja sama keamanan, saat kunjungan pertama MBS ke Gedung Putih.

Mengacu pada guncangan politik yang terjadi di Arab Saudi dalam beberapa bulan terakhir, Trump pada Selasa (20/03) memuji putra mahkota berusia 32 tahun, yang dikenal sebagai MBS, dalam peran barunya.

“Hubungan (AS-Saudi) sekarang, mungkin sama baiknya seperti yang pernah terjadi, dan saya pikir akan menjadi lebih baik. Investasi luar biasa (Saudi) yang dilakukan di negara kita. Dan itu berarti pertambahan pekerjaan bagi pekerja kita, pekerjaan untuk orang-orang kita,” kata Trump dalam sebuah konferensi pers setelah pertemuan tersebut.

Trump juga menyinggung besarnya angka pembelian perangkat keras militer AS oleh Saudi, mulai dari kapal hingga pertahanan rudal ke pesawat dan kendaraan tempur.

“Arab Saudi adalah negara yang sangat kaya, dan mereka akan memberi Amerika Serikat sebagian kekayaan itu, semoga dalam bentuk pekerjaan, dalam bentuk pembelian peralatan militer terbaik di mana pun di dunia,” katanya.

Untuk bagiannya, MBS, yang 39 tahun lebih muda dari Trump, menunjuk pada sejarah aliansi antara kedua negara.

“Kami adalah sekutu tertua Amerika dari Timur Tengah, dengan masa lebih dari 80 tahun aliansi dan kepentingan besar- secara politik, ekonomi, keamanan. Landasan hubungan ini benar-benar besar dan dalam,” kata MBS.

BACA JUGA  AS Umumkan Gencatan Senjata Sepekan dengan Taliban

Tahun lalu, kedua pemimpin menyetujui rencana untuk investasi Saudi senilai $200 milyar dengan AS, termasuk pembelian besar peralatan militer AS.

Namun, dalam pertemuan Selasa, Muhammad Bin Salman mengatakan bahwa rencana tersebut melebihi ekspektasi, ia bahkan menggandakan jumlah investasi antara Saudi Arabi dan AS.

“Dan, seperti yang Anda tahu, Bapak Presiden, sejak hari pertama Anda telah mencapai kantor ini, kami berencana untuk menangani $200 miliar untuk peluang dalam empat tahun ke depan, tetapi itu berakhir dengan $ 400 miliar,” kata MBS.

Sementara itu, Marwan Bishara, analis politik senior Al Jazeera, mengatakan penerimaan MBS di Ruang Oval adalah “komedi yang tragis”.

“Di tingkat politik, presiden Amerika mencoba menjual putra mahkota ke publik Amerika, ketika citra Arab Saudi benar-benar buruk,” katanya.

“Tentu saja putra mahkota akan datang untuk membayar dengan harga apapun setidaknya sebagian komitmennya kepada Amerika Serikat dalam hal penawaran komersial dan pembelian senjata.”

Tetapi pada tingkat yang lebih strategis, katanya, kunjungan itu lebih berkaitan dengan penataan kembali Arab Saudi dan AS terhadap Iran.

 

Sumber: Aljazeera
Editor: Fajar Shadiq

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Korupsi E-KTP, Setnov: Untuk Puan Maharani dan Pramono $500 Ribu

Hal itu diungkapkan Setnov pada sidang di Tipikor, Jakarta, Kamis (22/3/2018). Seperti dilansir dari Poskota, Setnov menyebut uang untuk Puan dan Pramono diberikan oleh seseorang bernama Made Oka Masagung.

Kamis, 22/03/2018 12:41 0

Indonesia

Hafidz Abbas Sebut Indonesia Seakan Adopsi Hukum Darwin

Untuk itu Hafidz memberikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah agar kondisi agraria Indonesia semakin membaik.

Kamis, 22/03/2018 12:20 0

Indonesia

Kejahatan Korporasi Semakin Marak, WALHI Desak Negara Selamatkan Hutan Terakhir

kriminalisasi terus terjadi terhadap masyarakat yang memperjuangkan penyelamatan hutan dan wilayah kelolanya dari ancaman industri, dan kemiskinan karena ketimpangan penguasaan dan pengelolaan hutan yang sebagian besar dikuasai oleh korporasi, akibat dari paradigma penguasaan hutan oleh negara atau rezim hak menguasai negara (HMN).

Kamis, 22/03/2018 12:10 0

Opini

Hati-hati Hoax

KIBLAT.NET – Begitu dahsyat fitnah dunia. Tidak tanggung-tanggung bahkan sampai merambah ke dalam ranah dakwah....

Kamis, 22/03/2018 11:51 0

Indonesia

Mantan Komisioner Komnas HAM Kritisi Subsidi untuk Konglomerat Kelapa Sawit

Mantan Komisioner Komnas HAM Hafid Abbas mengkritisi subsidi untuk konglomerat kelapa sawit

Kamis, 22/03/2018 10:59 0

Opini

Feminisme, Sebuah Sejarah Tentang Sisi Gelap Kaum Perempuan

Islam mengatur tata cara dalam berhubungan antara pria dan wanita dalam berbagai kehidupan sehari-hari, yang mana hal tersebut dilakukan adalah dalam rangka melestarikan jenis manusia dan tidak semata-mata bersifat seksual.

Kamis, 22/03/2018 10:40 0

Indonesia

Ulama Palestina: Bunuh Rakyat Suriah Sama Saja Lawan Al-Quds

"Ini betul-betul peperangan dan pembantaian terhadap orang-orang Suriah. Baik dilakukan oleh rezim yang ada di sana ataupun kelompok-kelompok yang membela rezim, seperti Rusia dan Iran dan semua yang mendukungnya," ungkap Dr Nawwaf menggunakan bahasa Arab yang diterjemahkan oleh Ustadz Bachtiar Nasir dalam jumpa pers di Cikini Raya no 24, Jakarta Pusat, Rabu (21/03/2018).

Kamis, 22/03/2018 10:08 0

Indonesia

Ulama Palestina Berharap Besar pada Umat Islam Indonesia

"Saya bangga kepada ulama Indonesia dalam keberpihakan mereka dan sikap mereka untuk membela saudara-saudara mereka di Palestina. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh bangsa Indonesia juga ulama-ulamanya juga kepada Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia," ungkap Dr Nawwaf menggunakan bahasa Arab yang diterjemahkan oleh Ustadz Bachtiar Nasir dalam jumpa pers di Cikini Raya no 24, Jakarta Pusat, Rabu (21/03/2018).

Kamis, 22/03/2018 09:25 0

Indonesia

Media Sosial Bentuk Kepentingan Asing Kuasai Indonesia

"Jangan sampai negara Indonesia ini diadu domba dan mengeruk kekayaan kita. Maka dari pemerintah harus tegas membuat regulasi bagi sosial media," ujarnya.

Kamis, 22/03/2018 08:43 0

Indonesia

Din Syamsuddin Sebut Banyak Pihak Monopoli Pancasila

"mengatakan ‘saya Pancasilais’ seolah orang lain nggak Pancasila. Ketika mengatakan itu, seacara monopolistik dia tidak berpancasila,” katanya

Kamis, 22/03/2018 07:58 0

Close